E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Jaka & Dara - Bagian 8

Delapan



Dua bulan telah berlalu. Jaka dan Randy yang udah enggak berteman lagi dengan Jekky dan Jepri, serta Dara dan Dita yang udah enggak berteman lagi dengan Wita dan Seli, kini sudah membentuk kelompok baru. Sekarang Jaka cs terdiri dari Jaka, Randy, Dara, dan Dita. Mereka berempat udah berkomitmen untuk enggak melanggar norma-norma agama.
Kini Jaka, Randy, dan Dara tengah menginap di rumah Dita untuk menemaninya. Maklumlah, orang tua Dita sedang pergi keluar kota dan akan kembali minggu depan. Sekitar pukul tujuh pagi, keempat muda-muda itu baru bangun dari tidurnya.
"Ta, elo punya makanan apa? Gue lapar nih," tanya Jaka.
"Iya, Ra. Gue juga lapar," timpal Randy.
"Aduh sorry, ya. Ketika berangkat, nyokap gue enggak sempat belanja makanan instant. O ya, kalo enggak salah di kulkas masih ada pizza bekas semalam."
"Enggak mau, Ta! Gue lagi males makan junk food. Liat nih! Perut gue udah mulai gendut," tolak Randy.
"Gue juga enggak mau, Ta. Mana enak pizza dingin," timpal Jaka.
"Nanti deh, gue minta ama nyokap gue buat beli kulkas yang ada pemanasnya."
"Wah… Kelamaan, Ta. Kalo gue mesti nunggu nyokap loe pulang dulu."
"Hmm... gimana kalo kita cari makanan di luar aja," usul Randy.
"Makan apa kita pagi-pagi begini?" tanya Dita.
"Gimana kalo sarapan bubur," jawab Dara.
"Ayo deh,"
Lantas mereka berempat bergegas mencari makanan. Enggak lama kemudian "Tuh Ka, di depan ada warung bubur," kata Randy.
"Ayo deh, lekas! Gue udah laper banget nih," kata Jaka seraya mempercepat langkahnya. Randy pun mengikuti dengan mempercepat langkahnya.
"Aduh, Ka. Pelan-pelan dong! Gue capek tau," Dara menggerutu, dia tampak ketinggalan di belakang.
Akhirnya Jaka dan Randy sampai di warung bubur dan udah masuk lebih dulu. Sementara itu Dara dan Dita tampak sedang digoda oleh dua orang Cowok.
"Pagiii pagiii nyabuuu, siang malaaam nyabuuu," canda seorang Cowok yang bermata sipit menyanyikan langunya Alam.
"Neng caem, mau dong ikutan nyabu," kata Cowok yang bermata cekung.
Dara berhenti sebentar, kemudian dia menatap kedua Cowok itu. "Kalian pagi-pagi udah godain cewek, emangnya enggak ada kerjaan lain apa?" tanyanya sedikit kesal.
"Duh, Eneng manis. Kalo lagi marah tambah caem aja," canda si Mata sipit.
"Iya... bikin kita-kita pengen kenalan aja," timpal si mata cekung.
"Huh, enggak usah ya," ucap Dara sewot seraya masuk ke dalam warung mengikuti Dita yang udah masuk lebih dulu.
Di dalam warung Jaka dan Randy asyik ketawa cekakakan, rupanya mereka melihat perlakuan kedua cowok tadi. Sedangkan Dita tampak senyam-senyum saja.
"Lho, kok kalian malah pada ketawa, bukannya ngebantuin gue!" kata Dara menggerutu.
"Habis elo emang kece. Mereka bukan cowok namanya, kalo ngeliat elo enggak ngegodain," kata Jaka sambil tersenyum.
"Iya, Ra. Besok-besok pake cadar aja! Biar orang bertanya-tanya—Ini cewek, kece apa enggak sih? Mereka pasti mikir dua kali buat ngegoda elo," usul Randy.
"Benar, Ra. Elo lagi bete, lagi cemberut, lagi sedih, enggak bakal ada yang tau," timpal Jaka.
"Benar juga kalian, mulai sekarang gue mau pake cadar," ungkap Dara serius.
"Di rumah juga?" tanya Randy enggak percaya.
"Lah iya… pokoknya ya, di mana aja," jawab Dara yakin.
"Wah, kalo gitu kita enggak bisa ngeliat kecantikan loe lagi dong," canda Randy.
"Enggak ngeliat wajahnya juga enggak apa-apa, kan masih bisa ngeliat body-nya," kata Jaka ngelantur.
"Eh… Bicara apa loe, Ka? Jadi, selama ini elo suka ngeliatin body gue ya?" tanya Dara sedikit melotot.
"Habis, elo seksi sih. Rugi dong kalo enggak diliatin," jawab Jaka polos.
"Huh! Dasar… mata keranjang," umpat Dara. Padahal di hatinya dia begitu senang mendengar Jaka bicara begitu.
"Apa loe juga mau menutup body loe yang seksi itu?" tanya Randy memancing.
"Benar, Ran. Gue juga mau mengenakan busana muslim, biar kalian enggak bisa ngeliatin body gue seenak  mata keranjang kalian," kata Dara sungguh-sungguh.
"Eh, Ra? Yang mata keranjang itu kan si Jaka, kok gue juga dibawa-bawa? Padahal, selama ini gue enggak sadar tuh, kalo body-loe seksi," bela Randy.
"Masa sih, si Randy enggak nyadar kalo body gue seksi?" tanya Dara dalam hati enggak percaya.
"Heh, kok malah bengong, tuh buburnya udah jadi," tegur Jaka.
Mereka pun akhirnya sarapan bubur dengan lahapnya. Pada saat itu Jaka sempat khawatir kalo Dara benar-benar melaksanakan ucapannya. Dalam hati dia pun jadi kepikiran, “Ra, sebenarnya gue agak nyesel kalo elo sampe ngelaksanain ucapan loe tadi, dengan begitu gue pasti enggak bisa ngeliat kecantikan wajah loe sama keindahan body-loe lagi. Tapi… Gue enggak akan nyesel kalo elo benar-benar jadi milik gue, soalnya kecantikan wajah loe sama keindahan body loe cuma buat gue seorang, hehehe.." kata Jaka ngelantur dalam hati.
"Kenapa elo senyum-senyum sendirian, Ka?" tanya Dara curiga.
"E-enggak kok, gu-gue cuma…"
"Pasti lagi mikir yang enggak-enggak?" potong Randy.
"Sembarangan, orang gue lagi mengingat perkataan kedua cowok tadi, makanya gue ngerasa lucu, hehehe," ucap Jaka berkelit.
Saat itu Dara cuma meliriknya. Namun di benaknya ada pertanyaan menyangkut hal tersebut. Sepulang makan bubur, Jaka cs kembali ke rumah Dita.
Setibanya di rumah itu, Randy dan Dara langsung ngobrol di ruang tamu. Melihat itu, Jaka pun cepat-cepat nimbrung lantaran dia agak jealous melihat pujaan hatinya ngobrol sama cowok lain. Sementara itu, Dita langsung ke ruang tengah nenonton TV.
"Eh, Ka. Kenapa sih setiap gue ngobrol berdua sama Dara elo selalu ikut nimbrung. Mendingan sana elo temenin Dita yang lagi nonton sendirian."
"Ngomong-ngomong, emangnya kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Jaka curiga.
"Kita lagi ngomongin soal agama kok, emangnya elo pikir kita lagi ngomongin apa?" tanya Dara.
"Enggak… gue cuma mau tau aja, kalo dugaan gue itu emang benar kalo kalian itu emang lagi ngomongin soal agama. Dan karena itulah gue ikutan nimbrung biar ilmu agama gue juga ikut  nambah."
"Kalo begitu, duduk deh! Ayo kita bahas soal niat Dara ketika di warung tadi."
Akhirnya ketika muda mudi itu pun ngobrol bersama mengenai busana muslim. Dan enggak lama kemudian, Dita ikutan nimbrung. Cewek itu sempat kaget juga ketika tahu kalo Dara sungguh-sunguh mau mengenakan busana muslim.
 


Seminggu kemudian, Jaka dan Randy tampak terperangah melihat Dara yang udah mengenakan busana muslim. Tubuhnya yang seksi udah tertutup gaun muslim, kepalanya ditutup jilbab dan mengenakan cadar.
"Gimana menurut kalian, seksi enggak?" tanya Dara.
Jaka dan Randy cuma terpaku mendengar pertanyaan itu, apa maksudnya? Begitulah pertanyaan yang ada dibenak mereka masing-masing.
"Ra, apa elo benar-benar mau terus menggunakan pakaian itu? Apa enggak bikin loe menderita?" tanya Jaka agak kuatir.
"Emang sih, agak panas dan kurang luwes. Tapi, gue mau membiasakannya kok," ucap Dara sungguh-sungguh.
"Ah, paling juga enggak lama," komentar Randy menguji.
"Gue mau berusaha, Ran. Yang penting gue coba dulu, masalah kuat-enggak kuat kita liat aja nanti," kata Dara meyakinkan.
"Ra… gue kepingin tau, sebenarnya apa sih yang membuat elo kepingin mengenakan busana muslim," tanya Jaka sungguh-sungguh.
"Ok, akan gue jawab tuntas. Pertama, gue enggak mau pikiran para cowok menjadi ngeres. Kayak loe, Ka. Gue yakin pikiran loe pasti suka ngeres.
Kedua, supaya gue enggak jadi cewek munafik, sebenarnya gue suka bila cowok ngeliatin keindahan body gue, tapi gue juga enggak mau bila mereka sampai menikmatinya. Terus terang, gue risih kalo ada cowok yang sampe begitu.
Nah… Karena mengenakan busana ini, gue ngerasa punya tameng yang bisa ngejaga gue dari perilaku menggoda. Dengan demikian keinginan suka diliatin itu bakalan hilang dengan sendirinya.
Ketiga sebagai bukti kepada orang yang gue cintai, kalo kecantikan dan keindahan body gue cuma benar-benar buat dia, bukan buat orang lain. Dan yang terpenting, semua ini adalah perintah Tuhan yang jelas-jelas emang harus gue taati. Karena sebagai seorang muslim, dari awal gue sudah berikrar untuk mengakui Allah sebagai Tuhan gue dan Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Ikrar atau syahadat yang udah gue bawa sejak lahir itu punya konsekwensi besar dalam kehidupan gue, yaitu bahwa gue enggak akan patuh dan enggak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan mutlak ini mencakup ketaatan kepada Kalam Ilahi yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya lewat Hadits-hadits Shahih.
Nah, ketika Allah memerintahkan kepada kaum muslimat untuk berhijab (menutup aurat) seperti yang belum lama ini gue baca yaitu pada surat An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59, maka di sinilah ikrar taat dan patuh tadi diuji. Apakah muslimah akan taat ketika diperintahkan berhijab, atau malah ogah dan menolak. Kalau taat, elo pasti bisa menebak dia akan mendapatkan pahala dan kalo menolak tentunya elo juga bisa menyimpulkan kalo dia pasti berdosa karena enggak taat kepada perintah Allah," jelas Dara panjang lebar.
Jaka dan Randy hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Dara.
"Kalo elo ke bioskop atau ke konser, apa elo tetap memakainya?" tanya Jaka lagi.
"Kenapa enggak? Nonton film atau konser itu kan manusiawi. Yang pentingkan gue enggak menyebabkan ketiga hal tadi terlanggar, lagi pula… gue kan nonton film buat menambah wawasan. Gue kan udah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang enggak, kalo yang baik ya gue turuti, kalo yang enggak ya… gue tinggalin. Kalo ternyata nonton film atau konser malah membuat gue jauh dari nilai-nilai agama tentu akan gue tinggalin. Terserah orang mau menilai apa, yang pentingkan gue enggak melakukan hal yang enggak-enggak. Ciuman atau pelukan di tempat umum misalnya, soalnya kalo diliat orang kan bisa membuat mereka kepingin." jelas Dara lagi panjang lebar.
"Jadi kalo ciuman dan pelukan enggak diliat orang, enggak apa-apa?" tanya Randy.
"Kalau itu rahasia perusahaan," jawab Dara asal.
"Kok, bisa begitu?" tanya Randy.
"Lah iya dong, itu tergantung gue. Kalo gue pacaran pasti enggak mungkin bisa menolak keinginan sang pacar—orang yang gue cintai. Tapi kalo gue kepingin menghindari hal tersebut, ya… gue enggak usah pacaran. Gampang kan?" Jelas Dara kepada Randy.
"Jadi, elo mau yang gimana, Ra?" tanya Jaka khawatir.
"Step by step lah, masa gue bisa sekaligus berubah. Ya, enggak mungkin. Pokoknya gue mau memulai dengan beberapa hal tadi, setelah itu baru mau aku tingkatkan setahap demi setahap," jawab Dara.
Rupanya Dara emang bersungguh-sungguh untuk merubah dirinya, dari wanita yang berpakaian seksi menjadi seorang wanita muslim yang taat. Dia berniat melaksanakannya setahap demi setahap.