E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Cinta Buta Sang Penulis Muda [ Bagian IV ]

===================================================
CINTA BUTA SANG PENULIS MUDA
===================================================

Bagian IV


Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin" Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin" Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin," ucap Boy dalam hati seraya berharap sang Tokek bersuara kembali. Namun setelah di tunggu, ternyata sang Tokek tak jua bersuara. "Wedew… Kok gak bunyi lagi sih," kata Boy cemas. "Ayo dong, Tokek! Bunyi sekali lagi aja, please…!" pinta Boy berharap.
Mendengar itu, sang Tokek tetap bungkam. Maklumlah, saat itu dia mengira si Boy justru menyuruhnya diam. Padahal, semula dia sudah mau bersuara sekali lagi.
"Duuuh… kok miskin sih? Dasar tokek sialan," maki Boy dalam hati. "Ah, gua gak mo percaya sama yang begitu-gitu. Emangnya Tokek yang nentuin gua kayak apa enggak. Kalo gua sampe percaya, sama aja gua udah nyekutuin Tuhan."
Begitulah Boy, dengan mudahnya dia bisa menghilangkan rasa tidak enak di hatinya dengan langsung mengingat Tuhan. Andai saja tadi si Tokek bersuara sesuai dengan keinginannya, tentu dia tidak akan bicara begitu, dia pasti akan senang dan mempercayai mitos itu begitu saja. Padahal, dia tahu kalau percaya dengan hal yang seperti itu adalah syirik. Seperti halnya juga ketika dia percaya atau tidak percaya dengan ramalan bintang, jika zodiaknya sedang diramalkan jelek dia pasti tidak mau percaya, tapi kalau zodiaknya itu sedang diramalkan bagus dia pasti langsung senang tanpa perlu mengkhawatirkan macam-macam.
"Hah, udah jam segitu," kata Boy terkejut ketika melihat jam di komputernya sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. "Gawat… besok pagi gua kan harus nganter Indah. Kalo sampe begadang lagi, dia pasti ngambek lantaran gua gak tepat waktu. Tapi, cerpen yang lagi gua tulis ini harus selesai sekarang juga, sebab besok kan udah hari terakhir. Kalo gak buru-buru dikirim bisa gawat. Duuh… gimana ya?" tanya Boy seraya berpikir keras. "Ah, masa bodolah. Biarin aja Indah ngambek, minta putus juga gak apa-apa, yang penting gua bisa ikutan lomba. Lagi pula, mana berani dia mutusin gua, calon mantu kesayangan ortunya. Kalo dia mutusin gua, itu artinya dia harus mau dikawinin sama lelaki beristri tiga itu."
Setelah berpikir begitu, Boy pun kembali melanjutkan cerpennya yang tinggal sedikit. Dan setelah menyelesaikan halaman terakhir, pemuda itu segera melakukan pengeditan. Hingga akhirnya dia bisa menyelesaikan cerpen itu ketika azan subuh sudah berkumandang. "Huff… Beres," kata Boy lega seraya merenggangkan persendiannya yang terasa kaku. Setelah menyimpan cerpennya ke dalam flash disk, pemuda itu lantas mematikan komputernya. Kini dia sedang berkaca, memperhatikan air mukanya yang tampak lusuh. Sejenak diperhatikannya bola matanya yang memerah karena lelah, juga sehelai uban yang tumbuh di kepalanya. "Duh, uban lagi…" keluhnya seraya mencabut uban itu hingga ke akarnya. Diperhatikannya uban itu dengan penuh kecemasan, menyadari kalau dirinya sudah semakin bertambah usia. Begitulah Boy, suka sekali mendramatisasi sesuatu yang sebetulnya normal dan wajar-wajar saja menjadi sesuatu yang mencemaskannya. Maklumlah, setiap kali dia menemukan uban di kepalanya, dia langsung menghubungkan dengan umurnya yang dirasa terus berkurang. Di mana kesempatan untuk hidup normal di dunia ini hanya tinggal beberapa puluh tahun lagi, dan itu juga berdasarkan hitungan untuk orang yang betul-betul menjaga kesehatan. Sedang dia, yang selama ini hidup tidak sehat tentu akan lebih cepat dari itu. Pada ulang kemarinnya saja, dia sempat sedih. Padahal, teman sebayanya yang juga berulang tahun justru merayakannya dengan penuh kegembiraan, bahkan teman-temannya yang mengaku mencintainya pun turut berbahagia dengan menceplokkan telor dan manaburkan terigu di atas kepalanya. Dan teman-temannya yang tidak ngeh terhadap nasib orang lain yang sedang kelaparan itu kemudian ditraktir makan di sebuah restoran cepat saji. Maklumlah, teman Boy itu memang seorang pemuda yang baik dan seakan tak punya dosa. Sedangkan Boy, yang justru merasa sering berbuat dosa betul-betul merasa tidak pantas untuk merayakannya, apalagi dengan cara seperti itu. Dia lebih suka merenungi perjalanan hidupnya yang kebanyakan telah disia-siakan dan bertekad untuk bisa memperbaikinya di rentang sisa umurnya kini.
"Duhai Allah… Aku betul-betul cemas. Apakah dengan umur yang tinggal sedikit ini aku mampu mempersiapkan bekal untuk di akhirat nanti? Sedangkan hingga hari ini, aku belum juga menyiapkan investasi anak yang shaleh walau seorang pun, yang kelak sangat kuharapkan bisa menolongku seandainya Engkau memanggilku di dalam kekurangan. Duhai Allah… Haruskah aku mengaku pada Indah kalau sebenarnya aku telah mencintainya, dan mengakui kalau selama tiga bulan ini aku tidak pernah menganggapnya sebagai pacar boongan? Namun, hingga kini aku masih ragu. Apakah kelak aku bisa hidup bahagia bersamanya, bersama wanita yang belum baik agamanya itu? Duhai Allah… berilah aku petunjuk-Mu… Amin…" ucap Boy seraya melangkah untuk bersuci.
Pada saat yang sama, di sebuah kamar yang tertata rapi. Lala tampak sedang menunaikan sholat Subuh. Usai sholat, wanita itu tampak duduk bersimpuh memohon kepada Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lama wanita itu bersimpuh, memohon dengan linangan air mata, bahkan hingga bias cahaya mentari menerobos masuk kamarnya dia masih juga belum bergeming. "Duhai Allah… setelah kumencoba merenungi perjalanan hidupku, setelah kumencoba untuk menggali hikmah yang tersembunyi, dan setelah kumencoba menyelami rahasia takdir-Mu. Kini aku mulai bisa memahami, kalau sebenarnya aku hanyalah secuil media-Mu guna menguak keberadaan-Mu, menguak sedikit ilmu-Mu, dan menguak tabir penciptaan atas semua makhluk ciptaan-Mu. Duhai Allah… Berilah aku kekuatan, berilah aku ketabahan, dan berilah aku kesabaran untuk menjalani semua takdir-Mu. Amin…," ucap Lala seraya bersiap-siap untuk kembali menghadap Tuhannya.
Di kediaman Boy, dering telepon terdengar berkali-kali. Saat itu, Boy yang baru saja ngelayap tampak jengkel dibuatnya. "Duuh, brengsek… siapa sih yang nelepon pagi-pagi begini," keluh Boy seraya melangkah ke ruang tengah. "Waalaikum… iya ini aku sendiri. Siapa ya?"
"Ini aku, Boy… Indah. Eng, Kamu baru bangun tidur ya?"
"Baru bangun tidur jidad lu jenong. Gua tuh lagi ngelayap mo tidur. Gara-hara lu pala gua jadi pusing nih,"
"Apa??? Baru mo tidur. Kamu ini gimana sih, katanya mo nganterin aku ke rumah Om Rahman. Kok malah mo tidur sih."
"Gua semalam begadang, In. Jadi sekarang gua ngantuk banget. Gua jemput lu pukul 9.00 aja ya?"
"Apa??? Pukul sembilan. Kamu itu gimana sih, Boy. Sepupuku kan nikahnya pukul sembilan, masak sih kita berangkat pukul sembilan. Pokoknya aku gak mo tau. Biar gimana juga, kamu harus sudah sampai di rumahku pukul delapan."
"Duuh, In… lu tuh gak pengertian banget sih. Gua tuh ngantuk banget. Apa lu seneng kalo gua masuk rumah sakit gara-gara gak konsen bawa motor?"
"Kamu tuh yang udah gak pengertian dan gak bertanggung jawab. Udah tau pagi-pagi kudu nganter aku, eh kamunya malah begadang. Dasar…"
"In, lu nyadar gak sih kalau gua tuh cuma pacar boongan lu? Lu tuh gak usah nuntut seolah gua ini pacar beneran lu!"
"Tapi, Boy… kamu kan udah janji."
"Janji…? Waktu itu kan aku bilang Insya Allah…"
"Boy… kata Lala, Insya Allah itu 99% janji."
"Iya, gua juga tau…" saat itu Boy langsung menceritakan perihal cerpen yang harus segera diselesaikannya.
"Ya udah kalo emang begitu, biar aku brangkat sendiri aja."
"Ngambeeeek…"
"Au ah lap… tidur lagi aja sana biar puas!"
Prekkk!!! Tut,,, Tut…. Tut…
"Duh, Indah betulan ngambek. Heran… padahal selama ini dia cuma nganggap gua pacar boongan, tapi kalo gua rasa-rasa… kayaknya gak begitu. Bahkan setiap kali gua pengen tau soal cowok pujaan rahasianya, dia tuh selalu berusaha berkelit. Seolah-olah dia emang gak mampu nunjukin ke gua kalo cowok itu emang betul-betul ada. Hmm… jika dugaan gua bener. Berarti…" Entah kenapa, tiba-tiba saja mata Boy yang semula ngantuk mendadak segar kembali. Saat itu juga dia buru-buru mandi dan berdandan dengan sangat rapi, kemudian dengan terburu-buru pula dia segera memacu sepeda motornya. Dan setengah jam kemudian, akhirnya dia tiba di rumah Indah dengan selamat.
"Assalam…!" ucap Boy seraya mengetuk pintu rumah Indah.
Tak lama kemudian. "Bo-Boy… ka-kamu mo datang juga," kata Indah hampir tak mempercayainya.
"Habis… ambekan lu tadi udah bikin gua jadi kepikiran. Jadi, kepaksa deh gua dateng juga. O ya, ngomong-ngomong bonyok pada ke mana, kok sepi?"
"Boy, kok kamu pikun sih. Kan aku udah bilang, kalo mereka udah berangkat duluan. Mereka tuh udah dari kemarin menginap di rumahnya On Rahman. Kalo mereka masih di sini, ngapain juga aku minta di anterin sama kamu. Mending ikut bonyok naik mobil ketimbang harus naik motor sama kamu. O ya, Boy. Sebetulnya tadi tuh aku sempet bingung, soalnya aku gak tau anggutan umum yang ke sana. Tapi untunglah, akhirnya kamu mo datang juga. Kalo enggak, gak tau deh gimana aku sampai ke sana."
"O… pantes tadi lu di telepon marah banget. Ya udah, kalo gitu ayo kita berangkat skarang."
"Sebentar ya, Boy," kata Indah seraya melangkah masuk. Dan tak lama kemudian, gadis itu sudah kembali dengan menenteng sebuah tas kecil merah jambu. "Yuk, Boy!" ajaknya kemudian.
Kini kedua muda-mudi itu sudah dalam perjalanan, saat itu Indah tampak memeluk pinggang Boy dengan erat sekali. Secara naluri, Boy betul-betul senang dengan perlakuan Indah yang demikian, namun di lain sisi batinnya justru merasa tersiksa. Sepertinya dia memang harus segera menikahi Indah, sebab kalau tidak dia khawatir dirinya akan kian terlena oleh kelezatan semu yang sebetulnya hanya sementara.



Malam harinya sekitar pukul delapan, Boy dan Indah sudah kembali pulang. Kini mereka sedang berbincang-bincang di ruang tamu rumah Indah yang terasa sangat nyaman. Seperti itulah yang biasa mereka lakukan dalam rangka pacaran boongan¾menunjukkan kepada orang tua Indah kalau mereka itu memang betul-betul pacaran. Ya ngobrol berdua, saling tukar pikiran, dan terkadang saling berpandangan. Namun, malam ini agak sedikit berbeda. Orang tua Indah yang masih menginap di rumah Om Rahman membuat Indah berani sekali duduk dekat Boy. Padahal, biasanya mereka duduk saling berjauhan, dan dalam pengawasan orang tua. Maklumlah, orang tua Indah termasuk orang yang taat agama dan cukup moderat, mereka tidak melarang anaknya pacaran asal dengan catatan, hubungan itu serius dan akan dibawa ke jenjang pernikahan, tidak berduaan di tempat sepi, apalagi kalau sampai duduk saling berdekatan dan berpegangan tangan, mereka sangat melarang keras. Orang tua Indah percaya, hukum pacaran pada dasarnya boleh, namun sewaktu-waktu bisa berubah menjadi haram jika sudah mengarah ke perzinahan. Kata orang tua Indah, sebetulnya pacaran itu adalah latihan jatuh cinta, latihan memahami sifat dan karakter orang lain, dan latihan menganggap lawan jenis adalah teman yang menyenangkan. Dan perkara seperti itu sangat baik untuk perkembangan jiwa, sehingga lelaki dan perempuan bisa memahami kodratnya masing-masing secara alamiah. Pacaran juga bisa mendongkrak kecerdasan emosional, sebab ketika berpacaran akan timbul berbagai kejadian yang bisa memicu terjadinya hubungan emosional, yang jika disikapi dengan benar akan meningkatkan kecerdasan emosional itu sendiri. Dan masih banyak lagi sebetulnya hal positif yang bisa dipetik dari pacaran yang bertanggung jawab. Begitulah kedua orang tua Indah mempunyai pemikiran sehingga mereka tak mau bersikap terlalu ketat.
"Boy.. di sekitar mata kamu kok kotor banget sih. Aku bersihin ya," kata Indah seraya mengambil tissue dan membersihkan kotoran yang melekat akibat dari perjalan bermotor tadi. Bukan hanya sekitar mata, tapi juga seluruh wajah dan bahkan sampai ke lehernya. Diperlakukan begitu, Boy pun merasa betul-betul diperhatikan. Usapan lembut di wajahnya terasa betul-betul meresap ke jiwa, bahkan dia kian terlena ketika jemari Indah menyiap sebagian rambutnya, yang dirasakan seperti membelai dengan penuh kasih sayang.
"Nah, skarang kamu udah gak rebek lagi, Boy…" kata indah seraya tersenyum tipis.
"Sekitar mata lu juga kotor, In. Gua bersihin juga ya," kata Boy seraya mengambil tissue dan mulai membersihkan wajah Indah sama persis seperti yang telah dilakukan Indah tadi.
Saat membersihkan itulah Boy bisa memperhatikan setiap bagian wajah Indah dengan lebih seksama. Keduanya alisnya yang hitam dan tipis, matanya yang bening, hidungnya yang mancung, bibirnya yang bak delima merekah, dan lain sebagainya. Pokoknya setiap bagian wajah Indah diperhatikan dengan begitu seksama, dan dari jarak yang begitu dekatnya, tampak halus dan mulus, sampai-sampai urat kebiruan yang ada dagunya pun terlihat dengan begitu jelas. Pada saat yang sama, Indah pun sedang memperhatikan wajah Boy. Saat itu diperhatikannya beberapa bekas luka kecil yang semakin memperkuat karakter Boy sebagai seorang lelaki yang pemberani, kemudian dilanjutkan dengan memperhatikan bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, dan kedua bola matanya yang bening, yang saat itu sedang menari-nari memperhatikan setiap bagian wajahnya, di atas kedua mata itu tampak alis Boy yang tebal dan hitam pekat. Ketika pandangan Indah kembali memperhatikan mata Boy, saat itulah mereka saling berpadangan. Dan seketika itu pula keduanya merasakan sensasi berjuta rasa, penuh dengan nuansa keindahan dan juga kebahagiaan, bagai menyaksikan panorama indah di atas hamparan bunga yang harum semerbak sambil menikmati lezatnya makanan yang mengundang selera, juga penuh dengan hasrat bergelora yang bak beat techno ajeb ajeb. Sungguh, saat itu naluri primitif keduanya seakan tak bisa di cegah, menuntut gejolak dan dorongan biologis agar segera diberikan haknya. Kian lama, tuntutan itu semakin menggila, membuat keduanya kian terlena dan akhirnya melupakan norma yang ada.
"Boy… kamu kenapa?" tanya Indah yang melihat Boy tertunduk dengan kedua tangan yang meremas-remas rambutnya.
"In… Akhirnya yang gua takutin kejadian juga. Sungguh, gua betul-betul nyesel udah ngikutin kemauan elo."
"Boy… barusan kan kita cuma ciuman. Kamu tuh gak perlu nyesel kayak gitu. Ciuman itu kan hal yang wajar, Boy… Sebuah ungkapan kalau kita emang saling mencintai."
"Saling mencintai…?"
"Iya, Boy… kamu tuh gak usah boong, kalo sebenarnya kamu mencintai aku, iya kan? Ngaku aja, Boy! Sebab, aku bisa ngerasain itu ketika ciuman tadi. Sungguh, ciuman kamu itu bukanlah ciuman nafsu seorang lelaki semata, namun juga ciuman yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang."
"In, lu betul kalau gua emang cinta sama lu. Dan skarang pun gua udah semakin yakin kalo kita emang saling mencintai. Tapi sayangnya, cita kita itu cinta buta."
"Cinta buta, Boy?"
"Ya, kita saling mencintai karena cinta buta. Sebab, cinta sejati adalah atas dasar cinta kita kepada Tuhan. Jika itu emang cinta sejati, enggak mungkin kita mau menodainya dengan perbuatan yang justru di benci Tuhan. Barusan kita udah berani ciuman tanpa ikatan suci yang semestinya. Ketahuilah In, kalau cinta buta adalah peluang syetan untuk menjerumuskan kita. Karena itulah, jika lu emang betul-betul cinta sama gua, sebaiknya kita segera kawin. Semoga dengan begitu, cinta kita yang semula karena cinta buta bisa berubah menjadi cinta sejati."
"Ta-tapi, Boy… aku belum siap berumah tangga. Kamu sendiri aja belum punya kerjaan tetap, apa nantinya kita akan hidup bahagia, Boy?"
"Kini semua terserah pada putusan lu, In. Pokoknya yang jelas, gua gak mau kalo sampe kejadian masa lalu yang menimpa gua terulang lagi. Soalnya, dulu ketika gua punya pacar, setiap hari selalu bergelut dengan dosa. Ciuman, pelukan, dan bermanja-manja tanpa ada yang menghalangi. Bila enggak ngelakuin itu, kepala gua bisa pusing tujuh keliling, suntuk, bete, dan masih banyak lagi. Rasanya emang susah banget buat keluar dari candu yang begitu membuai. Terus terang, manusia kayak gua emang susah banget pacaran tanpa ngelakuin itu, perbuatan yang emang udah bagaikan candu. Apalagi saat itu cewek gua selalu ngasih kesempatan, alhasil syetan pun berhasil membuat kami terpedaya, dan akhirnya lu tau sendiri kan."
"Iya, Boy… emang susah banget buat ngungkapin rasa cinta dan sayang kita tanpa ngelakuin perbuatan kayak begitu. Kalo kedua belah pihak gak mampu lagi nahan diri, bisa-bisa… ya bakal kecebur juga."
"Karena itulah, In. Gua harap lu mau nerima lamaran gua. Dan lu gak perlu khawatir kalo kita gak akan bahagia. Percayalah, In…! Kalo kita emang berniat baik, Insya Allah… Tuhan tentu akan ngasih jalan buat kita."
"Tapi Boy, aku belum siap jadi seorang ibu. Kamu tau kan, ngurus anak itu gak gampang."
"In, perlu lu tau. Banyak perempuan awalnya juga ngerasa begitu. Namun karena mereka berani mencoba, pada akhirnya mereka bisa juga menjadi seorang ibu yang baik. Karena itulah, jika lu emang mau belajar dari teori yang ada, mau belajar dari pengalaman orang lain, dan juga mau belajar dari pengalaman lu sendiri, Isya Allah suatu saat nanti lu juga bakal menjadi seorang ibu yang baik."
"Tapi, Boy…"
"Udah ah, gua gak mau denger alasan lu lagi. Pokoknya apa pun itu, gak akan bisa ngerubah keputusan gua. Skarang gua kasih waktu seminggu buat lu mikir, jika udah jatoh tempo lu belon juga ngasih jawaban terpaksa kita putus."
Saat itu Indah cuma bisa menangis, mengeluarkan senjata andalannya yang selama ini selalu berhasil membuat Boy mengalah. "Duuuh, lu jangan nangis dong, In!"
"Abis… aku gak tau lagi gimana caranya supaya kamu bisa ngertiin aku," kata Indah terisak.
Saat itu, Boy ingin sekali mendekapnya, membelainya, dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Namun karena saat itu dia masih mampu mempertahankan jubah keimanannya, niat itu pun segera diurungkan. "Oke.. oke… lupaian aja ultimatum gua barusan. Tapi, lu harus janji… gak akan pernah lagi ngasih kesempatan sama gua buat ngelakuin hal kayak tadi. Mulai sekarang kita harus bertekad untuk pacaran dengan penuh tanggung jawab, dan jika kita sampe ngelakuin perbuatan yang mendekati zinah, kita harus segera kawin. Gimana…?"
Mengetahui itu, Indah segera mengangguk, saat itu jelas sekali tampak pada wajahnya sebuah ekspresi kegembiraan yang amat sangat. Melihat itu, lagi-lagi di dalam diri Boy timbul dorongan yang begitu kuat. Saat itu dia ingin sekali menghapus air mata Indah yang masih saja meleleh, kemudian mencium keningnya mesra, dan segera mendekapnya penuh kehangatan. Namun, lagi-lagi Boy berhasil menghalau dorongan itu. "Nah, kalo gitu udah dong nangisnya…!" pinta Boy dengan nada lembut.
Saat itu juga Indah langsung menghapus air matanya, kemudian mencoba untuk tersenyum manis.
"In… gua pulang sekarang ya, soalnya udah malem nih."
"Boy, sebaiknya kamu nginap aja!"
"Apa? Nginap...?"
"Bukan apa-apa, Boy… Soalnya bahaya pulang malam-malam begini. Apa lagi belum lama ini ada kejadian perampasan sepeda motor, dan korbannya tewas dengan cara yang amat tragis. Boy… terus terang aku betul-betul khawatir kalo hal itu juga akan menimpa kamu."
"Gak, In… sekali enggak tetap enggak. Mengertilah, In… gua tuh gak mau membuka peluang kepada syetan untuk menjerumuskan kita, walau apa pun alasannya. Lebih baik gua mati ketimbang harus membuka peluang kepada syetan. Udalah In… lu tuh gak perlu khawatir, mending lu doain gua agar bisa tiba di rumah dengan selamat. Insya Allah… dengan begitu Tuhan akan selalu ngelindungin gua. Udah ya, In. gua pulang," kata Boy seraya beranjak menuju menuju ke sepeda motornya. Pada saat yang sama, Indah tampak melangkah untuk membukakan pintu gerbang.
"Bye, In… Assalam…"
"Walaikum…," ucap Indah seraya memperhatikan kepergian Boy.
Lama juga gadis itu mematung di depan gerbang rumahnya, merasa begitu kehilangan orang yang dicintainya. Apalagi jika dia mengingat saat berciuman tadi, sungguh dia sangat merindukan Boy agar senantiasa bisa berada di sisinya.


Esok siangnya, setelah mentari bergulir ke barat. Boy tampak sedang bersantai di depan rumahnya. Duduk di kursi teras, memandangi seekor kupu-kupu raja yang sedang memamerkan keindahan sayapnya, bertengger di atas sehelai daun sirsak yang tumbuh di halaman rumah. Sambil terus memandangi keindahan itu, pikiran Boy terus melayang--mengingat kembali kejadian semalam yang kini membuatnya betul-betul tidak nyaman. Bagaimana tidak, setiap kali dia teringat akan hal itu, setiap kali itu pula dia ingin mengulanginya lagi dan lagi.
"Duhai Allah… hilangkanlah segala pikiran sesat yang ada di kepalaku ini, sungguh kini aku telah kembali terjerat oleh cinta yang membutakan. Duhai Allah… lindungilah aku dari cinta buta ini, cinta yang seharusnya tidak aku jalani. Sungguh aku tak mengira, kalau kesombonganku akan keimanan ternyata telah membuatku terjerumus ke dalam perangkap syetan. Semula kupikir aku mampu mengendalikan diri, namun ternyata aku masih begitu mudahnya melepaskan baju keimananku. Duhai Allah… bagaimana caranya agar aku bisa melepaskan diri dari cinta buta ini? Sedangkan kini aku tak kuasa lagi untuk menyakiti perasaan orang yang begitu aku cintai, orang yang begitu aku sayangi. Duhai Allah… aku betul-betul mengkhawatirkan hal ini. Bagaimana jika kekasihku itu tak mampu lagi menepati janjinya, bagaimana jika dia terus diperalat oleh syetan untuk memperdayaiku. Sungguh… hanya pertolongan-Mu-lah yang bisa menyelamatkan aku. Duhai Allah… Berilah aku petunjuk-Mu, berilah aku kekuatan untuk berani mengambil sikap, dan berilah aku kemampuan untuk selalu berada di jalan-Mu. Amin…"
"Assalam…!" ucap seseorang tiba-tiba.
Boy yang mendengar ucapan itu spontan menjawab dan segera melempar pandangannya ke asal suara. "Hmm… mo apa orang munafik itu datang kemari? Dasar manusia gak berperasaan, tega-teganya dia membuka aib saudaranya sendiri," gerutu Boy dalam hati seraya menghampiri orang itu dan segera membukakan pintu gerbang untuknya.
"Ahlan wa sahlan, Boy…" sapa orang itu meyindir seraya mengajak Boy cipika-cipiki. "Maapin gue ya, Boy. Kalo selama ini gue udah gak mo nemuin lo lagi," ucap orang itu tulus seraya melepaskan pelukannya.
Setelah di perlakukan begitu, hati Boy yang semula panas membara entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi begitu sejuk. Pada saat itu dia betul-betul merasakan kalau orang itu adalah sahabatnya yang baik dan tak sepantasnya jika dia sampai membencinya. "Udalah, Ris. Gua paham kok, lu bisa sampe tega ngebongkar kartu gua sama Lala itu karena lu khilaf. Iya kan?"
"Apa, Boy? Gue ngebongkar kartu elo. Kartu yang mana? Perasaan selama ini gue gak pernah buka kartu elo sama Lala," jelas Haris dengan kening berkerut.
"Ja-jadi bukan lu yang ngomong ke Lala kalo gua udah gak suci lagi?"
"Astagfirullah…! Boy… Boy… Perlu elo tau, biarpun selama ini gue kesel sama elo, tapi gue gak akan pernah mo buka aib elo. Sebab kalo gue sampe ngelakui itu, sama juga dengan ngebuka aib gue sendiri."
"Hmm… kalo emang bukan lu. Jadi, siapa dong? Kan cuma lu yang tau semua rahasia gua."
"Demi Allah, Boy… ngapain sih gue boong."
Mendengar itu, Boy langsung percaya. Sungguh saat itu dia tidak berani meragukan orang yang sudah bersumpah atas nama Tuhan. "Baiklah, Ris. Gua percaya, ternyata emang bukan lu orangnya. Kalo bukan lu itu artinya…"
"Artinya apa, Boy?"
"Itu artinya gua sendiri yang udah ngaku ke dia."
"Aneh… kok bisa begitu?"
"Gak aneh, Ris. Sebab, waktu itu gua pasti salah tangkep omongan Lala. Gua pikir dia udah tau kalo gua udah gak suci lagi, tapi ternyata…" Saat itu Boy langsung mengajak Haris duduk di kursi teras dan segera menceritakan kejadian ketika dia bertemu dengan Lala waktu itu.
"Be-berarti, La-Lala udah gak suci lagi?" tanya Haris dengan air muka yang tampak prihatin.
"Ya, kini gua yakin banget. Sebab, rasanya emang gak mungkin jika dia masih suci sampai bicara begitu. Sungguh, gua bener-bener gak nyangka kalo tokoh utama yang ada di cerita si Lala itu ternyata dia sendiri. O ya, Ris. Ngomong-ngomong, lu mo minum apa. Kopi apa teh?"
"Gak usah repot-repot, Boy. Air bening aja," jawab Haris yang kini sudah terlatih untuk tidak salah kaprah. Maklumlah, dulu dia juga pernah bernasib seperti Indah, berhasil dikerjai oleh Boy. Namun saat itu Haris tak seberuntung Indah, waktu dia sempat disediakan air tajin¾bekas cucian beras Ibunya Boy.
Tak lama kemudian, Boy sudah melangkah ke belakang. Dan setelah menyediakan air bening untuk Haris, mereka pun segera kembali berbincang-bincang. Mereka terus berbincang-bincang seputar realita kehidupan, hingga akhirnya mereka kembali terjerat di dalam perdebatan yang tak sehat. Perdebatan yang kini sudah membuat hati keduanya mengeras seperti batu, tak ada yang mau mengalah, tetap kekeh mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sama persis seperti yang sudah mereka lakukan beberapa bulan yang lalu, yang membuat keduanya terpaksa jadi marahan.
"Boy, lo tuh keras kepala banget sih. Udah jelas hukuman sebat 100 kali dan diasingkan selama setahun itu gak perlu lulakuin. Sebab, waktu itu lu belum mengerti perihal hukuman itu. Dan menurut gue, tobatan nasuha yang udah lu lakuin itu lebih dari cukup. Lagi pula, siapa coba yang pantes buat mengeksekusinya," kata Haris seraya mengeluarkan dalil yang menguatkan pendapatnya.
Boy pun tidak mau kalah, dia segera mengeluarkan dalil yang juga menguatkan pendapatnya, yaitu hadits perihal pelayan yang berzinah dengan majikannya. "Perlu lu tau, Ris. Dalam hadits itu, anak yang berzina itu juga enggak tau perihal hukuman sebat. Jangankan anak itu, orang tuanya aja juga enggak tau. Tapi, pada kenyataanya anak itu tetap harus menjalani hukumannya. Dan saat itu jelas sekali bahwa enggak ada hal lain yang bisa ngebayarnya, buktinya seratus ekor kambing dan hamba perempuan itu harus dibalikin."
Mengetahui itu, Haris pun segera menyerang balik dengan dalil dan argumen yang lebih jitu. Dan lagi-lagi Boy kembali menyerangnya dengan dalil dan argumen yang tak kalah jitu. Hingga akhirnya, "Cukup Ris. Dari tadi kayak lu cuma muter-muter aja. Lu itu emang udah jadi syetan, Ris."
"Apa, Boy??? Gue syetan. Eh, Boy… denger ya. Justru saat ini elo udah terpedaya sama syetan. Karena itulah elo masih aja ngotot dengan pendapat loe yang dangkal itu, dan sekarang malah menuduh gue sebagai syetan."
"Emang begitu kenyataannya, lu itu emang syetan yang berusaha mempengaruhi gua agar gak ngejalanin hukuman itu."
"Cukup, Boy. Lo itu emang teka dan udah bikin gue betul-betul jengkel. Males sebetulnya gue debat sama loe."
"ya udah, kalo emang begitu. Gua juga udah males denger omongan lu lagi. Udalah, mending sekarang lu pulang aja! Dari pada nantinya lu gua bikin babak belur," usir Boy dengan raut wajah yang menampakkan kemarahannya.
"Astagfirullah…!" ucap Haris tiba-tiba, berusaha meredam gejolak amarah yang kini sedang meledak-ledak. "Boy… maapin gue ya kalo kata-kata gue tadi udah menyinggung perasaan elo. Sungguh gue gak nyangka, kalo niat gue yang mau ngebantu elo supaya gak terlalu mikirin soal hukuman itu, ternyata justru bikin loe semakin berkeras. Boy… kini gua gak akan ngalangin niat loe itu lagi. Percayalah, Boy… kini gua sadar, kalau sebetulnya gue gak pantes nentuin keyakinan loe itu bener apa enggak. Wallahu alam… Kini gue gak mo debat masalah itu lagi. Biar semuanya gue kembaliin sama diri loe sendiri, terserah gimana menurut keyakinan loe."
Mengetahui semua itu, hati Boy pun seketika dingin kembali. Sungguh dia tidak menyangka kalau Haris ternyata mampu mengendalikan dirinya, dan hal itu sungguh membuatnya Boy menjadi iri. "Gua betul-betul salut dan iri sama lu, Ris. Ternyata… skarang lu udah bebeberapa langkah lebih maju dari gua."
"Udalah Boy, itu karena gue lagi berusaha supaya gak jadi orang yang sok tau. Terus terang, gue gak mau jika sampe maksain nilai kemanusiaan gue pada orang lain. Sebab gue sadar, kalo manusia itu cuma wajib nyampein kebenaran dan harus belajar hidup dari kesalahan dan kekurangan manusia lain. Ketahuilah, bahwa setiap menusia itu punya pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. Karenanya itulah, gue berusaha buat menghormatinya. Dan gue juga akan selalu berusaha enggak benci sama orang yang berbeda pendapat sama gue, namun gue justru harus mencintainya dengan segala kepedulian sejati gue, walaupun itu bisa aja membuat hati gue miris. Pokoknya, selama gue udah bisa nyampein pendapat gue, itu udah lebih dari cukup. Kini gue udah sepenuhnya menyadari kalo kehidupan gue di dunia ini adalah untuk mengenal Tuhan dan menghamba pada-Nya. Bukan buat menghakimi manusia lain yang gue sendiri gak mungkin tau tujuan dan pola pikirnya. Sebab, hanya Tuhanlah, Zat yang Maha Tahu Segalanya. Biarlah Tuhan aja yang jadi hakim mutlak, yang pantes nentuin salah benernya seseorang. Sebab, jika gue sampe menghakimi manusia lain, apalagi sampai membencinya, itu berarti gue udah ngerusak nilai kemanusiaan gue sendiri. Sebab, nilai kemanusiaan itu hanya dapat dibina dengan mencintai, dan bukan dengan membenci. Karena itulah gue akan selalu berusaha neladanin Rasulullah yang dengan rasa cintanya justru mau ngedoain orang-orang yang telah menzolimi dan membencinya agar kembali ke jalan yang lurus."
Mengetahui itu, Boy pun bertekad untuk mengikuti jejak Haris. Kini dia tidak mau lagi menjadikan pendapatnyalah yang paling benar, namun dia akan berusaha menyelami pendapat orang lain dan berusaha menyaringnya berdasarkan pendapatnya sendiri yang tak menyimpang dari Al-Quran dan Al-Hadits sehingga kelak bisa didapat pemahaman baru yang mencerahkan. "O ya, Ris. Ngomong-ngomong, lu mau kan nolongin gua mecahin masalah pribadi gua."
"Tentu aja, Boy. Kalo elo emang percaya sama gue, dan ternyata gue emang bisa ngebantu loe, kenapa enggak. Eng, emangnya masalah apa sih?"
Saat itu, Boy langsung menceritakan masalah cinta butanya yang kini sudah kembali mengganggu pikirannya. Dan setelah mengetahui perkara itu, Haris pun segera mengemukakan pendapatnya, "Eng,,, begini, Boy. Perkara kayak begitu emang gak gampang buat dipecahin. Sebab, emang dibutuhin keberanian, kesabaran, dan kebesaran hati buat nerima apa pun yang bakal terjadi. Kalo elo emang ngerasa hubungan itu bakal menuju kepada kemungkaran, dan elo juga ngerasa gak mampu ngelindungin diri loe, sebaiknya loe itu emang harus berani mengambil sikap tegas, yaitu segera ngawinin Indah atau memutuskannya. Perkara elo bakal nyakitin Indah itu emang udah risiko dia, dan elo eggak perlu ngerasa bersalah, walau dia akan bunuh diri sekalipun. Jika hal itu sampe terjadi tentu akan nyakitin banget, tapi emang begitulah kebenaran, terkadang bikin kita ngerasa enggak berperikemanusiaan, kejam, dan menuduh ketentuan Tuhan itu enggak adil. Ketahuilah…! Sesungguhnya apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Tuhan, begitu juga sebaliknya. Karena itulah, kita dituntut agar bisa mengambil putusan berdasarkan hati nurani yang sesuai sama keinginan Tuhan, bukan berdasarkan sama keinginan pribadi kita. Dan kita bisa membedakan itu dengan berpedoman pada Al-Quran dan Hadits Rasul. Dan dalam kasus loe, udah jelas kan gimana hukumnya cinta buta itu. Trus untuk apa lagi elo pertahanin. Mending elo segera temui Lala. Bukankah elo bilang dia itu cinta banget sama elo, dan dia menolak loe waktu itu lantaran dia mengira loe masih suci. Gue rasa, kini gak ada lagi alasan Lala buat menolak lamaran loe. Bukankah elo bedua emang udah gak suci lagi."
Setelah mendengar semua itu, Boy pun tampak merenung--memikirkan semua yang telah dikatakan Haris. Hingga akhirnya, dia pun mau menuruti anjuran Haris untuk segera menemui Lala.