E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Hijab Ala Lisa

===================================================
KISAH DUNIA PARALEL
===================================================

Hijab Ala Lisa

Tik…! Tik…! Tik…! Bunyi gerimis di atas genteng. Dan tak lama kemudian, hujan pun turun dengan lebatnya. Pada saat itu aku betul-betul jengkel lantaran batal pergi ke Dunia Fantasi bersama Lisa. Saat dia memberitahuku lewat telepon, katanya percuma saja pergi ke Dufan kalau hujan melulu, soalnya banyak wahana yang tidak busa dioperasikan. Sial...! Sial…! Sial…! Dasar gadis bodoh, umpatku kesal. Maklumlah, aku kan mengajaknya ke Dufan cuma alasan saja. Tujuan yang sebenarnya sih agar bisa berduaan dengannya. Hmm… pasti romantis juga kan kalau hujan-hujan berduaan naik arum jeram, terus habis itu makan soto sambil kedinginan berdua. Apalagi jika hujan sudah berhenti, bisa naik pontang-panting sambil dempet-dempetan, kan dingin-dingin empuk tuh. Setelah itu dilanjutkan dengan naik ombang-ombang yang juga bisa dingin-dingin empuk. Wah, pasti deh akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan, sungguh sesuai sekali dengan iklannya. Dan Lisa pun pasti tidak bakal curiga kalau aku menikmati saat seperti itu, sebab mesin itu memang dirancang untuk bisa dempet-dempetan tanpa perlu khawatir dituduh melakukan pelecehan seksual. Kalaupun dia protes lantaran kena bagian yang sensitif, tinggal bilang saja itu bukanlah kemauanku tapi kemauannya mesin yang terus berputar tanpa mampu kulawan. Tapi kalau tidak, berarti dia juga suka, hehehe…! Begitulah pikiran ngeresku kalau lagi kumat, ada saja niat untuk mencari kesenangan bersama gadis yang kucintai tanpa perlu takut dicurigai. Maklumlah, keinginan itu sulit sekali kulawan karena memang ada fasilitasnya.
Tapi… gara-gara hujan semuanya jadi kacau, dan itu karena pikiranku yang tidak sesuai dengan jalan pikiran Lisa. Coba kalau pikiran Lisa sama, pasti hujan justru akan membuatnya tambah semangat. Huh, sial...! sial…! sial…! Kenapa sih Tuhan menurunkan hujannya terlalu cepat, kenapa tidak setelah kami tiba di sana saja? Padahal, aku sudah bersusah payah agar Lisa mau kuajak pergi. Maklum, selama ini Lisa susah juga diajak pergi lantaran bokek melulu. Pingin juga sih aku yang menanggung semua biayanya, tapi karena aku juga bokek jadi susah deh. Padahal selama ini aku sudah bersusah payah untuk mengumpulkan dari sisa uang sakuku, dan ternyata hasilnya cuma cukup buat sendiri. Andai saja ibuku tidak pelit, mungkin tidak akan jadi susah begini. Yup, ibuku selain galak, beliu itu juga pelit sekali. Katanya, kalau untuk urusan senang-senang harus usaha cari sendiri. Wedew, aku kan masih sekolah, masa sih harus dibebankan dengan urusan cari duit, bisa tidak konsen belajar dong. Hehehe…! Begitulah biasanya aku mencoba memberi pengertian pada ibuku. Tapi, ternyata beliau tahu juga kalau itu cuma alasanku saja. Kata beliau, kalau di suruh cari duit alasannya itu deh, tapi kalau dilarang pacaran alasannya lain lagi. Eh, Bois…! Jaman Ibu muda dulu tidak kayak kamu tahu, dasar anak manja dan pemalas. Huh, sebel banget kalau beliau bicara begitu, dan karena beliau sering ngatain aku manja dan pemalas, maka kini justru semakin menjadi-jadi. Kenapa sih beliau tidak bilang, dasar anak rajin dan mandiri. Biar aku kelak aku bisa betul-betul menjadi anak rajin dan mandiri.
Hmm… ngomong-ngomong, kenapa ya Tuhan menurunkan hujan terlalu cepat? Eng… apa itu karena niat mesumku yang memang tak dikehendaki oleh-Nya, sehingga untuk melindungiku dari perbuatan dosa maka diturunkanlah hujan. Yup, kenapa selama ini selalu seperti itu ya. Setiap kali aku mempunyai niat jelek, pasti ada saja yang menghalangiku. Hmm… apakah itu artinya doaku yang selalu memohon perlindungan-Nya telah dikabulkan? Ya aku yakin begitu, sebab selama ini aku memang selalu berdoa seperti itu, sebab aku tidak percaya dengan sistem yang terbukti tidak bisa melindungiku dari dosa. Aku lebih percaya kalau perlindungan Tuhanlah yang lebih mempuni. Hmm… jika benar demikian, Alhamdulillah… ternyata doaku untuk melindungi diri dari rusaknya sistem di negeri ini ternyata tidaklah sia-sia. Tapi… bagaimana jika doaku tak dikabulkan? Ah, aku tidak boleh berpikiran begitu. Pokoknya aku harus terus berprasangka baik pada Tuhan, kalau Tuhan itu sayang dan cinta padaku, dan doaku Insya Allah akan dikabulkan-Nya.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, niscaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, niscaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari kecil.
Yup, doa adalah pengakuanku akan kekuasaan Tuhan. Aku sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya mutlak membutuhkan bantuan-Nya. Karenanyalah manusia dianjurkan untuk berdoa hanya kepada-Nya, dan memohon bantuan juga hanya kepada-Nya. Jika aku menghadapi segala masalah, maka aku harus berdoa. Mohon pada-Nya untuk diberi petunjuk dalam menyelesaikan segala masalah.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w selalu memohon perlindungan dari suratan takdir yang buruk, dari ditimpa kecelakaan, dari kegairahan musuh dan dari terkena bala.
Yup, tidak diragukan lagi, Tuhan itu memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika aku percaya akan keberadaan-Nya, tentu rugi sekali jika sampai meragukan segala pertolongan-Nya. Bagaimanapun caranya, Insya Allah Tuhan akan menolongku dengan cara-Nya, dan pada waktu yang dikehendaki-Nya.
Begitulah aku selalu berusaha berprasangka baik atas segala peristiwa yang membuatku kesal, hingga akhirnya kesalku pun akan hilang dengan sendirinya. Bahkan bisa membuat rasa cintaku kepada Tuhan semakin tumbuh bersemi.


Seminggu kemudian, lagi-lagi aku mencoba mengajak Lisa pergi ke Dufan. Dan ternyata usahaku itu berhasil. Maklumlah, kali ini cuaca tampak cerah, dan kemungkinan turun hujan kecil sekali. Karena itulah, akhirnya kami pun sampai juga di Dufan. Duh, bahagianya. Sungguh saat itu aku sudah lupa dengan hujan tempo hari yang kupercaya telah melindungiku. Dan karenanyalah aku tidak menghiraukan dosa yang akan kuperbuat bersama gadis yang kucintai.

Hmm… kulihat Lisa tampak manis sekali. Sungguh tidak salah aku memilih. Sebab, dia itu memang laksana embun pagi yang menyejukkan, laksana oase di tengah sahara, laksana bintang di angkasa, dan laksana bulan dikala purnama. Wew, basi banget tidak sih karena lagi-lagi aku terpaksa bilang begitu? Selain itu, kini Lisa adalah gadis yang mulai mengerti soal hijab, bahkan dia hafal betul dengan ayat yang memerintahkan hijab. Sungguh Lisa itu memang gadis yang cerdas, bahkan dengan pemikirannya yang moderat dia mampu mengartikan menutup aurat itu dengan seenae udele dewe. Katanya, apa yang kukenakan sudah menutup aurat kok. Buktinya seluruh tubuhku sudah tertutup rapat. Yup, memang sudah tertutup rapat. Sebab, saat itu dia itu mengenakan kaos lengan panjang ketat berlapis u can see, bawahnya adalah jeans ketat yang tampak seksi, dan rambutnya pun tertutup rapat oleh wig sebahu. Yup, sekilas dia memang betul, kalau konteksnya hanya soal menutup aurat memang tidak ada salahnya. Tapi kalau dihubungkan dengan sejarah turunnya ayat hijab kayaknya perlu dipikirkan lagi deh. Kenapa begitu? Sebab, aku cemburu juga kalau ada yang berani curi-curi pandang— menikmati keindahan tubuh Lisa yang memang aduhai. Jika kelak dia jadi istriku, akan aku suruh dia pakai gaun kurung bercadar. Enak saja orang mau melihat dia seenak mata keranjangnya, dia itu kan milikku, tidak ada orang yang boleh melihatnya selain aku.
Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan daripada al-Mughirah bin Syukbah r.a katanya: Saad bin Ubadah telah berkata: Seandainya aku mendapati seorang lelaki bersama isteriku, maka tanpa maaf lagi, akan aku pancung dia dengan pedang. Setelah kata-kata Saad itu disampaikan kepada Rasulullah s.a.w, baginda pun bersabda: Apakah kamu merasa heran dengan kecemburuan Saad? Demi Allah! Aku lebih cemburu daripadanya, malahan Allah lebih lagi cemburunya daripadaku. Karena kecemburuan Allah itulah, maka Allah mengharamkan segala kejahatan yang ketara maupun yang terselubung. Tidak ada yang lebih cemburu selain daripada Allah. Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada orang yang mau mendengar peringatan. Oleh sebab itulah, Allah mengutus para Rasul untuk memberikan berita gembira dan memberikan peringatan serta tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada orang yang selalu memujiNya. Oleh sebab itu juga, Allah telah menjanjikan Syurga.
Yup, begitu juga aku. Jangankan ada orang yang sampai berduaan dengan istriku kelak, jika ada orang yang berani memandanginya sudah pasti aku akan sangat cemburu. Karena itulah, daripada aku menghajar orang karena melihat istriku dengan seenak mata keranjangnya, lebih baik aku tutupi dia agar tidak terlihat lagi, dan Allah pulalah yang mengajarkan aku soal itu, yaitu melalui ayat hijab yang diturunkan karena Allah tahu Baginda Rasulullah pernah sangat cemburu dan terganggu karena istrinya telah digoda orang.
Tidak salah lagi, memerintahkan istri menutup diri itu jelas jauh lebih baik daripada aku khilaf menghajar orang atau sampai membunuhnya lantaran kelancangannya. Namun, apakah kelak Lisa mau menuruti keinginanku itu. Maklumlah, menurut pandangan umum hal seperti itu tidaklah lazim. Sebab, jarang ada orang yang mempunyai rasa cemburu seperti Rasulullah, sehingga dengan entengnya dia membiarkan saja istrinya dipandangi orang. Terus terang, aku sendiri suka memandangi wanita cantik, namun di sisi lain aku cemburu jika Lisa sampai dipandangi orang. Tampaknya, memang hanya hijab sajalah jalan penyelesaian yang terbaik. Jika apa yang pernah kulihat di dunia 101 terjadi juga di duniaku, tentu aku tidak mungkin bisa melihat wanita dengan seenak mata keranjangku, dan orang juga tidak bisa seenaknya melihat orang yang kucintai dengan seenak mata keranjangnya, dan itulah keadilan yang nyata.
"Bois! Kita naik kicir-kicir dulu yuk!" ajak Lisa tiba-tiba membuyarkan pikiranku.
Saat itu aku menurut saja, mengikutinya sambil terus memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang sedang mengekspresikan kegairahannya lantaran ingin naik Kicir-Kicir. Sungguh Hijab ala Lisa saat itu tak mampu lagi meredam pikiran sesatku dan juga niat jahatku. Bagiku, Lisa itu adalah perhiasan dunia yang mampu menyenangkan hatiku, yang selalu membuatku bukan hanya sekedar ingin bicara saja, namun lebih dari itu. Pokoknya yang ada dipikiranku hanya soal kesenangan. Jangankan bisa berduaan di atas wahana, berdiri di sampingnya saja sudah begitu menyenangkan. Apalagi jika niat jahatku untuk bisa berdempetan saat naik pontang-panting nanti terkabulkan, tentu aku akan bahagia banget. Walaupun aku tahu itu dosa, tapi apa boleh buat, tahi kambing bulat-bulat, kalo dosa tentu bisa terhapus dengan sholat. Maklumlah, sebab kata guru ngajiku memang begitu, dosa seperti itu bisa terhapuskan hanya dengan sholat lima waktu. Enak banget kan? Gampang banget gitu lho. Habis mau gimana lagi, soalnya terpaksa banget. Soalnya imanku memang belum sempurna sih. Entah kenapa, tiba-tiba saja hati nuraniku berkata, enak saja mengkambing hitamkan iman, dan enak saja dosa bisa dihapus dengan sholat lima waktu. Eh, Bois. Memang betul kalau sholat lima waktu bisa menggugurkan dosa-dosa kecil, tapi apakah sholatmu sudah bagus sehingga layak menghapus dosa-dasamu. Pikir-pikir lagi deh sebelum menyimpulkan, sebab jika sholatmu ternyata hanya sebatas menggugurkan kewajiban baru nyaho. Ketahuilah…! yang terbaik adalah meninggalkan segala bentuk dosa kecil, dan jangan pernah mengandalkan sholat sebagai penghapus dosa. Jika kamu mengabaikan peringatanku ini, maka tidak mustahil kamu akan terus berani melakukan dosa kecil. Camkan itu baik-baik, Bois!
Wedew, kalo gitu jadi susah dunk. Tahu tidak sih, kalau aku itu betul-betul kepepet. Duh, kalau boleh sih aku ingin segera menikahi Lisa. Tapi, kalau di dunia ini kayaknya susah. Apa kata orang-orang nanti, masih sekolah kok sudah menikah. Maklum, menurut sudut pandang umum menikah muda itu membawa bencana. Idealnya menikah itu harus sudah siap lahir batin, alias sudah mapan dan siap mental. Intinya adalah, dosa berzinah lebih kecil ketimbang dosa karena menikah tanpa persiapan. Padahal, kata guru ngajiku menikah itu hukumnya wajib bagi orang yang suka berpikiran ngeres kayak aku, sebab dikhawatirkan orang seperti aku mudah digoda oleh setan. Yup, sungguh susah sekali jadi orang seperti aku. Jangankan mau menikah, mau pacaran saja ibuku selalu bilang, ingat ya…! Jangan berani pacaran dulu sebelum kamu mampu cari duit! Pokoknya kamu harus konsen sama belajar, biar kelak bisa jadi orang kaya! Nah lho… jika kenyataannya seperti itu, bagaimana mungkin aku berani minta kawin. Bisa-bisa aku bakal disemprot habis-habisan. Lagi pula, apa kata ibunya Lisa. Beliau tentu tidak akan setuju karena takut anak kesayangannya bakal hidup sengsara. Yup, tampaknya beliau lebih mengkhawatirkan itu ketimbang anaknya dinikmati olehku diluar nikah. Maklumlah, jika setan sudah berhasil memperdayaku, tentu bisa menikmati Lisa bukanlah perkara sulit. Sebab, tips and trick memang mudah sekali kudapat. Dan itu karena adanya kecanggihan informatika yang memang mudah diakses oleh siapa saja.
Tak lama kemudian, kami sudah ikut mengantri wahana kicir-kicir. Sebuah wahana favorit Lisa yang selalu menjadi tujuan pertama ketika dia berkunjung ke Dufan. Kalau wahana favoritku sih pontang-panting, sebab kalo berduaan sama cewek bisa dobel senangnya. Dan setelah agak lama mengantri, akhirnya tiba juga giliran kami. Beberapa menit kemudian, Emaakkkk!!! Begitulah aku setiap kali naik kicir-kicir, habis seru banget sih. Puntir sana-puntir sini, sungguh menyenangkan. Namun tiba-tiba @#%!*~!%# aku sudah tidak sadarkan diri. Dan ketika sadar, aku sempat terkejut lantaran di sekelilingku ada banyak orang yang menontonku. Dan aku semakin tambah terkejut ketika melihat seorang gadis bercadar yang sedang berlutut di sisiku adalah Lisa. Yup, tidak salah lagi, sebab aku hafal betul bola matanya dan juga karakter busananya. O my God, ternyata aku sudah disasarkan lagi ke dunia 101.
"Bang! Abang tidak apa-apa?" tanya Lisa mengkhawatirkanku.
"Tidak, Sayang… aku tidak apa-apa kok," jelasku meredam kekhawatirannya.
"Alhamdulillah… Syukurlah kalau begitu. Eng… sebaiknya kita batalkan saja naik pontang-pantingnya ya, Bang. Terus terang, aku khawatir kalau Abang akan pingsan lagi."
"Tidak Lis. Aku mau naik itu. Percayalah… aku tidak akan pingsan. Wahana Itu kan beda banget dengan kicir-kicir," jelasku memberi alasan.
"Ya sudah kalau begitu, yuk kita ke sana!"
Lantas dengan bersemangat, aku pun segera melangkah bersama Lisa menuju pontang-panting. Dan setibanya di tempat antrian aku sama sekali tidak menyangka kalau setiap pengunjung diharuskan memperlihatkan KRK dan Surat Nikah-nya. Dan karena saat itu aku dan Lisa adalah suami istri, maka kami pun diizinkan masuk. Ketika aku naik wahana itu bersama Lisa, entah kenapa tiba-tiba aku merasa begitu bersalah. Yup, aku benar-benar merasa bersalah karena sudah berdempetan dengan istri orang, dan aku memang layak dipancung oleh suaminya yang sah. Sungguh aku malu banget pada diriku sendiri, dan juga malu pada hijab yang dikenakan Lisa. Seolah saat itu Hijab Lisa itu berkata. Eh, dasar mata keranjang, otak mesum. Apa lagi kini alasanmu untuk berani mendekati istri orang, hah? Sungguh kelancanganmu itu tidak termaafkan, Lisa kan sudah berbusana dengan begitu sopan, lantas kenapa pula kamu masih berani mengganggunya? Begitulah… sampai-sampai aku tidak mampu lagi untuk menikmati saat berdempetan bersama Lisa. Jangankan bisa menikmati, merasa sedikit senang karena naik wahana itu saja sudah tidak bisa. Sungguh kesenangan yang kuharapkan ternyata telah berubah menjadi penderitaan karena merasa sangat berdosa. Entah kenapa, setiap kali aku berada di dunia 101 ini aku selalu merasa begitu. Di dunia 101 seolah imanku sempurna, seolah memang terus berada di level yang ideal. Yup, iman yang kurasakan tampaknya sama persis ketika aku sedang berada di majelis ilmu di dunia 09, yaitu dimana tempatku biasa mengaji. Entahlah… aku juga heran kenapa bisa begitu. Setiap kali berada di pengajian, Imanku memang terasa begitu kuatnya, seolah aku tidak mungkin bisa terpengaruh oleh hal-hal yang bisa menyebabkan dosa. Tapi ketika sudah di luar, semua seolah terlupakan, dan rasa takutku terhadap dosa pun tampaknya sudah tidak berpengaruh banyak. Hmm… kini aku mengerti. Kenapa guru ngajiku selalu berpesan untuk tidak malas menghadiri pengajian, sebab selain aku bisa mendapat ilmu, kepekaan hatiku pun akan terus di-charger layaknya HP yang terus bisa berfungsi selama baterainya rajin diisi. Yup, terbukti kalau untuk dosa besar aku memang masih takut untuk melakukannya. Tapi, kenapa waktu itu aku masih berani juga mau meniduri Lisa. Ah, kalau itu sih lain lagi ceritanya. Saat itu suasananya memang betul-betul sulit, sebab aku memang telah berani membuka peluang kepada setan lantaran terpaksa, sungguh malam itu memang bagai buah simalakama. O my God, tampaknya malam nanti aku pun akan kembali berada di situasi yang sama.
"Bang, kenapa sih dari tadi abang diam saja? Memangnya Abang mau pingsan lagi ya?" tanya Lisa tiba-tiba membuyarkan pikiranku.
"Ti-tidak Lis. Aku cuma bosan saja berada di atas permainan ini, seolah permainan ini tidak lagi menyenangkan buatku."
"O, begitu ya? Lantas bagaimana dengan ombang-ombang?"
"Tampak akan sama juga. Eng… bagaimana kalau habis ini kita naik kicir-kicir lagi saja," usulku dengan harapan aku akan pingsan lagi, mungkin ketika sadar sudah kembali lagi ke duniaku 09.
"Jangan, Bang! Aku khawatir abang akan pingsan lagi," larang Lisa khawatir.
"Tidak akan, Lis. Permainan itu kan menyenangkan. Mungkin tadi aku pingsan karena adanya faktor X. Dan mustahil rasanya kalau faktor X itu sampai menimpaku dua kali."
"Ah, bicara Abang seperti ilmuwan saja, pakai bawa-bawa faktor X segala."
"Ya, sebab hanya dengan begitu kamu bisa mengerti."
"Baiklah… kita akan naik kicir-kicir lagi. Tapi… bagaimana kalau nanti faktor X itu kembali menimpa Abang."
"Lis… kalau hal itu kembali menimpaku, kamu tidak perlu khawatir...! Bukankah tadi aku cuma pingsan."
"Iya sih. Tapi biar gimana juga, aku tetap saja khawatir."
"Kalau begitu, serahkanlah semuanya pada Tuhan…! Mungkin dengan begitu, kamu bisa lebih tenang."
Saat itu Lisa sudah tidak berkata-kata lagi, tampak dia memang paham betul dengan perkataanku tadi. Akhirnya aku dan Lisa kembali naik kicir-kicir, namun sayangnya harapanku agar pingsan lagi ternyata tidak terwujud. Alhasil, aku pun jadi terus kepikiran soal malam nanti.
"Bang, kita sholat ashar yuk! Setelah itu kita baru pulang," ajak Lisa kepadaku.
Saat itu aku menurut saja, dan usai sholat kami pun langsung pulang dengan naik angkutan umum. Dulu waktu pertama kali ke dunia 101, aku tidak sempat memperhatikan soal angkutan umum ini lebih detail, dan saat pulang dari Dufan itulah aku betul-betul tahu bagaimana angkutan umum di dunia 101. Jika di lihat sepintas tampaknya sama, namun ternyata jauh berbeda. Setiap angkutan umum, pada kaca depannya terdapat sticker warna yang menandakan status guna kendaraan. SGK yang aku tumpangi berwarna kuning. Menandakan kalau anggutan umum itu khusus untuk keluarga. Warna biru khusus untuk pria, dan warna merah muda khusus untuk wanita. Wow, mengagumkan. Jika begitu, tentu tidak akan terjadi yang namanya pelecehan seksual.
Begitu pun dengan angkutan masal. Kereta listrik yang aku tumpangi saat itu pada setiap gerbongnya tampak berbeda warna, yaitu biru, merah muda, dan kuning. Begitu seterusnya selang-seling hingga sampai ke gerbong belakang. Dan di dalam gerbong kuning yang aku tumpangi, setiap kursinya tampak terpisah dan hanya muat untuk sepasang suami istri. Di dalam gerbong itu, juga ada anak-anak, dan mereka semua belumlah baliq. Sedangkan di gerbong warna biru dan merah muda aku sempat melihat kalau isinya juga ada anak-anak dan orang dewasa. Seorang ayah yang sedang bersama putranya saja misalnya, atau seorang ibu yang ditemani oleh teman wanitanya saja misalnya, masing-masing berada di gerbong khusus pria dan wanita tanpa merasa takut melecehkan maupun dilecehkan. Sungguh mengagumkan, bisa saja pemerintah dunia 101 ini mengaturnya sampai seperti itu. Hmm… apa karena negeri ini sudah makmur sehingga hal seperti itu bisa terealisasi dengan baik. Yup, tampaknya memang begitu. Kalau di negeriku di dunia 09 tampaknya mustahil, sebab jumlah armada dan penumpang memang masih tidak seimbang. Akibatnya pun terjadilah yang namanya berdesakan dan pelecehan. Terus terang, aku sempat cemburu juga ketika naik kereta di dunia 09 bersama Lisa disaat berangkat. Saat itu Lisa sempat dipepet oleh seorang cowok ganteng yang berdiri di belakangnya. Dan orang itu tampaknya begitu menikmati. Wew, ingin saat itu aku hajar dia karena sudah begitu berani menikmati gadis yang kucintai. Tapi, saat itu tidak mungkin bisa melakukannya. Sebab aku tahu, pada mulanya dia memang tak bermaksud memepet Lisa, namun karena keadaanlah yang membuatnya jadi demikian. Sungguh saat itu aku cuma bisa pasrah, betul-betul dongkol rasanya lantaran tidak bisa menghajar orang itu. Pokoknya betul-betul dongkol dan sebel banget, sungguh aku cemburu… cemburu… cemburu…
Setibanya di rumah, aku langsung duduk termenung. Maklumlah, aku betul-betul pusing memikirkan perasaan Lisa yang tampak sedih lantaran tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Aku tau dia begitu ingin kubelai dan kucium, begitupun sebaliknya. Tapi sayangnya, saat itu dia bukanlah istriku. Dan aku tidak mau memberi peluang lagi kepada setan untuk menjerumuskanku. Duh, aku betul-betul pusing. Keadaan ini memang sulit, jika kunekad melakukannya aku merasa tidak nyaman, dan jika tidak akibatnya sama juga. Begitulah susahnya jika bersama gadis yang kucintai namun tak hak untuk kujamah, sungguh bagai buah simalakama.
Untunglah jika tidak sedang di kamar, hijab Lisa di dunia ini cukup andal guna meredam keinginanku. Namun jika kamar, seperti malam itu misalnya, busananya sungguh mengundang selera. Karena itulah, aku pun harus bisa lebih waspada untuk selalu menolak ajakannya yang maunya berada di kamar melulu. Jika aku sampai menurut, aku yakin setelah berada di kamar dia segera mengganti busananya. Maklumlah, hal itu memang sangat dianjurkan agama, sebab seorang istri memang harus tampak mengundang gairah untuk suaminya. Ya hanya untuk suaminya, bukan untuk aku yang cuma meminjam jasad suaminya. Apalagi setelah kutahu Lisa sudah bisa menikmati saat menyemai benih, tentu dia akan lebih keras lagi untuk memancingku.
"O ya, Bang. Bukankah Abang belum pernah melihat aku mengenakan lingerie hadiah dari sepupuku itu. Kalau begitu, kita ke kamar yuk, Bang! Pantas tidak ya aku mengenakannya?"
Wedew, lagi-lagi dia punya alasan untuk memancingku. Hmm… Lisa dengan lingerie, pasti hot banget deh. Ups! Lintasan pikiran sesat kembali mulai menyerangku. Duh aduh biyung, kepala pusing tujuh keliling juga deh kalau begini terus. "Lis, kayaknya malam ini aku ingin itikaf di masjid deh. Kamu tidak keberatan kan?"
"Bang, bukankah aku mencintaimu atas dasar cintaku kepada Allah. Dan jika tujuanmu memang karena mencintai Allah, maka aku pun tentu akan bahagia sekali."
"Terima kasih, Sayang… Kalau begitu, aku berangkat sekarang saja. Dan soal lingerie itu, lain kali saja ya."
Saat itu kulihat Lisa tersenyum padaku, sungguh dia itu memang istri yang memang mencintai suaminya atas dasar cintanya kepada Tuhan. Saat itu di wajahnya memang tak ada sedikitpun terpancar kekecewaan, tapi malah justru sebaliknya.
Malam itu aku terus berada di masjid memohon ampun kepada Tuhan, memohon pula agar aku bisa segera dikembalikan ke duniaku. Andai saja ada kepastian mengenai statusku di dunia 101 ini, tentu aku lebih senang untuk bisa terus berada di dunia yang nyaman ini. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, sebab jasad ini sudah ada yang punya. Hmm… sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Bois di dunia ini, kenapa ya dia selalu pergi meninggalkan jasadnya. Ah, sudahlah aku tidak mau pusing memikirkan hal itu, sebab semua itu memang merupakan rahasia Illahi.


Pagi harinya saat aku terbangun, ternyata doaku telah dikabulkan. Ya, aku yakin betul karena lagi-lagi aku sudah berada di rumah sakit. Pada saat itu di sebelahku, kulihat seorang gadis dengan hijab ala Lisa tampak tertidur pulas di atas kursi. Tidak salah lagi, dia itu memang Lisa gadis cerdas yang berhijab dengan seenae udele dewe. Tapi tak mengapa, sepertinya aku memang harus bersabar untuk bisa menyuruhnya berhijab dengan sempurna, yaitu setelah nanti dia resmi menjadi istriku. Lagi pula, aku maklum kenapa dia berlaku seperti itu, sebab dia itu memang masih belum mengerti. Perlu kesabaran untuk bisa membentuknya menjadi istri yang shalehah sesuai dengan keinginanku yang atas dasar keinginan Allah. Sebab dia itu wanita yang bagaikan tulang rusuk. Jika aku paksa untuk meluruskannya, maka kemungkinannya justru akan patah.

Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Sesungguhnya wanita itu seperti tulang rusuk. Jika kamu coba untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi kalau kamu biarkan saja, maka kamu akan dapat menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok.
Ya, aku memang harus bersabar. Bukan hanya soal meluruskan tabiatnya yang mungkin tidak berkenan, tapi juga soal kebiasan berbusananya yang kuanggap menyimpang. Lagi pula, jika kelak Lisa sudah bisa memahami perihal kecemburuanku, Insya Allah dia mau berhijab dengan sempurna. Sebab dengan begitu, itu artinya dia telah betul-betul mencintaiku atas dasar cintanya kepada Tuhan. Tidak mungkin kan seorang istri yang mengaku cinta tega menyiksa perasaan suaminya yang senantiasa dirundung cemburu lantaran cintanya kepada Tuhan. Terus terang, aku sudah semakin yakin kalau Lisa memang mencintaiku, sebab dia itu selalu setia menemaniku saat kuterbaring sakit. Segala perhatiannya dan ketulusannya memang telah mencerminkan hal itu. Dan karena itulah aku percaya, jika kelak Lisa menjadi istriku, Insya Allah dia pun akan mencintaiku karena dasar cintanya kepada Tuhan.
Seperti biasa, setelah aku sadar orang tua berjubah putih kembali datang menemuiku. Saat itu beliau datang dengan tersenyum ramah padaku, mungkin beliau senang karena aku sudah mau menuruti nasihatnya waktu itu. Lantas dengan nada lembut beliau menceritakan perihal keberadaanku di rumah sakit. Kata beliau, saat itu aku sedang dalam masa percobaan pemindahan roh terencana, yaitu memindahkan roh dengan sengaja tanpa perlu menunggu terjadinya kecelakaan. Salah satunya adalah dengan membuat koma pada saat manusia bermain-main dengan gaya grafitasi. Seperti kicir-kicir yang kutumpangi itu misalnya, yang memang dirancang untuk bisa merasakan G positif dan negatif sehingga terpaculah yang namanya andrenalin. Tingkat ketahanan manusia dalam menerima itu bisa berbeda-beda, yaitu sangat tergantung pada kondisi fisiknya. Seorang yang sakit jantung misalnya, dia bisa langsung meninggal jika menaiki permainan yang ekstrim begitu. Karena itulah, jika manusia koma pada saat naik permainan seperti itu bisa dianggap wajar lantaran adanya perbedaan daya tahan jantung itu tadi. Dan tidak seorang pun yang bisa mengetahui keadaan jantungnya sendiri, kecuali dia rajin memeriksakannya ke dokter. Bukankah jantung itu alat pemompa darah, dan jika pasokan darah ke otak sampai terganggu maka apapun bisa saja terjadi. Dari hanya pingsan, koma, bahkan hingga kematian. Itu baru gangguan jantung, belum ditambah lagi dengan gangguan paru-paru, yang fungsinya adalah memasok oksigen ke otak. Jika itu sampai terganggu juga, maka tinggal menunggu saat kematian saja.
"Bois! Kamu sudah sadar?" tanya Lisa tiba-tiba. Saat itu kulihat dia mengucek kedua matanya, menghilangkan belek yang mengaburkan pandangannya.
"Lis, kenapa aku bisa sampai berada di sini?" tanyaku pura-pura bego.
"Bois, kamu tuh koma saat naik kicir-kicir. Dokter bilang, semua itu dampak dari penyakit lemah jantung kamu dan juga gangguan pernafasanmu."
"Apa? Aku komplikasi jantung dan paru-paru. Masa sih?"
"Itu betul. Kata dokter, penyebab penyakitmu karena kamu kebanyakan merokok."
"Tapi Lis, selama ini aku merasa sehat-sehat saja kok."
"Kata dokter, kalau masih stadium awal memang belum terasa. Tapi kalau sudah parah, barulah kamu merasakannya."
"Wedew, gawat juga kalau begitu," komentarku pura-pura khawatir. Maklumlah, saat itu aku memang tidak percaya dengan kata-kata dokter, sebab aku yakin kalau analisa dokter itu adalah akibat dari trick team alam bawah sadar.
"Apa yang dikatakan Lisa tadi memang betul, Nak Bois," jelas orang tua berjubah putih tiba-tiba. Kemudian orang tua itu segera melanjutkan, "Perlu kamu ketahui, Bois. Selama ini kamu memang sudah dikondisikan untuk mempunyai kedua penyakit itu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak akan dipanggil Tuhan sebelum misimu tuntas."
"Mi-misi…? Misi apa?" tanyaku spontan seakan lupa kalau aku sedang bicara dengan orang yang tak mungkin dilihat Lisa. Dan akibatnya Lisa pun langsung bertanya padaku, "Kamu bicara dengan siapa, Bois?" tanyanya dengan alis yang tampak merapat.
Saat itu aku langsung berusaha berkelit, dan akhirnya dia pun bisa mengerti. Tak lama kemudian, orang tua berjubah putih segera menjawab pertanyaanku. Katanya, misiku adalah menyampaikan apa yang kulihat di dunia 101 dengan cara yang paling masuk akal sehingga tidak dicap sebagai orang gila. Pokoknya aku diharuskan berjuang menyampaikannya dengan sekuat kemampuanku sambil menunggu kemunculan seorang pemimpin akhir zaman yang akan melakukan revolusi damai guna merubah segalanya. Dialah Al-Mahdi (pemberi petunjuk ke arah kebenaran) sang Khalifah yang akan memimpin umat manusia berdasarkan hukum Allah, seorang pemimpin yang memahami dunia ini hanyalah permainan. Karenanyalah dia tak berambisi untuk menumpuk harta, apalagi sampai gila kuasa. Ambisinya hanya satu, yaitu ridha Allah SWT semata. Tugas pertamanya adalah dikobarkannya perang pemikiran di dalam dunia Islam dan mengembalikan umat Muslim yang telah jauh dari intisari Islam sejati, menuju iman dan akhlak yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Al-Mahdi mempunyai tiga tugas dasar:
1. Menghancurkan seluruh sistem filsafat yang mengingkari keberadaan Allah dan mendukung ateisme dengan dalil.
2. Memerangi takhayul dengan membebaskan Islam dari penindasan orang-orang munafik yang telah menyimpangkan agama dengan dalil, dan kemudian mengungkap dan melaksanakan akhlak Islam sejati yang berdasarkan aturan Al Qur'an.
3. Memperkuat seluruh dunia Islam dengan dalil, baik secara politik maupun sosial, dan kemudian mengembangkan perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan serta memecahkan berbagai masalah kemasyarakatan.
Pada waktu yang bersamaan Nabi 'Isa AS akan turun ke bumi dan menyeru kepada seluruh pemeluk Kristen dan Yahudi untuk meninggalkan berbagai kepercayaan takhayul yang diyakini oleh mereka pada saat ini dan hidup menurut Al Qur'an. Ketika pemeluk Kristen telah mendengarkannya, umat Islam dan Kristen akan bersama di bawah satu keimanan dan dunia ini akan mengalami zaman perdamaian, keamanan, kebahagian, dan kesejahteraan terbesar yang dikenal sebagai Masa Keemasan.
Wedew, masa musti aku sih. Kenapa tidak orang lain saja? Tidak kebayang deh bagaimana susahnya. Sebab, apa yang kulihat di dunia 101 adalah hal yang hampir mustahil untuk bisa diterapkan di duniaku. Seperti masalah cadar itu saja misalnya. Waktu itu aku sempat bicara pada temanku kalau kelak aku akan menyuruh istriku untuk memakai cadar demi untuk mengamalkan ilmu yang kudapat. Tapi apa katanya. Walah, kamu itu ada-ada saja, Bois. Kalau kamu menyuruh istrimu seperti itu, kamu bakal ditertawakan dan dianggap aneh. Apalagi jika kamu memelihara jengkot dan memotong kumis, kamu bakal diikutin intel siang-malam. Wedew, ciut juga nyaliku kalau yang dikatakan temanku benar. Ya, apa yang dikatakannya itu memang masuk akal juga. Sebab, orang seperti itu memang selalu diidentikkan dengan teroris, dan hal itu karena adanya konspirasi tingkat tinggi dari musuh-musuh Islam. Wew, gawat juga kalau begitu. Kalau aku yang bukan teroris lantas dicurigai dan kemudian diintimidasi, bisa-bisa aku bakal tertekan juga.
"Kamu tidak perlu khawatir, Bois. Bukankah hal seperti itu biasa pada setiap perjuangan. Bukankah kamu sudah mengetahui kalau kehidupanmu hanyalah sebuah permainan. Jadi, mainkanlah dengan sebaik-baiknya tanpa perlu takut akan kematian. Jika kamu mati di Jalan Allah, Insya Allah matimu adalah syahid fisabilillah. Perlu kamu ketahui, sebetulnya bukan kamu saja yang mendapat misi itu, melainkan semua orang yang mengaku muslim. Hanya saja, tingkatan levelnya yang berbeda-beda, tergantung dari keuletan, kerendahan hati, keikhlasan, keberanian, dan kejujurannya dalam mengungkap setiap kebenaran. Dan levelmu dalam misi ini terbilang masih ringan, jadi jangan terlalu khawatir kalau kamu tidak akan sanggup," jelas orang tua itu berusaha membuat nyaliku kembali berkobar.
Ya, betul apa yang dikatakan orang tua itu. Karenanyalah, untuk sementara aku akan berusaha untuk bisa merubah hijab ala Lisa menjadi hijab yang sempurna. Ya, aku memang harus memulai dengan istriku sendiri, kemudian jika aku sudah mampu mengamalkannya barulah aku mengajak teman-temanku untuk mengikuti jejakku. Sebab, tanpa mencontohkan itu rasanya mustahil mereka mau mempercayaiku.
"Kamu benar, Nak Bois. Hal itulah yang lebih utama. Ketahuilah…! Agar kita bisa membuka pintu Ilahi dan mendapatkan cinta Tuhan, kita harus mempunyai kunci untuk membukanya yaitu ’Bening hati’ Untuk mencapai bening hati di perlukan kunci lain yang memungkinkan hati kita menjadi bening, yaitu ‘memelihara pandangan’. Salah satu yang membuat hati ini semakin membusuk, kotor, dan keras membatu adalah tidak pandainya kita menjaga pandangan. Barang siapa yang di dunia ini tidak mahir menjaga pandangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih. Sahabat Rasulullah pernah berkata, "Lebih baik aku berjalan di belakang singa dari pada aku berjalan di belakang wanita." Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak bagi dirinya, tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya.
Dengan tidak pandainya menjaga pandangan dari lawan jenis, memicu seseorang untuk selalu melihat aksesoris duniawi. Wanita berhias untuk menarik perhatian pria. Pria mencari uang untuk menghiasi wanita. Bagaimanapun caranya, halal atau haram. Inilah sifat dasar alami manusia sebagai mahluk sosial, dan dengan segala mata rantainya menciptakan kerumitan di muka bumi ini. Bila dilakukan dengan benar maka akan menciptakan mata rantai kebaikan, dan begitu pun sebaliknya. Seperti burung gagak yang selalu membawakan segala pernak-pernik untuk pasangannya dengan cara mencuri dari mana saja. Burung gereja yang berkelahi sampai mati untuk mendapatkan pasangan, dan masih banyak lagi.
Untuk bisa membuka pintu Illahi maka seseorang baru bisa memulai untuk membeningkan hati. Selama pandangan belum bisa terjaga dari hal-hal keduniawian maka akan sangat sulit untuk dapat membeningkan hati, dan secara otomatis sulit pula membuka pintu Illahi yang bisa membuat kita hidup tentram, nyaman, dan lapang karena mendapatkan nikmat sebagai bukti cinta Tuhan kepada hamba-Nya.
Pokoknya selama kondisi lingkungan didominasi oleh kemungkaran dan kemaksiatan, maka akan sulit bagi manusia untuk menjaga pandangan dari hal-hal keduniawian. Dan karena itulah, manusia pun akan sulit untuk bisa mencapai bening hati. Hanya segelintir orang saja yang bisa melakukan itu, dan mereka adalah orang-orang yang istiqamah. Maka jangan heran kalau umat Islam bagaikan buih di lautan, jumlahnya banyak tapi tidak mampu berbuat apa-apa, hanya terombang-ambing mengikuti arus gelombang yang besar.
Dan untuk mencapai bening hati diperlukanlah suatu kondisi yang bisa memungkinkan manusia bisa menjaga pandangan dari hal-hal keduniawian, yaitu dengan dibuatnya undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Selama hal ini belum dibenahi, maka rasanya semua itu hanyalah mimpi. Karena itulah, segala hal yang bersifat glamour dan berbau hasrat seksual tidak seharusnya diperlihatkan di muka umum. Setiap wanita diwajibkan berhijab, tak terkecuali Non Muslim juga harus mentaati peraturan demi untuk menghormati hak-hak muslim yang ingin menjaga pandangan. Begitulah konsep dasar yang diterapkan pada dunia 101.
Menurut pandangan orang Islam di dunia 101, busana seorang muslim dan muslimah harus mempunyai sifat bersih dan melindungi, menutup aurat dan tidak menampilkan bentuk tubuh, halal dan indah. Bersih dan melindungi artinya tidak terkena najis dan bisa melindungi tubuh dari hal-hal yang bisa mengakibatkan tubuh terkena penyakit. Halal artinya terbuat dari bahan yang halal, untuk busana pria tidak boleh menggunakan bahan yang terbuat dari sutra kecuali untuk pria yang berpenyakit kulit, dan terakhir indah, indah yang dimaksud adalah keindahan bentuk, corak dan warna. Bentuknya tidak menampilkan bentuk tubuh, bentuknya indah tapi tidak membuat orang yang melihatnya menjadi terangsang. Coraknya pun tidak menampilkan objek-objek yang menyerupai manusia, dan warnanya tidak mencolok mata. Sehingga tidak menjadikan pemakainya sombong dan angkuh.
Tetapi di duniamu 09, masyarakat banyak yang salah persepsi tentang busana muslim ini. Banyak para perancang busana yang melupakan aturan-aturan yang semestinya tidak boleh dilupakan. Banyak sekali wanita yang menggunakan busana yang dibilang busana muslim tapi kenyataannya tidak. Busana yang mereka kenakan masih menampilkan bentuk-bentuk tubuh (masih memperlihatkan bentuk pinggang, pinggul dan dada). Biarpun menutup aurat, jika bentuknya tetap terlihat sama saja bohong. Karena mata pria masih bisa menduga dan membaca apa yang tersembunyi di balik itu, bahkan bisa dengan mudah mengukurnya, dan dari ukuran yang sesuai seleranya seorang lelaki menjadi bergairah. Intinya biar bagaimanapun juga busana muslim harus mengikuti aturan-aturan yang ada, dan selama aturan itu tidak diikuti busana tersebut bukanlah busana muslim.
Menurut pandangan orang Islam di dunia 101, tayangan atau tampilan di media juga diatur agar tidak semena-mena menampilkan sesuatu yang dapat merusak pandangan. Misalnya tayangan film atau sinetron yang selalu menampilkan bentuk tubuh seksi wanita. Iklan-iklan yang memikat dengan menjual keindahan tubuh wanita dan acara-acara yang tidak Islami lainnya di televisi, gambar-gambar fulgar di media cetak, dll. Bukan itu saja, orang Islam di dunia 101 juga mengatur tentang seni, olah raga, pendidikan dan pekerjaan yang Islami. Dengan begitu, maka hidup akan menjadi nyaman, tentram dan lapang. Sehingga orang-orang bisa mengekspresikan dirinya dengan karya-karya yang indah dan semakin menambah kedekatan diri kepada Tuhannya. Tidak seperti kehidupan di duniamu, banyak orang yang hidup bagaikan robot yang sudah terprogram. Banyak orang yang bekerja membanting tulang mati-matian hanya untuk mencari makan dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sehingga mereka tidak sempat untuknya mengekspresikan diri dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Orang yang kelebihan uang justru menumpuk uangnya di bank-bank, dan dia tidak mempunyai waktu untuk mengekspresikan diri dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Waktunya banyak digunakan untuk memikirkan uangnya siang dan malam, digunakan untuk apa dan apa proyek selanjutnya. Jika hati orang sudah bening tentunya tidak akan seperti itu. Orang tidak perlu lagi mencari uang sampai membanting tulang mati-matian, karena semua sudah merasa terkecukupi, dan sisa waktunya digunakan untuk mengekspresikan diri serta mendekatkan diri kepada Tuhannya. Orang yang kelebihan uang akan membantu sesama yang memang sangat membutuhkan, dan dia tidak terlalu dipusingkan dengan uang-uangnya itu sehingga waktunya bisa gunakan untuk mengekspresikan diri dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Intinya adalah orang tidak lagi terobsesi untuk mengejar dunia guna mencari uang dan menumpuk kekayaan, tetapi mencari uang justru untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Itulah orang-orang yang sudah memahami arti kehidupan semu yang memang cuma permainan, mereka begitu keranjingan mengejar point pahala sebanyak-banyaknya demi untuk meningkatkan level karakternya, layaknya gamer sejati di duniamu 09 yang rela mengorbankan waktu, uang, dan tenaga, demi untuk memainkan game on line yang dicintainya.
Karena itulah, misi pertamamu adalah menyampaikan perihal hijab agar orang lebih mudah untuk mencapai bening hati. Sebab tanpa itu, orang akan sulit menjaga pandangan dan akhirnya termotifasi untuk mengejar dunia ketimbang akhirat. Mencari uang untuk hidup glamor, foya-foya, judi, dan wanita. Jika wanita berhijab maka tidak perlu lagi ada yang dipamerkan. Wanita yang dikaruniakan wajah cantik dan tubuh yang indah, tidak lagi sombong karena tidak bisa memamerkannya. Wanita kurang cantik dengan tubuh yang tidak proporsional tidak menjadi minder dengan segala kekurangannya. Wanita kaya tidak lagi bisa memamerkan perhiasan mahalnya, dan yang miskin tidak akan iri karena tak mungkin melihatnya. Sebab, semua keindahan yang wanita miliki adalah untuk kesenangan suaminya. Itulah kenapa wanita disebut perhiasan dunia yang begitu indah dipandang mata, sebab ia memang mempunyai kecendrungan untuk terlihat cantik, karenanyalah ia pun suka menghiasi diri dengan perhiasan, membaui tubuhnya dengan wewangian, dan juga menghiasi rumahnya dengan segala keindahan seni. Sebab, Allah dengan kasih sayang-Nya memang telah mengaruniakan kecendrungan itu agar wanita tampak indah di mata suaminya, dan suaminya pun akan merasa nyaman menempati rumah yang ditata olehnya. Itulah salah satu hakikat diciptakannya wanita, yaitu untuk membahagiakan pendamping hidupnya.
Di dunia 101, wanita berhias dan menjaga kebugaran tubuh hanya untuk suaminya, dan wanita menata rumah pun tanpa melanggar aturan agama. Seperti tidak mau menghiasi rumahnya dengan patung atau lukisan manusia misalnya. Sebab, orang di dunia 101 percaya kalau patung dan lukisan manusia atau yang menyerupainya merupakan tempat berkumpulnya jin-jin jahat yang bisa menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang menyesatkan. Karenanyalah, jika manusia menghiasi rumah dengan itu berarti secara tidak langsung dia sudah berinteraksi dengan jin, yaitu dengan mengundangnya dan menyediakan tempat tinggal.
Perlu kamu ketahui, Nak Bois. Seni dalam pandangan orang Islam di dunia 101 adalah sesuatu yang bisa membuat hati tentram dan damai dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Di luar itu menurut pandangan orang Islam di dunia 101 bukanlah seni melainkan sesuatu yang bisa merusak nikmat iman, sesuatu yang bisa membuat kita menjadi resah dan gelisah.
Seni lukis dalam pandangan orang Islam di dunia 101 adalah seni yang tidak boleh menampilkan objek-objek manusia atau yang menyerupainya. Karena objek manusia tersebut merupakan sesuatu yang bisa membuat fitnah dan merusak akidah. Seperti yang sudah kujelaskan tadi, kalau di setiap lukisan yang menampilkan objek-objek tersebut juga dapat menjadi tempat berkumpulnya jin-jin jahat yang bisa menyesatkan setiap orang yang melihatnya. Seni lukis dalam pandangan Islam hanya memperbolehkan menampilkan objek-objek selain dari yang sudah aku sebutkan tadi. Contohnya Tumbuhan dan benda-benda mati yang tidak menyerupai manusia. Pemandangan alam, dll.
Seni Patung dalam pandangan orang Islam di dunia 101 sama dengan seni lukis, semuanya harus menampilkan bentuk-bentuk yang bukan manusia atau yang menyerupainya.
Seni suara dalam pandangan orang Islam di dunia 101 adalah seni yang memperdengarkan suara merdu dan isinya untuk menambah kedekatan kepada Tuhan. Wanita tidak diperkenankan untuk seni suara (kecuali untuk diri sendiri maupun sesama jenis), karena suara wanita bisa menimbulkan fitnah. Jangankan menyanyi, bicara dengan lelaki saja harus berhati-hati. Al-Quran memberikan wejangan kepada istri-istri Nabi dengan wejangan berikut ini, ...Janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (Al-Ahzab: 32). Maksud kalimat tunduk ketika berbicara adalah perkataan itu dibuat-buat, manja, atau dilembutkan ketika berbicara kepada lelaki yang bukan muhrimnya. Apalagi jika kata yang dilembut-lembutkan itu disertai nada suara, irama, dan gaya yang memikat perhatian lawan bicaranya.
Seni tari dalam pandangan orang Islam di dunia 101 adalah seni yang menampilkan gerak indah, namun tidak memicu syahwat. Jika dapat menimbulkan syahwat, hanya boleh diperlihatkan dengan lawan jenis di ruangan yang tertutup dan harus seorang istri kepada suami atau sebaliknya. Begitulah, Nak Bois. Sedikit ilmu tentang seni dari dunia 101 yang bisa aku kemukakan padamu.
Untuk bisa menghiasi rumah dengan indah, orang di dunia 101 selalu menggunakan cara yang halal lagi berkah. Dan semua itu bisa terjadi karena adanya kesadaran peran masing-masing. Seorang suami merasa nyaman dan begitu bersemangat membanting tulang guna mencari nafkah, dan itu semua karena istrinya tercinta selalu melayaninya dengan penuh cinta setiap kali dia pulang kerja. Jika sudah begitu, hilang semua rasa penat, terhibur akan kasih sayang seorang istri yang dirasakan betul-betul mencintainya. Dan di tempat pekerjaan tak ada campur-baur antara laki-laki dan perempuan. Dengan begitu, istri di rumah merasa tentram lantaran tak ada kesempatan bagi suami untuk selingkuh. Maklumlah, di dunia 101 pria dan wanita yang masih sendiri memang masih di izinkan bekerja, namun dengan syarat wanita pekerja harus mengenakan bros pekerja. Fungsinya adalah bahwa wanita pengena bros pekerja tidak wajib pergi dengan didampingi oleh muhrimnya, namun dia tidak boleh berinteraksi dengan laki-laki. Jika ada seorang wanita pengena bros pekerja yang sampai terlihat berduaan dengan seorang lelaki maka ia bisa di tangkap. Karenanyalah, di setiap tempat usaha di dunia 101 selalu pekerjanya adalah perempuan semua atau lelaki semua. Karenanyalah, kesetaraan gender di dunia 101 bisa terbina dengan baik tanpa pernah melanggar aturan agama. Dan hal seperti itu tidaklah menyebabkan penyimpangan seksual, sebab pria dan wanita tetap masih bisa berinteraksi sebagaimana mestinya. Bukankah waktu pertama kali berada di dunia 101, kamu pun bisa melihat wajah wanita walau cuma sesaat, dan bahkan saat itu kamu juga bisa ngobrol sambil minum es kelapa muda dengan teman perempuanmu tanpa perlu khawatir ditangkap aparat. Sebab, saat itu kalian memang tidak melanggar peraturan lantaran saat itu Lina sudah didampingi oleh teman wanitanya.
Nah, Nak Bois. Begitulah sekilas kehidupan orang-orang di dunia 101 yang sangat beradab. Mereka jelas manusia karena memang mampu hidup dengan menggunakan aturan Tuhan," jelas orang tua berjubah putih itu panjang lebar.
Ya, setelah mendengarkan penuturan orang tua itu jelas sekali kalau menjaga pandangan untuk membeningkan hati-lah yang lebih diutamakan, karena setelah hati bening tentu mereka akan bisa menerimanya, dan jika hati sudah bening orang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan secara otomatis orang pun enggan melakukan tindakan melanggar hukum, dan akhirnya hukum yang semula dianggap agak merepotkan itu sama sekali tidaklah lagi merepotkan. Kalau begitu, hijab ala Lisa memang sudah sepantasnya di musiumkan. Dan kewajibanku adalah menyampaikan kebenaran ini kepada Lisa agar dia tidak lagi keliru. Terus terang, aku sangat khawatir jika sampai ide penggunaan wig itu menjadi trend. Ya, kewajibanku saat ini hanyalah menyampaikannya. Terus terang, aku memang belum berhak untuk memintanya begini dan begitu. Sebab jika aku sampai melakukannya dia pasti akan bilang, Huh! Memangnya kamu siapa, beraninya menyuruh-nyuruh aku. Pacar bukan, istri apa lagi. Bila kamu berani nyuruh aku lagi, mending kita tidak usah berteman saja. Nah lho… jika Lisa sudah ngambek begitu bisa repot juga kan. Bisa-bisa kelak aku malah tidak bisa menikahinya.
Duhai Allah… berilah hidayah kepada gadis yang kucintai itu, dan dengan kecerdasannya semoga ia mampu menjadikan gaun kurung bercadar menjadi trend abad ini. Amin…