E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Sayap Bidadari Bagian 9 [ Cinta Sejati ]

SEMBILAN
Cinta Sejati


Trinting! Ting! Ting! Ting! Suara denting piano dari lagu melankolis yang sengaja diputar, terdengar merdu  menemani sepasang muda mudi yang kini sedang duduk berhadapan di sebuah ruang tamu yang kecil. Rupanya di Minggu yang cerah, Raka yang sudah sembuh dari sakitnya sengaja datang menemui Angel untuk memberi kabar perihal orang tua Bobby yang minggu depan akan melamar Wanda.
"An... Aku betul-betul bingung. Sebenarnya ada apa antara kalian berdua? Kenapa tiba-tiba Bobby memberi tahu kalau orang tuanya akan datang melamar gadis yang bernama Wanda?" tanya Raka yang selama ini memang tidak mengetahui hubungan Bobby dengan Wanda.
"Kakak tidak usah bingung! Sebab, sudah lama aku mengetahui mengenai hubungan mereka. Jika orang tua Bobby memang berniat melamar Wanda dalam waktu dekat ini, aku rasa itu adalah hal yang wajar."
"A-apa??? Ja-jadi... Selama ini kalian tidak pacaran?"
"Tidak, Kak. Sesungguhnya semua itu karena salahku juga. Bobby menjadi kekasih Wanda karena mengikuti anjuranku. Semula aku pikir dia tidak mungkin bisa berpaling dariku karena dia begitu mencintaiku. Tapi, ternyata aku salah duga. Dia sama sekali tidak mau menungguku, seperti halnya yang pernah kulakukan saat menunggumu lantaran aku begitu mencintaimu."
Kini kedua muda-mudi terdiam, di hati masing-masing muncul beragam perasaan dan dugaan yang membuat keduanya bimbang untuk mengutarakan isi hati masing-masing. Lama keduanya saling membisu hingga akhirnya Raka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, pemuda itu terus memikirkan Angel yang sepertinya masih bisa dimiliki. Sungguh sebuah harapan yang menggembirakan, walaupun dia menyadari kalau harapan itu sangatlah tipis. Raka memang seorang pemuda yang sabar, dan dia sangat percaya, jika Tuhan memang menghendaki maka tidak ada yang bisa menghalangi niatnya untuk bisa bersatu dengan Angel. Kini pemuda itu tampak berdiri di atas sebuah jembatan sambil memperhatikan riak air yang keruh, juga pepohonan lebat yang tumbuh di sekitarnya. Saat itu perasaannya betul-betul sejuk lantaran melihat keindahan yang telah memikat hatinya, bahkan keindahan itu sempat membangkitkan angannya yang selama ini terpendam. Dalam benaknya, pemuda itu benar-benar terlena dengan khayalan indah yang diciptakannya, yaitu khayalan mengenai dirinya yang sudah menjadi suami Angel. Lama juga Raka berdiri di tempat itu, hingga akhirnya dia mendengar suara azan magrib yang berkumandang. Sejenak diperhatikannya lembayung merah yang sudah kian memudar,  kemudian dengan penuh semangat pemuda itu melangkah menuju ke  Mushola yang tak jauh dari tempatnya melamun tadi.
  

Esok harinya udara terasa panas sekali, saat itu di kamar Angel yang tak ber-AC jadi ikut-ikutan panas. Angel yang saat itu sedang asyik menulis benar-benar merasa tidak nyaman, bahkan peluhnya tampak bercucuran dan masuk mengenai bola matanya. Seketika gadis itu terpejam merasakan perih, kemudian berkedip sebentar dan kembali memandang ke arah kata-kata yang sedang ditulisnya. Ingin rasanya saat itu dia menghentikan kegiatannya sejenak dan melanjutkannya di beranda depan yang terasa lebih sejuk lantaran dinaungi pepohonan rindang. Namun karena merasa tanggung dan juga khawatir kalau buah pikirannya akan hilang, lantas gadis itu meneruskan kegiatan menulisnya di tengah panas yang terus mendera.
"Huff...! Akhirnya Bab Sembilan ini bisa kuselesaikan juga," kata Angel lega seraya melangkah menuju beranda.
Kini di tempat itulah Angel kembali membaca bagian yang baru ditulisnya tadi, beberapa kata yang menurutnya tidak pas segera diganti dengan kata baru yang lebih baik. Pemilihan kata itulah yang seringkali membuatnya agak kesulitan, apalagi jika ada kalimat yang dirasanya janggal, bisa lama sekali dia membulak-balik setiap kata yang ada di kalimat itu agar lebih enak dibaca. Bahkan jika ada kalimat yang pada mulanya dianggap bagus, namun ketika dibaca kembali mendadak berubah jelek dan sama sekali tak enak dibaca. Begitulah beberapa kendala yang dihadapi Angel dalam upayanya menjadi seorang penulis yang baik. Terkadang dia merasa tidak berbakat menjadi seorang penulis lantaran susahnya melewati proses itu. Maklumlah, bukankah bagus tidaknya sebuah kalimat itu sangat relatif—tergantung dari mood dan juga nalar orang yang membacanya. Begitu pun ketika seorang penulis sedang membaca naskahnya sendiri, sewaktu menulis dia merasa kalimat yang ditulisnya sudah bagus lantaran mood-nya memang lagi sesuai dengan apa yang ditulisnya, namun ketika dibaca kembali tiba-tiba berubah menjadi jelek lantaran mood-nya saat itu tidak sama dengan mood-nya sewaktu menulis. Begitu pun sebaliknya, kalimat yang semula dianggap jelek, namun ketika dibaca kembali justru menjadi bagus.
"Aduh, kok jelek sekali sih. Begini salah, begitu juga salah. Hmm... Bagusnya bagaimana ya?" tanya Angel dalam hati ketika menemukan sebuah kalimat yang dirasanya janggal. "Ah, masa bodolah. Pusiiing...! Sebaiknya biar kutulis begini saja. Jika kelak naskah ini disetujui, biar editornya saja yang memperbaiki."
Gadis itu terus membaca dan merefisi setiap kalimat yang tak berkenan di hatinya, hingga akhirnya dia bisa menyelesaikan pekerjaan itu dan mulai menyalinnya ke dalam buku catatan yang sebenarnya. Usai menyalin, gadis itu segera kembali ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Saat itu udara di dalam kamar sudah terasa lebih sejuk lantaran sang Mentari sudah semakin condong ke Barat. Kini gadis itu tampak mengambil surat cinta pertama dari Bobby dan membacanya kembali.
Usai membaca, airmata Angel langsung berderai, mengalir di pipi, kemudian menetes dan meresap di sela rajutan bajunya. "Bodoh...! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kak Bobby... Aku ini memang gadis yang malang. Entah kenapa setelah semuanya terlambat baru aku menyadari, kalau sebenarnya kaulah cinta sejatiku yang hakiki. Bukankah kau pernah berkata kalau kau mencintaiku karena cintamu kepada Tuhan, dan kau mau menikah karena kau ingin beribadah. Ketahuilah... Sebetulnya kini aku mencintaimu pun karena hal itu. Aku merasa kau itu adalah pria yang bisa membimbingku menjadi wanita shalihah, dan jika aku bisa bersamamu, tentu aku bisa menjalani hidup sesuai dengan tuntunan agama. Perasaan cintaku ini berbeda dengan perasaan cintaku kepada Raka, sebab aku mencintai Raka karena sekedar ingin mendapatkan kesenangan dunia. Selama menjalin cinta bersamanya aku tidak pernah berpikir soal tujuan pernikahan sebenarnya, yang terpikirkan hanya berupa hal-hal indah yang justru membutakan mata hatiku."
Begitulah Angel, yang baru menyadari dan meyakini kalau cinta sejatinya yang hakiki adalah Bobby. Namun karena dia sudah mengetahui perihal lamaran itu, maka dia pun merasa tidak mempunyai harapan lagi. Sebagai ungkapan atas kekecewaannya, Angel pun segera menumpahkan isi hatinya ke dalam buku harian.


Ketika cinta menoreh luka, bahagiaku menjadi duka. Hampa sudah asa di dada, sirna pula cita mulia. Sungguh... Karena kebodohankulah aku jadi begini. Cinta sejatiku seakan menari di atas lukaku, seakan tertawa menutup tangisku. Sungguh membuat hatiku sakit tiada terkira, bagai dihujam jarum neraka. Sungguh malang tiada diduga, petaka datang begitu saja. Menenggelamkan anganku, menenggelamkan harapanku, harapan akan sebuah kebahagiaan.

Derai air mata Angel kembali mengalir, terbayang sudah cinta sejatinya yang tengah bersanding dengan wanita lain di atas singgasana cinta yang membahagiakan. Hanya kepasarahan dan keikhlasanlah yang bisa meredakan kegundahan dihatinya, kegundahan yang ditimbulkan oleh takdir yang telah dipilihnya sendiri. Sementara itu di tempat berbeda, Bobby yang baru saja pulang dari rumah temannya agak heran karena saat itu kedua orang tuanya terlihat kompak ingin membicarakan sesuatu yang penting. Kini mereka sudah duduk bersama, membicarakan perihal lamaran yang ternyata dibatalkan. Mengetahui itu, Bobby langsung terkejut dan segera menanyakan sebab musababnya.
"Memangnya apa yang telah terjadi, Ayah... Ibu... ? Kenapa kalian membatalkan lamaran itu?" tanya Bobby dengan nada kecewa.
"Wanda hamil, Bob," jelas sang Ibu kepadanya.
“Wa-Wanda hamil…?” Bobby tersentak mendengarnya. "Be-benarkah yang Ibu katakan?" tanya bobby sulit untuk mempercayainya.
"Yang dikatakan ibumu itu betul, Bob,” jawab sang ayah menimpali, ”Begitulah yang orang tua Wanda katakan. Namun kami percaya bukan kaulah yang menghamilinya, sebab tidak mungkin kau berani melakukan perbuatan yang terkutuk itu. Karena itulah kami terpaksa membatalkan lamaran itu. Sebab, Ayah tidak mau kau menjadi penanggung aib orang lain."
Setelah mengetahui itu, Bobby pun langsung sedih. Namun begitu, dia masih tidak mau percaya begitu saja. Karena itulah, dia segera pamit untuk menemui Wanda di rumahnya. Sesampainya di sana, dilihatnya Wanda dan ibunya sedang bercakap-cakap di teras muka. Begitu melihat kedatangan Bobby, si ibu segera beranjak menghampirinya. "Nak Bobby… Bagaimana mungkin kau masih mau datang kemari?"
Bobby tidak menjawab, saat itu pandangannya terus tertuju kepada Wanda yang masih saja terduduk lesu di kursi teras. Diperhatikannya wajah wanita itu dengan penuh seksama, saat itu di wajahnya tergambar jelas sekali akan suasana hatinya yang sedang dilanda kesedihan. Sungguh Bobby merasa betul-betul iba melihatnya, bahkan dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Wanda.
Kini pandangan pemuda itu sudah beralih menatap wajah sang Ibu, "Eng… Memangnya apa yang telah terjadi, Bu? Ceritakanlah kepadaku! Sebab, aku benar-benar ingin mengetahui perkara sebenarnya," pinta Bobby demi untuk mendapat jawaban yang lebih meyakinkan.
Saat itu sang Ibu tidak menjawab, dia malah menatap mata pemuda itu dengan mata yang berkaca-kaca "Bukankah kau sudah mengetahuinya, Nak. Lebih baik, kau bicara saja padanya!"
Kini Bobby kembali menatap Wanda yang saat itu masih terduduk lesu tak kuasa menyembunyikan wajah murungnya. Lalu, dengan perlahan pemuda itu menghampiri Wanda dan duduk di sisinya. Saat itu, Wanda tampak menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, dan hal itu semakin membuat Bobby bertambah sedih. "Wanda… ceritakanlah padaku!" pinta Bobby kepada wanita yang masih dipercaya sebagai cinta sejatinya.
Lantas dengan air mata berderai, Wanda pun segera menceritakan peristiwa yang telah menimpanya. "Kak… Ketahuilah! Sebetulnya aku bukanlah wanita baik-baik yang seperti yang Kakak duga selama ini. Terus terang, selama ini diam-diam aku sudah terlibat dengan bergaulan bebas yang akhirnya menjurus ke… ke arah seks bebas? Dan karena itulah, ki… kini aku harus menanggung semua akibatnya." Seketika Wanda tertunduk, saat itu penyesalan yang amat sangat tampak terpancar diwajahnya, dan isak tangisnya pun terdengar kian memilukan.
Pada saat yang sama, Bobby tampak terpaku, kedua matanya pun langsung berlinang, dan tak lama kemudian sebulir air mata tampak meluncur jatuh di sebelah pipinya. Sungguh penuturan Wanda yang sangat menyedikahkan itu telah membuat hatinya begitu tersayat, dan segala gambaran indah mengenai masa depan yang semula begitu indah, hidup berdampingan dengan Wanda yang dipercaya sebagai gadis yang baik dan sholehah seakan sirna sektika. Dalam hati, pemuda itu langsung membatin, "Duhai Allah... Kenapa disaat aku sudah menerima dia di hatiku, lantas kini aku dihadapkan dengan pilihan yang semakin sulit? Apakah pilihanku yang bersedia dijodohkan oleh orang tuaku adalah salah sehingga aku harus dihadapkan dengan perkara yang sesulit ini?"
Kini Bobby berusaha untuk menerima takdir yang sudah digariskan kepadanya, dan pilihan berikutnya tentu bukanlah pilihan yang mudah. "Sudahlah, Win… Tabahkanlah hatimu," ucap Bobby kepada gadis yang tetap lekat di hatinya.
Wanda pun menangis tersedu-sedu seraya memandang Bobby dengan air mata yang terus berderai, "Kak… A-apakah Kakak masih mencintai Wanda, dan a-apakah Kakak masih mau menikahi Wanda?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu pilu.
Bobby terdiam, saat itu hatinya betul-betul berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Kalau sesungguhnya dia memang tidak mau menikahi Wanda, sebab dia percaya kalau menikahi wanita pezina adalah perbuatan yang dilarang agama. Namun di lain sisi, pemuda itu sudah sangat mencintai Wanda. Sungguh hal itu adalah pilihan yang sangat sulit, dan jika tanpa ilmu pengetahuan yang cukup tentu ia bisa terjerumus pada pilihan yang salah. Namun begitu, Bobby berusaha untuk bisa menemukan jalan keluar yang baik. Setelah berpikir keras, akhirnya dia menemukan sebuah jalan keluar yang diyakininya baik. "Wan... Apakah kau mau bertobat dan menjalani hukuman sesuai dengan Syariat Islam, yaitu disebat rotan sebanyak 100 kali dan diasingkan selama setahun. Jika kau bersedia, maka aku akan berusaha meyakinkan kedua orang tuaku kalau kau itu memang pantas untuk kunikahi," ungkap Bobby mencoba mencarikan jalan keluar. Sebab, dia percaya kalau wanita yang sudah bertobat dengan cara demikian, maka ia tidak lagi menyandang status sebagai seorang pezinah, dan wanita yang seperti itu tentu layak untuk dinikahi.
Namun karena saat itu keimanan Wanda masih sangat lemah, maka dia pun sulit untuk memberikan jawaban. Maklumlah, saat itu Wanda memang masih merasa berat untuk bisa menjalani hukuman yang baginya terlalu ekstrim. Karena itulah, akhirnya Bobby semakin mantap untuk mengambil putusan yang tak menyimpang dari tuntunan agama, yaitu tidak menikahi wanita pezina seperti Wanda. 
Sepulang dari rumah Wanda, Bobby langsung merebahkan diri di tempat tidur dan merenungkan semuanya. "Hmm… Sepertinya aku memang sudah tidak bisa mengharapkannya lagi, biarpun aku sangat mencintainya, bukan berarti aku harus nekad menikahinya, itu sama saja aku telah cinta buta kepadanya. Hmm… siapa sesungguhnya yang akan menjadi pendampingku?” tanya pemuda itu membatin. Entah kenapa, tiba-tiba saja pemuda itu teringat kepada seorang gadis yang lekat dihatinya, siapa lagi kalau bukan Angel—gadis manis yang diduganya telah cinta buta kepadanya. “Eng… A-apa mungkin jodohku yang sebenarnya itu Angel, sebab sejak semula aku telah percaya kalau dia memang bisa membahagiakanku. Lagi pula, bukankah dia itu juga mencintaiku, sekalipun aku tahu kalau cintanya kepadaku hanyalah cinta buta. Namun begitu, aku yakin suatu hari kelak dia pasti bisa mencintaiku karena cintanya kepada Allah. Tapi... Dia itu kan cinta sejatinya Raka. Walaupun kutahu mereka itu sulit bersatu, tapi harapan untuk itu akan selalu ada. Sungguh aku bisa merasakan bagaimana sedihnya Raka jika gadis yang dicintainya ternyata memang tidak bisa dimiliki. Kini aku semakin yakin, kalau selama ini Raka tidak mau pacaran, itu karena dia sedang menunggu kesempatan untuk bisa menikahi Angel. Dan itu artinya, dia masih mengharapkannya. Ya, tidak salah lagi. Di hatinya tentu masih ada sedikit harapan kalau suatu hari kelak orang tuanya akan setuju, dan jika saat itu Angel belum menikah tentu Angel bisa menjadi istrinya. Duhai Allah... Haruskah aku menyakiti hati sahabatku sendiri demi untuk kebahagiaanku," ungkap Bobby dalam hati karena pilihan berikutnya memang bukanlah perkara yang mudah.
Seharian ini Bobby terus memikirkan perihal Angel. Sungguh kini dia sedang kesulitan untuk bisa menentukan takdirnya sendiri. Di kepalanya, ego dan nurani terus bertarung membenarkan pendapatnya masing-masing. Dan semakin sengitnya pertarungan itu, maka semakin pusing saja kepala Bobby dibuatnya. Saat itu ingin rasanya dia naik ke puncak gunung dan berteriak keras demi untuk menumpahkan segala beban pikiran yang terus mendera. Namun karena hal itu dirasa menyulitkan, akhirnya dia pun menggunakan cara yang lebih mudah, yaitu dengan banyak-banyak mengucapkan istigfar dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah diperbuatnya. Bahkan, dia pun memohon petunjuk Tuhan untuk bisa menentukan takdir yang harus dipilihnya. Setelah melakukan itu semua, lambat-laun hati Bobby pun mulai tenang kembali, hingga akhirnya dia betul-betul bisa berpikir jernih.
"Hmm... Entah kenapa, kini aku merasa yakin kalau Angel-lah cinta sejatiku. Eng... Tapi bagaimana jika Angel sudah tak mencintaiku lagi? Bagaimana jika dia ternyata sudah melaksanakan anjuranku untuk mengejar cinta sejatinya. Duhai Allah, kenapa semuanya bisa menjadi serumit ini? Dan kenapa pula aku baru menyadarinya sekarang, kalau Angel  itu memanglah cinta sejatiku? Dasar aku ini memang bodoh, selama ini aku mengira kalau cintaku kepada Angel adalah cinta buta. Namun ternyata, dia itu memang cinta sejatiku. Ya, aku ini memang bodoh sekali. Bukankah dulu aku pernah mengungkapkannya di surat pertamaku, kalau aku memang mencintainya karena-Mu. Sebab, aku memang betul-betul serius ingin segera menikahinya. Bukankah dengan menikahinya, itu artinya cintaku padanya adalah benar-benar cinta yang suci, cinta sejati yang hakiki. Sebab dengan menikahinya, tentu aku bisa terhindar dari hal-hal yang membahayakan. Dan yang terpenting, menikah itu adalah Sunah Rasul dan membuat imanku menjadi lebih sempurna. Malah bisa menjadi sebuah sarana ibadah yang menjanjikan, sebab jika ternyata pernikahan itu tidak sesuai dengan harapan maka hal itu bisa menjadi ladang amal yang melimpah karena pelakunya sabar dalam menghadapi berbagai konflik, dan jika pernikahan itu ternyata sesuai dengan harapan, maka pelakunya pun akan mendapat pahala yang banyak karena saling membahagiakan.
Terima kasih duhai Allah, kini aku yakin kalau Angel adalah cinta sejatiku, dan aku pun percaya kalau Engkau akan menitipkan dia padaku karena Engkau mempercayaiku, yaitu agar aku bisa membinanya menjadi wanita yang shalehah. Bukankah aku ini sudah tahu tabiatnya, dia itu keras kepala, cemburuan, gampang marah, dan kalau sudah ngambek bisa membuat kepala ini jadi pusing tujuh keliling. Selain itu, aku juga tahu kalau dia itu pemalas dan sangat egois. Dan semua itu karena sifat manja dan kekanakannya yang memang sudah bawaan lahir. Sungguh semua sifatnya hampir sama persis dengan aku, ya... Bukankah dia itu bagian dari diriku juga. Aku sudah kenal siapa diriku, dan aku tentu kenal siapa dirinya. Lagi pula, sekarang kan aku sudah bisa mengendalikan semua sifat buruk itu karena Engkau memang telah mengaruniakan kesabaran padaku. Dan karenanyalah aku percaya, jika kami bersatu maka kami akan bahagia bersama. Sebab dengan kesabaranku, aku tentu dituntut untuk bisa menghadapi berbagai kecenderungan negatif yang dimilikinya dengan penuh bijaksana. Intinya adalah, aku ini memang sudah siap menerima apa pun yang bakal terjadi, sekalipun hal itu akan membuatku menderita. Dan dengan kesiapanku itu, tentu rumah tangga kami akan terbina dengan baik dan kami pun akan senantiasa hidup rukun hingga kehidupan baru," ungkap Bobby saat berdialog kepada Tuhannya.
Sungguh apa yang ada di benak Bobby saat itu tampaknya agak naif dan tidak masuk akal. Apa iya kedua sifat yang parah itu bisa klop satu sama lain? Jangan-jangan malah seperti kucing dan anjing yang kalau bertemu bisa saling menggigit. Tapi, entahlah... Terkadang akal manusia memang tidak bisa digunakan untuk menjawab setiap pertanyaan yang ada. Lagi pula, bukankah terkadang ada juga anjing dan kucing yang bisa rukun. Dan bukankah hal itu membuktikan kalau sifat bawaan lahir ternyata memang bisa berubah. Bahkan di dalam sebuah riwayat hadits, salah satu istri Nabi Muhammad SAW ada yang pernah mengaku kalau dia adalah seorang wanita yang cemburuan dan mudah marah, namun apa kata beliau. Insya Allah, semua sifat buruk itu akan hilang. Kenapa bisa begitu, sebab jika manusia sudah mengikuti ajaran Al-Quran dan Hadist Rasul, maka semua bawaan lahir akan hilang dan berganti dengan sifat yang jauh lebih terpuji. Nah, jika mereka berdua memang mempunyai komitmen yang sama, dan mau konsisten mengikuti petunjuk kedua kitab tersebut, tentu mereka akan bahagia selalu. Lantas, bagaimana jika salah satunya tidak mau mengikuti itu? Jawabnya mudah, bukankah manusia itu sudah dikaruniakan dengan akal pikiran, yang dengannya manusia dituntut untuk bisa memecahkan setiap persoalan yang ada. Karena itulah, sebagai mahluk yang senantiasa harus belajar, manusia tentu harus mau berpikir dan selalu berusaha keras untuk menjadi lebih baik, kemudian menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Mengenai apa pun keputusan-Nya, itu adalah yang terbaik buat manusia. Intinya adalah manusia harus berusaha keras memilih takdir dengan sebaik-baiknya, dan mengenai apa yang akan terjadi nanti adalah konsekwensi atas segala pilihannya, yang sejak awal memang telah digariskan oleh yang Sang Pencipta.
Kini Bobby tampak sedang berpikir keras. "Hmm... Entah kenapa aku merasa PD sekali, kalau kelak aku bisa menjadi suami idaman Angel. Padahal, aku sendiri tidak yakin apa aku ini bisa terus konsisten atau tidak dalam menjalani ajaran agama. Duhai Allah… Apakah aku ini memang betul-betul sudah menjadi orang yang penyabar sehingga kelak aku bisa tahan menghadapi segala tingkah lakunya yang tak berkenan?" gumam Bobby meragukan dirinya sendiri. "Ah, sudahlah... Aku kan belum menjalaninya. Jika aku memang berniat baik dan memang mau bersungguh-sungguh dalam upaya membinanya menjadi wanita yang shalihah. Insya Allah, dengan sifat kasih sayang-Nya, Allah tentu akan membantuku."
Begitulah Bobby, akhirnya menyadari kalau Angel adalah cinta sejatinya, walaupun saat itu dia menyadari kalau iman manusia akan senantiasa mengalami pasang surut. Karena itulah dia bertekad untuk bisa menjaga iman itu agar tetap selalu pasang, yaitu dengan cara berusaha untuk mengikuti berbagai bimbingan rohani. Seperti dengan mengikuti pengajian rutin di TV, Musholah, atau dimana saja. Atau bisa juga dengan membaca buku-buku agama dan membaca berbagai hal keagamaan di internet. Bahkan jika dia dan Angel memang berjodoh, maka dia akan bertekad untuk lebih rajin beribadah dan senantiasa berdoa. Sebab dia percaya kalau ibadah dan doa adalah sesuatu yang bisa melancarkan usahanya.





Sayap Bidadari Bagian 10 [ Kepakan Sayap Bidadari ]

SEPULUH
Kepakan Sayap Bidadari



Wuss! Wuss! Wuss! Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa rambut  Bobby yang sedang duduk di sebuah bangku taman sambil memandang air mancur yang menari-nari. Rupanya dia berniat menemui Angel dan mengutarakan maksud hatinya, yaitu niat untuk segera menikahinya. Bahkan sebuah cincin tanda keseriusan telah dibelinya, dengan tujuan agar Angel yakin kalau dia memang betul-betul ingin menikahinya. Kini dia sedang bingung memikirkan rencana selanjutnya. "Hmm... Bagaimana jika nanti dia menolakku? Apakah aku akan bisa tabah menerimanya. Ah, sudahlah... Aku kan belum tahu jawabannya, jadi tidak ada gunanya jika aku terus memikirkan perkara yang belum pasti itu. Sungguh... Biarpun dia menolakku dengan alasan yang macam-macam, Insya Allah aku tidak akan marah padanya, dan aku pun tidak akan kecewa dengan segala keputusannya. Malah, aku akan senantiasa mendoakan dia agar berbahagia selalu bersama pria pilihannya. Sebab, dia itu adalah cinta sejatiku, yang kebahagiaannya adalah kebahagiakanku juga. Namun, andai dia mau menerimaku, tentu aku akan bahagia sekali. Bahkan aku akan berusaha untuk selalu membahagiakannya dan selalu menjaga perasaannya. Selain itu, apa pun yang dimintanya—selama hal itu memang tidak menyimpang dari tuntunan agama, Insya Allah aku akan senantiasa menurutinya, dan apa pun cita-citanya tentu akan kudukung dengan sepenuh hati. Bukankah dia itu bagian dari diriku. Jika dia sakit, maka aku pun akan sakit, dan jika dia bahagia, tentu aku akan bahagia. Lagi pula, aku percaya.... Jika dia sudah menyadari kalau aku adalah cinta sejatinya, maka dia pun akan bersikap sama.
Tapi... Bagaimana jika dia justru marah padaku karena tidak konsisten dengan perkataanku mengenai sayap bidadari itu. Malah bisa-bisa dia menganggap aku pria yang tak tahu diri karena telah berusaha memiliki cinta sejati sahabatnya sendiri. Bukankah waktu itu dia pernah berkata padaku, kalau dia sudah bertekad untuk terus menunggu Raka. Tidak! Aku tidak mau dianggap seperti itu, walaupun aku berniat mengatakan maksud hatiku ini karena perkataanku itu juga, yaitu aku mau berjuang meraih impianku. Bukankah dia itu cinta sejatiku, salahkah aku jika berusaha bisa mendapatkannya. Hmm... Ini memang sulit, dan aku betul-betul telah dibuat bingung. Sepertinya aku ini memang orang yang egois karena ingin beribadah dan mendapat kebahagiaan di atas penderitaan sahabatku sendiri."
Bobby kembali termenung. Lama juga pemuda itu berpikir keras hingga akhirnya dia bisa mengambil putusan, "Hmm... Kalau begitu, biarlah aku menunggu sampai Raka menikah. Biarlah aku menunggu seperti keinginan Angel pada suratnya, dan juga mengikuti apa yang sedang Angel lakukan sekarang. Sebab, jika Raka sudah menikah, tentunya Angel bisa menerima cintaku. Lagi pula, bukankah aku ini memang pernah singgah di hatinya. Selain itu, aku kan tidak tahu kapan orang tuaku akan menjodohkan aku lagi. Mungkin kini mereka sudah trauma lantaran menyadari kalau ternyata ada juga buah yang jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Jika memang benar demikian, memang tidak ada salahnya jika aku terus menunggu Angel hingga kepasrahanku ini mendapat jawaban dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Bobby terus merenung dan berusaha menegarkan hatinya yang telah bertekad untuk mempasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Saat itu angin sepoi-sepoi terus berhembus menemaninya, membuat pemuda itu semakin betah saja berlama-lama di tempat duduknya. Terkadang beberapa burung gereja tampak hinggap di tepian kolam air mancur, layaknya sedang bergembira ria bersama. Sungguh semua pemandangan itu telah menghibur hati pemuda yang kini sedang dilanda kebingungan. Sementara itu di tempat berbeda, Angel terlihat sedang merenung di teras depan rumahnya. Dia duduk di atas sebuah kursi bambu yang beralaskan bantalan yang cukup empuk. Kedua kakinya tampak menyilang dan terkadang saling bergesekan, sedang kedua tangannya tampak bertumpu di atas buku catatan yang dipangkunya. Rupanya saat itu dia sedang memikirkan Bobby yang diketahui malam nanti akan melamar Wanda.
"Ya, Tuhan... Aku tidak tahu, apakah aku harus mengepakkan sayapku untuk meraih impian bisa memiliki seorang suami sepertinya. Seorang suami yang bisa membimbingku menjadi wanita yang shalihah—wanita yang tahu tujuan hidupnya, yaitu wanita yang senantiasa mau bertakwa kepada-Mu dengan penuh keikhlasan?" tanya Angel dalam hati.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Angel bertekad untuk segera menemui Bobby. "Ya, sepertinya aku memang harus berjuang untuk itu, yaitu untuk mendapatkan cinta sejatiku yang hakiki," kata Angel bertekad dalam hati.
Kini Angel sudah menjadi seperti yang sudah disarankan Bobby waktu itu, yaitu dia tidak boleh menyerah kalah, minimal dia harus bisa mengungkapkan isi hatinya kepada pria yang diyakini sebagai cinta sejatinya—walaupun saat itu dia sendiri tidak yakin kalau Bobby akan menerima cinta sucinya itu. Maklumlah, hingga kini Angel memang masih belum mengetahui kalau Bobby sudah putus dengan Wanda.
Kini gadis itu tampak membuka buku catatannya, kemudian dengan perlahan dia mulai menulis berbagai hal yang berkenaan dengan perasaannya. Hingga akhirnya, goresan lembut pena hitam miliknya itu kini tampak semakin memenuhi halaman.
 

Seiring dengan doa, kini aku bulatkan tekad untuk mengepakkan sayap bidadariku demi sebuah cita-cita yang mulia. Sebuah cita-cita yang akan mengikat diriku menjadi seorang pendamping pria yang kupercaya bisa membimbingku dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan kelak akan menjadi bidadara untukku di surga-Mu.


Begitulah akhir dari rentetetan kalimat yang baru ditulisnya, sebuah ungkapan hati untuk melengkapi novel kisah nyatanya yang dia sendiri tidak tahu apakah akan berakhir dengan kebahagiaan. Kini gadis itu tampak beranjak menuju ke kamar dan segera berkemas untuk melaksanakan niatnya. Tak lama kemudian, Angel sudah keluar dengan mengenakan kaos u can see merah muda berstel celana jeans biru muda yang ketat dan bisa membuat pria yang melihatnya jadi berpikiran yang tidak-tidak. Begitulah Angel, masih juga belum bisa menyadari kalau apa yang dikenakannya itu bisa menimbulkan fitnah. Dalam hati dia hanya ingin terlihat cantik dan seksi, dan dia sangat yakin kalau apa yang dikenakannya itu tentu bisa membuat pria menjadi senang melihatnya. Bahkan dia merasa hal itu justru sebuah ibadah lantaran dia menilai apa yang dilakukannya itu adalah untuk menyenangkan hati kaum pria. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat gegabah. Beruntung jika orang yang melihatnya hanya merasa senang saja, namun jika orang itu terpancing birahinya dan menjadi gelap mata lantaran melihat keindahan tubuhnya, bukankah hal itu bisa berbuntut dengan terjadinya memperkosaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, dan bukankah itu yang dinamakan fitnah karena bisa menimbulkan hal-hal yang membahayakan/menganiaya dirinya sendiri maupun orang lain.
Kini gadis berkaos merah muda itu tampak sudah tiba di ujung gang tempat pangkalan ojek langganannya berada, juga tempat yang sama disaat Bobby mengantarnya waktu itu. Dan karena saat itu tukang ojek yang menjadi langganannya tidak ada di tempat, lantas Angel pun jadi bingung dibuatnya. Maklumlah, selama ini hanya tukang ojek itulah yang biasa mengantarnya hingga ke mana-mana. Sebab memang hanya tukang ojek itulah yang memahami betul keadaannya yang bukan orang berada, dan karenanyalah dia mau saja jika dibayar dengan separuh harga, bahkan jika Angel lagi tidak punya uang, dia mau saja mengantarkan Angel dengan tanpa dibayar. Sungguh tukang ojek itu tidak sampai hati jika melihat Angel sampai berjalan kaki lantaran tidak punya uang. Selama ini saja, tukang ojek itu sering membantu orang tua Angel yang terkadang memang suka meminjam uang demi melunasi uang SPP sekolahnya atau untuk biaya kursus komputernya waktu itu.
"Hmm... Ke mana ya Pak Salim, kenapa sudah selama ini belum datang juga?" tanya Angel resah.
Angel terus menunggu dan menunggu, hingga akhirnya gadis itu terpaksa harus mengambil keputusan. "Hmm... Mungkin Pak Salim sedang mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Jika begitu, terpaksa aku memang harus berjalan kaki," kata Angel seraya melangkah pergi.
Kini gadis itu tengah menyusuri jalan yang menuju ke rumah Bobby. Di dalam perjalanan, berkali-kali gadis itu mendapat godaan dari para pemuda yang memang menyukai penampilannya. Saat itu, Angel justru senang karena telah menjadi pusat perhatian dan membuat para pemuda itu menjadi senang dengan penampilannya. Untunglah para pemuda itu menggodanya hanya dengan suitan dan dengan kata-kata yang masih terbilang sopan. Sebab jika tidak, bisa saja Angel menjadi korban pelecehan seksual, yaitu dengan menyentuh bagian tubuhnya yang memang mengundang.
Gadis manis berkaos merah muda itu masih terus melangkah, berlenggak-lengkok bak seorang model yang memamerkan keindahan busananya yang jelas menggoda. Dan karena atribut menggoda itulah, tubuhnya yang memang sudah indah kian bertambah indah saja. Pada saat itu, seorang pemuda yang belum lama menikah, tiba-tiba langsung bergegas menemui sang Istri lantaran dia begitu bergairah melihat penampilan Angel yang demikian. Bukan hanya pemuda beristri itu saja yang menjadi bergairah, tapi juga dua orang pemuda yang saat itu sedang meledak-ledak libodonya lantaran ulah siklus biologis. Saat itu, seorang pemuda yang taat agama buru-buru mengucapkan istigfar sebanyak-banyaknya, kemudian dengan segera dia bergegas mencari kegiatan yang bisa menyibukkan diri sehingga bisa melupakan apa yang baru dilihatnya. Sedangkan seorang pemuda lainnya, yang memang kurang ilmu agama tampak pusing tujuh keliling, bahkan dia sempat berpikiran untuk memperkosa anak tetangga yang memang sering main di rumahnya. Tapi untunglah, saat itu anak tetangganya sedang tidak bermain di rumahnya. Kalau saja niat mesum itu sempat terlaksana, tentu Angel bisa dituntut lantaran menjadi pemicu terjadinya pemerkosaan. Bukankah Allah sudah menurunkan ayat hijab, yang jelas-jelas telah diwajibkan kepada kaum perempuan demi untuk melindungi kaum perempuan juga. Jadi, tidak ada peluang bagi perempuan untuk dapat berkelit dari tuntutan yang dialamatkan kepadanya. Sungguh kasihan Angel, akibat dari pemikirannya yang sangat gegabah itu,  ternyata justru dapat menyebabkan dia dituntut dikemudian hari. Andai saja dia mau belajar dengan sungguh-sungguh dalam upayanya membekali diri dengan pemahaman ilmu agama yang benar, yaitu memahami ayat hijab dengan sebenar-benarnya, tentu dia tidak akan berani berpenampilan begitu.
Maklumlah, biarpun selama ini Angel menyukai hal-hal kerohanian, namun dia masih berat untuk bisa mengamalkan ilmu agama yang didapatnya. Hal itu dikarenakan kurangnya pemahaman dan penghayatan dari setiap ilmu yang sudah dipelajarinya, dan karena itu pulalah kini dia mau berubah, yaitu dengan mencari seorang pendamping hidup yang bisa membimbingnya, mendorongnya, mendoakannya dengan penuh rasa cinta, sehingga kelak dia bisa lebih memahami ajaran Islam dan bisa mengamalkannya dengan penuh kesungguhan. Angel percaya, jika kelak dia dan Bobby sudah dalam ikatan yang suci, dan mereka sudah sama-sama bisa memahami ajaran Islam dengan lebih sempurna, tentu mereka akan senantiasa saling mengingatkan dan saling menguatkan. Bahkan dengan perasaan cinta dan kasih sayang dari keduanya, yang semata-mata karena Allah, maka tidak mustahil mereka akan lebih mudah untuk melewati setiap rintangan yang menghadang dan bisa tabah dalam menerima segala ujian yang diberikan Tuhan.
Sementara itu di taman, Bobby tampak sudah semakin mantap untuk membatalkan niatnya, yaitu dia akan membiarkan Angel untuk mengejar cinta sejatinya sendiri. Bahkan pada saat itu beban di hatinya sudah kian mereda, pertanda kalau dia memang sudah mengikhlaskannya. Kini kedua mata pemuda itu tampak memperhatikan dedauan yang gugur terhempas angin yang kecang. Pada saat itu di angkasa langit sudah semakin gelap, pertanda kalau sebentar lagi bumi memang akan diguyur hujan. Namun saat itu Bobby sama sekali tidak khawatir kalau dia bakal kehujanan, baginya hujan adalah berkah yang tak patut ditakuti. Benar saja, akhirnya hujan gerimis pun turun dan semakin lama berubah menjadi hujan yang begitu lebat dan membuatnya basah kuyup. Kini Bobby tampak tertunduk dengan kedua mata yang terpejam, merasakan kesejukan air hujan yang sudah lama sekali tak menyiram persada. Sungguh terasa sejuk, sejuk sekali—sesejuk hatinya yang kini sudah menerima sebuah ujian dari Tuhan. Ujian perihal cinta yang harus disikapinya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, yang mana akan membuatnya bisa lebih memahami akan makna cinta itu sendiri. Pada saat yang sama, di dalam sebuah gardu tua, seorang gadis tampak sedang berlindung dari siraman hujan yang begitu lebat. Dialah Angel yang kini sedang resah menunggu hujan itu berhenti. Namun sayangnya, hujan itu tak mungkin berhenti dalam waktu singkat. Sungguh saat itu Angel betul-betul bingung, bahkan di kedua matanya terlihat kecemasan yang amat sangat.
Dengan penuh kecemasan, Angel terus memperhatikan keadaan di sekitarnya. Saat itu suasana tampak sudah semakin gelap lantaran terhalang tirai hujan yang begitu lebat, ditambah lagi saat itu hari memang sudah mulai senja. "Ya Tuhan... Kenapa hujan harus turun disaat aku ingin segera bertemu dengan belahan jiwaku? Sepertinya, hujan lebat ini akan lama berhenti. Mungkin akan berhenti selepas Isya nanti—disaat orang tua Bobby mungkin sudah berangkat melamar Wanda. Dan itu artinya, aku tidak mungkin mendapat kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku. Ya Tuhan... Apakah ini sebuah ujian dari-Mu, agar aku tak boleh menyerah kalah oleh hujan yang selebat ini. Apakah itu artinya aku harus terus melangkah kakiku di bawah lebatnya siraman hujan yang mungkin saja bisa membuatku sakit. Hmm... Sakit..? Lebih baik aku sakit atau mati sekalian, dari pada aku hidup sehat namun tak bisa bersanding dengan Bobby. Lagi pula, bukankah sakit karena kehujanan tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan sakit lantaran patah hati. Ya... Aku harus meneruskan perjalananku, walau apapun yang akan terjadi," kata Angel seraya keluar dari gardu dan melangkah di bawah siraman hujan yang membuatnya langsung basah kuyup.
Angel terus melangkah dan melangkah, menyusuri jalan yang seolah dilapisi oleh hamparan kabut putih. Sesekali kilat membias dan diikuti oleh bunyi halilintar yang mengejutkan. Saking takutnya tersambar petir, setiap kali dia melihat kilat yang membias, buru-buru gadis itu berjongkok sambil menutup kedua telinganya. Bukan hanya petir yang membuatnya khawatir, namun juga angin yang terkadang bertiup sangat kencang sehingga membuat dahan pepohonan yang tubuh di sepanjang jalan bergoyang-goyang saling bergesekan. Sungguh gadis itu sangat mengkhawatirkan jika salah satu dahan itu sempal dan menimpanya.
Benar saja, baru juga dia melangkah kaki beberapa meter, tiba-tiba sebuah dahan yang cukup besar sempal dan jatuh tepat di atas kepalanya. Mengetahui itu, Angel langsung panik dibuatnya. Namun bukannya berlari menghindar, gadis itu malah tiarap dengan kedua tangan yang berusaha melindungi kepalanya. Alhasil, ranting sedang dari dahan besar itu telah menimpa kakinya. "Aaacch...! Ya Tuhan... Apakah ini artinya aku memang harus menyerah? Dan apakah ini artinya, Engkau memang tidak menghendakiku menjadi pendamping Bobby?" tanya Angel membatin sambil terus merintih—merasakan sakit pada kakinya.
Sementara itu di taman, Bobby masih belum bergeming. Saat itu tubuhnya tampak sudah menggigil kedinginan, bahkan bibirnya sudah semakin pucat saja. Namun begitu, pemuda itu masih terus bertahan. Lalu dengan kepala yang masih tertunduk, kedua mata pemuda itu lantas terpejam, kemudian dengan khusuk dia memohon kepada Tuhannya. "Duhai Allah, seandainya dia memang bukan jodohku. Aku mohon carikanlah pengganti yang jauh lebih baik darinya. Kini aku hanya bisa pasrah menunggu takdirku selanjutnya, takdir yang harus kujalani demi takwaku kepada-Mu. Duhai Allah, Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang... Kuatkanlah imanku agar peristiwa ini tak menjadikan aku kufur kepadamu, namun jadikanlah peristiwa ini sebagai hikmah yang justru menambah rasa cintaku kepada-Mu."
Dalam siraman hujan yang begitu lebat itu, Bobby tampak menangis haru. Betapa dia sangat bersyukur karena Tuhan telah mengajarkan kepadanya akan sebuah makna cinta, yaitu makna cinta sejati yang hakiki. Bahkan kini makna cinta itu bukan hanya dipahami, namun juga bisa dihayati dengan sepenuh hati. "Duhai Allah, perasan inikah yang dinamakan cinta sejati, yaitu perasaan akan rasa cintaku kepada-Mu, dan rasa syukur yang membahagiakan inikah jawaban dari kecintaanku kepada-Mu."
"Kak, Bobby!" panggil seorang gadis tiba-tiba.
Mendengar itu, seketika Bobby langsung menengadah dan membuka kedua kelopak matanya—memandang seorang gadis yang kini sedang berdiri dihadapannya. "Angel...!" seru Bobby terkejut seraya memperhatikan wajah gadis yang kini tampak memandangnya dengan tatapan penuh harap.
"Kak... Ke-ketahuilah! Te-ternyata... Raka bukanlah cinta sejatiku. Kaulah cinta sejatiku. Aku mencintai Raka karena sekedar mau mendapatkan kesenangan dunia. Berbeda ketika aku mencintaimu, sebab aku mencintaimu atas dasar cintaku kepada Tuhan, yang aku percaya dengan perantaramu bisa membimbingku menjadi seorang wanita yang shalehah. Kak, Bobby.... Ka-kaulah cinta sejatiku, dan aku harap kau mau segera menikahiku," ungkap Angel seraya berlutut di hadapan pemuda itu.
Mengetahui itu, Bobby laksana mendengar nyanyian bidadari yang teramat indah, bahkan saking senangnya pemuda itu hampir tak mampu lagi berkata-kata. "Be-benarkah yang kau katakan itu?" tanyanya hampir tak mempercayainya
Angel mengangguk, kemudian gadis itu tertunduk resah menunggu apa yang hendak Bobby katakan.
"Angel..." ucap Bobby dengan suara yang begitu lembut.
Saat itu jantung Angel langsung berdegup kencang sekali, sungguh saat itu dia benar-benar hampir tak mengusai dirinya.
"A-aku mencintaimu, An. Ketahuilah... Kini aku sudah berpisah dengan Wanda," ungkap Bobby.
Sungguh saat itu Angel tak kuasa lagi untuk membendung air matanya, gadis itu menangis bahagia. "Be-benarkah itu, Kak?" tanyanya seakan tak percaya dengan kata-kata Bobby yang baru saja didengarnya.
"Sungguh, An. Ternyata memang kaulah cinta sejatiku. Malah kini aku semakin bertambah yakin, sebab apa yang telah kau ungkapkan itu adalah bukti bahwa kau sudah betul-betul memahami akan arti kehidupan. Tapi, An..."
"Ta-tapi apa, Kak?"
"Bagaimana dengan Raka? Dia itu kan sahabatku, An?"
"Kak… Sejak awal, Kak Raka memang sudah mengikhlaskannya. Aku yakin sekali, kalau dia bukanlah pria egois yang tega membiarkan gadis yang dicintainya hidup menderita. Ketahuilah, Kak! Jika Raka sudah mengetahui kalau aku mencintainya lantaran cinta buta, tentu dia pun akan segera berpaling. Aaacch...!" tiba-tiba Angel merintih, merasakan sakit pada kakinya.
"Angel...! Kau kenapa?" tanya Bobby khawatir.
"Ti-tidak... Aku tidak apa-apa," jawab Angel merahasiakan.
"Betul kau tidak apa-apa?" tanya Bobby masih saja khawatir.
Angel menggangguk, sedang di bibirnya tampak tersungging sebuah senyum kebahagiaan. Saat itulah Bobby langsung memakaikan Angel cincin tanda keseriusannya. Setelah itu, keduanya lantas berpegangan tangan dengan erat dan saling berpandangan. Sebetulnya saat itu keduanya ingin sekali berpelukan dan berciuman, namun karena mereka tidak mau terlalu menodai cinta mereka yang suci dengan hal-hal yang tak dikehendaki Tuhan, akhirnya mereka pun bisa menahannya. Maklumlah, saat saling berpandangan dan berpegangan tangan saja sudah membuat keduanya merasa begitu berdosa, apalagi jika sampai berani berpelukan dan berciuman. Sungguh mereka akan merasa sangat sangat sangat berdosa. Selama ini saja, mereka hanya berani melakukan hal itu cuma dalam mimpi, yang jelas-jelas tidak akan membuat mereka berdosa.
Begitulah… Akhirnya Angel bisa mendapatkan cinta sejatinya, dan itu karena kepakan sayap bidadarinya yang teramat kuat, yaitu cita-cita untuk meraih impian agar bisa bersanding dengan cinta sejatinya yang hakiki dengan berdasarkan petunjuk Tuhan. Sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu adalah buah dari segala pilihan takdir yang dipilih dengan berdasarkan petunjuk Tuhan, yaitu Al-Quran dan Hadits Rasul.

==========================================================================
Assalam….

Mohon maaf jika pada tulisan ini terdapat kesalahan di sana-sini, sebab saya hanyalah manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Saya menyadari kalau segala kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, dan segala kesalahan tentulah berasal dari saya. Karenanyalah, jika saya telah melakukan kekhilafan karena kurangnya ilmu, mohon kiranya teman-teman mau memberikan nasihat dan meluruskannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak.
Akhir kata, semoga cerita ini bisa bermanfaat buat saya sendiri dan juga buat para pembaca. Amin…

Wassalam…


[ Cerita ini ditulis tahun 2006 ]

E-BOOK GRATIS

E-BOOK GRATIS

Salurkan Donasi Anda Melalui : 
Bank .... Atas Nama : Atikah, No. Rekening : ....


  Download










 




Salurkan Donasi Anda Melalui : 
Bank ...., Atas Nama : Atikah, No. Rekening : ....

Renungan Idul Adha




 Renungan Idul Adha


Aku adalah seorang manajer di sebuah perusahaan. Selama ini aku hidup berkecukupan. Bahkan setiap tahun, kami sekeluarga tak lupa untuk berkurban. Namun, pada kurban tahun ini aku merasa ada sesatu yang salah. Setelah sekian lama merenung, akhirnya aku mendapat jawaban. Ya, kini aku baru menyadari, kalau ibadah kurban selain bisa membantu sesama, juga bisa menjadi sarana pengingat kepadaku agar mau melaksanakan hakikat sejatinya. Sungguh, selama ini aku telah berkurban, namun aku tidak mengamalkan hakikat sejatinya. Bayangkan, selama ini aku membantu atasanku dalam usahanya. Padahal, Aku mengetahui apa yang atasanku lakukan demi kemajuan perusahaannya, yaitu dari gratifikasi hingga memberi kesempatan orang untuk korupsi. Dan itu artinya, secara tidak langsung aku pun ikut terlibat dalam melakukan perbuatan itu. Astagfirullah… ternyata uang yang kucari selama ini tidaklah berkah, dan yang paling menyedihkan adalah aku telah memberikannya kepada anak dan istriku, bahkan untuk membeli hewan kurban.
Pada kesempatan ini aku pun bertobat dan bertekad untuk keluar dari perusahaan dan mencari pekerjaan lain yang diridhai-Nya . Tapi… aku tidak yakin akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sekarang, tentunya dalam hal gaji dan fasilitas. Selain itu, apa keluargaku juga akan menerima jika tiba-tiba mereka harus hidup susah lantaran sudah terbiasa dengan kemudahan. Sungguh aku khawatir tidak bisa bahagia lagi, aku khawatir tidak bisa membahagiakan keluarga yang begitu kucintai. Walau hati nuraniku mengatakan, sebetulnya kami sekeluarga bisa hidup walau dengan gaji yang lebih kecil. Tapi egoku terus protes, bisakah kami bahagia, padahal selama ini kami sekeluarga sudah terbiasa dengan kehidupan yang enak. Terbayang dan terprediksi sudah betapa susahnya kami sekeluarga jika aku berani mengurbankan pekerjaan itu. Tapi, nuraniku mengatakan kalau aku memang harus berkurban. Sebab, sejatinya pengurbanan itu adalah karena lebih mencintai Allah. Tapi apa yang aku lakukan justru lebih mencintai pekerjaan dan keluarga ketimbang mencintai Allah.
Duhai Allah… Sungguh aku tidak berani mengurbankan semua itu, walau aku menyadari Engkau lah Sang pemberi rezeki. Sungguh aku memang seorang pengecut. Padahal, setiap tahun aku selalu berkurban, yang mana makna sejatinya harus bisa kulaksanakan. Apakah semua itu akibat dari caraku mendapatkan hewan qurban dengan cara yang salah, hingga akhirnya kini aku menjadi seorang pengecut yang tidak berani berkurban demi Mu?
Duhai Allah… berilah aku kekuatan agar bisa melaksanakan makna sejatinya berkurban, yaitu betul-betul berani berkurban sebagai wujud cintaku kepada-Mu. Amin...


Cinta Maya [ Bagian I ]


===================================================
CINTA MAYA
===================================================

Sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Bois, penulis copo yang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalah sarana untuk mengilustrasikan makna di balik kehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perlu anda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yang tidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelum ia tuntas membacanya.

Salurkan donasi anda melalui:
Bank BCA, AN: ATIKAH, REC: 1281625336
 ==================================================

Bagian I

Click! Click! Click! Suara mouse terdengar saat Maya sedang mengaktifkan menu status karakter game online miliknya. "Asyik… kini level karakterku sudah memenuhi syarat untuk memasuki dunia gaib," kata Maya bersorak dalam hati.
Sungguh wanita itu betul-betul gembira karena perjuangannya di dunia game selama ini ternyata tidak sia-sia, dan tak lama lagi dia sudah bisa memasuki alam gaib yang lebih seru dan menegangkan. Namun sebelum dia bisa memasuki alam itu, ternyata dia harus mempunyai mantra perpindahan lebih dulu. "Sial… ternyata untuk mendapatkan mantra itu tidaklah mudah," Maya mengeluh.
Maklumlah, syaratnya untuk mendapatkan mantra itu diharuskan mengumpulkan 3 macam jenis bebatuan, yaitu merah delima, jambut, dan safir. Masing-masing harus berjumlah 500 buah. "Huh, ini sih nyiksa diri namanya. Masa harus sebanyak itu. Ampun deh…" Maya lagi-lagi mengeluh.
Kini wanita itu tampak mendudukkan karakternya di bawah pohon yang lebat, saat itu dia mulai putus asa lantaran harus menjalankan tugas yang baginya begitu berat. Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda mendekat.
"Hmm.. siapa kesatria itu? Sepertinya dia itu level tinggi," duga Maya dalam hati sambil terus memperhatikan karakter kesatria berkuda di layar monitornya.
Tak lama kemudian, si kesatria berkuda itu sudah berdiri di hadapan karakter milik Maya. Dia berdiri dengan gagah sambil memamerkan pedang yang baru didapatnya. "Lihatlah pedangku ini, bagus tidak? Tadi aku mendapatkannya ketika melawan monster Unggara," tanya kesatria berkuda itu.
"Mmm… Bagus juga. Ngomong-ngomong, kakak level berapa?" tanya Maya pada kesatria yang ternyata bernama Harsya.
"Baru 120," jawab Harsya.
"Bohong… Jika melihat dari pakaianmu kau pasti sudah lebih dari 140."
"Hehehe…! Aku level 142. O ya, ngomong-ngomong kenapa tidak berburu?"
"Wah, males…" jawab Maya sekenanya.
"Kok males?"
"Iya nih. Masak aku harus mengumpulkan 1500 buah batu."
"Hehehe…! Syarat untuk mendapat mantra perpindahan kan?"
Maya menganggukkan karakternya.
"Kalau begitu mau kubantu?"
Mengetahui itu, Maya langsung bersorak dalam hati, sungguh kesempatan ditolong oleh level yang lebih tinggi adalah peluangnya untuk lebih mudah mendapatkan mantra perpindahan.
"Tentu saja, Kak. Aku mau sekali," jawab Maya bersemangat.
"Sudah kuduga, kau memang salah seorang kesatria yang manja. Maaf! Aku tidak bisa membantumu, sebab akan membuatmu semakin manja"
Mengetahui itu, Maya langsung memasang tampang geram, "Dasar pembohong… teganya kau mempermainkan aku. Padahal, tadi aku sudah begitu senang karena kau mau menolongku. Sungguh aku membencimu!"
"Kok ngambek…?"
"Sudah sana pergi! Aku tidak mau melihat tampangmu lagi."
"Idih… Ngambek betulan."
"Huh, kalau kau tidak pergi, biar aku yang pergi," kata Maya seraya melangkah menjauh.
"Non…! Mau kubantu tidak?" panggil Harsya tiba-tiba.
Mengetahui itu, Maya langsung menghentikan langkahnya, kemudian segera menghampiri kesatria tampan itu. "Betul kau mau membantuku?" tanyanya penuh pengharapan.
Saat itu Harsya bukannya menjawab, tapi malah cengengesan.
"Huh! Lagi-lagi kau telah mempermainkanku, dasar penipu…" ucap Maya semakin jengkel seraya kembali menggerakkan karakternya untuk melangkah menjauh.
"Eh, Non! Tunggu…!" tahan Harsya tiba-tiba.
Saat itu Maya tidak mempedulikannya, dia terus menggerakkan karakternya melangkah semakin jauh. Mengetahui itu, Harsya segera naik ke pelana kuda dan buru-buru mengejarnya.
"Eh, Non…! Jangan ngambek dong! Tadi itu aku cuma bercanda. Ketahuilah, kalau aku memang mau membantumu."
"Au ah, aku tidak peduli."
"Please, Non! Kau jangan marah padaku! Sungguh aku memang mau membantumu."
Mendengar itu, Maya pun menghentikan langkahnya. "Awas ya…! kalau kau berani mempermainkanku lagi," ancamnya kemudian.
"Hehehe…! Ternyata kau ini wanita yang gampang marah ya. Aku janji tidak akan mempermainkanmu lagi. Ketahuilah, sebetulnya aku tidak mau terlibat dengan membantumu mencari bebatuan itu. Tapi karena suatu sebab, terpaksa aku mau melakukannya," jelas Harsya seraya turun dari atas kudanya.
"Kenapa?" tanya Maya heran.
"Sebab RP-ku bisa turun karenanya."
"Apa itu RP, dan kenapa bisa begitu?"
"Tahu kenapa aku memilih karakter kesatria R-Warrior ini?"
"Tidak. Aku juga heran, kenapa kau memilih karakter itu? Setahuku karakter itu tidak bisa menggunakan atribut sihir, dan karenanyalah tidak banyak orang yang memilihnya, sebab karakter itu tidak akan hebat."
"Siapa bilang tidak akan hebat. Ketahuilah, pada karakterku ini selain ada yang namanya KP (Karomah Point) juga ada yang namanya RP (Religion Point). KP-ku bisa terisi jika RP-ku sudah berada di atas 75%. Kekuatanku sangat bergantung pada RP-ku ini, jika aku mampu mempertahankan RP-ku di atas 75% maka siapa pun sulit untuk bisa melukaiku. Sebab, KP-ku tentu akan senantiasa terisi. Jika sudah begitu, ketika aku sedang terdesak di dalam sebuah pertempuran, maka KP-ku akan bekerja, yaitu dengan mengeluarkan sebuah kekuatan dasyat yang bisa melindungiku. Tapi jika RP-ku lagi turun, maka dengan mudahnya aku bisa di bunuh. Dan untuk mengisi RP ini tidaklah mudah, sebab aku harus sering menolong orang yang mengalami kesusahan. Selain itu, RP-ku bisa juga terisi dengan melakukan berbagai ritual yang sudah ditentukan. Namun RP ini bisa juga turun, tentunya jika aku melakukan tindakan yang bertentangan dengan atribut yang ada di karakterku."
"Hihihi...! Karaktermu itu seperti orang yang beragama saja. Tidak seperti karakterku, yang MP-nya (Mana Point), bisa diisi dengan mudah."
"Ya begitulah. Sebab, atribut R pada R-Warrior adalah singkatan dari Religion. Ketahuilah! Permainan di game online yang satu ini memang agak unik, sebab dibuat oleh seorang programmer muslim yang ulung, dia membuatnya sendiri tanpa bantuan siapa pun, dari pembuatan engine-nya sampai ke-art game-nya, baik itu mesh modelnya, skin texturenya, dan masih banyak lagi. Dia membuat game online ini dengan tujuan untuk memahami arti kehidupan."
"Memahami arti kehidupan? Maksudmu?"
"Subhanallah… Ternyata sistem komputerisasi yang kita kenal sekarang adalah bagian dari skenario Allah guna memberi pemahaman kepada manusia mengenai kitab Lauhul Mahfuzh, dan dengan adanya sistem komputerisasi yang diilhami kepada manusia itu pula, akhirnya manusia bisa memahami berbagai takdir yang mana memang sudah ditetapkan di dalam kitab itu. Karena itulah, si programmer muslim mencoba membuat sebuah perumpamaan yang bisa memudahkan manusia dalam mencerna perihal takdir dengan baik sehingga manusia bisa memahami arti kehidupan. Walaupun aku tahu si programmer tidak mungkin bisa tahu pasti bagaimana dan seperti apa Lauhul Mahfuzh itu sebenarnya, apakah memang bentuk seperti listing pemprograman komputer yang kita kenal sekarang atau tidak. Sebab, listing program yang kita kenal sekarang adalah ciptaan Allah juga, yang mana telah diilhamkan kepada manusia demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Wallahu’alam…

An Naml 75. Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

Al Hadiid 22. Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Al An'aam 38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
[472]. sebahagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul Mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam lauhul mahfudz.

Al An'aam 59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Demikianlah kitab Lauhul Mahfuz itu, mirip sekali dengan Listing Program Komputer yang kita kenal sekarang, walaupun Lauhul Mahfuzh itu jelas sangat jauh, jauh, jauh lebih kompleks," jelas Harsya Panjang lebar.
"Duh, aku masih belum mengerti, Kak," kata Maya terus terang.
"Baiklah…" kata Harsya seraya menarik nafas panjang, kemudian dia segera melanjutkan kata-katanya. "Begini saja, untuk lebih mempermudah pemahamanmu, marilah kita bandingkan Listing Program Lauhul Mahfuzh itu dengan Listing Program Game Online yang dibuat oleh si programer muslim ini, yang mana setiap objek yang ada di dalam game online ini jelas sudah ditentukan oleh programmernya. Dari keadaannya dunianya, waktunya, skenarionya, berbagai karakternya, hingga sampai ke berbagai perlengkapan karakternya. Dan si programmer-lah yang mengendalikan sepenuhnya mengenai apa yang ada di dunia game, apakah ia akan menambahkan karakter baru, membuat dunia baru, atau membuat skenario baru. Sesungguhnya banyak sekali yang bisa dilakukan oleh seorang programmer guna bisa membuat dunia game seperti yang diinginkannya.
Karena itulah, sebagai penguasa di dunia game, tidak mustahil seorang programmer bisa mengetahui apa yang sudah terjadi. Sebab, semua yang telah terjadi di dunia game akan selalu tersimpan di dalam data basenya. Selain itu, dia juga bisa mengetahui apa akan terjadi kemudian. Sebab, dialah yang membuat data base skenarionya. Namun sayangnya, seorang programmer tidak mungkin bisa mengetahui isi hati seorang gamer (manusia yang memainkan program game buatannya). Sebab, memang bukan programmer yang menciptakan manusia, sehingga mustahil baginya untuk bisa mengetahui isi hati manusia. Itulah hal mendasar yang membedakan antara Dunia Game Online buatan programmer, dan Dunia Kita ciptaan Allah. Karena itulah kita tak usah heran, kalau Allah itu adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segalanya, termasuk isi hati setiap manusia. Sebab, Allah-lah yang telah memprogram dunia kita beserta isinya, termasuk kita, dan semuanya itu telah ditulis-Nya di dalam sebuah kitab yang bernama Lauhul Mahfuzh," jelas Harsya lagi panjang lebar.
"Wah, jadi si progammer itu seperti Tuhan saja. Tuhannya para gamer di dunia game." Maya berkomentar.
"Ya, seperti itulah. Karena itu, para gamer yang bermain game online pun mirip sekali dengan wujud gaib kita yang bernama Roh. Di dalam dunia game, gamer hanya bisa berkuasa sebatas mengendalikan karakter miliknya guna menaikan level karakter yang dimainkannya, yaitu dengan cara mengemban misi pada setiap skenario yang sudah ditetapkan oleh sang programmer. Begitupun dengan diri kita di dunia yang fana ini, yang mana telah ditugaskan untuk menjadi khalifah guna menaikkan level kemuliaan kita, yaitu dengan cara bertakwa kepada Allah.

Al Anfaal 17. Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Jelas sekali diterangkan dalam ayat tersebut, kalau manusia memang tak berkuasa apa-apa. Sebab, segala aktifitas manusia memang sudah terprogram, termasuk aktifitas yang ada pada ayat itu, yaitu membunuh dan melempar, yang mana keduanya adalah bagian dari ciptaan Allah. Karenanyalah memang sudah sepantasnya Allah berbicara begitu, dengan maksud agar manusia jangan menyombongkan diri terhadap "kemampuan fisik yang dimilikinya", karena sesungguhnya kemampuan itu semata-mata karena Allah yang menggerakkannya. Selain itu, Allah juga telah membantu memenangkan skenario itu dengan mengirimkan malaikat-Nya lantaran adanya usaha manusia yang telah meminta pertolongan-Nya. Karenanyalah, pantaskah manusia menyobongkan diri padahal kemenangan itu semata-mata karena pertolongan Allah? Untuk lebih jelasnya, coba kau perhatikan karakter milikmu itu. Apakah karakter itu bisa bergerak karena digerakkan olehmu?" tanya Harsya pada Maya
"Tentu saja, sebab jika aku diamkan tidak mungkin karakterku ini bisa bergerak," jawab Maya yakin.
"Aku sudah menduga, orang awam sepertimu pasti akan menjawabnya begitu. Namun bagiku, yang mana telah sedikit memahami dunia pemprograman tentu saja akan menjawabnya bukan, sebab pada kakekatnya bergeraknya karakter itu disebabkan adanya program pergerakan interaktif yang dibuat oleh si programmer. Jika programmer tidak membuat program pergerakan interaktif itu, mustahil gamer bisa menggerakkan karakternya. Karena itulah, di dalam dunia kita ini, kita sama-sekali tak berkuasa untuk menggerakkan seluruh anggota badan kita. Jangankan untuk menggerakkan seluruhnya, membuka kelopak mata saja pada hakekatnya kita tidak akan sanggup. Sesungguhnya kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia hanyalah sebatas mengendalikan perangkat akal, yaitu manusia diberi hak istimewa untuk menentukan pilihannya sendiri. Dan oleh sebab itu pula, hakikat kehidupan di dunia ini hanyalah memilih takdir, yang mana telah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia diciptakan. Jadi jelas sekali, apapun pilihan manusia merupakan takdir yang memang harus dijalaninya," jelas Harsya panjang lebar.
"Wah, jadi apa yang kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari ternyata sudah diprogram, dan semua itu tak ubahnya seperti kita melakukan berbagai pilihan di dalam permainan game online ini," komentar Maya atas penjelasan Harsya tadi.
"Ya, begitulah kira-kira. Sebab, kehidupan kita di dunia nyata pada hahekatnya memang sebuah permainan."
"Wah wah wah… Jadi, kehidupanku yang selama ini kuanggap nyata ternyata hanya sebuah permainan yang sudah terprogram, dan Tuhan-lah yang memprogramnya."
"Tepat sekali. Karena itulah, peraturan dalam game online ini pun dibuat menyerupai kehidupan nyata, sehingga setiap karakter yang beratribut R tidak bisa seenaknya bertindak, sebab bisa mempengaruhi RP."
"O, kini aku mengerti kenapa pada mulanya kau tidak mau membantuku. Lalu, kenapa tadi kau bilang mau membantuku?"
"Entahlah... aku juga tidak mengerti. Kenapa aku mau saja membantumu yang dari golongan penyihir. Mungkin itu karena..." Kesatria tampan itu tak melanjutkan kata-katanya, dia malah melangkah menghapiri sebuah pohon besar dan duduk di bawahnya.
"Karena apa, Kak?" tanya Maya penasaran seraya duduk di bawah pohon yang sama.
"Sudahlah, aku tak mau mengungkapkannya."
"Kau menyukaiku, ya?"
"Wuih, GR! Maaf ya! Kau itu bukan tipeku."
"Sudahlah…! Aku tidak peduli apakah kau menyukaiku atau tidak, yang terpenting adalah kau mau membantuku mencari bebatuan itu," kata Maya terus terang.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Harsya seraya naik ke atas kudanya. "O ya, biar lebih cepat sebaiknya kau membonceng bersamaku," ajak kesatria itu lagi seraya menjulurkan tangannya membantu Maya naik ke pelana."
"Kita akan pergi ke mana, Kak?" tanya Maya yang kini sudah duduk di belakang Harsya.
"Kita akan pergi ke Lembah Hijau, setahuku di sana banyak terdapat batu zambrut," jelas Harsya seraya menghentakkan kekang kendali kudanya.
Kini kuda yang mereka tumpangi tampak mulai menyusuri jalan setapak yang berada di lereng bukit. Kuda itu tampak begitu bersemangat, terus berlari dengan kecepatan tinggi melintasi tebing yang kian mendaki.
Beberapa menit kemudian, kuda yang mereka tumpangi akhirnya tiba di tempat tujuan. Kini Harsya dan Maya sedang asyik menikmati pemandangan indah yang ada di tempat itu. Sungguh pemandangan di tempat itu memang begitu indahnya. Kabut tipis tampak membayang di sela-sela pepohonan yang menghijau dan membuat suasana terasa begitu menyejukkan mata, sedang di kejauhan tampak aliran sungai yang berkelok-kelok, dengan airnya yang tampak jernih menyegarkan. Ditambah lagi dengan kicauan burung yang bernyanyi riang, semakin lengkaplah suasana yang terasa menentramkan jiwa.
Setelah puas menikmati pemandangan lembah yang indah itu, mereka pun segera turun ke dasar lembah. Beberapa menit kemudian, "Itu dia, para Monbahi! Biasanya batu zambrut di pegang oleh mereka. Kalau begitu ayo kita habisi mereka!" ajak Harsya seraya turun dari atas kuda dan segera membantu Maya turun dari pelana.
Tak lama kemudian, kesatria R-Warrior itu sudah bergerak menyerang Monbahi, yaitu monster batu hijau yang bertubuh tambun. Pada saat yang sama, Maya pun tak mau ketinggalan, dia segera ikut menyerang hingga akhirnya beberapa Monbahi berhasil dibunuhnya. Kedua kesatria itu terus bertarung dengan gagah berani, hingga akhirnya. "Berikan item itu padaku!" pinta Harsya ketika mengetahui sebuah item bagus terlontar dari salah satu monster yang dibunuhnya.
"Enak saja, kan aku yang mendapatkannya,"
"Iya… tapi aku yang membunuh monsternya,"
"Tidak bisa, item ini milikku."
"Dasar… Apa kau tidak tahu etika satu team, kalau item bagus itu harus diberikan kepada leader team."
"Tidak," jawab Maya pura-pura bodoh.
"Dasar… kalau tau begitu mending aku tidak membantumu," ucap Harsya jengkel.
"Hallo manis…!" sapa seorang kesatria tiba-tiba. Dia tampak duduk di atas kuda hitam dengan mengenakan baju zirah berjubah hitam dan perak.
"Hallo kakak!" balas Maya pada kesatria yang kini berdiri dihadapannya.
"Boleh aku ikut denganmu?" tanya kesatria yang ternyata bernama Rider.
"Eng… Memangnya Kakak level berapa?" tanya Maya menyelidik.
"Aku level 150."
"Wah, kalau begitu dengan senang hati, Kak. Dengan ikutnya Kakak, itu artinya pekerjaan kami akan menjadi lebih mudah."
"O ya, leader-nya temanmu itu kan?" tanya Rider.
"Benar, Kak. Leader-nya si Harsya," jawab Maya,
"Kalau begitu, keluar dari teamnya! Biar kau saja yang menjadi team leader-nya!"
"A-aku sebagai leader-nya?"
"Ya, dengan demikian kalau ada item bagus bisa menjadi milikmu. Bukankah itu yang dikatakan temanmu tadi?"
"Kau benar, Kak," kata Maya segera keluar dari team Harsya dan membuat team yang baru.
Setelah memasukkan Rider ke dalam teamnya, lantas ia pun segera memasukkan Harsya ke dalam teamnya. Tak lama kemudian, Maya dan Raider tampak mulai berburu. Entah kenapa, pada saat yang sama, Harsya bukannya ikut berburu, tapi malah melangkah menuju sebuah pohon besar.
Beberapa menit telah berlalu, saat itu Maya dan Rider masih terus berburu dan berburu, mereka tampak bersemangat membantai para monster dengan gagah berani. Sementara itu Harsya masih juga belum ikut berburu, kini dia malah asyik tidur-tiduran di bawah pohon besar tadi. Mengetahui itu, Rider pun tampak jengkel dan tidak tinggal diam. "May, kenapa dengan temanmu itu? Dari tadi kulihat dia itu tidur-tiduran saja, dia sama sekali tidak membantu kita. Kalau begitu, sebaiknya kita tinggalkan dia, biar kita berdua saja. Sebab, percuma saja mengajak orang seperti dia."
"Ja-jadi.. Aku harus bagaimana, Kak?" tanya Maya.
"Hmm… Bagaimana kalau sekarang kau kick dia!"
"Ta-tapi, Kak…"
"Sudahlah! Cepat kick dia! Jika tidak, terpaksa aku yang keluar."
Mendapat ancaman itu, Maya pun takut bukan kepalang. Sebab jika Raider tidak lagi bersamanya, bagaimana mungkin dia bisa mengumpulkan batu dan naik level dengan cepat. Maklumlah, Raider memang lebih jago ketimbang Harsya. Dia itu bisa membunuh tiga monster batu hijau sekaligus hanya dengan menggunakan sekali saja ilmu petir berantai yang keluar dari tongkat sihirnya. Sedangkan Harsya, harus menggunakan tiga kali sabetan pedang untuk bisa membunuh satu monster. Sungguh perbandingan yang lumayan jauh. Karena pertimbangan itulah, akhirnya Maya mau menuruti apa yang dikatakan Raider.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kick dia," kata Maya setuju.
Sementara itu, Harsya yang ternyata masih kesal lantaran itemnya di ambil Maya tampak terkejut ketika mengetahui dirinya dikeluarkan dari team. "A-apa! Di-dia memang wanita yang sangat keterlaluan, sudah dibantu bukannya terima kasih malah memperlakukanku begini. Awas kau, jangan mentang-mentang sudah ada kesatria lain yang mau membantu lantas kau bisa memperlakukanku dengan semena-mena," gerutu Harsya dalam hati. Lantas dengan amarah yang meluap-luap kesatria itu menghapiri Maya yang saat itu baru saja berhasil membunuh satu monster dengan 20 kali hujaman panah. "Kenapa, May?" tanya kesatria itu pada Maya.
"Siapa suruh kau diam saja," jawab Maya ketus.
"Aku diam karena…" Harsya tidak melanjutkan kata-katanya.
"Karena apa, Kak?"
"Ti-tidak. Aku tidak mau bilang?"
"Aku tahu, kau pasti masih kesal karena tadi aku mengambil item bagus itu! Iya kan?"
"Eng… tidak kok."
"Sudahlah… ayo mengaku saja!"
"Baiklah… Kau memang benar, May. Aku ini masih kesal lantaran kau mengambil item yang seharusnya menjadi milikku."
"Huh, dasar tukang ngambek, pendendam. Kau itu seperti anak kecil tahu."
"A-apa??? A-ku aku seperti anak kecil. Ketahuilah May! Sesungguhnya kau-lah yang seperti anak kecil. Kau itu betul-betul egois dan tak tahu terima kasih."
"Tuh, kan. Baru dibilangan anak kecil saja sudah sekesal itu."
"Ups…! Iya, ya… jika dipikir-pikir aku ini memang seperti anak kecil. Hmm… Sungguh aku betul-betul tidak mengerti. Kenapa aku bisa seperti itu ya? Padahal aku tahu, kalau semua ini cuma permainan."
"Wajar saja kalau kau kesal, Kak. Sebab, kau itu punya perasaan. Dan menurutku yang membuat permainan ini menjadi mengasyikkan karena adanya perasan itu."
"Ha ha ha…!" Tiba-tiba Harsya tertawa terbahak-bahak. "Kini aku mengerti, hal itulah yang membuat permainan ini menjadi menarik dan membuat kita ingin terus bermain."
"Atau malah kepingin berhenti," Maya menambahkan.
"Ya, kau benar. Jika kita dapat memahami perihal perasaan kita, tentunya kita ingin terus bermain karena bisa menikmatinya. Namun jika tidak, tentu kita ingin lekas berhenti. Hmm… barusan aku bisa tertawa karena sebelumnya aku sudah dibuat kesal olehmu."
"Hihihi…!" Maya ikut tertawa. " Kau itu aneh, Kak. Di buat kesal, eh ujung-ujungnya malah tertawa. Memangnya apa yang lucu sih?"
"Gimana tidak lucu, May. Masa aku bisa kesal hanya gara-gara item yang cuma gambar belaka, dan kau pun begitu ngotot cuma buat item yang gambar belaka."
"Eh, Kak. Biar pun cuma gambar belaka, tapi item itu berguna di dalam permainan ini."
"Ya, kau benar. Tapi, bukan itu yang kumaksud."
"Lalu… Apa, Kak?" tanya Maya penasaran.
"Begini May, seandainya penyelenggara game ini tiba-tiba tutup, lantas untuk apa lagi item yang tadi kita perebutkan tadi? Di bawa pulang juga tidak bisa, semuanya akan hilang begitu saja. Contohnya seperti game online yang sebelumnya pernah kumainkan, saat itu aku sudah menjadi kesatria tangguh yang kaya raya, dan ternyata penyelenggaranya menutup game itu begitu saja, alias game itu sudah dinyatakan kiamat. Katanya sih ada kebakaran yang menyebabkan data gamer tidak bisa diselamatkan. Karena itulah tadi aku tertawa, aku mentertawakan kebodohan kita yang telah begitu ngotot memperebutkan item yang tak ada artinya di dunia kita."
"Kau benar, Kak. Aku pun sebelumnya pernah memainkan game tersebut. Saat itu aku sudah level tinggi dan kesatria kaya pula. Tapi, semuanya hilang begitu saja, tidak ada yang bisa kubawa pulang, melainkan hanya kekesalan belaka."
"Kasian sekali kau, May. Untung saja saat memainkan game itu aku sempat menjadi gamer yang baik, yang senantiasa membantu orang, bahkan tidak segan-segan aku memberikan uangku untuk gamer lain yang membutuhkan. Jadi, ketika tutup masih ada yang bisa kubawa pulang, yaitu perasaan bahagia karena sempat berbuat baik bisa menyenangkan gamer lain."
Mengetahui itu, Maya langsung merenung. "Kak, maafkan aku karena telah membuatmu kesal. Dan ini, aku kembalikan item yang sebetulnya memang menjadi hakmu."
"Sudahlah, item itu untukmu saja. Mungkin kau memang lebih membutuhkannya."
"Be-benarkah! Ka-kalau begitu, terima kasih, Kak."
Pada saat itu, Rider tampak sudah berdiri di dekat mereka. "Weleh weleh… Kenapa kau malah ngobrol dengan dia, May?" tanya kesatia itu pada Maya.
"Maaf, Kak. Eng… boleh ya Harsya aku masukkan kembali dalam team!" pintanya pada kesatria tangguh itu.
"Tidak bisa, May. Biarlah orang malas seperti dia mendapat pelajaran."
"Tapi, Kak…."
"Sudah…! Biarkan saja dia. Kalau kau terus memaksa, terpaksa aku akan meninggalkanmu."
"Baiklah, Kak. Aku tidak akan memasukkannya," kata Maya seraya menghampiri Hasya. "Maaf kan aku, Kak. Aku terpaksa tidak bisa menerimamu kembali," ucapnya pada Harsya.
Saat itu Harsya sempat kecewa. Namun karena dia memahami semua itu cuma permainan, akhirnya dia pun bisa menerima . "Sudahlah, May. Tidak apa-apa, Kok. Sampai bertemu lagi ya, May," ucap Harsya seraya naik ke atas kudanya.
"Kau mau kemana, Kak?"
"Aku mau kembali ke kota membeli beberapa keperluan," jawab Harsya seraya memacu kudanya menuju kota. Pada saat yang sama, Maya sudah kembali berburu bersama Rider. Keduanya tampak bersemangat membantai para Monbahi guna mendapatkan 500 buah batu zambrut.