E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Merah Muda & Biru - Bagian 8

Delapan


Semenjak Nina dipecat, wanita itu mencoba berwiraswasta dengan membuka sebuah toko roti yang didirikan dengan uang hasil jerih payahnya selama ini. Sebenarnya Bobby tidak setuju Nina membuka usaha itu, soalnya dia tahu betul kalau Nina belum memiliki ilmunya. Namun karena Nina bisa meyakinkan, akhirnya Bobby setuju juga. Karena katanya, kelak dia bisa belajar sambil menjalankan usaha itu. Namun setelah tiga bulan berjalan, tanda-tanda kebangkrutan yang dikhawatirkan Bobby mulai tampak nyata. Ketidaktahuan Nina soal pasar membuat usaha itu banyak mengalami kerugian, hingga akhirnya masalah itu pun segera dibicarakan kepada suaminya.
“Aku harus bagaimana, Bang? Terus terang, aku sudah tidak mempunyai dana lagi untuk mempertahankan usaha ini.”
“Maaf, Nin! Aku pun tidak tahu harus bagaimana. Soalnya banyak keluhan dari konsumen kalau produk kita terlalu mahal. Jika dibandingkan toko roti yang lain, tidak ada apa-apanya.”
“Iya ya, Bang. Aku heran, bagaimana mungkin mereka bisa menjualnya dengan harga murah?”
“Mungkin saja modal mereka besar sehingga bisa membeli secara partai besar. Kalau sudah begitu, tidak usah heran jika mereka berani menjual murah. Sedangkan kita yang cuma pakai modal pas-pasan, apa bisa menjual dengan harga murah.”
“Kau benar, Bang. Selama ini saja, kita sudah merugi karena biaya produksi yang besar tidak tertutupi oleh hasil penjualannya. Jika harus dijual lebih murah, apa tidak akan bertambah rugi.”
“Nin, jika terus begini. Tidak mustahil usahamu akan berakhir dengan kebangkrutan.”
“Kau benar, Bang. Sepertinya memang akan seperti itu. Hmm... Apa sebaiknya aku meminjam modal agar bisa membeli secara partai besar. Dengan demikian, aku bisa melanjutkan usaha ini dengan menjual produk berdasarkan harga pasar.”
“Nin, sebaiknya kau pikirkan dulu masak-masak! Aku khawatir, sebenarnya bukan itu saja masalahnya, namun juga masalah kualitas dan cara pemasaran yang tidak efektif. Jika memang begitu, menambah modal pun tidak ada gunanya. Jika bangkrut, apa nantinya tidak akan menyulitkanmu karena harus mengembalikan pinjaman itu.”
“Hmm... Jadi, apa yang sebaiknya aku lakukan?”
“Mmm... Bagaimana kalau kau tanyakan pada orang yang lebih berpengalaman mengenai hal ini.”
“Siapa, Bang? Terus terang, aku tidak punya teman yang menggeluti usaha seperti ini.”
“Ya sudah, kalau begitu lakukan saja sebisamu. Kau sih, dulu kan aku pernah bilang kalau buka usaha itu mesti tahu ilmunya dulu, tapi kau tetap tidak mau percaya. Sekarang baru kau merasakannya sendiri, bagaimana ruginya jika tidak mau belajar dari pengalaman orang lain.”
Suami istri itu terus berbincang-bincang, hingga akhirnya Nina mendapat cara untuk mempertahankan usaha itu, yaitu dengan meningkatkan kualitas dan cara pemasaran yang lebih baik.




Tiga bulan kemudian, usaha Nina sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Semua itu karena dia masih belum bisa memasarkan produknya dengan efektif, ditambah lagi dengan ketidaksetabilan rupiah yang membuatnya terpaksa harus menutup usahanya. Semenjak usaha Nina mengalami kebangkrutan, Bobby tampak semakin bingung. Bagaimana tidak, kini dia harus menafkahi ketiga istrinya dengan hanya mengandalkan pekerjaannya selama ini. Dulu ketika Nina masih bekerja, dia sudah cukup kesulitan menafkahi kedua istrinya. Apa lagi sekarang, bagaimana mungkin dia bisa mencukupi kebutuhan semua keluarganya. Di tengah kebingungan itu, akhirnya Tuhan memberikan jalan keluar dengan mendatangkan seorang temannya yang dulu dikenalnya ketika sama-sama menumpang bis kota. Dialah Randy, seorang pengusaha sukses yang ingin membantu temannya untuk memiliki kehidupan yang lebih berkualitas. Namun sayangnya, saat itu Bobby tidak meresponnya dengan sikap positif. Katanya, peluang bisnis yang Randy tawarkan cuma mimpi dan kehalalannya pun masih diragukan. Saat itu Randy sempat menarik nafas panjang lantaran Bobby sama sekali tak tertarik dengan peluang yang ditawarkannya. Namun begitu, Randy pantang mundurdengan penuh kesabararan dia berusaha menjelaskannya lebih jauh, “Kau jangan salah, Bob. Pekerjaan ini halal, asal saja kau mau betul-betul menjalankannya secara Islami,” katanya berusaha meyakinkan.
“Apa itu mungkin, Ran?”
“Kenapa tidak, selama kita mau berusaha mencari MLM yang baik, dan mau kerja keras. Aku rasa itu mungkin-mungkin saja. Memang… Selama ini ada sebagian orang yang trauma menjalani bisnis ini, karena pekerjaan ini memang tidak semudah teorinya. Sebenarnya, pekerjaan ini hanya untuk orang-orang yang suka akan tantangan. Kenapa aku bilang begitu? Jawabnya karena tidak semua orang bermental pengusaha, kebanyakan dari mereka adalah bermental karyawan. Karenanyalah tidak usah heran, jika banyak dari mereka yang bermental karyawan pada akhirnya menjadi pecundang. Maklumlah, soalnya keberhasilan di bisnis ini memang memerlukan ekstra kerja pintar dan kesungguhan yang luar bisa. Namun, itu akan terbayar dengan penghasilan yang akan diperolehnya.
“Hmmm… Kalau begitu, apakah aku bisa melakukannya?”
 “Jawabannya kembali pada dirimu sendiri, Bob. Kau suka tantangan atau tidak. Dan jika kau suka, apakah kau mau menerima tantangan itu untuk bekerja keras menjadi seorang pemenang. Jika mau, Insya Allah kau pasti bisa. Apalagi jika selalu diiringi dengan doa, Isya Allah kau akan cepat berhasil.”
“Ran, aku tidak menyangka. Sekarang kau sungguh jauh berbeda dengan dirimu yang kukenal dulu.”
“Ya, Alhamdulillah. Setelah kubertekad untuk berubah akhirnya Tuhan memberikan jalan menuju kesuksesan, yaitu melalui Bisnis ini. Salah satu keuntungan yang kudapat ketika menjalani bisnis ini adalah penempaan mental yang luar biasa keras sehingga aku menjadi orang yang berani melewati setiap rintangan yang menghadang.”
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Bobby menjadi tertarik juga. Karena selain mendapat uang, dia juga bisa mendapatkan ilmu untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. “Baiklah, Ran. Nanti malam aku akan ikut denganmu,” katanya bersemangat.
“O ya, syukurlah kalau begitu. Nanti malam, aku akan menjemputmu.”
“O ya, Ran. Ngomong-ngomong, makanannya silakan dihabiskan!”
“Terima kasih, Bob!” ucap Randy seraya mengambil sepotong getuk yang begitu legit.
Kedua pemuda itu tampak terus berbincang-bincang sambil menikmati suguhan yang ala kadarnya. Sungguh kini hati Bobby merasa sedikit tenang, dan semua itu karena kedatangan Randy yang telah memberikannya peluang. Bahkan di dalam benaknya, pemuda itu merasa ada sebuah harapan yang memungkinkan kehidupannya menjadi lebih berkualitas, yaitu kehidupan dimana dia sudah tidak dijajah lagi oleh waktu, kebutuhan ekonomi yang memaksanya untuk bekerja mati-matian, dan menjauhkannya dari orang-orang yang cuma ingin memanfaatkan kemampuannya dengan imbalan gaji yang tidak layak. Intinya adalah, apapun yang ingin dia lakukan berdasarkan atas keputusannya sendiri, tanpa ada orang lain yang bisa menghalangi, yaitu para pencuri impian. Dialah yang memegang kendali atas semua itu, sehingga dia bisa lebih nyaman mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak seperti orang-orang yang selama ini sudah terpedaya, yang dengan alasan demi sesuap nasi rela menggadaikan kehormatannya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin bisa mendekatkan diri pada Tuhan, sedang apa yang didapatnya bukanlah dengan cara yang halal.




Malam harinya, Bobby dan Randy terlihat memasuki gedung tempat diadakannya presentasi bisnis. Kini mereka tengah duduk berdampingan untuk mendengarkan presentasi yang akan disampaikan oleh seorang usahawan sukses yang memang sudah pakar di bidangnya. Tepuk tangan dan sambutan meriah pun diberikan ketika sang Pakar menaiki panggung, semangatnya yang sangat berapi-api terpancar di raut wajahnya yang begitu berseri-seri. Walaupun orang itu masih muda, namun karismanya mampu membuat orang yang hadir seakan terbawa ikut semangat untuk mendengarkan presentasinya. Hingga akhirnya, aura positif yang keluar dari orang-orang yang ada di ruangan itu membuat Bobby semakin bertekad untuk menjalankan bisnis yang dengan sangat jelas telah diperkenalkan kepadanya.
“Bagaimana, Bob?” tanya Randy ketika mereka tengah bersama-sama keluar ruangan.
“Hebat, Ran. Potensinya sangat luar biasa. Rasanya aku ingin cepat-cepat bergabung dan menjalani bisnis ini,” katanya bersemangat.
“Syukurlah, Bob. Itulah jawaban yang sangat aku harapkan.”
Akhirnya, keduanya pun pulang dengan kesepakatan menjadi mitra bisnis yang saling menguntungkan. Setibanya di kediaman Bobby, mereka kembali bercakap-cakap. Namun kali ini mereka tidak membicarakan soal bisnis, tapi mengenai simbol kelamin yang masih menjadi misteri. "O, jadi kau masih menyimpan benda itu, Bob?” tanya Randy hampir tidak mempercayainya.
“Betul, Ran. Sebetulnya aku sudah lama ingin membuang benda ini karena membuatku jadi terus bertanya-tanya. Namun, entah kenapa hati nuraniku mengatakan kalau aku harus terus menyimpannya?”
“Hmm... Mungkin saja hal itu dikarenakan suatu saat nanti kau akan menemukan jawabannya.”
"O ya, Ran? Bagaimana menurutmu jika benda ini merupakan anak kunci?”
“Hmm... Memangnya apa yang membuatmu berpikiran begitu?” Randy malah balik bertanya.
“Sebenarnya bukan aku yang berpikiran begitu, tapi istriku Nina yang berpikiran begitu.”
“Eng... Kalau begitu berarti aku salah jika menanyakan hal itu padamu.”
“Tentu saja, karena pertanyaan itu sepantasnya diajukan pada istriku. Sudahlah, Ran! Kita tidak perlu membahas itu, yang aku mau tahu cuma pendapatmu mengenai apa yang ada di pikiran istriku itu.”
“Baiklah, Bob. Aku akan mencoba memberikan pendapat. Mmm... Begini, menurutku itu mungkin saja. Sebab, kedua ujung simbol itu bisa dijadikan pemicu kombinasi mekanik yang ada di lubang kunci.”
“Lalu kenapa harus membuat dua anak kunci segala?”
“Hmm... mungkin tujuannya untuk mempersulit orang yang ingin membukanya secara paksa, seperti yang biasa dilakukan pencuri dengan menggunakan kunci maling. Bukankah dengan adanya dua kunci berarti tingkat kesulitan menjadi lebih tinggi?”
“Hmm... Itu masuk akal, Ran. O ya, ngomong-ngomong sebenarnya benda apa yang di simpan sehingga harus menggunakan ekstra pengamanan seperti itu.”
“Entahlah, Bob. Yang jelas itu pasti benda berharga.”
“Hmm... Jika benar ini anak kunci, untuk apa lagi aku menyimpannya. Karena percuma saja punya anak kunci tapi tidak ada lubang kuncinya.”
“Kau benar, Bob. Untukmu memang tidak ada gunanya, tapi untuk orang lain yang mungkin kehilangan anak kunci itu tentu ada gunanya. Sebaiknya kau tetap menyimpan anak kunci itu, mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang mencarinya. Dan saat itulah bisa memberikan anak kunci itu padanya.”
“Kau betul, Ran. Jika aku mengembalikannya ke tempat semula, bisa saja benda ini malah akan ditemukan orang lain dan karena tidak suka mungkin dia akan membuangnya ke kali, sama seperti yang pernah ingin kulakukan dulu.”
"O ya, Bob. Sebaiknya sekarang aku pamit pulang, soalnya sudah terlalu malam.”
“Iya, Ran. Terima kasih atas semuanya!”
“Sama-sama, Bob. Assalamu’alaikum.”
“Wa’allaikum salam,” jawab Bobby seraya mengantar Randy ke muka rumah. Sepeninggal pemuda itu, Bobby segera masuk ke dalam dan kembali memikirkan perihal benda yang dikiranya anak kunci itu. “Mmm... Apa benar ini anak kunci. Tapi sepertinya bukan, karena tulisan merah muda dan biru itu masih belum terungkap. Karena jika ini anak kunci untuk apa pakai diberi tulisan segala. Jika dibuat sebagai tanda, sungguh bodoh orang yang membuat hal sepele seperti itu. Bukankah anak kuncinya cuma dua, dan jika salah memasukkan ke lubang kuncinya kan tinggal ditukar saja. Hmm... ini benar-benar masih menjadi sebuah misteri.”
Karena sudah dibuat pusing, akhirnya Bobby memutuskan untuk pergi beristirahat.



Sebulan kemudian, di rumah Bobby. Randy tampak tengah memberikan semangat kepada temannya yang kini sedang mengalami masa putus asa dalam menjalani bisnisnya.
“Ayo dong, Bob! Kau jangan menyerah begitu, coba lagi dan coba lagi! Jangan kau menyerah lantaran hingga saat ini belum ada yang ikut bergabung!”
“Kau mudah bicara begitu, Ran. Terus terang, aku perlu uang dengan segera agar bisa menghidupi anak dan istriku. Ketahuilah! Selama satu bulan ini tidak sepeser uang pun yang kudapat ketika menjalani bisnis ini. Malah aku terpaksa menjual barang dan pinjam sana sini untuk biaya operasionalnya.”
“Sabarlah, Bob! Jika kau mau berusaha terus, masa iya tidak ada yang mau ikut bergabung.”
“Aduh, Ran. Kayaknya aku tidak bisa. Baru bilang MLM saja, mereka sudah tidak mau mendengar. Apa lagi jika harus mendengarkan presentasiku soal MLM.”
“Makanya kau jangan sebut-sebut MLM. Tapi buka pikiran mereka dulu soal etos kerja, kalau pikiran mereka sudah terbuka barulah kau perkenalkan bisnis itu. Kebanyakan orang yang sudah alergi dengan MLM tentu akan memproteksi diri untuk tidak mendengarkan lebih jauh. Mereka takut kena tipu, dan itu wajar-wajar saja. Namun jika kau membuka pikiran mereka soal etos kerja, dan menjelaskan kalau tidak semua MLM itu seperti apa yang mereka takutkan. Maka Insya Allah mereka akan mau mendengarkan presentasimu. Karenanyalah, kau perlu membaca buku untuk bisa membantumu guna membuka pikiran mereka. Sebab, di kota ini banyak sekali korban oknum distributor MLM yang tidak bertanggung jawab, yang dengan segala cara yang tidak Islami telah berusaha menarik korban agar ikut bergabung, hingga akhirnya korban pun merasa tertipu.”
“Sebenarnya, bukan itu saja, Ran. Ternyata banyak juga teman-temanku yang juga sudah bergabung di MLM-lain. Dan mereka sama sekali tidak tertarik dengan MLM kita, mereka malah bilang MLM kita jelek dan malah menawarkan MLM-nya padaku..”
“Hmm... Mungkin kau telah melakukan kesalahan ketika memperkenalkan MLM kita pada mereka. O ya, masih ingatkah ketika dulu kau bicara soal perbedaan pendapat?”
“Hmm... Kapan ya?”
“Itu, ketika kita baru kenal, dan kita memperbincangkan masalah itu di halte.”
"O ya, aku ingat. Lantas, apa hubungannya?”
“Aku heran, dulu kau sepertinya sudah paham betul mengenai hal itu. Namun, ternyata kau tidak mengamalkannya.”
“Entahlah, Ran. Aku juga tidak mengerti. Mungkin semua itu terjadi karena saat ini aku sedang tertekan dengan masalah ekonomi, sehingga aku sulit untuk berpikir positif. Kalau sudah begitu, setan dengan mudahnya bisa memperdayaku. Nah, Ran. Kalau begitu, sekarang tolong jelaskan perihal itu!”
“Begini, Bob. Waktu itu kan kau pernah berbicara soal perbedaan beragama. Kini aku akan mengulangi kata-katamu waktu itu.
 Jika kau ditanya oleh penganut agama lain mengenai agama mana yang benar maka kau bisa dengan mudah menjawab, yaitu dengan jawaban: Semua agama itu benar menurut keyakinan dan kepercayaan pemeluknya masing-masing. Dengan begitu, tentu tidak akan terjadi perdebatan karena jawabannya tidak membela kebenaran satu pihak mana pun. Dan mungkin saja si penanya justru akan tertarik dengan agama yang kita yakini, dia merasa penasaran kenapa kita yakin dan percaya dengan agama kita. Dan akhirnya karena penasaran itu, dia pun mungkin akan menanyakan hal itu lebih jauh lagi. Jika sudah begitu, tentu akan kita jawab mengenai kebenaran agama kita saja, namun tanpa menjelekkan agama yang diyakininya.
Kalau kau mau tahu, seorang distributor MLM lain tanpa disadari tentu sudah didoktrin kalau MLM-nya lah yang paling bagus, karenanyalah jika kau mengatakan kalau MLM-mu bagus dan MLM dia jelek, tentu dia tidak akan terima. Alhasil, hanya akan menimbulkan perdebatan yang justru membuatnya semakin tidak tertarik. Karenanyalah, kau jangan pernah menjelek-jelekkan MLM lain. Kalau perlu, kau akui kebenaran yang ada di MLM-nya itu. Dengan begitu, mungkin dia akan heran dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa kau mengetahui MLM-nya bagus, namun pada kenyataannya kau justru tidak ikut bergabung. Karena penasaran, mungkin dia akan menanyakan hal itu. Saat itulah, kau beri tahu tentang keunggulan MLM kita dengan tanpa menjelek-jelekkan MLM-nya. Insya Allah, dengan begitu dia akan tertarik dan akhirnya mau ikut bergabung.”
"Kini aku mengerti, kenapa mereka tidak tertarik. Eh, Ran! Aku sungguh tidak menyangka, ternyata kau bisa mengaplikasikan hal itu. Itulah yang dinamakan kecerdasan sejati, karena bisa diaplikasikan untuk mendapatkan sesuatu yang manfaat. Ran... Terus terang, aku salut padamu!”
“Sudahlah, Bob. Kau tidak perlu memujiku begitu. O ya, Bob. Apakah buku yang kupinjamkan sudah kau baca.”
“Maaf, Ran. Aku tidak punya waktu untuk membacanya.”
“Hmm… Coba katakan terus terang padaku, kau malas apa memang tidak punya waktu.”
“Entahlah, Ran. Rasanya berat juga untuk membaca buku disaat pikiranku lagi kusut soal masalah rumah tanggaku.”
“Hmm… Baiklah kalau begitu, kau memang tidak perlu memaksakan diri jika memang belum siap. Tapi, jika kau mempunyai waktu luang yang baik, usahakanlah untuk membacanya. Dan yang terpenting, jalankan terus bisnis ini tanpa merasa terpaksa dan sesuai dengan kemampuanmu. Jangan lupa untuk terus meningkatkan kuantitas presentasimu menjadi lebih baik. Pokoknya, kau jangan pernah menyerah. Biarpun kau bergerak lambat, Insya Allah tujuanmu pasti akan tercapai juga.”
“Terima kasih, Ran. Kau sudah memberikan masukan yang membuatku semangat kembali.”
“Syukurlah kalau begitu. O ya, bukankah kau bilang ada temanmu yang mau dipresentasi.”
“Betul, Ran. Kalau begitu, ayo kita berangkat ke sana.”
Akhirnya, kedua pemuda itu pun berangkat bersama. Kali ini Randy berusaha membantu Bobby dengan mengajarkan cara presentasi yang baik dan benar, yaitu dengan cara Islami yang professional (Jujur, namun tidak lugu dan serampangan). 




Esok harinya, pagi-pagi sekali, Bobby sudah siap-siap berangkat untuk presentasi. Namun pada saat yang sama, istrinya yang bernama Nina tampak menghalanginya. Sambil memasang wajah garang, wanita itu mulai membuka suara, “Sudahlah, Bang! Lebih baik cari pekerjaan yang pasti-pasti saja. Jika kau terus menjalani bisnis itu, aku khawatir kau akan diam di tempat dan tanpa menghasilkan apa-apa. Lebih baik, kau cari pekerjaan sebagai office boy seperti dulu.”
“Nin, kau tahu kan kalau aku tidak menafkahimu seorang. Bagaimana mungkin aku bisa mensejahterakan keluargaku jika bekerja seperti itu.”
“Kau kan bisa membagi waktu, Bang. Bukankah si sela-sela waktu luangmu, kau bisa menjalankan bisnis itu sebagai sampingan. Setelah bisnismu berhasil, baru kau bisa berkonsentrasi penuh di bisnis itu.”
“Baiklah, Nin. Aku akan menurutimu, tapi mencari pekerjaan sebagai office boy kan juga tidak mudah.”
“Kau jangan khawatir, kebetulan aku mempunyai teman seorang direktur. Semoga dia mau memberi pekerjaan untukmu.”
“Nin, jika kau mempunyai teman direktur, kenapa tidak kau saja yang bekerja padanya? Untuk saat ini aku mengizinkanmu. Terus terang, saat ini aku memang tidak punya pilihan lain karena sulitnya melawan arus dari sebuah sistem yang tak berpihak. ”
“Dia sudah punya sekretaris, Bang. Lagi pula, aku sudah berniat membuka usaha sendiri dengan sisa uang tabunganku.”
“Apa! Kau masih mempunyai tabungan. Kenapa selama ini kau tidak memberitahuku?”
“Maaf, Bang. Sebenarnya aku tidak mau mengutak-atik uang itu karena untuk biaya sekolah Laras. Tapi kini aku sudah berubah pikiran, mau tidak mau uang itu memang harus diputar.”
“O ya, ngomong-ngomong kau ingin buka usaha apa?”
“Aku ingin buka warung kecil-kecilan saja, Bang. Kebetulan di kompleks ini memang masih belum ada warung.”
“Hmm... Apa kau sudah tahu ilmunya, Nin?”
“Ah, Abang. Mengelola warung kecil itu kan tidak begitu sulit, paling hanya membutuhkan pengetahuan soal pembukuan sederhana, yang perhitungannya jelas-jelas tidak begitu rumit. Lagi pula, yang akan kujual itu kan sembako, yang jelas-jelas sangat dibutuhkan oleh orang-orang di kompleks ini.”
“Baiklah... Kalau begitu, aku sih setuju saja.”
Kedua suami istri itu terus berbicara mengenai masalah itu dengan penuh antusias. Sementara itu di tempat lain, Reni dan Dewi yang kini terpaksa tinggal dalam satu atap tampak sedang bertengkar hebat. Kedua wanita itu meributkan perihal pembagian tugas yang dirasakan tidak adil.
“Enak sekali kau, Ren. Kerjamu selama ini cuma mengurus kedua anak itu. Sedangkan aku yang lagi hamil, harus mengepel, cuci piring, cuci baju, menyetrika, memasak, dan masih banyak lagi,” kata Dewi sewot.
“Eh, itu kan bukan mauku, itu maunya suami kita. Kalau kau tidak suka, bilang saja padanya! Kenapa kau malah marah padaku?” kata Reni membela diri.
“Dasar wanita tidak tahu malu! Kau kan sudah minta cerai, lalu kenapa bersatu lagi? Itu namanya menjilat kembali ludah sendiri. Dasar wanita kampung, kurang pendidikan dan tidak tahu diri! Sudah hidup menumpang, sok menjadi penguasa,” Dewi memaki.
“Heh, kau kan juga wanita kampung yang tidak berpendidikan. Buktinya, lihat anakmu Intan, nakal sekali sepertinya tidak pernah mendapat pendidikan yang baik. Dan enak saja kau bilang aku di sini menumpang. Ini kan rumah yang dikontrak suamiku, dan dulunya aku memang tinggal di sini. Kalau kau mau tahu, kaulah yang menumpang karena rumah yang dulu kau tinggali sudah menjadi abu,” bela Reni.
“Dasar, wanita brengsek!” saat itu juga Dewi langsung menyerang Reni, dia menjambak madunya itu dengan kemarahan yang meluap-luap.
Diperlakukan begitu, Reni pun tidak tinggal diam. Lantas wanita itu dengan sekuat tenaga berusaha menjambak rambut Dewi. Hingga akhirnya, mereka pun bergulingan di lantai sambil terus saling menjambak. Sementara itu, Lia dan Intan yang menyaksikan kejadian itu tampak menjerit ketakutan, kemudian mereka menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan mereka, akhirnya Dewi dan Reni menghentikan pertarungan itu. Kini mereka tampak menenangkan anaknya masing-masing.
“Lihat! Karena ulahmu, anakku jadi ketakutan seperti itu,” kata Reni seraya melihat Dewi dengan pandangan kesal. Kemudian wanita itu kembali berusaha menenangkan putrinya. “Sudahlah, Sayang... diam ya anak manis...! Lupakanlah apa yang tadi kamu lihat! Jika kamu sudah besar, janganlah seperti yang ibu lakukan tadi. Ibu melakukan itu karena tadi Ibu sudah digoda setan, dan kelakuan ibu pun akhirnya menjadi seperti setan.”
Setelah membuat Lia tenang, Reni berniat menemui Dewi yang tadi dilihatnya melangkah ke kamar. “Wi, buka pintunya, Wi! Aku mau bicara,” pinta Reni berharap.
“Sudahlah, tidak ada gunanya kita bicara! Nanti kau akan semakin membuatku bertambah kesal.” Dewi menolak.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti kalau suami kita pulang, kuharap kita bisa menyelesaikan perselisihan ini!”
 Setelah berkata begitu, Reni kembali menemui Lia dan mengajaknya beristirahat di atas kasur lipat yang ada di ruang tamu. Karena di atas kasur itulah keduanya selama ini biasa beristirahat.

  

Esok malamnya, Bobby datang menemui kedua istrinya. Betapa kagetnya dia ketika mengetahui kedua istrinya itu sedang dalam perselisihan hebat. Sebagai seorang suami yang berusaha bijak, dia pun segera menengahi konflik itu dengan kepala dingin. Setelah menidurkan anak-anaknya, kini dia dan kedua istrinya itu tampak sedang bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Hingga akhirnya, “Maafkan aku, Bang. Aku betul-betul tidak tahu kalau tujuanmu memberi pekerjaan lebih banyak agar aku mudah melahirkan. Dan aku pun menyadari kalau jika tidak ada Reni tentu beban pekerjaanku akan semakin banyak.”
“Wi, kau juga harus minta maaf pada Reni. Karena sebetulnya tugas yang kuberikan padanya juga tidak mudah, apa kau pikir memberikan pendidikan kepada anak-anak itu mudah. Selama ini saja kau sering kesal karena mengurus anak, iya kan? Mungkin ketika kau melakukan tugasmu, kau hanya lelah fisik. Tapi Reni, selain lelah fisik dia juga lelah batin.”
Dewi mengangguk, kemudian wanita itu segera meminta maaf kepada Reni. “Maafkan aku, Ren! Aku merasa bersalah karena telah menuduhmu yang tidak-tidak.”
“Sudahlah, Wi. Lupakan saja masalah itu! Aku juga minta maaf, Wi! Selama ini aku tidak mempedulikan kesulitanmu. Mulai sekarang, jika kau memang merasa lelah dalam menunaikan tugas, bilang saja padaku. Aku pasti akan membantumu.”
“Terima kasih, Ren.”
Lantas kedua wanita itu tampak berpelukan, sebuah ekspresi yang menandakan kalau mereka sudah saling memaafkan. Melihat itu, Bobby pun segera memeluk keduanya. Sebagai ungkapan rasa bahagianya karena keduanya istrinya itu mau berdamai.
“Nah, kalau begitu. Siapa sekarang yang akan kuberi nafkah batin duluan?” tanya Bobby.
“Biar Reni duluan, Bang. Soalnya aku mau mempersiapkan ramuan penambah tenaga. Ketahuilah, Bang! Biarpun kau mempunyai kemampuan multiple orgasme tapi jika harus memuaskan dua istri sekaligus tentu membutuhkan ekstra tenaga. Bukan begitu, Bang?”
Bobby pun sependapat dengan Dewi, apalagi pada saat ini kondisinya memang tidak sedang fit betul sehingga dia merasa perlu untuk meminum ramuan itu sebagai penambah tenaga. Atau lebih tepatnya, ramuan yang bakal memberikan sugesti demi keperkasaannya. Lalu, dengan tanpa buang waktu lagi. Bobby lekas-lekas membopong Reni ke kamar dan menunaikan tugasnya sebagai seorang suami.




Dua bulan kemudian, Randy datang menemui Bobby. Dia sangat kecewa ketika tahu Bobby tidak fokus menjalankan bisnisnya. Maklumlah, sebagai seorang office boy dia kesulitan membagi waktu menjalankan bisnis MLM-nya. Karena itulah, sebagai up-line yang bertanggung jawab, Randy perlu memberikan masukan agar down-line-nya itu bisa menjalankan bisnis sebagaimanamestinya.
“Bob, kau tidak bisa seperti itu, jangan kau menjadikan bisnis MLM-mu sebagai sampingan! Jadikanlah bisnis itu sebagai pekerjaan utamamu, dan kerahkan segala kemampuanmu untuk menjalankannya!”
“Maaf, Ran. Soalnya aku tidak yakin akan berhasil, sedangkan kau sendiri tentu tahu kalau keluargaku membutuhkan uang. Jika aku tidak menjadi office boy, bagaimana mungkin aku bisa menafkahi mereka?”
“Kalau begitu, manfaatkanlah itu! Jadikanlah anak-anak dan istri-istrimu itu sebagai spirit untuk bergerak di bisnis ini! Kau kan tidak menghendaki jika mereka sampai terlantar, dan karenanyalah mau tidak mau kau harus berjuang untuk mendapatkan uang. Kondisikan di alam bawah sadarmu, bahwa mereka adalah tanggung jawabmu! Dan jika kau tidak mendapat uang dari bisnis ini maka kau akan sangat berdosa karena membuat mereka hidup menderita. Insya Allah, dengan demikian kau akan mempunyai spirit yang kuat, dan dengan spirit itulah kamu dipaksa untuk terus bergerak dan bergerak, dan kau tidak akan berhenti bergerak jika belum berhasil. Tanamkan di alam bawah sadarmu kalau ilmu statistik itu memang benar-benar berlaku! Semakin banyak kau melakukan presentasi maka akan semakin banyak orang yang akan bergabung. Dan jika kamu terus konsisten, maka keberhasilan tentu akan berada di genggamanmu.”
“Ran, bagaimana jika aku sudah konsisten namun aku tidak juga berhasil?”
“Jika memang seperti itu, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menanggung semua kebutuhan rumah tanggamu sampai kau berhasil di bisnis ini. Asal, kau mau terus konsisten dan melaksanakan semua petunjukku!” jawab Randy memberikan jaminan, dalam hati pemuda itu yakin sekali jika Bobby melaksanakan apa yang dikatakannya itu tentu Bobby akan berhasil, pemuda itu percaya Tuhan tentu memberikan ganjaran setimpal atas kerja keras Bobby, kecuali Tuhan memang mau mengujinya, namun ujian yang diberikan Tuhan tentu tidak melebihi kesanggupan hamba-Nya. 



Semenjak pertemuan itu, Bobby memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dia bertekad untuk fokus pada bisnis MLM-nya. Kini di dalam diri Pemuda itu sudah tidak ada lagi kebimbangan karena Randy telah menjaminnya, yaitu mau bertanggung jawab sekiranya dia memang tidak berhasil. Itulah tujuan MLM yang sebenarnya, yaitu menciptakan orang-orang yang mau menolong sesama, dan bukan sekedar mau memanfaatkannya.
Begitulah Randy, yang kini sudah menjadi seorang network builder sejati, yang dari awal memang sudah bertekad untuk pantang meninggalkan downline-nya yang loyo dan tidak mau menjalankan bisnis itu. Randy menyadari, kalau ketidakmauan seseorang bukanlah lantaran kemalasannya, namun lebih kepada ketidaktahuannya. Dan hal itu disebabkan oleh berbagai faktor yang sebenarnya bisa diatasi dengan memberikan bantuan yang sungguh-sungguh.
Setelah dua bulan berlalu, Randy tampak begitu lega. Itu semua karena Bobby bisa menjalankan bisnisnya sesuai harapan. Walau pendapatan yang tidak seberapa, namun pendapatannya itu lebih baik ketimbang menjadi seorang office boy. Kini Bobby sendiri sudah semakin yakin, kalau pendapatannya itu tergantung dari banyak tidaknya dia melakukan presentasi. Semakin banyak dia melakukan presentasi, kemungkinan orang yang bergabung di bawahnya pun akan semakin banyak pula, dan dengan secara otomatis pendapatannya pun meningkat dengan sendirinya.