E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Topeng Kuning - Bagian 3

 TIGA
MESIN TRANSPORTASI DAN MESIN WAKTU



Setibanya di anjungan, Bobby segera berkomunikasi dengan Gita. Dia menanyakan perihal mesin transportasi yang berada di belakang tiga buah kursi kendali. Gita menyebutnya Mestrans I (Mesin Transportasi Satu), kegunaan mesin itu sama saja dengan mesin transportasi yang ada di ruang Kargo, hanya saja kapasitasnya jauh lebih kecil. Mestrans I berbeda dengan Kaptrans, mesin itu tidak menggunakan kapsul untuk mengendalikannya, tapi menggunakan seorang operator di pesawat yang bertugas menentukan lokasi pendaratan maupun lokasi peluncuran.
Setelah memahami Mestrans I, Bobby juga menanyakan perihal mesin waktu yang berada di ruang anjungan. Lokasinya persis di atas mesin Kaptrans. Untuk menuju ke mesin itu bisa melalui dua buah anak tangga yang melingkari mesin Kaptrans. Bentuk mesin itu mirip sekali dengan mesin Kaptrans, hanya saja bagian kapsulnya yang bernama Kapwak telah hilang setelah dulu dipakai melakukan evakuasi darurat. Kapwak terakhir yang seharusnya berada di mesin itu, kini sedang teronggok di ruang kargo lantaran Android yang waktu itu ditugaskan membawanya mengalami kerusakan. Saat itu Gita menjelaskan bagaimana kondisi mesin waktu itu. Sementara itu, Bobby, Haris, dan Sinta tampak mendengarkannya dengan penuh seksama, bahkan mata ketiganya hampir tak berkedip memperhatikan layar monitor yang sedang menampilkan cetak birunya. Sesekali, Haris dan Sinta juga ikut bertanya. Rupanya kakak beradik itu begitu penasaran ingin mengetahuinya lebih jauh, yaitu apakah mesin waktu itu masih bisa difungsikan atau tidak. Setelah mengetahui jawaban Gita, akhirnya mereka mulai membahasnya bersama.
"Sepertinya kita tidak dapat menggunakan mesin waktu itu," kata Haris membuka pembicaraan.
"Ya sepertinya memang begitu," kata Bobby menimpali.
"Kalian salah. Aku rasa kita bisa menggunakan mesin itu," kata Sinta serius.
"Apa maksudmu, Sin?" tanya Bobby penasaran.
"Iya, Sin? Bukankah Gita telah memberitahu, bahwa orang yang pergi dengan mesin itu tidak akan bisa kembali ke pesawat karena mesin itu merupakan mesin waktu satu arah. Bukankah mesin itu dirancang cuma untuk evakuasi darurat, sedangkan yang bisa menjelajah waktu dua arah hanyalah pesawat ini," jelas Haris panjang lebar.
"Kau benar, Kak. Tapi jangan lupa! Sebetulnya kita pun bisa menggunakan mesin itu secara dua arah asalkan kita bisa membuat sebuah Kapwak yang mempunyai tenaga cukup besar, dan dengan tenaga yang cukup besar itulah, Kapwak bisa kembali pulang dengan mengandalkan tenaganya sendiri, yaitu dengan cara diperasikan oleh penumpangnya,” kata Sinta menjelaskan kemungkinannya.
 "Tapi, bagaimana mungkin Kapwak bisa dikirim ke lokasi yang diinginkan, sedangkan gelombang radio jelas tidak mungkin bisa menembus dimensi waktu?” tanya Haris tiba-tiba, “Ketahuilah, Sin. Seperti halnya Kaptrans yang ketika menentukan koordinat pendaratan jelas sangat membutuhkan peran pesawat guna bisa mendapat sinyal lokasi yang berasal dari satelit galileo," lanjutnya kemudian.
"Haris benar, Sin. Masih ingatkah dengan cerita Gita? Waktu itu para awak pesawat ini saja harus meluncurkan satelit dulu sebelum mereka bisa menggunakan Kaptrans. Jadi, bagaimana mungkin Kapwak bisa menentukan koordinat lokasi tanpa mengandalkan satelit? Bisa-bisa, Kapwak malah akan di kirim di tengah laut," timpal Bobby.
"Jangan khawatir! Mengenai koordinat pendaratan itu sebetulnya mudah. Ketahuilah! Sebelum berangkat, Kapwak akan mencatat koordinat keberangkatan yang didapat dari satelit Galileo pada masa ini dan menyimpannya ke dalam memori data. Lalu setelah berada di tahun yang dituju, Kapwak akan menentukan koordinatnya berdasarkan hasil rekaman tadi. Dengan demikian, Kapwak bisa mendarat sesuai dengan lokasi yang kita inginkan. Aku rasa, Kapwak memang sudah dirancang seperti itu. Masih ingatkah kalian ketika para awak pesawat ini dievakuasi, bukahkah itu suatu bukti kalau Kapwak sudah dilengkapi dengan alat seperti itu. Nah, yang harus kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya agar Kapwak bisa mempunyai tenaga yang cukup besar," jelas Sinta panjang lebar.
"Benar juga, Sin. Tapi, apa mungkin kita bisa membuat Kapwak yang seperti itu?" tanya Haris ragu.
"Ya, para ilmuwan saja belum berhasil membuat Kapwak yang seperti itu," timpal Bobby meragukan.
"Kita pasti bisa, soalnya waktu itu aku sempat menangkap penjelasan Gita yang memang mengarah ke hal itu. Tapi sayangnya, saat ini aku benar-benar lupa," jelas Sinta seraya menatap ke arah monitor raksasa, "O ya,  Gita? Apakah kau mempunyai informasi yang kumaksudkan?" tanyanya kemudian.
"Ya, Sinta. Saya mempunyai informasi yang berhubungan dengan hal itu. Pada tahun 2025, para ilmuwan pernah melakukan percobaan untuk membuat Kapwak yang bisa pulang-pergi. Namun ketika melakukan percobaan, ternyata Kapwak tidak kembali lagi ke mesin induknya. Selidik punya selidik, ternyata hal itu disebabkan oleh kurangnya tenaga pada Kapwak. Itulah kendala yang mereka dialami, yaitu mengenai sumber tenaga yang belum bisa terpecahkan. Karenanyalah, pada masa itu Kapwak hanya bisa diluncurkan dari pesawat yang memang mempunyai tenaga cukup besar, namun jika diluncurkan dengan mengandalkan tenaganya sendiri sama sekali tidak dimungkinkan. Jika saja pada saat itu mereka masih mempunyai kristal inti pusat bumi, tentu masalah itu bisa dipecahkan dengan mudah," cerita Gita panjang lebar.
Sinta tampak berpangku tangan dengan alis yang kian merapat, rupanya dia sedang berpikir keras mengenai hal yang baru diceritakan Gita. Setelah agak lama berpikir, tiba-tiba gadis itu berdiri dari duduknya, kemudian memandang Haris dengan pandangan yang berbinar-binar.
"Aku ingat sekarang. Kristal itu! Ya… kristal itu, Kak," kata Sinta bersemangat.
"Kristal…? Kristal yang mana ?" tanya Haris dengan wajah sedikit bingung.
"Ingat tidak, Kak. Dengan kristal yang ada di ruang mesin? Ya, kita bisa menggunakan kristal itu untuk meningkatkan tenaga pada kapsul waktu," jelas Sinta bersemangat.
"Hebat… kau memang brilliant, Sin," puji Haris.
Saat itu Bobby tampak diam, dia betul-betul tidak mengerti akan maksud Sinta.
Sinta kembali duduk, kemudian dia melanjutkan kata-katanya, "Ya, bukankah pesawat ini sudah ada sebelum para ahli memikirkan pemecahan masalah tenaga untuk kapsul waktu. Aku yakin, sebenarnya pada waktu itu mereka juga berpikiran untuk menggunakan kristal itu. Namun karena kristal itu jumlahnya terbatas dan yang terkecil digunakan untuk pesawat ini, maka para ilmuwan lebih mementingkan kristal itu untuk pesawat dari pada untuk Kapwak. Nah, sekarang kan kristal itu sudah pecah, jadi kita bisa memanfaatkan sisa pecahannya untuk Kapwak," jelas Sinta dengan mata berbinar-binar.
Mengetahui itu, akhirnya Bobby baru mengerti, ternyata Sinta ingin menggunakan kristal yang ada di ruang mesin guna meningkatkan tenaga Kapwak. Sementara itu, Haris sedang memikirkan penjelasan Sinta barusan. "Ya, sebaiknya kita coba saja. Aku yakin Rolab bisa membentuk kembali kristal itu seperti yang ada di ruang mesin, walaupun ukurannya akan menjadi lebih kecil," kata Haris mengusulkan.
"Kenapa tidak dilebur saja seperti yang pernah aku lihat di TV?" tanya Bobby.
"Tidak bisa, Kak. Itu bukan kristal biasa. Kalaupun bisa, pasti akan merubah struktur molekulnya—bisa-bisa malah menjadi kristal biasa, " jelas Sinta.
"Benar, Sin. Jika kristal itu bisa dilebur, tentu pesawat ini sudah terbang dari dulu-dulu," timpal Haris.
"Mmm… kalau begitu, ayo kita segera menuju ke ruang mesin!" ajak Bobby bersemangat.
Tak lama kemudian, ketiganya sudah melangkah menuju ke ruang mesin. Setelah mengambil kristal itu, mereka segera membawanya ke ruang laboratorium. Kini mereka sedang berembuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya, yaitu rencana membuat alat peningkat tenaga. Saat itu, Haris dan Sinta tampak begitu serius memikirkannya, sedangkan Bobby hanya menjadi pendengar saja. Ketika Haris dan Sinta masih serius dengan segala pemikirannya, tiba-tiba Bobby sudah bangkit dari duduknya. "Wah, sudah pukul tiga sore nih. Maaf ya, teman-teman! Aku tidak bisa menemani kalian. Soalnya, aku harus segera pulang untuk latihan silat," kata Bobby dengan sangat menyesal.
"Tidak apa-apa, Bob," kata Haris memaklumi.
"Ya, Kak. Kami mengerti kok," timpal Sinta.
Akhirnya Bobby segera meninggalkan kedua sahabatnya, saat itu dia tampak melangkah ke anjungan untuk menggunakan Kaptrans. Tak lama kemudian, alat transportasi itu sudah membawanya menuju gudang dengan begitu cepat. Kini Bobby sudah keluar dari benda itu dan segera menutupinya dengan sebuah terpal, kemudian dia segera melangkah ke kamar untuk berkemas-kemas.
Sementara itu di pesawat, Haris dan Sinta masih berada di ruang kerja laboratorium. Mereka sedang mempersiapkan perencanaan untuk membuat Alpenten (Alat peningkat tenaga, sebuah alat yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan tenaga pada Kapwak). Mereka cukup beruntung karena tidak perlu mendesain sirkuit utamanya. Sebab, sirkuit utama alat itu sudah ada cetak birunya. Saat ini, mereka tinggal membuat komponen pendukungnya saja. Selain itu, mereka juga akan membuat perencanaan untuk memodifikasi Kapwak agar bisa menggunakan alat baru yang sedang mereka rancang.
Kini Sinta tampak sibuk menggambar desain casing dan sistem mekaniknya. Sedangkan Haris tampak sibuk mendesain skema sirkuit pendukungnya. Keduanya tampak begitu giat bekerja di depan komputer masing-masing. Pada saat yang sama, Gita dan Rolab diminta untuk memberikan semua data yang diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan itu.

   

Hari demi hari terus berlalu, Haris dan Sinta masih sibuk mendesain kompenen pendukung untuk Alpenten dan pemodifikasian Kapwak. Sedangkan Bobby masih giat berlatih silat di padepokannya, selain itu dia juga sibuk berlatih menggunakan kostum bertopeng kuning di dalam ruang latihan—di pesawat. Semua fasilitas yang ada pada kostum tersebut dicobanya satu per satu. Sistem pertahanan, sistem penyerangan dan lain-lain. Semua gerakannya direkam oleh mesin pemantau untuk dianalisa. Kini dia sudah hampir mengusai semua kemampuan kostum itu.   
 
Seminggu kemudian, Haris dan Sinta telah menyelesaikan cetak biru komponen pendukung. Kini Bobby, Haris, dan Sinta mulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk merangkai Alpenten. Dengan bantuan Rolab dan informasi dari Gita, akhirnya mereka berhasil mengumpulkan segala yang diperlukan untuk membuat alat itu.
 "Kak? Sekarang aku dan Kak Bobby akan membuat casing untuk alat itu," pamit Sinta.
"Oke, Sin. Aku dan Rolab akan segera merangkai sirkuit utamanya," jelas Haris.
Bobby dan Sinta segera menuju ke mesin pemotong, sedangkan Haris mulai merangkai sirkuit utama Alpenten. Haris bekerja dengan penuh semangat, dia merangkai komponen demi komponen pada sebuah papan sirkuit utama yang sudah dipersiapkan. Di dekat mesin pemotong, Bobby dan Sinta sedang menggambar pola casing pada sebuah pelat besi. Setelah gambar itu selesai dibuat, Bobby segera memotongnya mengikuti pola tersebut, kemudian dengan sebuah mesin press dia mulai membuat lekukan-lekukan yang sesuai dengan desain casing-nya. Sinta tampak mengawasi pekerjaan yang dilakukan Bobby. Sesekali dia memberikan petunjuk kepada Bobby yang mengalami kesulitan.
Sementara itu, Haris masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah selesai mengerjakan perakitan sebuah blok sirkuit, Haris segera mengujinya dengan sebuah alat khusus. Bila blok yang baru dirakit berfungsi dengan baik, dia segera melanjutkan ke blok berikutnya. Sesekali Sinta menemui Haris untuk melihat perkembangan perakitan sirkuit utama. Beberapa jam kemudian, Bobby dan Sinta tampak menghampiri Haris yang masih sibuk merakit. Saat itu Bobby berpamitan untuk latihan silat ke padepokan, sedangkan Sinta duduk di sebelah Haris.
"Bagaimana, Kak? Apakah masalah pada blok penguat sudah terpecahkan?" tanya Sinta.
"Belum, Sin. Aku masih bingung. Transistor-4 dan kapasitor-6 yang dipasang selalu terbakar," jelas Haris.
"Hmm… Apakah tidak ada cara lain untuk mengatasinya?" tanya Sinta.
"Aku juga belum tahu, Sin. Sekarang pun aku masih memikirkannya," jawab Haris.
Sinta hanya terdiam memperhatikan Haris yang saat itu sedang pusing memikirkan masalah pada blok penguat. Haris tidak habis pikir, kenapa transistor dan kapasitor itu selalu terbakar. Padahal Semua hitungan sudah benar, bahkan dalam perakitannya tidak ada kesalahan sedikit pun.
"O ya, bagaimana kalau kita meminta bantuan Rolab? Bukankah dia bisa menunjukkan cetak birunya dalam bentuk tampilan 3D," saran Sinta.
Haris pun setuju dengan saran Sinta, lalu dengan segera dia meminta bantuan Rolab untuk menampilkan kembali skema sirkuit Alpenten. Tak lama kemudian, tampilan skema 3D hologram tampak keluar dari dahi Rolab. Saat itu Haris tampak memperhatikannya dengan penuh seksama. Bahkan dia meminta Rolab untuk memutar skema dan memperbesarnya di bagian tertentu. Hampir setengah jam Haris mempelajari kembali skema itu, hingga akhirnya dia menemukan kesalahannya.
"Aha! Kini aku mengerti," kata Haris lega.
"Benarkah?" tanya Sinta ragu.
"Benar, Sin. Para ilmuwan itu memang pintar. Mereka mencoba memproteksi sirkuit ini dengan menghilangkan sebuah alur yang penting. Bila arus dari gerbang C1 mengalir menuju transistor-4, seharusnya gerbang C2 yang menuju ke kaki basis transistor-1 dalam keadaan low bukannya high. Arus dari kapasitor-2 yang seharusnya belum dikeluarkan sudah dikeluarkan. Akibatnya transistor-4 kelebihan beban. Karena transistor-4 terbakar, maka kapasitor-6 yang menampung arus akan kelebihan beban, hingga akhirnya akan terbakar pula. Untuk mengatasi masalah itu, jelas aku harus membuat gerbang C2 dalam keadaan low dengan cara mengaktifkan gerbang C4, caranya dengan membuat sebuah jumper dari kaki emitor transistor-3 ke gerbang C4 pada Chip yang ini," jelas Haris sambil menunjukkan sebuah chip pada tampilan skema.
"O… begitu?" Sinta tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Wah, aku betul-betul tidak mengerti dengan apa yang dikatakan kakakku barusan," katanya dalam hati.
"Terima kasih, Rolab," kata Haris seraya melanjutkan pekerjaannya.
Kini Haris sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya, sementara itu Sinta masih terus menemaninya, sesekali dia mengambilkan minum untuk kakaknya yang kehausan.

   

Esok harinya, di halaman belakang sebuah rumah megah, terlihat kolam ikan yang airnya terus mengalir. Di dalamnya tampak beberapa ikan koi dan ikan mas koki yang tampak begitu sehat, berenang hilir mudik—memamerkan keindahan warnanya yang begitu cerah. Itulah kolam ikan milik Bobby yang menggunakan teknologi air mengalir temuan Sinta. Tak jauh dari kolam itu, Bobby tampak sedang giat berlatih silat—mengulang kembali berbagai jurus yang pernah dipelajarinya. Kini pemuda itu siap melatih kekuatan tendangan dan pukulannya mautnya, saat itu dia tampak berkonsentrasi penuh guna menghancurkan kendi-kendi yang tergantung berjajar pada sebatang bambu. Tak lama kemudian, dia sudah melompat dan langsung menendang sebuah kendi hingga hancur berkeping-keping. Setelah itu, dia pun memukul sebuah kendi yang berada di sebelahnya. Tak ayal, kendi itu pun langsung hancur berkeping-keping. Sampai akhirnya, semua kendi yang berjumlah 10 buah hancur tak berbentuk.
Kini pemuda itu tampak melangkah menghampiri dua tumpuk ubin pualam. Setelah berkonsentrasi penuh, lantas dengan segera dia memukulnya hingga terbelah dua, kemudian disusul dengan menendang ubin pualam yang berada di sebelahnya. Tak ayal, ubin pualam itu pun terbelah dua. Saat itu Bobby cukup puas dengan hasil latihannya, kemudian dengan segera dia melangkah ke beranda untuk bermeditasi. Sementara itu di dalam pesawat, Haris dan Sinta masih mengerjakan perakitan sirkuit penambah tenaga. Kini tahap pengerjaan sudah sampai di bagian blok out-put.
"Nah… tinggal satu komponen lagi," kata Haris seraya menyolder sebuah komponen. "Selesai sudah!" katanya lagi dengan wajah yang begitu senang.
"Coba diuji, Kak!" pinta Sinta
Haris pun segera menguji sirkuit penambah tenaga dengan menggunakan sebuah alat khusus. Tak lama kemudian, "Oke, Sin. Hasilnya bagus," kata Haris seraya mematikan alat pengujinya.
"Kalau begitu, ayo kita segera merakitnya pada casing yang telah kubuat itu, Kak!" ajak Sinta.
"Sebaiknya jangan sekarang, Sin. Bagaimana kalau nanti malam saja? Lebih baik sekarang kita istirahat dulu! Lagi pula, kau itu kan harus segera pulang. Kalau tidak, ayah dan ibu pasti akan mencari. O ya, malam ini kan aku akan menginap di pesawat ini. Jangan lupa, bilang pada ayah dan ibu kalau hari ini aku akan menginap bersama Bobby."
"Baiklah, Kak. Kalau begitu, ayo kita segera hubungi Bobby agar segera menjemputku dengan Kaptrans!” ajak Sinta seraya bangkit dari duduknya.
"Kali ini kita tidak akan menggunakan Kaptrans, Sin,” jelas Haris seraya ikut bangkit dari tempat duduknya. "Nah, sekarang ikut aku ke Mestrans I agar aku bisa langsung mengirimmu pulang," sambungnya kemudian.
"Tapi, Kak. Aku masih ragu menggunakan mesin itu. Selama ini kan kita biasa menggunakan Kaptrans," kata Sinta khawatir.
"Tenang, Sin. Alat itu aman kok, soalnya aku sudah sempat mengujinya bersama Rolab," jelas Haris.
"Terus... bagaimana kalau Kakak salah menentukan koordinat. Bisa-bisa aku malah dikirim ke tengah laut."
"Tenang saja, Sin. Kebetulan kemarin aku sudah merekam koordinat kamarmu. Itu loh, ketika kau menghubungiku dengan Alkom saat di kamar."
"Benarkah! Aku tidak menyangka, sempat-sempatnya Kakak merekam koordinat kamarku," kata Sinta seakan tidak percaya.
"Tentu saja. Aku pikir, mau tidak mau kita harus menggunakan mesin itu. Bukankah merepotkan sekali kalau setiap mau pulang harus menunggu Bobby dulu. Apalagi jika Bobby sedang tidak di rumah, bisa lama sekali kita menunggu dia. Karena itulah, aku segera merekam koordinat kamarmu agar kau bisa pulang langsung ke kamar tanpa sepengetahuan ayah dan ibu," jelas Haris panjang lebar.     
"Wah, kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, Kak! Kita memang tidak mungkin mengandalkan Kaptrans saja. Kalau begitu, ayo kita coba!" ajak Sinta bersemangat.
Lantas, mereka pun segera melangkah menuju ke anjungan. Setibanya di tempat itu, Sinta segera berdiri di tengah-tengah Mestrans I. Sementara itu, Haris tampak mengoperasikannya dengan hati-hati, dan setelah dia menekan tombol eksekusinya, tiba-tiba Sinta sudah lenyap dari pandangan.
Dalam hitungan detik, Sinta sudah berada di kamarnya sendiri. Saat itu dia benar-benar takjub dibuatnya, "Luar biasa… aku bisa pulang ke rumah secepat ini," katanya dalam hati.
Sementara itu di pesawat, Haris tampak melangkah menuju kamar mandi yang ada di ruang kehidupan. Rupanya pemuda itu sudah begitu lelah dan ingin berendam di air hangat guna mengendurkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sambil memikirkan pekerjaannya yang belum selesai, Haris terus berendam dengan berbalut basahan, sesekali dia tampak memijat bagian tubuhnya yang terasa pegal. Saat yang sama di anjungan, Bobby baru saja tiba dengan menggunakan Kaptrans. Setelah tahu Haris sedang mandi, akhirnya dia duduk menunggu dia ruang santai sambil menonton TV. Rupanya malam ini pun dia berniat menginap di pesawat bersama Haris.
Sekitar pukul tujuh malam, Alkom Haris berbunyi, rupanya saat itu Sinta meminta segera dijemput. Mengetahui itu, Haris pun segera melangkah menuju anjungan. Tak lama kemudian, pemuda itu sudah berada di anjungan dan langsung mengoperasikan Mestrans I. Saat itu kedua tangannya tampak lincah menekan tombol-tombol yang ada. Setelah tombol eksekusi ditekan, tiba-tiba Sinta sudah berada di tengah Mestrans I. Saat itu di tangan kanannya terlihat rantang yang berisi makanan, dan di tangan kirinya terlihat kantung plastik yang berisi beberapa keperluan untuk bersih-bersih. Setelah meletakkan barang-barang itu pada tempatnya, akhirnya Sinta segera bergabung dengan kedua pemuda yang sudah menunggunya di ruang makan. Kini ketiganya sedang menikmati santap malam sambil berbincang-bincang mengenai Alpenten. "Kak? Kapan kira-kira alat itu selesai?" tanya Sinta.
"Mmm… kalau tidak ada hambatan mungkin akan selesai tengah malam nanti," jelas Haris.
"Kau ikut menginap saja, Sin!" saran Bobby.
"Tidak, ah! Soalnya aku yakin kalau ayah dan ibu pasti tidak akan mengizinkan," tolak Sinta.
"Jangan khawatir! Nanti aku akan menelepon mereka untuk memberikan alasan. Aku jamin deh, mereka akan mengijinkanmu menginap malam ini. Bukankah ada Kakakmu yang menemani," kata Bobby sungguh-sungguh.
"Jangan, Bob!” Larang Haris tiba-tiba. ”Ketahuilah! Ayah dan ibuku pasti akan curiga kalau Sinta ikut menginap. Sinta itu kan perempuan, tentu orang tua kami akan bertanya-tanya jika Sinta sampai ikut menginap. Lain halnya dengan aku yang laki-laki, yang selama ini memang bebas untuk bisa menginap di mana saja," jelas pemuda itu merasa khawatir.
"Betul juga, Har. Jika mereka sampai menanyakannya, bisa-bisa rahasia kita terbongkar lantaran Sinta takut berbohong,“ kata Bobby membenarkan.
Tak lama kemudian, mereka sudah selesai menikmati santap malam, saat itu mereka masih berbincang-bincang sambil menurunkan makanan yang baru saja masuk ke perut. Beberapa menit kemudian, ketiganya tampak sibuk membereskan meja makan. Setelah itu, mereka segera menuju ke ruang kerja di laboratorium. Di tempat itu, Haris tampak mulai melanjutkan pekerjaannya dengan ditemani oleh Bobby dan Sinta. Saat itu dia tampak begitu berhati-hati dalam merakit Alpenten, sebab jika salah sedikit saja tentu bisa menyebabkannya terbakar.  
Menjelang pukul sembilan malam, Sinta pamit pulang. Pada saat itu, Bobby langsung mengantarkannya dengan Mestrans I. Kini pemuda itu sudah kembali ke ruang kerja untuk menemani Haris. "Kenapa, Har?" tanyanya ketika melihat Haris tampak termenung sambil memandangi sirkuit yang ada dihadapannya.
"Entahlah… sebuah port yang menghubungkannya dengan perangkat lunak tidak berfungsi," jawab Haris yang lagi-lagi mengalami kesulitan, kemudian dia segera meminta bantuan Rolab untuk memperlihatkan skema sirkuit utama.
Tak lama kemudian, Rolab pun sudah menampilkannya dengan 3D visual hologram. Setelah itu Haris tampak mempelajarinya dengan seksama. Setelah lama berpikir, akhirnya Haris menemukan kesalahannya. "Mmm… lagi-lagi mereka telah mengecohku, namun kali dengan cara menukar alur yang penting. Sebab tidak mungkin pin-4 pada port ini dihubungkan dengan gerbang C-8 pada chip yang ini, begitu pun dengan pin-6 pada port ini, tidak mungkin dihubungkan dengan gerbang C-2 pada chip yang ini," kata Haris sambil menunjukkannya kepada Bobby.
Saat itu Bobby sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Haris, namun karena merasa tidak enak, dia pun berusaha untuk mengangguk-angguk sambil terus mendengarkan penjelasan Haris.
 Setelah memperbaiki kesalahan itu, Haris pun segera melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Bobby masih terus setia menemaninya, bahkan dia selalu siap menyediakan apapun yang Haris butuhkan. Menjelang pukul 2 pagi pekerjaan perakitan Alpenten telah selesai. Kini mereka sedang berkemas-kemas untuk beristirahat di kamar yang berada di ruang kehidupan.


 
Sekitar pukul sembilan pagi terdengar panggilan dari Sinta yang minta dijemput, dia akan datang membawakan sarapan untuk Bobby dan kakaknya. Haris yang menerima panggilan itu segera menuju ke anjungan.
Sementara itu, Bobby yang baru saja mandi sedang sibuk membongkar Rolab di ruang pemantau. Saat itu Pemuda itu tampak sudah melepas semua bagian yang menjadi penutup sistem hidrolik dan langsung mengamatinya dengan penuh seksama.
Di ruang makan pada ruang kehidupan, Haris dan Sinta baru saja tiba.
"Kak Bobby mana, Kak?" tanya Sinta seraya meletakkan makanan di atas meja.
"Mmm… mungkin di ruang pemantau. Semalam dia bilang mau membongkar Rolab," jawab Haris seraya mengaktifkan pemasak air otomatis.
"Untuk apa sih dia pakai bongkar-bongkar Rolab segala? Kayak orang yang mengerti saja," kata Sinta mengejek.
"Biarkan saja, Sin! Mungkin dia mau tahu tentang teknologi robot," ujar Haris seraya tersenyum.
"Hmm... kalau begitu, aku ke sana dulu ya, Kak."  
"Oke, Sin? Setelah mandi aku menyusul!" kata Haris seraya melangkah pergi. Pada saat yang sama, Sinta tampak melangkah ke ruang pemantau. Setibanya di tempat itu, dia langsung menyapa Bobby yang masih saja sibuk mengamati Rolab. Sementara itu, Bobby hanya tersenyum menyambut kedatangannya, kemudian dia kembali sibuk mengamati Rolab dengan sangat serius. Bobby yang sok mengerti mengenai teknologi robot tampak garuk-garuk kepala.
"Bagaimana, Kak? Sudah tahu apa kerusakannya?" tanya Sinta.
"Boro-boro tahu kerusakannya. Setelah sekian lama mengamati kabel-kabel dan selang-selang yang semerawut ini, kini kepalaku malah menjadi pusing," jawab Bobby.
"Hihihi… makanya, kalau tidak mengerti jangan sok mengerti! Mana penutupnya dibongkar semua lagi… Kak, kamu itu kan tahunya cuma pertanian dan peternakan. Lebih baik kamu menanam bunga di pot untuk keindahan pesawat ini," canda Sinta mengejek.
"Grrr… kau tuh, ya! Memangnya tidak boleh apa kalau aku tahu sedikit soal robot," kata Bobby geram sambil melotot pada Sinta.
"Boleh, boleh… begitu saja kok diambil hati," kata Sinta yang melihat wajah Bobby tampak kesal.
"Kau sih, mentang-mentang pintar mekanik dan kelistrikan, merendahkan aku yang cuma tahu soal pertanian dan peternakan," kata Bobby seraya meredupkan pandangannya.
"Maaf deh kalau kamu merasa direndahkan," kata Sinta seraya menatap Bobby dengan tatapan menyesal.
"Kau saja, kalau disuruh menanam pohon bunga, mati melulu," ejek Bobby.
"Iya, iya… aku kan sudah mengaku salah! Kenapa sih kamu masih memperpanjangnya?" keluh Sinta seakan mau menangis.
"Dasar cengeng. Baru dibilang begitu saja sudah mau menangis," canda Bobby
"Bobby! Kamu tuh ya…" kata Sinta seraya mencubit lengan Bobby.
"Aduh… aduh…! Sudah, Sin! Sakit tahu." Bobby tampak meringis seraya mengusap-usap lengannya yang terasa sakit, kemudian dia segera membalas cubitan itu.
Sinta pun meringis kesakitan, "Jahat kamu, Kak. Sakit, nih!" keluhnya dengan mata melotot.
Haris yang kebetulan melihat mereka langsung berkomentar, "Waduh… waduh…! Baru ditinggal berduaan sebentar, eh sudah berani cubit-cubitan. Bagaimana kalau aku tinggal lama, bisa-bisa…" Haris tidak melanjutkan kata-katanya.
"Bisa-bisa apa, Kak? Huh, kamu kan tidak tahu permasalahannya," kata Sinta dengan mata sedikit melotot.
"Iya, Dik Sinta yang maniiiis. Jangan galak gitu, dong! Aku kan memang tidak tahu permasalahannya.“
"Maaf ya, Har. Kalau aku sudah berbuat lancang pada adikmu. Sungguh apa yang kau lihat itu tidak seperti kelihatannya," jelas Bobby.
“Sudahlah, Bob! Lupakan saja. Aku percaya kok. O ya, kalau begitu… ayo kita sarapan sekarang!" ajak Haris seraya tersenyum, .
"Ayo, Har. Aku juga sudah lapar sekali nih," kata Bobby bersemangat.
Lantas, dengan segera mereka bergerak ke ruang makan. Setibanya di ruangan itu, mereka langsung duduk bersama. Saat itu Sinta duduk di sebelah Bobby, sedangkan Haris duduk di seberang meja.
"Ayo dimakan dong, Sin!" kata Bobby yang melihat Sinta tidak ikut makan.
"Aku sudah sarapan di rumah," kata gadis itu menolak.
"Ayolah, Sin! Makan lagi saja, biar tambah gemuk," sindir Haris yang belakangan ini melihat pipi Sinta sedikit tembam.
"Kak Haris memperhatikan, saja! Memangnya aku agak gemuk ya?" tanya Sinta tidak percaya diri.
"Tidak gemuk kok. Cuma sedikit mekar," kata Haris memberi tahu.
"O, jadi sekarang Sinta tambah gemuk ya,” komentar Bobby yang selama ini memang tidak bisa melihat tubuh Sinta lantaran tertutup gaun kurung bercadar. “Eh, Sin. Aku yakin, kau pasti tetap gemuk walaupun cantik. Eh, kau pasti tetap cantik walaupun gemuk. Tapi ngomong-ngomong, apa yang dikatakan Haris tadi ada betulnya juga. Mulanya sih memang sedikit mekar, lantas setelah itu pasti akan seperti…” Bobby tidak melanjutkan kata-katanya.
“Seperti apa? Ayo coba bilang!” desak Sinta dengan mata melotot.
“Tidak ah, aku tidak mau bilang.”
“Baiklah, kalau begitu rasakan ini,” kata Sinta seraya mencubit lengan Bobby.
"Aduh, sakit tahu. Lihatlah, Har! Beginilah adikmu itu," kata Bobby seraya mengusap-usap lengannya yang terasa panas.  
"Hihihi, sukurin! Habis kamu tidak mau bilang," tawa Sinta puas.
Sementara itu, Haris cuma bisa geleng-geleng kepala. Sungguh saat itu dia bisa merasakan sesuatu yang spesial di antara keduanya. Selesai sarapan, mereka segera kembali ke ruang pemantau. Di ruangan itu Haris dan Sinta mulai menganalisa kerusakan Rolab, sedangkan Bobby hanya memperhatikan saja. Saat itu Haris tampak begitu serius memeriksa sistem elektroniknya, sedangkan Sinta tampak begitu serius menganalisa sistem mekaniknya.
Hingga akhirnya, Sinta menemukan kerusakan pada unit master minyak hidrolik, sedangkan Haris menemukan kerusakan pada sirkuit penggerak pompa hidrolik. Setelah kerusakan berhasil diketahui, mereka pun mulai melakukan perbaikan di ruang kerja Laboratorium. Saat itu Haris memperbaiki sirkuit yang mengalami kerusakan dengan mengganti beberapa komponen yang terbakar, sedangkan Bobby tampak membantu Sinta yang sedang kesulitan guna memperbaiki unit master minyak hidrolik.
Setelah melakukan perbaikan, akhirnya Rolab diminta untuk bersandar pada mesin penunjang kehidupannya. Saat itu semua sistem mekaniknya segera diperiksa, bersamaan dengan itu di layar monitor terpampang status kedua lengan Rolab yang sudah berfungsi sebagaimanamestinya. Setelah pemeriksaan selesai, Rolab diminta untuk membentuk kristal sesuai dengan bentuk semula.
Kini Rolab mulai membentuk ulang kristal itu. Rolab membentuknya dengan cara menggrinda kristal dengan menggunakan grinda serbuk intan yang berputar dengan kecepatan tinggi hingga berbentuk persegi enam. Setelah kristal terbentuk, Rolab segera mengamplasnya dengan menggunakan amplas serbuk intan yang juga berputar dengan kecepatan tinggi.
Kini kristal itu tampak sudah mulai mengkilat. Selanjutnya kristal itu diamplas dengan amplas intan hingga akhirnya betul-betul mengkilat. Tak lama kemudian, kristal yang baru dibentuk itu pun siap digunakan. Sementara itu Sinta sedang sibuk membuat pola komponen sesuai dengan cetak biru yang sudah dibuatnya. Sedangkan Bobby dan Haris tampak sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.

   

Dua hari kemudian, mereka mulai mengerjakan pemodifikasian Kapwak. Rolab diminta untuk mengambil Kapwak di ruang kargo. Lalu dengan segera android itu bergerak untuk mengangkat dan membawanya ke ruang kerja di laboratorium. Setelah itu, dia diminta untuk melakukan pekerjaan pengelasan dan penambahan pada bagian tertentu guna memodifikasi Kapwak. Setelah pemodifikasian selesai, Haris dan Bobby mulai memasang alat peningkat tenaga yang telah mereka buat. Alpenten itu dihubungkan dengan sumber tenaga utamanya dan juga dihubungkan dengan komputer utama yang ada di Kapwak. Setelah Alpenten terpasang, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan kristal yang sudah terbentuk tadi di antara Alpenten dan sumber tenaga utamanya. Setelah semuanya terpasang sempurna, Rolab diminta untuk membawanya ke mesin induk dan meletakkannya di tempat itu.
Kini tahap awal pengujian mesin waktu. Kapwak yang baru dimodifikasi merupakan alat transportasi dua arah yang berguna untuk melewati lorong waktu di lubang hitam. Karena bersifat dua arah, Kapwak diharapkan bisa pulang-pergi ke pesawat sesuai rencana.
Hari sudah menjelang sore. Pada saat yang sama, Bobby tampak pamit untuk pergi ke padepokannya. Sementara itu, Haris dan Sinta masih tetap di dalam pesawat, mereka ingin menguji kelayakan Kapwak, yaitu dengan melakukan pengujian tanpa penumpang.

 

Sore harinya, di sebuah kamar mandi yang bersih dan bagus, terlihat seorang gadis tampak mengenakan basahan sambil berendam menikmati aroma terapi. Dialah Sinta yang baru saja kembali dari pesawat guna melepas lelah. Saat itu dia tampak begitu santai, menikmati kenyamanan air hangat yang berbuih. Selain itu, suasana kamar mandi itu pun terasa begitu nyaman. Dinding dan lantainya tampak dihiasi dengan keramik Italia berkualitas tinggi, sedangkan warnanya yang lembut semakin menambah keindahan ruangan itu. Pada saat yang sama, di dalam pesawat, tepatnya di ruang kerja pada Laboratorium, Haris terlihat sibuk memperbaiki sebuah sirkuit yang diambilnya dari Kapwak.
Menjelang sore tadi, Kapwak telah diuji coba untuk dipindahkan lima menit ke masa depan, tepatnya di belakang rumah Bobby, dan ternyata benda itu berhasil muncul di lokasi yang ditentukan lima menit setelah peluncuran. Haris dan Sinta sangat senang dengan prestasi itu. Hingga akhirnya Haris semakin bersemangat untuk melakukan pengujian tahap selanjutnya. Saat itu dia langsung mengoperasikan Kapwak untuk kembali ke pesawat lima menit ke masa depan, dan ternyata benda itu berhasil kembali bersandar di pesawat lima menit kemudian. Lagi-lagi Haris dan Sinta begitu senang dengan prestasi itu, namun kesenangan mereka mendadak lenyap ketika mengetahui Kapwak mengalami kerusakan, saat itu pintunya tidak bisa terbuka secara otomatis. Begitu diselidiki, ternyata kerusakan hanya pada sirkuit sistem mekaniknya. Mengetahui itu, keduanya pun merasa lega kembali.
Kini Haris tampak membolak-balik sirkuit yang baru saja disoldernya, dia mengamatinya dengan begitu teliti. Tanpa sengaja, tiba-tiba tangannya terkena ujung solder yang panas, saat itu kulitnya yang hitam manis langsung melepuh dibuatnya. Lalu dengan segera pemuda itu berlari ke ruang medis. Sesampainya di ruangan itu, dia kebingungan mencari kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Karena tidak menemukannya, dia pun segera memanggil Rolab yang berada di ruang pemantau dan menanyakan perihal kotak tersebut. Rolab memberitahukan bahwa di pesawat itu tidak ada kotak P3K, yang ada adalah APCR (Alat Penyembuh Cidera Ringan). APCR adalah sebuah alat penyembuh yang bentuknya seperti telepon genggam, namun sayangnya pada saat ini semua alat itu dalam keadaan tidak aktif lantaran tenaganya tidak pernah diisi ulang.  
Mengetahui itu Haris tampak panik, sedangkan rasa sakit akibat luka bakar terus berdenyut-denyut. Untunglah saat itu dia tidak kehabisan akal. Lantas dengan segera pemuda itu pergi ke kamar mandi dan mengambil sebuah pasta gigi, kemudian dengan perlahan langsung mengoleskannya ke bagian kulit yang terbakar seraya meniup-niupnya perlahan. Kini Haris merasakan rasa dingin di bagian kulitnya yang terbakar, kemudian dengan serta-merta rasa sakit yang dirasakannya pun mulai berkurang. Sekarang dia sudah benar-benar lega, lantas dengan penuh semangat dia segera kembali ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaannya.

   

Menjelang malam, Bobby datang menemui Haris. Dia memberitahu bahwa malam ini dia tidak mungkin bisa menginap. Sebab, anak buahnya yang dipercaya mengelola usaha tanaman dan ikan hiasnya akan datang ke rumah guna melaporkan perkembangan hasil usaha. "Begitulah, Har… Sepertinya sepanjang malam ini aku akan disibukkan dengan hasil laporan yang akan diberikan nanti. Maaf ya, Har. Kalau malam ini aku tidak bisa membantumu," kata Bobby dengan sangat menyesal.
"Sudahlah, Bob! Aku mengerti kok," kata Haris memaklumi kesibukan Bobby.
"Oke deh. Kalau begitu sudah dulu ya," pamit Bobby seraya mematikan Alkom-nya.
Haris segera menyimpan Alkom-nya dan langsung melangkah menuju ke ruang dapur. Rupanya dia mau memasak mi instan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Kebetulan, kemarin Bobby dan Sinta telah membeli beberapa persediaan makanan dan minuman seperti : Mi instan, bubur instan, susu kaleng, kopi, teh celup, gula pasir, dan roti sobek rasa cokelat. Kini Haris tidak harus menunggu Sinta jika merasa lapar, dia bisa memasak sendiri dengan menggunakan kompor listrik yang ada di pesawat.
Sambil menunggu mi-nya matang, Haris tampak membuat segelas teh manis dan meletakkannya di meja makan. Beberapa saat kemudian, mi instan yang sedang dimasaknya pun matang. Mengetahui itu, Haris segera mengangkat dan menuangnya ke dalam sebuah mangkuk yang sudah ditaburi bumbu. Sejenak diaduk-aduknya mi itu hingga bumbunya bercampur rata. Setelah itu Haris membawanya ke meja makan. Karena lapar, pemuda itu langsung menyantapnya dengan begitu lahap. Sesekali dia terlihat mengelap kaca matanya yang terkena uap panas dari mi instan yang masih mengepul.
Di atas sebuah kursi, di depan sebuah meja belajar yang diterangi lampu hemat energi 15 watt. Seorang gadis terlihat sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kampusnya. Rupanya Sinta sedang sibuk menyelesaikan tugas inofasi yang diberikan oleh Dosennya. Walaupun terlihat sibuk, sesekali dia pergi ke dapur untuk mengisi gelas minumannya yang sudah kosong atau mengambil cemilan yang bisa menemaninya menyelesaikan tugas.  
"Nah, akhirnya makalah inofasi teknologi air mengalir-ku bisa selesai dengan sempurna, aku harap Dosen akan memberikan nilai A atas temuanku itu,” katanya dalam hati. Saat itu Sinta begitu senang dengan sistem pendidikan di kampusnya yang selalu memberi tantangan kepada setiap anak didiknya, yaitu dengan memberikan tugas guna membuat alat keperluan sehari-hari, atau keperluan pertanian misalnya. Tugas itu sebetulnya tidak wajib, namun bagi mahasiswa yang mau melakukannya tentu akan diberikan tambahan nilai sebagai imbalan atas jerih payahnya. Selain itu, setiap hasil inofasi yang memenuhi kelayakan tentu akan dipatenkan atas namanya. Selama ini, Sinta selalu mempraktekkan teori yang didapatnya dari kampus guna menyelesaikan tugas yang menantang itu. Pada setiap riset, biayanya selalu ia minta dari orang tuanya. Maklumlah, dia itu termasuk orang yang berada. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses.
Di tempat berbeda, di sebuah ruang tamu yang tampak mewah terlihat dua orang sedang membahas sesuatu. Mereka adalah Bobby dan anak buahnya yang sedang melakukan pertemuan rutin guna membahas perkembangan usaha. Tak lama kemudian, anak buah Bobby tampak membereskan berkas-berkas yang tergeletak di atas meja, kemudian segera pamit pulang. Setelah mengantarkan anak buahnya sampai ke pintu gerbang, Bobby kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Kini dia tampak memegang sebuah map yang ditinggalkan oleh anak buahnya, saat itu dia sedang mempelajari isi map dengan seksama. Sesekali Bobby tampak sibuk menulis sesuatu ke dalam buku catatannya yang berwarna biru, rupanya dia sedang mencatat beberapa hasil laporan yang perlu ditindak lanjuti. Ketika sedang serius-seriusnya mengamati laporan yang baru saja diberikan, tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Saat itu Bobby langsung keluar melihat siapa yang datang, dan begitu mengetahuinya, wajahnya pun langsung berseri gembira. Ternyata yang datang itu Mang Udin, pembantunya yang baru saja datang dari kampung. Saat itu Mang Udin tampak berdiri di muka gerbang sambil tersenyum ramah, dia datang dengan membawa oleh-oleh hasil kebunnya yang berada di Garut. Sementara itu di belakangnya tampak seorang wanita bercadar yang berdiri mematung.
"Den Bobby, kenalkan ini istri Mamang ‘Teh Nuning’," kata Mang Udin memperkenalkan istrinya.
Saat itu istri Mang Udin tampak membuka cadarnya, "Kenalkan Den nama saya Nuning. Duh, Den Bobby. Teteh mah tidak nyangka, kalau juragan teh kasep pisan," puji teh Nuning dengan dialek Sundanya yang kental.
"Makasih, Teh. Senang berkenalan dengan Teteh," kata Bobby seraya tersenyum sambil memperhatikan wanita itu mengenakan cadarnya kembali.
"Ayo Mang, silakan masuk!" ajak Bobby kepada pembantunya.
"Iya Den," sahut Mang Udin seraya mengajak wanita yang sejak tadi terdiam di belakangnya untuk mengikutinya masuk.
Mang Udin adalah seorang pembantu yang setia. Dia sudah mengabdi pada keluarga Bobby sejak Bobby masih kecil, namun ketika ayah Bobby meninggal, Mang Udin kembali ke kampungnya. Waktu itu, Ibu Bobby memang sedang dilanda masalah keuangan, sehingga beliau pun tidak mampu untuk menggajinya. Sebenarnya Mang Udin bersedia untuk tidak digaji, tetapi ibu Bobby merasa tidak tega dan menasihati untuk mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang. Namun setelah ibu Bobby bekerja di luar negeri—di tanah kelahirannya Malaysia, Mang Udin dipanggil kembali. Ibu Bobby memintanya untuk menjaga rumah dan menemani putranya di rumah itu. Sebulan yang lalu, Mang Udin pulang ke kampungnya untuk menikah, namun hari ini dia datang bersama istrinya untuk tinggal dan bekerja kembali di rumah Bobby. Kini Bobby, Mang Udin, dan istri Mang Udin sudah duduk di kursi tamu.
"O ya, Mang. Saya ingin berbicara dengan Mamang. Sebaiknya sekarang Mang Udin antar teh Nuning dulu ke kamar!" Pinta Bobby ramah.
"I ya, Den. Ayo, Ning!" ajak Mang Udin kepada istrinya.
"Iya, A…" balas Nuning. "Permisi… atuh Den Bobby. Teteh ke kamar dulu nyak," kata Teh Nuning seraya bangun dari tempat duduknya.
"Mangga, Teh..." balas Bobby.
Mang Udin segera mengantarkan istrinya ke kamar, sementara itu Bobby masih duduk di ruang tamu guna melihat-lihat isi laporan sambil menunggu Mang Udin. Tak lama kemudian Mang Udin sudah kembali, kemudian segera duduk di hadapan Bobby.
"Den, sebenarnya apa yang Aden ingin bicarakan?" tanya Mang Udin penasaran.
"Mmm, begini Mang. Saya ingin menyampaikan sebuah rahasia kepada Mamang," jawab  Bobby.
"Ra-rahasia… Rahasia apa itu, Den?" tanya Mang Udin semakin penasaran.
"Mang... dengar baik-baik. Di gudang ada sebuah mesin yang sudah saya tutup dengan terpal. Mesin itu sangat penting. Saya harap, Mamang bisa menjaganya selagi saya tidak di rumah, dan saya harap Mamang tidak sampai menyentuhnya!" pinta Bobby.
"Baik, Den! Saya akan melaksanakan amanat Aden," janji Mang Udin.
Setelah mempersilakan Mang Udin pergi, Bobby tampak mempelajari kembali isi laporan yang diberikan  anak buahnya.

 

Keesokan paginya, Haris menghubungi Bobby dengan Alkom. Dia memberitahukan bahwa kerusakan sirkuit pada sistem mekanik Kapwak sudah selesai diperbaiki. Kini saat pengujian selanjutnya, yaitu dengan menggunakan mahluk hidup sebagai penumpangnya. Dia meminta Bobby untuk membeli seekor kera sebagai hewan percobaan. Setelah menerima pesan itu, Bobby pun segera berangkat ke pasar Pramuka untuk membeli seekor kera.
Di anjungan, Haris dan Sinta sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan pengujian, saat itu mereka sedang menguji ulang semua kelengkapan Kapwak. Dua jam kemudian, Bobby datang ke anjungan dengan membawa seekor kera yang ditempatkan di dalam kurungan.
"Aduh, lucunya kera itu," kata Sinta ceria.
"Iya, Sin. Dia itu memang lucu sepertimu," canda Bobby.
"Dia itu seperti kamu, Kak. Lihatlah! Kalau lagi garuk-garuk kepala seperti itu, persis sekali seperti kamu," balas Sinta tidak mau kalah.
"Mulai lagi, deh. Kalian tidak bosan-bosannya, ya. Selalu saja seperti itu," kata Haris mengomentari.
"Kak Bobby sih yang mulai duluan," kata Sinta.
"Aku kan cuma bercanda," bela Bobby.
"O ya, ngomong-ngomong… Kasihan sekali ya bila kera itu dijadikan hewan percobaan," ujar Sinta.
"Iya, sih. Tapi, mau bagaimana lagi?" komentar Haris.
"Benar, Har. Organ tubuhnya kan seperti manusia, mau tidak mau kita memang harus menggunakannya," timpal Bobby seraya memasukkan kera itu ke dalam Kapwak sebagai penumpangnya.
Tak lama kemudian, uji coba pun dimulai. Haris mengirimnya lima menit ke masa depan dengan lokasi yang sama seperti pada pengujian pertama, yaitu di belakang rumah Bobby. Ketika terdengar pesan ‘Pemindahan selesai’, Haris pun segera mengoperasikan Mestrans I untuk memindahkan Bobby ke halaman belakang rumahnya, dan dalam sekejap Bobby sudah berada di tempat itu.
Kini Bobby tampak menanti kemunculan Kapwak dengan hati berdebar. Setelah lima menit menunggu, akhirnya kapsul waktu muncul dengan diawali oleh sinar putih yang menyilaukan. Kini Bobby sedang membuka pintunya dan memeriksa kera yang berada di dalamnya. Sungguh betapa senangnya dia saat itu, dilihatnya kera yang menjadi penumpangnya dalam keadaan baik-baik saja. Tak lama kemudian, pemuda itu segera mengoperasikan Kapwak agar bisa kembali ke pesawat. Setelah itu, dia segera keluar dan menyaksikan benda itu lenyap dari pandangan.
Kini Bobby sedang menghubungi Haris agar segera memindahkannya ke pesawat. Dalam sekejap, pemuda itu sudah kembali ke anjungan. Kini Bobby, Haris, dan Sinta tampak menunggu kemunculan Kapwak di pesawat. Setelah lima menit menunggu, akhirnya kapsul waktu itu muncul dan segera membuka pintunya secara otomatis. Saat itu ketiganya sangat senang lantaran melihat kera yang berada di dalamnya masih tampak sehat, kemudian mereka pun langsung bersalaman merayakan keberhasilan itu. Kini alat penguat tenaga telah bekerja sesuai rencana. Buktinya, kera yang telah dijadikan uji coba itu masih tampak segar-bugar. Namun mereka tidak mau gegabah, untuk lebih meyakinkan, mereka pun segera membawa kera itu ke ruang medis untuk diperiksa. Setelah melakukan pemeriksaan, yakinlah mereka kalau kera itu masih dalam keadaan sehat. Kini kera itu sudah dimasukkan kembali ke dalam kurungan dan langsung ditempatkan di ruangan pemeliharaan, setelah itu ketiganya segera kembali ke anjungan dengan riang-gembira.
Kini pengujian tahap selanjutnya, yaitu pengoperasian Kapwak ke masa lalu. Dalam uji coba ini, Rolab diminta menjadi sukarelawan untuk mengambil beberapa spesimen pada tahun yang dituju. Bobby, Haris, dan Sinta sebenarnya berat untuk menggunakan Rolab, tapi karena itu jalan satunya-satunya terpaksa mereka melakukannya. Saat itu Rolab akan dikirim ke masa lalu, yaitu di daerah Judith River Amerika Utara pada periode Late Cretaceous (masa ketika dinosaurus ukuran raksasa masih bertahan hidup). Kini Rolab tampak memasuki Kapwak. Tak lama kemudian, kapsul waktu itu pun menghilang dari pandangan.
Sambil menunggu Rolab kembali, mereka tampak berbincang-bincang. "Kak Bobby? Apakah kita tidak salah bertindak, menggunakan Rolab sebagai sukarelawan?" tanya Sinta.
"Lho, bukankah tadi aku sudah menjelaskan, hanya Rolab-lah yang memang bisa melakukan percobaan itu. Kita kan tidak mungkin menggunakan kera, sebab hewan itu sama sekali tidak bisa mengoperasikan Kapwak. Lagi pula, bukankah Rolab lebih bisa diandalkan untuk mengambil spesimen," jelas Bobby.
"Bukankah tadi kau juga setuju bila kita menggunakan Rolab sebagai sukarelawan," timpal Haris.
"Iya sih… tapi setelah kupikir-pikir… kenapa kita tidak membayar orang saja untuk melakukannya," kata Sinta.
"Membayar orang? Kau tahu, berapa rupiah yang kita mesti kita keluarkan untuk membayar orang? Lagi pula, itu sama saja dengan mencari masalah dan tidak berprikemanusiaan, masa kita membayar orang untuk melakukan sesuatu yang belum jelas bahayanya," komentar Bobby.
"Iya, Sin. Kalau orang itu kembali dalam keadaan selamat mungkin tidak ada masalah. Tapi kalau orang itu mati, kita juga kan yang susah. Bukan begitu, Bob?" timpal Haris.
"Yup, kau benar, Har," Bobby sependapat.
Mereka terus berbincang-bincang sambil menunggu Rolab kembali. Namun setelah lama menunggu, ternyata Rolab belum juga kembali. Mengetahui itu, mereka pun langsung Khawatir, sebab sudah satu jam lebih Android itu belum juga kembali. Ketika mereka sedang berpikir, tiba-tiba terdengar sebuah pesan yang menyatakan kalau Kapwak akan segera kembali. Benar saja. Tak lama kemudian, Kapwak sudah kembali. Setelah pintunya terbuka secara otomatis, Rolab pun langsung keluar dengan membawa beberapa spesimen. Saat itu, Bobby, Haris, dan Sinta sangat terkejut sekaligus gembira menyambut kedatangan Rolab yang kembali dengan membawa beberapa buah telur dinosaurus dan beberapa tumbuhan pada zaman itu. Kini mereka sedang membawa spesimen itu ke ruang Biologi di Laboratorium dan meletakkannya pada sebuah tempat penyimpanan.
Melihat kesuksesan mesin waktu itu, mereka nekad melakukan uji coba yang ketiga, yaitu dengan menggunakan manusia. Mula-mula Haris dan Sinta agak ragu akan keberhasilan uji coba itu. Namun setelah Bobby meyakinkan kalau mesin itu bisa berhasil, bahkan dia sendiri yang akan menjadi sukarelawannya, akhirnya uji coba pun siap dilakukan. Setelah Bobby mengemukakan alasannya, kenapa dia begitu nekad mau menjadi sukarelawan, akhirnya Sinta pun ingin ikut bersamanya. Semula Haris keberatan jika adiknya ikut bersama Bobby, sebab Sinta itu seorang wanita yang memang tidak diperkenankan untuk bepergian bersama lelaki yang bukan muhrimnya. Namun karena Bobby bisa meyakinkan, kalau dia akan menjaga kehormatan Sinta, bahkan dia akan berusaha melindunginya dari segala bahaya, akhirnya Haris mengizinkan juga. Begitulah jika setan berhasil memperdaya manusia, dengan alasan darurat dan karena kepercayaannya kepada Bobby, akhirnya Haris mau mengizinkan perkara yang jelas telah dilarang agama. Padahal, jika lelaki dan perempuan yang bukan muhrim pergi berduaan, lantas keduanya berhasil diperdaya oleh setan, maka hal yang tidak diinginkan pun bisa saja terjadi. Beruntung jika salah satu atau kedua masih kuat iman, namun kalau tidak tentu apa yang dikhawatirkan itu bisa benar-benar terjadi. Sesungguhnya karena itulah agama melarang perkara seperti guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Kini persiapan keberangkatan mulai direncanakan dengan matang. Bobby, Haris, dan Sinta mengatur semuanya bersama-sama. Bahkan agar tidak terjadi perubahan sejarah dan tidak menarik perhatian, Sinta menyarankan menggunakan pakaian dan perlengkapan yang sesuai dengan abad yang dituju. Bobby menyanggupi penyediaan pakaian, dia akan memesannya pada seorang desainer kenalan Ibunya yang tinggal di Jakarta. Sedangkan Haris dan Sinta bersedia mencarikan beberapa perlengkapan yang diperlukan dengan mencarinya di toko barang-barang antik.  Ketiganya terus membahas masalah itu hingga sore hari.


Topeng Kuning - Bagian 4

EMPAT
KE BATAVIA



Seminggu setelah rencana keberangkatan, Bobby dan Sinta tampak sibuk mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk pergi ke masa lalu—tepatnya pada masa Jakarta masih disebut Batavia. Saat itu keduanya tampak sudah mengenakan pakaian dan aksesoris abad 19 yang membuat mereka seperti muda-mudi pada zaman itu. Sinta yang selama ini mengenakan cadar, kali ini terpaksa cuma mengenakan kerudung agar tidak menarik perhatian. Maklumlah, menurut sebagian besar ulama, cadar itu memang tidaklah wajib. Karena itulah, Sinta berani melepasnya. Selama ini, dia mengenakan cadar hanya sebagai penyempurna hijab agar kecantikannya tidak menjadi fitnah. Terbukti, setelah Sinta melepas cadarnya, kini Bobby lebih sering memperhatikannya. Maklumlah, selama ini pemuda itu hampir tidak pernah melihat wajah Sinta, dan begitu mendapat kesempatan, dia pun menjadi terlena. Sungguh bagi Bobby wajah Sinta itu laksana embun di pagi hari, laksana oase di tengah sahara, laksana bulan di kala purnama, dan laksana berjuta bintang di angkasa. Bobby dan Sinta masih terus mempersiapkan segala sesuatunya, dan setelah semuanya siap, keduanya lantas segera menuju anjungan untuk menemui Haris yang saat itu masih sibuk mempersiapkan kelayakan mesin waktu.
“Bagaimana, Har?” tanya Bobby pada pemuda itu.
“Beres, Bob. Semua sistem sudah aku periksa dan semuanya dalam kondisi baik. O ya, bagaimana dengan persiapan kalian? Apa sudah beres semua?”
“Sudah, Har.”
“Baiklah, kalau begitu segeralah masuk ke Kapwak!“
"Sebentar, Kak. Aku lupa membawa bonekaku!" kata Sinta gelisah.
"Sudahlah, Sin! Kau tidak perlu membawa boneka segala," kata Bobby.
"Tidak bisa, Kak! Aku sulit tidur jika tidak memegang boneka itu," jelas Sinta merengut.
"Aduh... kau itu sudah besar, Sin. Masa tidur saja masih ditemani boneka."
"Kamu tuh tidak mengerti, Kak. Boneka itu hadiah dari…" Sinta tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ha-hadiah dari siapa, Sin?" tanya Bobby penasaran.
"Sudahlah…! Kau itu mau tahu saja."
"Huh, dasar pelit. Masa segitu saja tidak boleh tahu," kata Bobby jengkel.
"Biarin," kata Sinta ringan.
"Sudah, sudah…! Kalau ngobrol melulu kapan berangkatnya. Ayo, Sin. Lekas naik ke Mestrans I !" kata Haris tiba-tiba.
Mengetahui itu, lantas Sinta pun segera naik ke Mestrans I, dan begitu Haris mengoperasikannya, dalam sekejap Sinta sudah hilang dari pandangan. Kini Sinta sudah berada kamar dan sedang mencari boneka pandanya yang imut-imut. Ukuran boneka itu sebesar bola kasti dan biasa disimpan di laci tempat tidurnya.
"Aduh, dimana sih boneka itu?" tanya Sinta dalam hati sambil terus mencari di antara benda-benda yang tersimpan di laci. "O ya, semalam kan aku meletakkannya di belakang lemari es." Sinta teringat ketika menjemur boneka itu di belakang lemari es setelah mencucinya, lalu dengan segera dia berlari ke ruang belakang untuk mengambilnya.
"Aduh bonekaku yang lucu, akhirnya kamu bisa ikut denganku ke Batavia," kata Sinta berbicara kepada bonekanya.
Setelah memasukkannya ke dalam saku, gadis itu segera menghubungi Haris untuk segera memindahkannya ke anjungan. Tak lama kemudian, dia sudah kembali ke anjungan, saat itu di wajahnya terpancar ekspresi penuh kebahagiaan. “Ayo Kak Bobby, kita berangkat sekarang!” ajaknya seraya melangkah memasuki Kapwak.
Tanpa berkata-kata, Bobby pun segera memasuki Kapwak, kemudian dengan segera dia memasang waktu tahun pendaratan, yaitu tanggal 9 Agustus 1811 sekitar abad 19, di mana dia ingin mengetahui benar asal-usul suku yang dikenal dengan nama Betawi. Maklumlah, Bobby itu memang berdarah campuran Betawi dan Melayu. Ayahnya adalah suku Betawi asli dan Ibunya berasal dari negeri jiran Malaysia. Bobby ingin sekali mengetahui asal-usul suku Ayahnya, yang kata orang berasal dari keturunan budak. Karena merasa mempunyai kesempatan, Bobby pun nekad hendak menyelidiki masa itu. Sinta yang juga berdarah campuran antara Betawi dan Jawa ingin mengetahui pula asal-usul suku Ibunya yang berasal dari Betawi.
Kini Bobby sudah siap untuk menekan tombol peluncuran, dan setelah tombol itu ditekan, terdengarlah mode suaranya, "Hitungan mundur pemindahan dimulai. 10... 9... 8... 7... 6... 5... 4... 3... 2... 1... Meluncur..." akhirnya mesin itu meluncur ke zaman yang dituju. Beberapa saat kemudian, terdengarlah mode suara yang menandakan mesin waktu sudah sampai di tempat tujuan. "Pemindahan selesai..." kata si pemandu memberi tahu. Saat itu Kapwak mendarat di hutan kecil yang jauh dari area permukiman.
Setelah pintu Kapwak terbuka, Bobby segera keluar dengan waspada, kemudian kedua matanya tampak mengawasi keadaan sekitarnya dengan penuh rasa was-was. Sementara itu, Sinta tetap berada di dalam, menunggu aba-aba dari Bobby. Setelah dia melihat Bobby memberi tanda aman, akhirnya gadis itu mulai mengaktifkan Kapwak untuk segera mengembalikannya ke pesawat. Hal itu dilakukan demi keamanan Kapwak agar tak ditemukan orang saat ditinggalkan. Kini Kapwak sudah siap meluncur, pada saat yang sama Sinta tampak keluar Kapwak dan bersama-sama Bobby menyaksikan benda itu lenyap dari pandangan.
Setelah Kapwak kembali ke pesawat, Bobby dan Sinta segera melangkah pergi—meninggalkan hutan kecil yang dipenuhi oleh semak belukar. Kini mereka sedang berdiri di atas tanah lapang berumput sambil menikmati pesona keindahan abad ke 19. Tak jauh tempat mereka berdiri, terbentang sebuah sungai yang cukup lebar dan tampak begitu indah—memantulkan sinar matahari yang seperti kumpulan mutiara. Sungai itu adalah sungai Ciliwung. Tak lama kemudian, Bobby dan Sinta tampak melangkah mendekati sungai, saat itu mereka benar-benar kagum dengan segala keindahannya. Sungguh keadaan sungai Ciliwung yang mereka lihat itu sangat berbeda jauh dengan yang ada di masa depan. Selain mempunyai ukuran yang cukup lebar, sungai itu juga mempunyai air yang begitu jernih. Di sungai itu tampak berlalu-lalang perahu-perahu yang ditumpangi oleh Madam (nyonya) dan Noni (nona) Belanda.
Kini kedua muda-mudi itu sedang melangkah—menghampiri sebuah dermaga kecil yang tak begitu jauh. Setibanya di dermaga, Bobby langsung menemui seorang laki-laki yang sedang menambatkan perahu.
"Assalamu’alaikum, Bang!" sapa Bobby dengan logat Betawi yang kental.
"Ade ape, ye?" tanya orang itu, juga dengan logat Betawi yang kental.
Bobby lantas segera mengajak orang itu berbincang-bincang, menanyakan perihal Kota Batavia yang membuatnya penasaran, hingga akhirnya, "O ya, Bang… Ngomong-ngomong, pusat pemerintahannye ade di mane ye?" tanya Bobby pada orang itu.
"O... kalo ntu ada di Weltevreden. Dari sini, elu bisa naek delman menuju ntu tempat," jelas orang itu.
"O iye, Bang. Ngomong-ngomong, ape Abang mau beli cincin batu aye?" tanya Bobby seraya mengeluarkan cincin batu yang diikat oleh perak.
"Wah, cakep bener ni cincin. Emangnye, berape elu mau jual?" tanya orang itu.
"Berape aje deh, Bang. Soalnye, aye lagi butuh duit nih," jawab Bobby sambil tersenyum.
"Hmm… Gue cuma punya duit segini, ape elu mau?" tawar orang itu seraya menyodorkan uang miliknya.
"Kaga ape-ape deh, Bang," kata Bobby seraya menyerahkan cincinnya dan mengambil uang itu.
"O iye, ngomong-ngomong elu dari mane?" tanya orang itu.
"O, kalo aye dari Jakarta Selatan, Bang!" jawab Bobby tanpa menyadari ucapannya.
"Jakarta Selatan…" Orang itu tampak garuk-garuk kepala. "Hmm… Kampung ntu ade di sebelah mane, ye? Perasaan, dari gue kecil ampe bangkotan kaya gini, belon pernah denger kalo ada kampung nyang namenye Jakarta Selatan," kata Orang itu sambil terus garuk-garuk kepala.
"Eng... Abang asli orang sini, ye?" tanya Bobby menutup kebingungan orang itu.
"Emm… Sebetulnye bukan. Soalnye Babe gue dari Bugis dan enyak gue dari Demak. Jujur aje, gue jadi orang sini lantaran Babe ame enyak gue emang udeh lame netep di sini," jawab orang itu.
"O, gitu ya, Bang,” kata Bobby mengangguk-angguk. “O iye, Bang. Makasih ye buat semuanya. Kalo gitu,  sekarang aye permisi dulu. Assalamu’alaikum, Bang…" ucap Bobby.
"Wa’alaikum salam…" balas orang itu.
Tak lama kemudian, Bobby dan Sinta sudah pergi meninggal orang itu. Kini mereka sedang berjalan menuju ke jalan utama yang memang tidak begitu jauh. Setibanya di sana, mereka tampak terkagum-kagum melihat gedung-gedung megah yang berjajar di sisi jalan, semuanya tampak indah dengan arsitektur eropa klasik. Sementara itu di jalan utama, tampak kuda-kuda dan beberapa kereta kuda yang berlalu lalang. Setibanya di sebuah perempatan jalan, mereka tampak berdiri menunggu delman yang menuju ke Weltevreden. Pada yang sama, seorang pria separuh baya tampak melangkah menghampiri mereka. "Assalamu’alaikum…" sapa orang itu memberi salam
"Wa’allaikum salam…" balas Bobby menjawab salam orang itu.
"Elu bedua pade mau ke mane?" tanya orang itu dengan dialek Betawi yang kental.
"Kite mau ke Weltevreden, Bang," jawab Bobby dengan dialek Betawi yang kental pula.
"Kalo gitu… tujuan kite same!" kata orang itu seraya tersenyum ramah.
Tak lama kemudian, Bobby dan orang itu sudah terlibat di dalam perbincangan yang panjang. Keduanya terus berbincang-bincang sampai akhirnya delman yang mereka tunggu tampak melintasi tempat itu. Kini Bobby, Sinta, dan orang yang baru mereka kenal itu tampak sudah menaiki delman. Saat itu, Bobby dan Sinta duduk bersebelahan, sedangkan orang tadi duduk berhadapan dengan mereka. Ketika delman sudah melaju kembali, Bobby melanjutkan perbincangannya. "O iye, Bang. Ngomong-ngomong, Abang orang asli sini, ye?" tanya Bobby.
"O, kalo Gue sih emang dilahirin dan digedein di sini. Tapi kalo elu mau tau, sebenernye gue bukan asli orang sini. Soalnye, Babe gue dari Pajajaran dan Enyak gue dari Demak. Setau gue, orang asli sini sebenernye kaga ade. Asal muasal orang-orang di sini sebenernye dari kampung kecil nelayan nyang sekarang jadi pelabuhan Sunda Kelape. Orang-orang di kampung nelayan ntu dateng dari Kerajaan Areteun yang pada taun 452 dikuasain ame Kerajaan Taruma Negare. Nama ‘Sunda Kelape’ sebenernye dinamain ame orang-orang pade mase Kerajaan Sunda, nyang artinye pelabuhan Kerajaan Sunda. Nah, pada mase ntu banyak orang Pajajaran nyang bedagang di Sunda Kelape. Terus, lame-lame orang-orang ntu pade menetep di situ. Setelah Pajajaran dikuasain ame kerajaan Demak, banyak orang Pajajaran nyang kawin ame orang-orang Demak. Sekarang, setelah berkembang jadi kota Batavia nyang sebelumnye bername Jayakarta, akhirnye banyak orang dari daerah laen nyang juga pade dateng ke sini dan menetep lama. Karena ntu, akhirnye banyak dari orang-orang ntu yang pade kawin antar suku. Makanye, sekarang di Batavia banyak orang hasil perkawinan antar suku ntu. Salah satunye ye gue ini…" cerita orang itu panjang lebar.
Saat mendengar cerita itu, Bobby dan Sinta tampak mengangguk-angguk paham. Dalam hati, kini mereka sudah merasa lega lantaran sudah bisa menarik kesimpulan kalau cerita mengenai orang-orang Betawi yang berasal dari keturunan budak tidak sepenuhnya benar. Sebab, orang-orang Betawi ada karena perkawinan antar suku dan mereka lama menetap di Batavia. Bahkan bukan saja dari kepulauan Nusantara. Mereka juga datang dari belahan dunia lain. Dialek Betawi pun tercipta karena adanya keragaman bahasa serta budaya lain yang berbaur dengan bahasa dan budaya asli terdekat, yaitu bahasa Melayu dan Sunda.
Kalau boleh disimpulkan, orang Betawi Asli adalah orang-orang yang menetap di Batavia, yaitu sejak masih bernama sunda kelapa hingga akhirnya menjadi Batavia. Tidak peduli dia orang Sunda, Jawa, Madura, dll. Jadi, kalau dia menetap di Batavia juga bisa disebut orang Betawi. Seperti halnya sekarang Jakarta, tidak peduli dia dari daerah mana. Selama dia menetap lama dan mempunyai KTP Jakarta, dia disebut orang Jakarta.
Mungkin suatu hari nanti, anak, cucu, atau cicit orang yang sekarang menetap di Jakarta sudah tidak tahu lagi asal-usul nenek moyangnya. Jika ditanya, ‘Kamu orang mana?’ Mereka cuma bisa menjawab, ‘Saya orang Jakarta’ atau bisa jadi mereka bilang ‘Saya orang Betawi’. Sebetulnya nama Betawi sendiri berasal dari kata Batavia, yang karena orang-orang pada masa itu sulit menyebutnya maka tersebutlah kata Betawi itu. Tapi, ada juga versi lain yang menceritakan kalau nama Betawi itu berasal dari julukan keadaan Batavia yang menjijikan. Bobby sendiri sempat terkejut ketika mendengar versi itu. Menurut cerita yang didengarnya. Waktu itu, ketika VOC berkuasa. VOC melarang orang-orang membuang hajat ke kali dikarenakan kali adalah sumber kehidupan. Sebagai alternatif, dibuatlah tempat penampungan. Namun karena waktu itu VOC sangat korup, tempat-tempat itu pun menjadi terbengkalai. Akibatnya, Batavia menjadi kota yang bau dan kotor, hingga akhirnya bencana muntaber pun tak terelakkan. Waktu itu, setiap orang yang hendak menuju ke Batavia, selalu mengatakan "Saya akan pergi ke daerah ‘betai’ (daerah yang penuh dengan kotoran manusia)" hingga lama-kelamaan orang menyebutnya Betawi. Versi yang lainnya lagi adalah, ketika terjadi peperangan yang menggunakan tai (kotoran manusian) untuk berperang. Hingga akhirnya daerah pertempuran itu penuh dengan kotoran, dan daerah yang penuh kotoran itu di juluki daerah ‘betai’ hingga lama-kelamaan menjadi nama Betawi.  Entah versi mana yang benar, Bobby tidak mau ambil pusing. Tapi dia sempat berfikir kalau nama Betawi itu rasanya kurang tepat, sebab sebelum ada Batavia sudah ada kota yang bernama Jayakarta. Karena itulah sekarang di beri nama Jakarta, yang berasal dari kata Jayakarta. Bukankah orang-orang di kota itu memang sudah ada sejak berdirinya Sunda Kelapa. Menurut sejarah yang pernah Bobby ketahui, nama Betawi sendiri baru populer sejak abad ke-19, ketika guru Syaikh Junaid al-Betawi, mengajar di Masjidil Haram, Mekah. Maklumlah, waktu itu di Arab Saudi nama-nama tokoh agama diberi gelar dari nama kota kelahirannya. Seandainya waktu itu VOC tidak mengganti nama Jayakarta dengan nama Batavia, tentu Syaikh Junaid akan diberi gelar Syaikh Junaid al-Jayakarta, dan akhirnya nama Jayakarta-lah yang akan menjadi populer. Tapi sayang, sejarah memang tidak pernah berandai-andai, kalau sekarang nama Betawi-lah yang lebih populer rasanya tidak masalah. Sebab nama bukanlah segalanya, yang terpenting bagi Bobby adalah bagaimana dia bisa menjaga nilai-nilai luhur yang pernah diajarkan oleh para pendahulunya. Mungkin suatu hari kelak, ketika sudah banyak orang Betawi yang menyadari perihal sejarah nama itu, tentu mereka lebih suka dipanggil orang Jayakarta atau Jakarta ketimbang dengan nama Betawi, yang mana para penjajah dulu dengan seenaknya telah mengganti nama kota yang sebelumnya memang pernah ada.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya Bobby, Sinta, dan orang yang bersama mereka sampai juga di tempat tujuan. Kini mereka telah turun dari delman dan sedang melangkah bersama. Ketika sampai di sebuah persimpangan, "Nah, kalo elu mau ngeliat-liat pusat kota nyang terkenal ntu. Elu bisa lewat jalan yang ke sane," jelas orang tadi.
"Iye Bang. Terima kasih. O ya, ngomong-ngomong Abang mau ke mane?" tanya Bobby.
"Kalo gue mau ke rumah mertua, lewat jalan yang ntu," jawab orang itu seraya menunjuk ke arah yang dimaksud. "Kalo gitu, udeh dulu ye, Assalamu’alaikum," kata orang itu kemudian..
"Wa’allaikum salam…" balas Bobby pelan sambil mengawasi kepergiannya.
Bobby dan Sinta mulai melangkah menyusuri daerah Weltevreden, saat itu mereka sempat terkagum-kagum dengan segala keindahannya. Keindahan akan taman-tamannya, patung-patungnya, dan masih banyak lagi.
“Kak Bobby, lihatlah patung manusia yang ada di sana itu. Indah ya?”
“Ya, itu memang Indah. Tapi sayang, hal itu bisa merusak ikidah lantaran menjadi tempat berkumpulnya jin-jin jahat. Di masa kita, mana ada patung yang seperti itu. Masih ingatkah kau, kalau semua patung manusia yang ada sepuluh tahun lalu telah dimusiumkan dan akhirnya diganti dengan kaligrafi ayat Al-Quran.”
“Ya, aku ingat. Masa itu adalah masa yang kelam, dimana kemungkaran begitu merajalela lantaran masyarakatnya masih jauh dari nilai-nilai islami. “
Kedua muda-mudi itu terus berkeliling, menikmati keindahan pusat kota yang tampak teratur rapi. Setelah puas, mereka pun beristirahat di sebuah warung kecil guna mengisi perut yang mulai keroncongan. Kini mereka sudah duduk di sebuah bangku panjang dan langsung memesan dua piring gado-gado.
Sambil menunggu gado-gado siap, Bobby dan Sinta tampak mencicipi beberapa makanan kecil yang tersedia di meja. Saat itu Sinta menikmati sepotong pisang goreng, sedangkan Bobby tampak melahap singkong goreng yang empuk. Mereka menikmati makanan kecil itu sambil membicarakan rencana selanjutnya.
"Kak, kita menginap cuma semalam kan?" tanya Sinta.
"Iya, Sin. Sesuai kesepakatan, kita akan menginap semalam sekedar untuk melihat suasana malam di kota ini. Besok pagi, tepat pukul sembilan, kakakmu pasti sudah mengirim Kapwak di lokasi yang sama," jawab Bobby.
"Awas ya, kalau Kakak sampai melebihi batas waktu itu."
"Tidak akan, Sin. Percayalah! Sungguh aku tidak mengerti, kenapa kau sampai bicara seperti itu? Seolah aku ini akan berbuat jahat saja.”
“Maaf, Kak. Bukan apa-apa. Kita kan bukan muhrim. Terus terang, aku khawatir kalau setan sampai berhasil memperdayaimu.”
“Sin… dengarkan aku. Jika aku senantiasa berdoa dan selalu mengingat Allah, aku yakin Allah pasti akan melindungiku dari tipu daya setan. Sin, percayalah padaku, kalau besok pagi kita pasti sudah kembali ke pesawat. Lagi pula, kakakmu sudah mewanti-wanti aku agar jangan macam-macam. Ya, aku paham betul bagaimana perasaan seorang kakak jika adiknya pergi berdua dengan lelaki yang bukan muhrimnya, dia tentu akan khawatir sekali."
"Benarkah yang Kakak katakan itu?”
Bobby menggangguk. Mengetahui itu, Sinta lantas kembali berkata-kata, “Kak, maafkan aku karena sudah meragukanmu. O ya, Kak. Apakah uang kita cukup untuk menginap malam ini?" 
"Hal itu pun sudah kupikirkan, karenanyalah aku berencana mau menjual lagi cincin perakku yang bermata Mirah Delima untuk menambah persediaan uang kita," jelas Bobby.
"Di pasar mana kita akan menjualnya?" tanya Sinta lagi.
"Eng... di mana, ya? Mmm…" Bobby tampak berpikir, lalu pandangannya tertuju kepada ibu penjual gado-gado. "Numpang nanya, Bu! Pasar nyang rame deket sini, pasar ape ye?" tanya Bobby kepada penjual gado-gado dengan dialek Betawi-nya yang kental.
"Kalo pasar nyang rame, sih. Vinckepasser," jelas si Ibu penjual gado-gado sambil terus mengulek.
"Vinckepasser ntu ade di mane, Bu?" tanya Sinta, juga dengan dialek Betawi.
"Dari sini ngetanin, Neng," jelas si Ibu.
Bobby dan Sinta tampak mengangguk-angguk, bersamaan dengan itu gado-gado yang mereka pesan tampak sudah selesai dibuat. Kini keduanya tampak menikmatinya dengan begitu lahap. Saat makan, pandangan mereka terkadang mengarah ke luar—melihat keramaian suasana Batavia tempo dulu. Sementara itu di ruang pemantau pesawat, Haris tampak sibuk mengakses sebuah situs surat kabar lokal yang cukup terkenal, saat itu dia sedang mencari informasi terbaru yang berkenaan dengan kota Jakarta.
Maklumlah, belakangan ini sering terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh cuaca buruk yang sudah melanda Jakarta sejak sepekan silam. Saat itu di benaknya terlintas keinginan untuk membantu pihak berwenang yang seringkali mengalami kesulitan dalam upaya evakuasi. Karena itulah, Haris berniat memanfaatkan kostum bertopeng kuning untuk keperluan evakuasi itu.
Ketika sedang serius-seriusnya membaca, tiba-tiba dari perutnya terdengar suara yang menandakan kalau dia sudah merasa lapar. Karena tak mau maag-nya kambuh, lantas dengan segera pemuda itu beranjak ke dapur untuk memasak mi instan. Sebenarnya Haris bosan juga jika harus memakan makanan instan terus-menerus. Sekali-sekali dia ingin makan nasi dengan rendang daging dari rumah makan padang, saat itu hatinya mengancam akan pergi ke rumah makan itu sepulang Bobby dan Sinta dari Batavia.
Kini Haris sudah duduk di ruang makan sambil menikmati mi instan yang masih mengepulkan uap panas, sesekali dia tampak mengelap kaca matanya akibat terkena uap panas itu. Saat makan, sesekali pemuda itu menghirup teh manis yang menjadi minuman favoritnya. Pada saat yang sama, di depan sebuah warung kecil di Batavia, Bobby dan Sinta tampak sedang menunggu angkutan yang ke arah timur. Setelah lama menunggu, akhirnya sebuah delman tampak melintas—menyusuri jalan yang ada di hadapan mereka. Mengetahui itu, keduanya segera menghentikan delman dan bergegas menaikinya. Kini delman itu sudah kembali melaju, bergerak perlahan menuju ke Vinckepasser dengan diiringi derap kaki kuda yang terdengar harmonis.
Setibanya di Vinckepasser, Bobby dan Sinta langsung melangkah mencari toko perhiasan guna menjual sebuah cincin lagi. Saat pencarian itu, Sinta tampak asyik melihat-lihat suasana pasar yang ramai, kepalanya menoleh kiri kanan—melihat barang-barang yang dipajang di depan toko. Ketika sampai di suatu tempat yang terbuka, keduanya melihat orang ramai tampak berkerumun, sedang menyaksikan sesuatu. Karena penasaran, mereka pun segera menghampiri kerumunan itu. Ternyata di tengah kerumunan, mereka melihat seorang pria kekar dan dua pembantunya yang sedang melakukan atraksi. Si Pria Kekar itu mengenakan ikat kepala dari kain yang berwarna hitam. Dia mengenakan jas panjang berwarna cokelat, berstel celana panjang yang juga berwarna cokelat. Di pinggangnya terikat sabuk berwarna hijau, dan pada kedua tangannya dihiasi dengan aksesoris batu cincin dan gelang akar bahar. Sedangkan kedua pembantunya memakai ikat kepala yang juga berwarna hitam, mereka mengenakan kaos oblong putih dan celana hitam sebatas betis. Seorang pembantunya mempunyai hidung yang cukup besar, sedangkan yang satunya mempunyai wajah buruk dengan bekas luka hampir di seluruh wajahnya. Ternyata ketiga orang itu sedang mengadakan atraksi guna menarik perhatian para pejalan kaki yang ramai berlalu-lalang, yaitu dengan menghibur mereka dengan berbagai atraksi yang berbau supranatural. Saat itu, Bobby dan Sinta tampak senang menyaksikan berbagai atraksi yang ditampilkan itu. Semuanya memang memikat, apalagi lagi ketika atraksi tidur di atas paku dan berjalan di atas bara, sungguh membuat keduanya terkagum-kagum.
Kini si Pria Kekar dan kedua pembantunya akan menampilkan atraksi terakhir, yaitu sebuah atraksi yang menghebohkan dan bisa membuat para penontonnya bergidik ketakutan. Benar saja, saat itu si Hidung Besar langsung mengambil sebuah pisau dan sebuah palu kayu yang telah dipersiapkan. Kini dia tampak menempelkan ujung pisau yang dipegangnya itu ke leher si Muka Buruk. Saat itu si Muka Buruk tampak tenang, dia terus duduk di atas gelondong kayu dengan mata tertutup kain. Tak lama kemudian, si Hidung Besar sudah mengambil ancang-ancang siap untuk memukul gagang pisau yang dipegangnya. Saat itu, kilatan ujung pisau yang menempel di leher si Muka Buruk sempat membuat bulu kuduk Sinta merinding, dan ketika palu kayu yang dipegang si Hidung Besar menghantam gagang pisau, Sinta langsung memekik seraya memejamkan kedua matanya. Bersamaan dengan itu, si Muka Buruk berteriak begitu keras, merasakan ketajaman pisau yang menembus lehernya. Seketika dari luka tusukan itu tampak mengalir darah segar yang cukup banyak. Pada saat itu, si Pria Kekar yang ternyata seorang penjual obat tampak berbicara lantang kepada para penonton dengan dialek Betawi-nya yang kental, "Saudare-saudare! Leher pembantu setia saye udeh ditembus ame piso. Liat tuh! merahnye dareh nyang keluar!" katanya sambil menunjuk ke arah si Muka Buruk. Kemudian dia kembali melanjutkan kata-katanya, "Nyang saye pegang eni adalah obat mujarab warisan pare leluhur. dan dengan obat enilah saye mau ngobatin luka tusukan ntu!"
Kemudian penjual obat itu segera menghampiri si Muka Buruk yang tampak merintih kesakitan. Pada saat yang sama, si Hidung Besar kembali memukul gagang pisau yang ada di leher si Muka Buruk. Tak ayal, si Muka Buruk kembali berteriak keras—merasakan sakit yang bukan kepalang. Kini Si Penjual Obat sedang berusaha mencabut pisau yang menembus leher pembantunya, dan ketika pisau itu tercabut, darah di leher si Muka Buruk langsung muncrat dan mengalir begitu deras. Pada saat itulah si Penjual Obat segera menaburkan serbuk halus mujarab yang dipegangnya hingga menutupi luka. Sungguh menakjubkan, darah yang semula mengalir deras seketika itu juga berhenti. Bersamaan dengan itu, rintihan si Muka Buruk pun sirna berganti dengan siulan yang terlantun merdu.
Bobby yang menyaksikan atraksi itu tampak geleng-geleng kepala, sedangkan Sinta yang baru berani membuka matanya tampak tertegun melihat si Muka Buruk yang baru ditembus pisau tampak bersiul ria. Selanjutnya penjual obat tadi segera menawarkan penyembuh luka mujarab itu kepada para penonton. Beberapa penonton yang berminat membeli obat itu tampak mengacungkan tangan, sedangkan yang tidak berminat mulai meninggalkan tempat itu. Si Hidung Besar berkeliling memberikan obat kepada para penonton yang mau membelinya. Saat itu, Bobby yang juga merasa tertarik langsung membelinya. Mengetahui itu Sinta langsung berkomentar, "Kau mau saja dibodohi oleh penjual obat itu, Kak."
"Ya, aku tahu kalau tukang obat itu ada yang suka menipu, tapi tidak semuanya kan. Ketika melihat atraksi tadi bukankah tampak meyakinkan sekali?"
"Memang sih, tapi sepertinya itu cuma trik yang biasa digunakan oleh para tukang sulap."
"Apa benar begitu, Sin? Padahal yang kulihat tadi itu benar-benar nyata."
"Ya... namanya juga trik. O ya, Kak. Memangnya Kakak percaya dengan kemujaraban obat itu?"
"Sin, sebenarnya obat itu tidaklah menyembuhkan, namun hanya sebagai media saja. Sebab, hanya Allah-lah yang berkuasa untuk menyembuhkannya. Ketahuilah, kalau orang mempunyai keyakinan cuma Tuhan-lah yang bisa menyembuhkan, maka dengan segelas air bening pun bisa menyembuhkannya. Itulah yang dinamakan sugesti penyembuhan."
"Kalau memang demikian kenapa kau mesti membeli obat itu segala?"
"Jawabnya adalah ‘sugesti’. Sebab, aku yakin kalau di dalam obat ini terdapat bahan-bahan ciptaan Allah yang berfungsi untuk menyembuhkan luka, sekalipun mungkin saja di dalam obat ini tidak ada bahan penyembuh luka. Seperti halnya air bening yang telah di doakan, orang percaya kalau air itu bisa menyembuhkan karena dia yakin kalau di dalamnya telah mengandung unsur penyembuh yang di luar jangkauan pengetahuan manusia."
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan penjelasanmu itu, Kak."
"Itulah rahasia Allah yang memang tidak semua orang bisa memahaminya. Jika kau mau membaca buku ‘Memahami Takdir Keajaiban dan Sunatullah’ karya Bang Bois. Tentu kau bisa memahami hal ini."
"Hmm... kalau begitu, jika ada kesempatan aku pasti akan membacanya."
Kini Bobby dan Sinta kembali melihat-lihat suasana pasar. Tak lama kemudian, mereka sudah menemukan sebuah toko perhiasan. Saat itu Bobby langsung memasuki toko dan menawarkan cincin miliknya, "Koh? Aye mau menjual cincin eni," kata Bobby seraya menunjukkan cincinnya kepada si Tokeh (Penjual orang cina) yang menjual perhiasan.
"Hayaaa, ini cincin emang wenel-wenel wagus. Welape elu mau jual ini cincin?" tanya Tokeh dengan logat cinanya.
"Berape engkoh berani bayar?" tanya Bobby.
"Hayaaa, kalo owe pikil-pikil ini walang emang wagus, owe welani wayal ini walang segini," kata Tokeh seraya menyodorkan uang kepada Bobby.
"Iye, koh. Aye terime," kata Bobby seraya mengambil uang yang ada di tangan Tokeh.
"Kalo elu punya walang wagus lagi, elu wisa jual ama owe!" kata Tokeh sambil tersenyum.
"Iye, koh. Udeh ye!" kata Bobby seraya mengajak Sinta pergi dari tempat itu.
Kini Bobby dan Sinta sudah kembali berjalan-jalan menyusuri lorong pertokoan sambil melihat barang-barang yang dipajang di depan toko. Sesekali Sinta menarik lengan Bobby dan mengajaknya untuk melihat barang yang dianggapnya unik. Mereka terus melihat-lihat suasana pasar sampai menjelang petang.
"Kak, makan dulu yuk! Aku lapar sekali nih," kata Sinta sambil mengusap-usap perutnya yang keroncongan.
"Aku juga, Sin. Kalau begitu, mampir ke warung itu yuk!" ajak Bobby seraya menunjuk ke arah sebuah warung makan.
Mereka pun segera melangkah memasuki warung yang menjual makanan khas Betawi. Saat itu, Bobby memesan nasi dengan sayur asem pakai ikan mas pepes. Sedangkan Sinta memesan nasi dengan soto Betawi pakai emping. Setelah hidangan siap, mereka pun segera menyantapnya dengan begitu lahap. Saat itu, di sebelah Bobby tampak dua orang lelaki yang duduk sambil menaikkan sebelah kakinya, yang satu berkumis tebal, dan satunya lagi bertubuh tambun. Keduanya tampak asyik ngobrol sambil menikmati segelas kopi pahit. "Eh, elu denger kaga? Katenye  kemaren serdadu Inggris udah mendarat di sini," cerita si Kumis Tebal.
"Iye, gue juga udeh denger. Kalo dugaan gue bener serdadu Inggris itu pasti akan masuk kemari besok hari," timpal si Tubuh Tambun.
"Kalo gitu, bakal terjadi pertempuran hebat dong," duga si Kumis Tebal.
"Ya... pasti bakalan begitu," kata si Gendut sambil mengangguk-angguk.
Bobby yang sempat mendengar percakapan mereka tampak tidak peduli, saat itu dia masih saja asyik menikmati makanannya. Sementara itu, Sinta sama-sekali tidak menyimak pembicaraan kedua orang tadi, dia justru sibuk meminta emping kepada penjual warung untuk menambah emping di piringnya yang sudah hampir habis. Usai makan, mereka tidak langsung pergi, melainkan duduk sebentar untuk menurunkan nasi yang baru saja masuk ke perut. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, malam nanti kita menginap di mana?" tanya Sinta.
"Tenang…! Tadi aku sempat melihat sebuah penginapan yang tak jauh dari sini. Itu loh, bangunan yang di sebelah sana itu, yang di atapnya ada patung naga!" kata Bobby sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Setelah merasa cukup nyaman, Bobby dan Sinta akhirnya keluar warung dan bergegas menuju penginapan. Sesampainya di tempat itu mereka langsung memesan dua buah kamar yang bersebelahan, saat itu mereka mendapat kamar yang berada di lantai atas. Tak lama kemudian, keduanya sudah berada di kamar masing-masing untuk beristirahat.
Sementara itu di ruang pemantau pesawat, Haris tampak sedang memeriksa Rolab melalui mesin penunjang kehidupan. Setelah diperiksa, ternyata ada sedikit kerusakan pada sistem pertahanannya. Kini Haris sedang berusaha untuk memperbaikinya. Setelah melakukan perbaikan, akhirnya pemuda itu menyuruh Rolab untuk kembali ke mesin penunjang kehidupan.
Kini Rolab mulai bersandar di mesin itu, dari punggungnya tampak keluar sebuah alat yang kemudian dihubungkan dengan lubang yang ada di mesin. Pada saat yang sama, Haris tampak mengamati status Rolab melalui layar monitor yang ada di mesin itu. Setelah mengetahui semua sistem di tubuh Rolab bekerja dengan baik, akhirnya Haris mengakhiri proses pemeriksaan. Kini Haris tampak sibuk me-download data dari memory Rolab. Dia sengaja melakukan itu guna mengetahui perjalanan Rolab selama berada di zaman cretaceous.
Setelah semua data di-download ke komputer utama, akhirnya Haris menyuruh Rolab untuk keluar dari mesin penunjang kehidupan dan menyuruhnya mengambilkan segelas minum. Sementara itu dia sendiri mulai menyaksikan rekaman perjalanan Rolab di zaman cretaceous dengan menggunakan komputer utama. Saat itu, Haris sempat tercengang ketika melihat tayangan seru di layar monitornya—seekor T-rex (Teranosaurus Rex) yang lapar tampak sedang menyantap seekor dinosaurus kecil, bahkan giginya yang runcing tampak begitu menyeramkan—mencabik-cabik mangsanya. Haris terus menyaksikan petualangan Rolab di zaman cretaceous dengan antusias, sesekali dia mengeleng-gelengkan kepalanya karena takjub.
Di Batavia, di dalam sebuah kamar penginapan. Sinta tampak sedang menyisir rambutnya yang hitam, sedang kedua matanya tampak memandangi kecantikan wajahnya yang terpantul di cermin antik. Saat itu kedua belah pipinya sudah tidak terlihat tembam lagi, dan itu semua berkat program diet yang dijalaninya selama ini. Sementara itu di kamar sebelah, Bobby tampak asyik menuliskan pengalamannya selama di Batavia. Dia menulisnya pada sebuah buku kecil bersampul biru. Sesekali dia berhenti untuk mengingat kembali apa yang sudah dialaminya siang tadi. Ketika sedang asyik menulis, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan di pintu kamar. Mendengar itu, Bobby pun bergegas membuka pintu kamarnya. "O, kau Sin. Ada apa?" tanyanya seraya merapikan tatanan rambutnya yang tampak kusut.
"Kak, sudah pukul delapan malam, nih. Jadi tidak kita jalan-jalan?" tanya Sinta mengingatkan.
"Apa! Sudah pukul delapan," kata Bobby terkejut seraya melihat jam tangan yang tersimpan di saku celananya, " Kau benar, Sin. Kalau begitu, tunggu sebentar ya!" pintanya seraya bergegas mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
"Memangnya Kakak sedang apa? Kok bisa sampai lupa waktu begitu?" tanya Sinta lagi.
"Aku sedang menulis pengalaman kita siang tadi, Sin. Untung saja kau mengingatkanku," jawab Bobby sambil terus sibuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Ayo dong, Kak. Cepat sedikit! Keburu malam nih," pinta Sinta tampak tak sabar.
"Nah, selesai sudah... Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Bobby seraya melangkah berdampingan dengan Sinta. 
Tak lama kemudian, keduanya sudah berada di luar penginapan dan sedang menikmati suasana malam tempo dulu. Saat itu, cuaca tampak cerah berbintang. Udara malam pun terasa sejuk bagai menyelimuti kota Batavia. Sementara itu di depan penginapan, beberapa pedagang tampak mangkal—menjual berbagai jenis makanan. Sungguh malam yang begitu semarak, bahkan orang-orang pun terlihat ramai berlalu-lalang di atas trotoar yang diterangi oleh lampu-lampu jalan yang temaram. Saat itu, Bobby dan Sinta tampak berjalan menyusuri trotoar, melewati para pemusik jalanan yang sedang berpentas. Lagu-lagu kroncong mengalun merdu mengiringi perjalanan mereka. Suasana malam itu memang begitu romantis. Bahkan Bobby dan Sinta berani sekali berjalan sambil bergandengan bak sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Ketika malam sudah semakin larut, akhirnya kedua muda-mudi itu segera kembali ke penginapan. Namun mereka tidak langsung kembali ke kamar, melainkan menuju ke sebuah kedai yang ada di depan penginapan. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati segelas bajigur.
"Kak? Apa kesanmu tentang kota Batavia?" tanya Sinta.
"Mmm, Batavia begitu damai. Perencanaan kotanya sangat bagus, dan rumah-rumahnya pun indah," jawab Bobby.
"Iya, ya, Kak! Kenapa pada zaman kita begitu semerawut? Tata kotanya tidak karuan dan kemacetan yang menyebabkan polusi pun begitu memprihatinkan," kata Sinta seraya meneguk bajigurnya.
"Benar, Sin. Itu semua adalah warisan pemerintah kita sepuluh tahun yang lalu," timpal Bobby.
"Kapan ya kota kita bisa betul-betul rapi dan menjadi senyaman ini?" tanya Sinta berharap.
"Sin… Kalau pemerintah kota kita terus konsisten dengan syariat Islam-nya, yaitu bisa terus amanah dan tidak korup. Insya Allah, kota kita akan terus tumbuh berkembang menjadi lebih baik lagi," kata Bobby seraya meneguk minumannya.
"Kau benar, Kak. Menurut sejarah, Batavia yang indah ini pada mulanya juga sempat amburadul lantaran diperintah oleh VOC yang para pejabatnya begitu korup. Namun setelah setelah VOC dibubarkan dan administrasinya diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda, akhirnya Batavia bisa kembali berjaya," timpal Sinta.
Tiba-tiba saja Sinta menguap, rupanya rasa kantuk sudah tak mampu lagi ditahan. Bobby pun sudah mulai mengantuk, kemudian dia mengajak Sinta untuk kembali ke kamar masing-masing. Bobby mengantarkan Sinta sampai ke pintu kamarnya, selanjutnya dia segera masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Sinta.

 

Pagi harinya, Bobby dan Sinta masih terlelap di kamarnya masing-masing. Tiba-tiba Bobby terbangun karena suara ledakan yang begitu keras. Rupanya sebuah bom telah menghantam penginapan tempatnya berada. Saat itu Bobby langsung panik lantaran kobaran api sudah memasuki kamarnya. Lalu dengan segera pemuda itu keluar kamar dan berlari menuju ke kamar Sinta. Pada saat yang sama, Sinta tampak keluar dari kamarnya dengan wajah yang begitu ketakutan.
"Ada apa, Kak? Suara apa itu?" tanya Sinta panik.
"Sepertinya kita sedang dibom, Sin."
"Apa? Memangnya sekarang tanggal berapa?"
"10 Agustus 1811," jawab Bobby.
"Astagfirullah…! Aku baru ingat, saat ini kan penyerbuan tentara Inggris ke Batavia," kata Sinta seakan tidak percaya. "Aduh, Kak! Bodohnya kita karena tidak mempelajari sejarah lebih dulu," lanjutnya kemudian.
"Sin, sebenarnya aku sudah mendengar hal ini sejak kemarin. Itu loh, ketika kita sedang makan di warung kemarin sore. Namun, aku lupa memberitahumu."
Sinta tampak melotot kepada Bobby," Dasar Bodoh! Kenapa soal penting begitu tidak kaubicarakan kepadaku."
"Sudahlah...! Semua sudah terlambat. Ayo, Sin. Kita mesti cepat keluar!" ajak Bobby.
Tiba-tiba sebuah bom kembali menghantam penginapan. Tak ayal, kini sebagian penginapan sudah hancur berantakan dan kobaran api pun tampak kian membesar. Saat itu, Sinta tampak takut bukan kepalang, sedangkan Bobby tampak panik luar biasa. Karena menyadari jiwa mereka terancam, Bobby segera menggandeng Sinta dan mengajaknya berlari menuju tangga. Lantas dengan tergesa-gesa, keduanya tampak berlari menuruni anak tangga hingga akhirnya sampai di lantai dasar. Saat itu di lobby utama, api tampak sudah menyebar hampir ke seluruh penginapan. Bersamaan dengan itu, para tamu lain tampak berlarian berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
"Aduh, Kak. Aku takut sekali…" kata Sinta resah.
"Tenang, Sin.... Ayo lewat sini!" kata Bobby seraya memandu gadis itu melewati kobaran api. Pada saat itu, tiba-tiba saja Bobby melihat sebuah balok kayu yang terbakar tampak melayang tepat di atas kepala Sinta. Mengetahui itu, Bobby segera menarik lengan Sinta dan mencoba melindunginya dari hantaman benda mematikan itu. Pada saat yang bersamaan, balok kayu itu tampak berdebum ke lantai dengan disertai percikan bara yang berhamburan. Namun sungguh sangat disayangkan, sebuah paku yang menempel di balok kayu itu sempat mengenai lengan pemuda itu.
“Kak Bobby... kau terluka!" seru Sinta panik ketika melihat luka menganga yang terus mengucurkan darah.
"Tenang, Sin. Bukankah aku mempunyai obat untuk luka seperti ini," kata Bobby seraya mengeluarkan obat yang dibelinya waktu itu.
Lalu dengan serta-merta pemuda itu menaburkan obat tadi ke lukanya. Ajaib... Dengan serta-merta darah yang semula mengucur akhirnya berhenti dengan sendirinya. Selain itu, rasa sakit yang dirasakannya pun berangsur-angsur sirna. Kini Bobby kembali memandu Sinta untuk melewati kobaran api, pada saat itu dia melihat berapa orang tampak tertimpa balok kayu yang terbakar. Jerit dan rintihan terdengar memilukan. Pada saat yang sama terdengar pula suara teriakan dan desingan peluru yang berasal dari luar penginapan.
Kobaran api di dalam penginapan sudah semakin menjadi-jadi, membakar semua bagian penginapan yang memang terbuat dari kayu. Asapnya yang hitam membuat nafas Bobby dan Sinta menjadi sesak, namun  keduanya tetap bertahan dan terus melangkah di antara api yang terus berkobar. Setelah bersusah payah, akhirnya mereka bisa keluar dari penginapan dan segera lari menjauh. Saat itu mereka benar-benar terkejut lantaran melihat keadaan di luar penginapan sudah begitu kacau-balau. Kobaran api ada di mana-mana, kepulan asap hitam tampak membumbung tinggi. Orang-orang tampak berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Kuda dan kereta kuda tampak melaju berlomba-lomba menjauhi tempat itu. Suasana saat itu benar-benar sudah begitu mencekam. Bobby dan Sinta ikut berlari untuk menyelamatkan diri. Mereka terus berlari dan berlari, hingga akhirnya "Kak Bobby… aku sudah tidak kuat lagi…" keluh Sinta seraya terduduk lemas di tengah jalan.
"Ayo, Sin! Cepat bangun… kuatkan dirimu!" pinta Bobby berharap.
"Tidak Kak, aku sudah tidak kuat lagi. Sebaiknya kau selamatkan dirimu saja!"
"Kau bicara apa, Sin. Kalau begitu, ayo... biar kugendong!"
Pada saat itu, tiba-tiba Bobby melihat seekor kuda yang tak berpenunggang tampak berlari pelan ke arahnya. "Lihat itu, Sin! Dengan kuda itu kita tidak perlu berlari lagi.," katanya penuh semangat. "Kau tunggu di sini ya, aku akan berusaha mendapatkan kuda itu!" pintanya kemudian seraya bergegas mengejar kuda itu dan berusaha menungganginya.
Setelah berusaha keras, akhirnya dia berhasil menunggangi kuda itu dan segera memacunya ke tempat Sinta berada. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui beberapa kereta kuda tampak melaju cepat ke arah Sinta, sepertinya kereta-kereta itu akan menabraknya dan melindasnya tanpa ampun. Menyadari apa yang akan terjadi, Bobby segera memacu kudanya lebih cepat lagi, memacunya secepat mungkin untuk menyelamatkan Sinta yang sedang ketakutan.
Kini Gadis yang bernama Sinta itu tampak sedang berusaha berdiri, saat itu dia mencoba menyelamatkan diri dengan segenap kemampuannya. Sementara itu, kereta-kereta kuda yang akan melintas di jalan itu sudah kian mendekat, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi bagi gadis itu untuk melarikan diri. Namun dalam situasi gawat itu, tiba-tiba "Cepat, Sin! Raih tanganku!" seru Bobby yang kini sudah berada di dekat gadis itu.
Sinta pun segera meraih tangan Bobby. Pada saat itu, Bobby tampak membantunya naik ke atas kuda. Setelah gadis itu berhasil duduk di atas pelana, Bobby segera memacu kudanya menjauhi tempat itu, yaitu memacunya menuju ke lokasi Kapwak berada.
Suasana jalan tampak kian kacau-balau, di mana-mana banyak orang yang sedang berjuang menyelamatkan diri. Sementara itu, Bobby masih terus melaju dengan kudanya, sedangkan Sinta yang duduk di belakang Bobby tampak berpegangan dengan begitu erat. Ketika melewati sebuah persimpangan, tiba-tiba mereka melihat sebuah kereta kuda yang kehilangan kendali. Kereta itu tampak terguling bersamaan dengan putusnya tali pengikat kuda, saat itu kuda-kuda yang menariknya pun terlepas dan lari menjauh. Kini kereta tak berkuda itu tampak meluncur cepat—terseret di atas jalan dan hampir saja menabrak kuda yang ditunggangi oleh Bobby dan Sinta. Saat itu jantung keduanya hampir saja copot dibuatnya, namun akhirnya merasa lega lantaran berhasil lolos dari maut. "Huff... Alhamdulillah… hampir saja," ucap Bobby seraya terus memacu kudanya menjauhi tempat itu.
Tak jauh dari persimpangan, kira-kira 500 meter di depan Bobby. Seorang ibu muda sedang berteriak-teriak minta tolong. Kecemasan yang begitu dalam terpancar di wajahnya yang kusut. Sementara itu di tengah jalan, seorang anak kecil tampak sedang kebingungan. Di kanan kirinya melaju kereta kuda yang saling mendahului.
Si Ibu muda terus berteriak-teriak minta tolong, dia tampak begitu khawatir dengan keselamatan anaknya yang masih saja kebingungan di tengah jalan. Tiba-tiba si Ibu melihat sebuah kereta kuda yang tak berpenumpang tampak melaju cepat ke arah anaknya. Tak lama lagi, kereta itu pasti akan menabraknya. Melihat itu, sang Ibu tampak semakin cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya dia cuma bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.
Bobby yang kebetulan melihat hal itu segera memacu kudanya lebih cepat lagi, dia tampak berusaha keras untuk bisa mendahului kereta kuda yang sudah semakin mendekati anak kecil itu. Setelah berusaha dengan gigih, akhirnya Bobby berhasil mendahuluinya. Kini dia tampak memiringkan badan guna bisa menggapai pinggang anak kecil itu, dan ‘HAP!’, Bobby berhasil meraih anak itu dan segera membawanya ke tepi jalan. Sementara itu, kereta kuda yang hampir menabrak anak kecil itu terus saja berlalu.
Kini Bobby sedang memperlambat laju kudanya. Pada saat yang sama, si Ibu muda tampak berlari menghampirinya, di wajahnya tampak terpancar kebahagiaan yang tiada tara, sungguh dia begitu bersyukur karena anak semata wayangnya berhasil diselamatkan. Setelah anak itu diturunkan, Ibunya pun langsung memeluk dan menciuminya berkali-kali, dari matanya tampak menetes air mata kebahagiaan. Kini dia sedang menggendong anak itu seraya memandang kepada Bobby, "Terima kasih, Bang!" ucapnya tulus.
Mendengar itu, Bobby pun tampak tersenyum. "Sama-sama, Pok," ucapnya seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.
Namun belum sempat dia memacu kudanya, tiba-tiba "Tunggu, Bang!" tahan si Ibu seraya menyodorkan sesuatu kepada pemuda itu. "Ni, Bang. Terimalah!" ucapnya seraya memberikan seikat cincin perak, yang di atasnya terdapat tulisan “Muhammad Rasulullah”.
"Tidak usah, Pok. Eye udeh seneng kok bisa ngebantu, Mpok!"
"Terima aje, Bang. Sesuai amanat almarhum suami aye, cincin perak eni musti di kasih buat pemuda baik, kaya Abang."
"Baiklah, Pok. Kalo emang itu udeh amanat suami empok, aye mau menerimanye," ucap Bobby seraya menanggapi cincin itu.
Setelah berpamitan, Bobby pun segera memacu kudanya menyusuri jalan yang masih kacau-balau. Sementara itu, si Ibu muda tampak memperhatikan kepergian Bobby dengan raut wajah yang berseri-seri, "Semoga Allah selalu melindungi kalian," teriaknya mengiringi kepergian pemuda itu.
"Amin…" ucap Bobby dalam hati setelah mendengar teriakan itu. Kemudian sekilas dia menengok ke belakang, dilihatnya ibu muda itu sudah pergi bersama beberapa orang laki-laki dan perempuan yang tampak mengajaknya menuju ke tempat yang aman.
Bobby terus memacu kudanya menuju lokasi Kapwak. Sementara itu, Sinta yang duduk di belakang Bobby masih tampak ketakutan, kota yang kemarin dilihatnya begitu damai kini tampak begitu mencekam. Sinta benar-benar tidak menduga kalau mereka harus berada di tengah-tengah medan pertempuran, dan itu semua lantaran kecerobohan mereka yang tak mau memperlajari sejarah lebih dulu.
Setelah cukup lama berkuda, akhirnya Bobby dan Sinta tiba di tepi sungai Ciliwung. Kemudian mereka segera menuju ke tempat pertama kali mereka datang, yaitu ke lokasi Kapwak akan muncul. Setibanya di lokasi, Bobby tampak menghentikan kudanya dan langsung melompat turun, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Sinta. Kini dia sedang mengajak gadis itu untuk beristirahat sejenak di bawah pohon yang begitu rindang guna sejenak meredakan ketegangan.
Mereka terus beristirahat di tempat itu sambil menunggu kemunculan Kapwak. Pada saat itu Bobby tampak memperhatikan cincin yang baru diterimanya. Sebuah cincin yang tanpa sepengetahuannya merupakan cincin milik Rasulullah yang di buang ke dalam sebuah sumur dan akhirnya ditemukan oleh seorang ulama pedagang Arab yang kemudian berkunjung ke Batavia dan memberikannya kepada suami ibu muda itu.
"Lihat Kak! Kapwak sudah muncul," kata Sinta tiba-tiba.
Bobby pun segera mengalihkan pandangan ke arah Kapwak. "Kalau begitu, ayo lekas kita ke sana!" ajaknya seraya meraih lengan gadis itu untuk bersama-sama menuju Kapwak.
Kini mereka sudah berada di dalam Kapwak dan sedang bersiap-siap untuk pulang. Tak lama kemudian, mereka sudah meluncur menyusuri lorong waktu ke masa depan. Dalam waktu singkat, akhirnya mereka tiba di anjungan pesawat dengan selamat. Kini mereka sudah keluar dari Kapwak dengan raut wajah yang tampak begitu ceria, di bibir mereka tampak tersungging senyum kebahagiaan. Mereka pun mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, yang karena izin-Nya-lah mereka bisa tiba dengan selamat.
Haris yang melihat penampilan mereka tidak karuan tampak begitu terkejut, "Bobby, Sinta! Apa yang telah terjadi?" tanyanya heran.
"Kami terjebak di medan pertempuran," jawab Bobby sambil cengengesan.
“Apa? Terjebak di medan pertempuran?” Haris tampak terkejut.
"Betul, Kak. Itu semua karena kecerobohan kita dalam memilih takdir, sehingga kami terpaksa harus terdampar di medan pertempuran," kata Sinta dengan wajah yang tampak tegang lantaran mengingat kembali kejadian yang baru dialaminya.
Saat itu Bobby dan Sinta langsung menceritakan pengalaman mereka di Batavia, sedangkan Haris tampak mendengarkannya dengan begitu antusias. Dia terus mendengarkan cerita itu dari yang menyenangkan sampai yang mendebarkan.