E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Cahaya Bintang - Bagian 4

Empat



Semenjak pertemuannya dengan Nuraini, kehidupan Bobby pun mulai berubah. Sungguh dia tidak menduga kalau gadis itu ternyata bisa membahagiakannya. Gadis itu memang pandai bertutur kata, dan setiap apa yang dikatakannya selalu membuat pemuda itu menjadi lebih baik. Canda dan tawanya pun membuat pemuda itu merasa begitu damai, sehingga dia selalu betah untuk selalu berada di dekatnya.
Kini Bobby dan Nuraini tampak asyik memancing di laut, keduanya duduk berdampingan di tepian pantai tak jauh dari sebuah mercu suar. Saat itu mereka begitu menikmati suasana pantai yang indah, merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang terus bertiup di bawah teriknya sinar mentari yang semakin menyengat.
“Tarik terus, Nur. Ikannya pasti besar!” teriak Bobby senang ketika mengetahui kail Nuraini dimakan ikan.
"Wah, tarikannya kuat sekali, Kak.  Aku yakin ikannya pasti besar.”
Setelah berusaha keras, akhirnya ikan itu pun berhasil diangkat, namun sayangnya hanya sebesar telapak tangan. “Apa!!! Kok cuma sebesar ini,” kata Nuraini terkejut plus kecewa.
“Iya, ya. Padahal tadi joranmu itu sampai menekuk sekali.”
“Hmm... ikan laut itu kuat-kuat ya, Kak. Yang kecil begini saja tarikan begitu kuat, apalagi jika dapat yang besar, tentu aku akan kewalahan. O ya, Kak. Apa mata kailmu belum juga dimakan?”
“Belum, Nur. Dari tadi aku tidak merasakan getaran apa-apa.”
“Kak, getarannya memang tak terlalu terasa.”
“Hmm... apa mungkin getaran yang sekarang aku rasakan.”
“Kalau begitu cepat dihentakkan, Kak!”
Bobby pun menurut, saat itu juga dia langsung menghentakkan joran yang dipegangnya. Ternyata benar, saat itu mata kailnya telah dimakan ikan. "Wah, sepertinya besar, Nur. Lihatlah! Joranku sampai menekuk seperti ini.”
"Ah, paling juga sama seperti tadi. Bukankah tadi joranku juga menekuk seperti itu.”
“Beda, Nur. Aku yakin yang ini pasti besar. Soalnya aku sendiri merasakan betapa besarnya tenaga ikan ini.”
“Ikan yang kudapat tadi juga tarikan kuat sekali.”
“Aduh...!” keluh Bobby tiba-tiba ketika merasakan benang pancingnya mendadak putus begitu saja. 
“Wah, berarti tadi itu memang ikan yang besar, Kak. Seharusnya tadi jangan ditarik terus. Sekali-sekali kau harus mengulurnya.”
“Iya, Nur. Soalnya tadi aku begitu bersemangat sehingga melupakan aturan memancing. Wah, timahnya juga hilang! Bagaimana nih, padahal aku sudah tidak mempunyai timah dan mata kail lagi.”
“Aduh, kau ini boros sekali sih, Kak. Masak timah dan mata kail selusin sudah habis.”
“Bagaimana tidak habis, Bur. Bukankah kau tahu kalau sejak tadi pancingku nyangkut terus di karang.”
“Jika nyangkut seharusnya kau berusaha untuk bisa melepaskannya dengan cara ditarik-ulur. Tapi apa yang telah kau lakukan? Kau malah menariknya terus. Kalau sudah begitu, bagaimana tidak putus.”
“Kenapa kau baru bilang sekarang?”
“Jika aku bilang, kau pasti tidak akan terima. Bukankah kau memang suka begitu. Lagi pula, memangnya ketika Haris menjelaskan perihal tata-cara memancing di laut kau tidak menyimaknya.”
“Aku menyimaknya, tapi kan aku tidak mungkin mengingat semuanya.”
"Wah, kalau begitu ingatanmu payah juga ya?”
“Ya begitulah. Hehehe... “
Melihat Bobby cengengesan, Nuraini pun jadi bingung. “Tumben kau tidak marah, Kak,” komentarnya akan ketidaklaziman itu.
“Itu karena ingatanku memang payah. Hehehe... aku jadi ingat masa sekolah dulu.”
“Hmm... memangnya  kenapa?”
“Dulu, ketika aku masih sekolah. Aku pernah bercita-cita jadi ahli kimia. Namun lantaran ingatanku payah, akhirnya aku membakar buku kimia dan meminum abunya. Dengan harapan aku mampu menghafal rumus kimia yang ada di buku itu. Sebab, kata seorang para normal memang bisa. Tapi ternyata, tidak ada pengaruhnya sama sekali. Aku malah jadi mules karenanya.”
"Wah, kau ini memang payah sekali. Percaya saja dengan yang begituan.”
“Kau jangan salah, Nur! Saat itu aku justru tidak percaya, makanya tidak berhasil. Sedangkan temanku yang percaya justru sukses menghafal.”
“Kau yakin, dia hafal karena berbuat begitu?”
“Entahlah... temanku bilang sih memang begitu.”
“Jangan kau mudah percaya kalau temanmu melakukan itu, Kak! O ya, kalau kau mau tahu, sebenarnya rumus-rumus itu begitu mudah untuk dihafal.”
“Apa! Mudah...? Kau ini jangan mengada-ada, Nur. Aku ini kan laki-laki, mana mungkin aku bisa menghafal seperti perempuan.”
“Lho memangnya ada hubungannya?” tanya Nuraini bingung.
“Tentu saja. Bukankah daya ingat perempuan itu lebih baik daripada laki-laki.”
“Masa sih?” kata Nuraini seakan tak percaya.
“Bukan cuma daya ingat, tapi juga tingkat ketelitiannya,” jelas Bobby lagi.
“Apa iya begitu?” tanya Nuraini meragukan.
“Ya, kata peneliti sih memang begitu. Tapi entahlah....”
“Kak, kalau kau mau tahu. Sebenarnya aku mampu menghafal bukan karena kelebihan gadis yang kau katakan itu, tapi lebih kepada teknik yang aku gunakan.”
“Teknik?” Bobby mengerutkan keningnya.
“Tentu saja. Menghafal itu kan ada tekniknya. Yaitu, bisa dengan persamaan pola, persamaan gambar, persamaan benda, atau dengan cara menyingkatnya. Dan masih banyak lagi cara lain yang bisa digunakan, tergantung otak mana yang lebih berperan, kiri atau kanan.”
“Nur, aku betul-betul tidak mengerti?” tanya Bobby bingung.
“Begini, Kak. Misalkan kau ingin mengingat nomor telepon, kau bisa menggunakan persamaan pola. Dan jika kau ingin mengingat kata kau bisa menggunakan persamaan gambar atau benda aslinya. Dan jika kau ingin mengingat urutan warna atau planet, kau tinggal menyingkatnya menjadi sebuah kata yang mudah diingat.”
"Wah, Nur. Aku sama sekali tidak mengerti akan keteranganmu itu,” ucap Bobby sambil garuk-garuk kepala.
"Wah, kalau begitu berarti nalarmu juga payah,” kata Nuraini mengejek.
“Entahlah... aku tidak mau memikirkan masalah itu, yang lagi kupikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya agar aku bisa memancing lagi.”
"Ups! Iya, ya... maafkan aku, Kak! Aku lupa.”
“Tidak apa-apa, Nur. Aku memakluminya kok,  no body perfect.”
“Kau sih, pakai ingat masa lalu. Coba kalau tidak, aku kan tidak perlu bicara panjang lebar.”
“Aduh, kenapa kau malah masih bicara saja. Bagaimana dengan soal memancingku?”
“Hihihi...! Kau ini ternyata tidak sabaran juga ya. Kalau begitu, ini pakai timah dan mata kailku saja. Jangan dihilangkan lagi ya!”
“Beres, Nur. Aku tidak akan menghilangkannya lagi, bukankah aku sudah mengetahui caranya.”
Setelah berkata begitu, Bobby segera memasang mata kail dan timah yang tadi diberikan oleh Nuraini. Setelah memasang umpannya, pemuda itu pun segera melemparnya jauh ke laut. Memancing di pantai memang agak berbeda dengan memancing di telaga. Untuk mengetahui mata kailnya di makan ikan atau tidak sama sekali tidak menggunakan pelampung, tapi hanya menggunakan timah besar sehingga membuat benang pancing menegang, dan jika terasa getaran yang merambat melalui benang pancing yang menegang itu berarti mata kailnya sedang dimakan. Seperti yang dirasakan Bobby sekarang. “Kena!” ucap Bobby senang karena hentakkannya berhasil mengenai ikan.
“Jangan lupa, Kak! Sesekali diulur!”
“Beres...” kata pemuda itu meyakinkan.
Sambil terus menuruti instruksi dari Nuraini, Bobby tampak berusaha keras, hingga akhirnya dia pun berhasil mendapat ikan itu.
“Kenapa, Kak?” tanya Nuraini bingung ketika melihat wajah pemuda itu tampak kecewa.
“Aku pikir akan mendapat ikan yang lebih besar darimu. Tapi… ternyata malah lebih kecil.”
“Sudahlah! Kau itu kan masih amatir. Jadi, wajar saja jika kalah denganku.”
“Ya, aku memang amatir. Namun begitu, tidak seharusnya aku kalah dengan pemancing yang juga amatir sepertimu.”
“Hihihi… begitu saja ngambek,” kata Nuraini dalam hati. “Iya deh… aku memang amatir, dan kau itu memang pemancing amatir yang lagi sial saja. Andai kau lebih beruntung, tentu kau bisa mendapat ikan yang lebih besar dariku,” kata Nuraini merendah.
Saat itu Bobby langsung memandang Nuraini, kemudian diperhatikan kedua bola matanya dengan mata tak berkedip. “Dia memang gadis yang mengerti aku,” kata Bobby dalam hati.
Saat itu Nuraini langsung berpaling dan membereskan alat pancingnya. “Kak, kita istirahat dulu yuk!” ajaknya kemudian.
Mengetahui itu, Bobby langsung setuju, kemudian dengan segera dia membereskan alat pancingnya dan melangkah bersama Nuraini menuju ke mercu suar. Kini mereka sedang menikmati bekal yang mereka bawa dengan lahapnya. Angin sepoi-sepoi yang terus berhembus membuat keduanya merasa betul-betul nyaman.
“Wah, nikmat sekali makanku hari ini,” kata Bobby seraya membereskan sisa makanan dan menyimpannya di dalam ransel. Setelah itu pemuda itu segera duduk berdampingan dengan Nuraini seraya memandang ke laut lepas. Tak lama kemudian, pandangannya sudah beralih memperhatikan kulitnya yang terasa agak nyeri. “Wah, kulitku terbakar matahari,” keluh Bobby ketika melihat kulitnya yang putih tampak kemerahan.
“Kau sih, tadi kan sudah kubilang untuk memakai lotion pelindung. Tapi kau tetap menolak. Kau bilang, kau itu pemuda yang tidak perlu lotion segala, sebab kulitmu lebih kuat ketimbang aku. Tapi pada kenyataannya, kulitmu kini terbakar. Dan dalam hitungan hari, kulitmu itu akan menghitam dan mengelupas.”
“Benarkah akan seburuk itu?”
“Tentu saja. Karenanyalah cepat kau pakai lotion ini!”
“Hmm… tidak usah, Nur. Terima kasih. Biarlah… aku ini kan laki-laki, jadi wajar saja jika terbakar sedikit.”
“Sedikit kau bilang? Lihatlah wajahmu juga. Dalam hitungan hari wajahmu itu akan menghitam dan membuatmu malu untuk keluar.”
“Sudahlah, Nur. Kau tidak perlu menakutiku begitu! Memangnya kau senang ya kalau wajahku jadi jelek.”
“Kak, aku justru khawatir dan sama sekali tidak menghendaki hal itu. Karenanyalah tadi aku menyarankanmu agar mau menggunakan lotion ini. Tapi pada dasarnya kau ini memang suka ngeyel.”
Lagi-lagi Bobby memandang Nuraini, kemudian diperhatikan kedua bola matanya dengan mata tak berkedip. “Dia memang gadis yang perhatian,” kata Bobby dalam hati.
Saat itu Nuraini langsung berpaling dan melangkah menuju ke ujung karang, kemudian berdiri mematung di tempat itu. Sementara itu, Bobby terus memperhatikan Nuraini yang kini masih berdiri memandang ke laut lepas, diperhatikannya wajah gadis itu dengan penuh kekaguman, sungguh tampak cantik dan penuh pesona. Apalagi jika dia tersenyum, sungguh sangat manis dan memikat hati. Rambutnya pun tampak indah, panjang dan hitam pekat. Disaat angin meniupnya tampak semakin indah, berkibar dengan penuh kilauan perak.
Kini gadis itu menatap Bobby, kedua matanya yang indah tampak menghujam ke lubuk hatinya yang paling dalam. Pada saat itu, Bobby pun merasakan ribuan bunga warna-warni seakan bertebaran mengelilinginya. Harum semerbaknya pun tercium hingga pusat saraf dan membuatnya seakan melayang, melayang tinggi sekali bersama ribuan bunga warna-warni yang terus berputar mengelilinginya. Mendadak sensasi itu lenyap, bersamaan dengan pandangan Nuraini yang kini kembali ke laut lepas. “Nur… aku mencintaimu…” ungkap pemuda itu dalam hati.
Pada saat yang sama, di atas karang yang tak pernah bergeming dari hempasan ombak, gadis manis yang bernama Nuraini masih berdiri mematung. Perasaan bahagia akan sensasi yang baru dirasakan membuatnya seakan menjadi seorang putri raja yang berdiri di hamparan permadani sutra dengan taburan bunga yang harum semerbak. Berdiri dengan anggun memamerkan keindahan tubuhnya yang mengenakan gaun sutra mahal berhiaskan emas permata yang berkilauan, dan semakin tampak sempurna dengan adanya sebuah mahkota indah yang bertengger serasi menghias tatanan rambutnya yang membanggakan.
“Kak, Bobby… aku mencintaimu…” ungkap gadis itu dalam hati.
“Duhai gadis yang penuh misteri… Maukah kau mendengar isi hatiku ini...?” tanya seorang pria tiba-tiba.
Mendengar itu Nuraini tersentak, saat itu dilihatnya Bobby sudah berdiri di sampingnya. Lantas dengan penuh rasa penasaran, gadis itu pun terpaku menunggu apa yang akan Bobby katakan. Namun entah kenapa, pada saat itu lidah Bobby justru terasa kelu, sungguh pemuda itu tak kuasa lagi untuk mengontrol perasaannya yang kini sudah semakin tak terkendali. Hanya ada satu kata yang bisa ia katakan untuk meredakan semua itu. “Lupakanlah...!” pinta Bobby seraya melayangkan pandangannya ke laut lepas.
Kini kedua muda-mudi itu tampak bersama-sama memandang ke laut lepas, memperhatikan hamparan biru yang tak bertepi, juga burung-burung camar yang mereka lihat begitu lincah menunggang angin yang terus berhembus. Suara nyanyian mereka pun terdengar merdu, menyatu dengan hempasan ombak yang memecah di karang.  Sungguh semua itu telah membuat perasaan keduanya menjadi begitu damai, hingga akhirnya membuat emosi mereka lebih santai. 
“Duhai gadis yang memikat hatiku... Ketahuilah, bahwa sebenarnya a-aku sangat mencintaimu...” ungkap Bobby tiba-tiba.
“Duhai pemuda yang meluluhkan hatiku... Ketahuilah, kalau sebenarnya aku pun sangat mencintaimu...”
Kini kedua muda-mudi itu tampak saling berpandangan. Seiring dengan itu, kedua tangan Bobby tampak sudah mendarat di bahu Nuraini, kemudian dengan segala perasaan sayang, pemuda itu pun berniat mencium kening gadis yang dicintainya itu. Namun, ketika bibir pemuda itu hampir mendarat di kening yang tampak begitu mulus itu, tiba-tiba “Jangan, Kak!” tolak Nuraini seraya kembali memandang ke laut lepas.
“Kenapa? Bu-bukankah kita saling mencintai?” tanya Bobby heran.
“Apakah setelah saling mencintai berarti kita juga saling memiliki? Tidak, Kak. Selama kita belum diikat dalam suatu ikatan perkawinan, aku belumlah menjadi milikmu,” jelas Nurnaini.
“Kau benar, Nuraini... maafkanlah aku yang sudah merasa memilikimu!”
“Sudahlah, Kak! Sesungguhnya aku pun sangat ingin kau perlakukan begitu, namun karena aku takut noda hitam ini semakin melebar karenanyalah aku harus bisa menahan diri.”
Kini kedua muda-mudi itu membisu, sedang di dalam benak keduanya terlintas berbagai harapan akan masa depan yang menjanjikan. Bahwasannya setelah menikah kelak, tentu mereka akan mendapat kebahagiaan yang selama ini hanya bisa didengar dari cerita orang. Penuh dengan nuansa keindahan yang melengkapi kehidupan, suasana romantis yang betul-betul hak dan tak bercela noda hitam. Sungguh sebuah surga dunia yang dilandasi atas hasrat cinta yang diridhai Tuhan.
Kedua muda-mudi itu terus terlena dengan tujuan mulia yang mereka harapkan akan bisa segera terwujud, hingga tak terasa matahari pun kini sudah separo menghilang, menciptakan pemandangan indah yang selalu dinantikan. Bahkan sering diabadikan dalam sebuah karya seni yang indah.

 

Esok paginya, disaat Bobby baru selesai mandi dan berganti pakaian. Pemuda itu dikejutkan oleh kehadiran Randy yang datang dengan sangat mendadak. Kini kedua pemuda itu sedang berbincang-bincang di teras, membicarakan perihal limas teka-teki.
“Bob, aku mohon kiranya kau mau ikut denganku!”
“Ran, hari ini aku harus menemui Nuraini. Aku sudah berjanji mau mengajaknya jalan-jalan.”
“Kemarin kan sudah, Bob. Masak sekarang mau jalan-jalan lagi.”
“Tapi kan aku sudah janji, Ran.”
“Kalau begitu batalkan janjimu itu, bilang padanya ada hal penting yang tidak mungkin ditunda-tunda.”
“Kalau begitu kau saja yang bilang!”
“Baiklah, kalau begitu aku yang akan bilang padanya.”
Setelah berkata begitu, Randy pun segera menghubungi Nuraini dan menjelaskan perihal batalnya janji Bobby. Hingga akhirnya, ”Terima kasih, Nur. Kau memang gadis yang pengertian. Kalau begitu, sudah dulu ya! Wassalamu’alaikum!” pamit Randy seraya menyimpan HP-nya ke dalam saku. “Ayo, Bob. Kita pergi sekarang!” ajaknya kemudian.
Lantas kedua pemuda itu segera memasuki mobil dan meluncur menuju ke rumah teman Randy yang katanya mempunyai kemampuan mendeteksi benda gaib. Rupanya Randy sengaja mengajak Bobby untuk mengungkap perihal limas teka-teki yang menurut dugaannya sudah membuat Bobby mulai terpedaya. Dan setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kedua pemuda itu tiba di tempat tujuan. Kini Bobby, Randy, dan teman Randy yang bernama Abas tampak duduk saling berhadapan.
“Ini bukan benda gaib,” jelas Abas yang baru saja melakukan pengujian.
“Lalu, itu benda apa?” tanya Randy penasaran.
“Ini hanya benda biasa yang aku sendiri tidak tahu gunanya,” jawab Abas.
“Kau yakin benda itu tidak diberi kekuatan?” tanya Bobby tak mau percaya begitu saja.
“Tentu saja. Kau lihat sendiri kan, tadi bandul milikku tidak bereaksi apa-apa ketika berada di atasnya,” jelas Abas berusaha meyakinkan.
“Hmm... mungkin saja bandulmu itu yang tidak mempunyai kekuatan,” bantah Bobby.
“Kau benar. Ini memang bandul biasa, namun tadi aku sudah meminta kepada Tuhan untuk memberikan kekuatan padanya agar ia bisa mendeteksi suatu energi yang ada di sekitarnya.”
“Apa iya begitu?” tanya Bobby ragu.
“Sudahlah, Bob. Kau jangan keras kepala begitu. Abas ini memang temanku yang dulu pernah mendalami ilmu mistik, namun akhirnya dia memilih meninggalkan itu semua lantaran ia menyadari bahayanya. Karenanyalah kau tak perlu ragu, sebab kini dia hanya menggunakan doa yang terbukti lebih ampuh.”
“Hanya doa? Lalu bandul itu?”
“Bob, jika tanpa bandul itu bagaimana ia bisa tahu. Bandul itu hanya sebagai media yang berguna untuk memberitahukan kepada indera manusia. Fungsinya hampir sama seperti alat pengukur suhu.”
“Hmm... Jadi benar ini cuma benda biasa?” tanya Bobby lagi hampir tak mempercayainya.  
Randy mengangguk. “Nah... Sekarang apa kau sudah yakin, kalau keberhasilanmu selama ini bukanlah karena pengaruh benda itu, melainkan karena sebab doa dan kerja kerasmu sendiri.”
“Iya, Ran. Sepertinya memang begitu.”
“Kok sepertinya? Jadi, kau belum yakin100%?”
“Entahlah, Ran. Kini aku jadi bingung. Jika ini memang benda biasa, lalu kenapa saat mendapatkannya diawali dengan kejadian yang tak lazim.” Lantas Bobby pun menceritakan kejadian yang dialaminya ketika menemukan benda itu.
“Mungkin benda itu milik gadis itu, Bob. Dan dia itu hanya manusia biasa, bukannya Jin yang menyerupai manusia.”
“Ran, apa iya ada manusia yang bisa membaca pikiran orang lain?”
“Entahlah, Bob. Kalau menurut keyakinanku sih tidak ada, tapi mungkin saja dia itu manusia yang memang dikaruniai kemampuan itu, yaitu dengan dibantu oleh Jin yang baik. O ya, Bas. Kalau menurutmu bagaimana?”
"Wah, aku juga tidak tahu pasti. Kalau mengenai benda gaib sih mungkin aku bisa menjawabnya, tapi kalau soal membaca pikiran masih cukup membingungkanku. Seperti halnya hipnotis, sungguh hingga kini aku belum mendapat jawaban yang memuaskan, walau hati nuraniku mengatakaan kalau itu hanyalah muslihat para jin fasik.
Menurut pengetahuanku, manusia mempunyai semacam antena semu di dahinya, yang mana jika ia bisa menggunakan antena itu, maka ia bisa mengendalikan apa saja melalui pikirannya. Antena itu berfungsi sebagai perangkat yang menghubungkan manusia dengan keadaan dunia sebenarnya, yaitu dunia yang benar-benar nyata, tidak seperti dunia semu yang kita lihat sekarang.
Bob, Ran, ketahuilah! Dunia kita dan dunia gaib adalah semu. Karenanya, apapun yang ada di dunia kita dan yang di dunia gaib bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadi kejadian yang tampak aneh buat kita. Seperti ilmu sihir yang bisa memanipulasi manusia menjadi seekor katak misalnya. Kalau kalian mau tahu, Jin adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk bisa memanipulasi seperti itu, yang mana jin fasik justru menyalahgunakannya untuk menyesatkan manusia.
Karenanya tidak usah heran jika ada manusia yang bisa mengoperasi tanpa luka, memindahkan penyakit dari manusia kepada hewan, dan masih banyak lagi peristiwa aneh yang sulit diterima akal. Ada dua kemungkinan yang bisa membuat manusia bisa melakukan itu. Pertama karena ia sudah menguasai antena semu yang ada di dahinya, dan yang kedua karena dia dibantu oleh Jin yang memang sudah mempunyai kemampuan itu.”
“Bas? Apa mungkin pengendalian antena itu bisa dilakukan dengan cara berdoa, membaca mantra, atau berkonsentrasi penuh. Yang mana selama ini manusia tidak menyadari kalau sebetulnya dengan cara itu mereka sudah mengendalikan antena semu itu,” tanya Randy menambahkan.
“Eng, mungkin saja begitu. Entahlah, aku sendiri belum tahu cara mengendalikan antena itu agar bisa memanipulasi hal apa pun di dunia ini,” jawab Abas jujur.
"Wah, kalau aku bisa mengendalikan antena itu. Aku pasti bisa menjadi manusia sakti mandra guna. Aku bisa terbang, bisa menurunkan hujan, bisa merubah sebuah benda menjadi bentuk lain, dan masih banyak lagi hal-hal hebat yang bisa aku lakukan. Orang pasti kagum jika aku mempunyai kemampuan seperti itu,” ungkap Bobby terus terang.
“Bob, sudahlah! Kau jangan berpikiran aneh-aneh begitu. Ingatlah, hidupmu adalah untuk menjadi seorang khalifah. Bukan untuk menjadi manusia yang terkuat atau yang terhebat di mata manusia, sebab yang terkuat dan terhebat di mata Allah adalah  manusia yang bisa melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dengan tanpa menunjukkan kehebatan yang dikaruniakan kepadanya. Seperti para nabi dan para wali, yang dengan rendah hati menganggap dirinya bukan apa-apa, padahal mereka itu sudah mempunyai kehebatan yang melebihi manusia biasa,” jelas Randy panjang lebar.
“Apa yang dikatakan Randy itu benar, Bob. Karenanyalah kau tidak usah menginginkan hal yang aneh-aneh, sebab dengan sendirinya Tuhan akan memberikan kemampuan itu padamu, yaitu berupa karomah. Yang mana akan diberikan kepada manusia yang bertakwa kepada-Nya dan selalu rendah hati dan bisa menjaga karunia-Nya itu hanya untuk menegakkan kebenaran dan membela agama-Nya,” jelas Abas menambahkan.
“Betul itu, Bob. Itulah yang dinamakan khalifah sejati, seorang wali Allah,” timpal Randy meyakinkan.
“Kalau begitu, bisakah aku menjadi wali Allah?” tanya Bobby.
“Sudahlah, Bob! Kau jangan berpikiran sejauh itu. Lakukan saja tugasmu sebagai manusia biasa, yaitu dengan selalu bertakwa kepada-Nya. Berusahalah untuk memperbaiki diri sendiri dengan penuh kesungguhan sehingga ketika tiba saatnya kau dipanggil Tuhan, kau sudah mempunyai cukup bekal untuk kehidupan di akhirat nanti,” pesan Randy.
Bobby pun tampak merenungi kata-kata Randy tadi, hingga akhirnya dia bisa menyadari kalau keinginannya yang terlalu muluk itu bisa saja membuatnya justru menjadi sesat dan jauh dari rahmat Tuhan-nya. Dalam hati, ia hanya bertekad untuk berusaha memperbaiki akhlaknya sendiri yang terkadang memang suka melenceng dari tuntunan agama.  Namun begitu, dia pun akan berusaha keras untuk menjadi khalifah yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia awam yang masih harus banyak belajar.
Kini Bobby sudah kembali berbincang-bincang dengan kedua saudaranya yang seiman itu, hingga akhirnya Bobby dan Randy memutuskan untuk pamit pulang. Dan setelah mengantar Randy pulang, Bobby pun segera pulang ke rumah dan langsung menyimpan limas teka-teki ke dalam laci lemarinya. Kini pemuda itu sudah tidak mau memikirkan perihal benda itu, yang nyatanya hanya sebuah benda biasa. Dia memilih untuk menyerah saja, daripada nantinya malah membuat pikirannya menjadi bertambah kusut seperti benang kusut yang sulit untuk diluruskan kembali. Karenanyalah dia memutuskan untuk menyimpannya sebagai benda kenangan, walaupun sebenarnya di dalam hati pemuda itu masih ada rasa penasaran dengan segala teka-teki yang belum terpecahkan, yaitu mengenai arti simbol yang ada di benda itu.
“Hmm... lebih baik sekarang aku ke rumah Nuraini saja. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu merindukannya, dan aku ingin sekali melihat wajahnya yang cantik itu.”
 Lantas dengan segera Bobby kembali ke mobil dan melaju menuju ke rumah Nuraini. Dalam perjalanan, pemuda itu terus membayangkan perihal kekasihnya. Dari awal dia berkenalan sampai akhirnya Nuraini menerima cintanya di suasana yang begitu romantis. Hingga akhirnya, tanpa terasa pemuda itu sampai juga di rumah Nuraini. Kini pemuda itu sudah berbincang-bincang dengan gadis pujaannya sambil menikmati suguhan ala kadarnya.
“Terima kasih, Nur. Kau sudah mau memaafkan aku. Percayalah, minggu depan aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan.”
“Sudahlah, Kak. Aku mengerti kok, kalau kau melakukan itu karena sebab ada hal yang lebih penting. O ya, Kak. Ngomong-ngomong, memangnya kau dan Randy pergi ke mana sih?”
“Tadi aku dan Randy pergi ke rumah Abas untuk mendeteksi sebuah benda yang semula kuanggap diberi kekuatan magis. Dan ternyata, benda itu hanyalah sebuah benda biasa yang tak mengandung unsur magis.”
“Kak, benda seperti apa itu?”
“Sudahlah, Nur. Aku mohon kita jangan membahas mengenai benda itu lagi. Kini benda itu sudah aku simpan di laci lemariku, dan aku tidak mau dibuat pusing lagi olehnya. Lebih baik kita bicara soal rencana kita minggu depan. Eng... bagaimana kalau minggu depan kita pergi ke mal saja, nonton film sekalian makan-makan. Kita tidak usah memancing, sebab aku takut kalau terlalu sering memancing nanti kulitmu yang putih mulus itu jadi hitam legam.”
"Ah, Kakak. Aku kan selalu merawat diri. Percayalah, kulitku tidak akan menjadi hitam seperti yang kau takutkan itu.”
Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang hingga akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke Sea World saja. Sebab, di tempat itu mereka bisa pacaran sambil menikmati keindahan makhluk laut yang beragam.