E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Duka Lara - Bagian 3

Tiga



Setahun kemudian, setelah Bobby dan Lara menjalin cinta. Keduanya tampak sudah begitu lengket bak prangko dan amplopnya, bahkan saat ini mereka sedang berada di Yogyakarta untuk berliburmenghilangkan semua kepenatan selama berada di Jakarta. Selain itu, mereka juga mau mengunjungi paman dan bibi Lara yang sudah lama menetap di kota itu.
Setelah seharian penuh berada di rumah pamannya, akhirnya Lara mengajak Bobby ke luar kota untuk menikmati indahnya panorama alam. Kini sepasang kekasih itu sedang menikmati indahnya pemandangan yang berlatar belakang gunung Merapi. Sambil duduk di bawah rindangnya sebuah pohon besar, mereka tampak bercakap-cakap dengan penuh keceriaan. 
“Kak, apa yang kau tulis?” tanya Lara seraya memperhatikan tulisan yang ditoreh di sebuah pohon besar.
“Hihihi...! Kau ini seperti anak remaja saja pakai menulis seperti itu.”
“Hmm... apa aku tidak boleh mengungkapkan perasaanku dan mengabadikannya di batang pohon ini.”
“Boleh saja sih... tapi caramu itu kan bisa merusak keindahan tempat ini.”
“Sayang... sebenarnya aku menulis di batang pohon ini agar tak mudah hilang dimakan waktu, dengan harapan semoga cinta kita juga seperti itu.”
“Aku mengerti, Kak. Tapi, bukankah sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih bijaksana. Di atas sebuah benda seni yang dibuat sendiri misalnya.”
“Sungguh kau itu gadis yang menghargai alam, Sayang... Terima kasih karena sudah membuatku menyadari kalau keindahan alam ini memang perlu dilestarikan.”
Kini pemuda itu menatap kekasihnya dengan penuh kebanggaan, saat itu dia menduga kepedulian Lara pada alam merupakan cerminan hatinya yang luhur. “Sayang... aku sangat mencintaimu,” ucapnya seraya mencium gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Pada saat itu Lara merasakan ciuman itu lain dari biasanya, sebuah ciuman yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam. Sungguh terasa hangat dan menggetarkan kalbu, juga begitu membahagiakan bagai melayang di atas hamparan bunga warna-warni yang senantiasa harum semerbak.
Sepulang dari tempat itu, Lara masih saja terbayang dengan ciuman yang tak kan pernah dilupakannya. Bahkan ketika mau tidur, gadis itu pun masih terus membayangkannya. Maklumlah, setiap kali dia teringat dengan ciuman itu, maka setiap kali itu pula dia merasakan hatinya terasa begitu berbunga-bunga. Rupanya saat ini dia benar-benar sudah terjerat oleh tali-tali asmara yang membawanya menuju kebahagiaan semu, yang  mana jika jerat itu putus maka kebahagiaan itu bisa berbalik menjadi sangat menyakitkan.




Esok paginya, seusai sarapan nasi gudeg yang lezat, Lara dan bibinya langsung pergi ke pasar. Sementara itu di teras, Bobby tampak asyik berbincang-bincang dengan sang Paman yang mempunyai hobi memelihara burung perkutut dan ikan hias. Lama juga mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya Bobby bisa lebih memahami kedua hal itu.
Puas membicarakan tentang hobi, mereka lantas mengganti topik yang agak lebih berat, yaitu mengenai politik dan agama. Dalam perbincangan itu, Bobby banyak sekali mendapat masukan yang sangat berharga. Saat itu, sang Paman pun terlihat senang lantaran mengetahui lawan bicaranya sangat berminat.
“Nak, Bobby. Tunggu sebentar ya! Paman punya sesuatu untukmu,” kata sang Paman seraya melangkah ke kamar.
Tak lama kemudian, sang Paman sudah kembali dengan membawa sebuah benda bulat sebesar bola kasti yang terbuat dari kuningan. “Ini, Nak. Terimalah!”
Bobby segera menanggapi benda itu dan memperhatikannya dengan penuh seksama. Di sekeliling permukaan benda itu terdapat lubang-lubang yang berdiameter kurang lebih 5 inci. 
“Mmm... benda apa ini, Paman?” tanyanya kemudian.
“Itu adalah bola teka-teki. Coba kau perhatikan lubang-lubang yang ada di sekelilingnya!”
Bobby pun kembali memperhatikan lubang-lubang itu.
“Sekarang, coba kau tiup lubang yang mana saja!”
Bobby lantas menurut dengan meniup sebuah lubang, dan disaat yang sama terdengarlah bunyi sebuah nada.
“Sekarang, coba kau tiup dan sedot lubang yang di sebelahnya.”
Lagi-lagi Bobby menurut dengan meniup lubang yang dimaksud, namun kali ini bunyinya berbeda dengan nada yang tadi. Bobby pun mencoba menyedot lubang yang sama, dan ternyata bunyinya berbeda lagi dengan kedua nada yang didengarnya barusan.
  “Nah, Nak Bobby...  aku rasa sekarang kau sudah mengerti kalau setiap lubang itu mempunyai nada yang berbeda-beda. Dan jika kau bisa meniup dan menyedotnya sesuai dengan urutan yang benar, maka kau akan mendapatkan sebuah irama yang sangat indah dan sekaligus membuat benda itu bisa terbelah dua.
Dan kata orang yang dulu memberikannya kepadaku, di dalamnya terdapat pesan yang bisa membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Benda ini sengaja kuberikan padamu karena aku sudah putus asa menemukan urutan nada yang benar.”
“Tapi, Paman. Apakah aku bisa menemukan urutan nada yang benar itu?”
“Mungkin saja. Karena ketika kita berbincang-bincang tadi, aku bisa menduga kalau kau ini mempunyai perasaan yang peka dan juga kemampuan menganalisa yang cukup baik. Karenanyalah aku merasa benda ini memang pantas diberikan padamu.”
“Kalau begitu terima kasih, Paman. Dan aku akan berusaha keras untuk bisa membukanya.”
Ketika mereka akan melanjutkan perbincangan, Lara dan bibinya sudah kembali. Pada saat itu sang Paman langsung mengajak istrinya ke dalam untuk membicarakan sesuatu yang penting. Sementara itu, Bobby dan Lara tampak berbincang-bincang mengenai rencana mereka hari ini.
“Baiklah, usai makan siang nanti kita pergi membuat kerajinan perak,” kata Lara menyetujui usul Bobby yang mau mengabadikan ungkapan perasaannya pada sebuah cincin perak yang akan dibuatnya sendiri, yaitu di tempat kursus pembuatan kerajinan perak secara singkat yang ada di kota itu.




Sepulang dari Yogyakarta, cinta Bobby dan Lara semakin dalam dan sudah begitu lekat bagaikan sticker yang menempel di kaca mobil. Keduanya terus menjalin cinta hingga akhirnya Bobby menyadari kalau persahabatannya dengan Randy terasa kian merenggang. Kini pemuda itu sedang berbicara dengan sahabatnya yang kini mulai menjaga jarak. “Ran, katakanlah! Kalau sesungguhnya kau masih mencintai Lara.”
“Sudahlah, Bob! Aku sadar kok kalau Lara itu memang bukan jodohku. Kan aku sudah bilang kalau dunia ini tidaklah selebar daun kelor, karena memang masih banyak gadis lain yang bisa aku pacari.”
“Tapi, Ran. Aku tahu betul, kau tidak semudah itu bisa pindah ke lain hati. Buktinya, berapa tahun kau bisa melepaskan Indah dari kehidupanmu hingga akhirnya bisa mencintai Lara. Dan kau mencintai Lara karena dia itu mirip dengan Indah, iya kan?”
“Kau itu sok tahu, Bob. Siapa bilang aku seperti itu. Aku percaya, jodoh, takdir, dan maut adalah sudah ditentukan Tuhan. Jadi, jika ternyata Lara memang bukan jodohku, aku rela dia jadi milik siapa saja.”
Mendengar itu Bobby langsung membatin, “Randy... mulutmu berkata begitu. Namun aku bisa menduga apa yang ada di hatimu, sesungguhnya kau sangat mencintainya dan berharap dia bisa menjadi milikmu. Buktinya selama ini kau sudah menjadi begitu berubah, kau lebih sering menyendiri dan jarang menemuiku. Ran... aku benar-benar merasa tidak enak karena harus berbahagia di atas penderitaanmu. Selama ini kau sudah begitu baik padaku, dan tidak sepantasnya aku membalas semua itu dengan menyakitimu. Aku berjanji, mulai detik ini aku akan melupakan Lara. Biarlah aku hidup dalam kesendirian demi kebahagiaanmu. Aku yakin, biarpun saat ini Lara tidak mencintaimu, namun suatu saat dia pasti akan bisa mencintaimu. Bukankah cinta itu bisa pergi dan datang tanpa diduga-duga, dan semua itu dipicu oleh suatu kondisi. Jika kata hati sudah seirama, dan perbedaan bukanlah masalah. Maka tidak ada makhluk yang bisa menghalangi cinta. Karena cinta adalah dua hati yang menyatu dalam keselarasan yang harmonis, saling membutuhkan dan selalu berbagi dalam menjalani kehidupanbagai kumbang dan bunga yang bersimbiosis mutualisme.”
“Bob, apa yang kau pikirkan?” tanya Randy membuyarkan renungan Bobby.
“Eng, Ti-tidak ada, Ran....” Kata Bobby terbata. Saat itu dia langsung menarik nafas panjang dan segera kembali berkata-kata,” Ran, maafkan aku yang sudah terlalu egois! Seharusnya aku tidak memacari Lara yang dicintai oleh sahabatku sendiri. Kalau kau mau tahu, sesungguhnya hingga saat ini aku masih mencintai Nina. Percayalah, Ran! Lara itu hanya kujadikan sebagai pelarian, tidak lebih dari itu.”
“Benarkah yang kaukatakan itu, Bob?”
Bobby mengangguk.
“Kau memang keterlaluan, Bob. Tega sekali kau memperlakukan Lara seperti itu.”
“Iya, Ran. Dan aku pun sangat menyesal telah berbuat begitu. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah terlalu egois, sampai-sampai tidak mempedulikan sahabatku sendiri!”
“Sudahlah, Bob. Aku memahami kenapa kau bisa sampai melakukan itu. Jika kau memang betul-betul menyesal, rasanya tidak sepantasnya aku mempermasalahkannya lagi. Kau memang sahabat yang baik, buktinya kau mau mengakui semua itu lantaran sudah menyesalinya.”
"Terima kasih atas pengertianmu, Ran. O ya, aku...”
Saat itu Bobby langsung menceritakan rencananya untuk pergi ke luar negeri. Alasannya adalah agar ia bisa mengubur kenangan masa lalunya, yaitu dengan mencari kesibukan di negeri orang.  




Sebulan kemudian, di restoran yang sama disaat Bobby menyatakan cintanya kepada Nina, terlihat sepasang muda-mudi yang sedang menikmati santap malam. Mereka adalah Bobby dan Lara yang sedang merayakan hari valentine. Sebuah hari kasih sayang yang pada malam ini akan mereka rasakan sebagai sebuah hari yang sangat menyedihkan.
“Ra, maafkan kalau perkataanku ini bisa membuatmu sakit!”
“Katakanlah, Kak! Apa pun itu aku akan mencoba untuk mengerti”
“Se-sebenarnya. A-aku tak mencintaimu, Ra. Aku mau menerimamu waktu itu karena aku kasihan padamu. Karenanyalah, sebelum cintamu semakin dalam aku terpaksa memutuskanmu. Sebetulnya, hingga saat ini aku masih mencintai Ninatidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya.”
“Be-benarkah yang kau katakan itu, Kak?” tanya Lara dengan air mata yang tiba-tiba saja meleleh.
Bobby mengangguk. “Maaf, Ra! Aku terpaksa mengambil tindakan ini sebelum semuanya menjadi semakin sulit.”
“Tapi, Kak... kenapa ketika di Yogya kau sepertinya sangat mencintaiku. Apa sebenarnya maksud goresan kata-kata yang kau tulis di pohon itu, apa maksud ciuman mesramu yang hingga kini tidak pernah bisa kulupakan, dan apa pula maksud ukiran nama kita pada cincin perak yang kau buatkan untukku.”
“Itu kulakukan semata-mata karena aku kasihan padamu, Ra. Sungguh, tidak lebih dari itu. Maafkan aku, Ra! Bukankah sebaiknya kita bersahabat saja, sebab aku merasa kalau bersahabat akan lebih baik ketimbang kita harus menjalin cinta dengan bertepuk sebelah tangan.”
“Baiklah, Kak. Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Aku memahami kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan.”
“Terima kasih atas pengertianmu, Ra.”
Saat itu Lara sudah tidak berkata-kata lagi, dia hanya menangis dan menangis. Melihat itu, Bobby pun tidak berkata-kata lagidia hanya bisa meyakinkan dirinya kalau suatu saat Lara pasti akan hidup bahagia bersama sahabatnya.




Seminggu kemudian, di malam yang cerah. Seorang gadis terlihat duduk sendiri di kursi beranda, saat itu dia sedang menangis sedih. Ketika dia mendengar suara langkah kaki mendekat, tiba-tiba gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Kini kedua matanya yang indah tampak menatap kepada seorang pemuda yang kini berdiri di dekatnya. Dan tak lama kemudian, pemuda itu sudah duduk di sebelahnya seraya meletakkan koper besar yang dijinjingnya.
"Kau menangis, Ra?” tanya pemuda itu ketika melihat mata gadis itu.
“Kak Bobby, sepertinya a-aku....”
“Sudahlah! Lupakan saja semua kenangan itu! Lebih baik kau jalani saja kehidupanmu sekarang. Aku sarankan berbaik-baiklah dengan Randy, dan jika kau sudah betul-betul mengenalnya, kau pasti akan sangat mencintainya.“
“Kak, ke-kenapa kau begitu yakin?”
“Sebab, aku sudah lama sekali bersahabat dengannya. Dan jika kau menuruti apa yang sudah kukatakan mengenai wataknya, aku yakin kalian pasti akan menjadi pasangan yang  saling mencintai.”
Saat itu Lara kembali teringat dengan perkataan Bobby waktu itu, yaitu ketika Bobby berusaha membujuknya agar mau berdamai dengan Randy setelah ribut saat sarapan pagi. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Bobby waktu itu. Karena setelah perselisihannya dengan Randy di depan gallery, akhirnya dia mau menuruti kata-kata Bobby. Dan terbukti, setelah itu dia memang sudah jarang berselisih dengan Randy. Namun, sebagai gantinya dia lebih sering menderita karena harus sering mengalah.
“Kak, apa aku harus sering mengalah padanya. Jika terus demikian, apa aku sanggup?” tanya Lara ragu.
“Dengarkan aku, Ra...! Kau tidak harus terus mengalah. Namun, sebagai gantinya kau harus berterus terang padanya. Sebab, sebenarnya dia itu orang yang sangat pengertian. Jika kau mau mengatakan isi hatimu yang sebenarnya, aku yakin dia akan bisa menerima. Menurutku, selama ini pertengkaran kalian disebabkan karena kau selalu menutup diri padanya. Dan karenanyalah, dia menjadi salah mengerti. Andai kau sudah pandai memilah mana yang patut kau utarakan dan yang tidak, aku yakin dia akan menjadi pria yang sangat menyenangkan buatmu.”
Saat itu Lara langsung merenungi kata-kata Bobby barusan. Dalam hati, dia membenarkan apa yang dikatakannya, sebab selama ini dia memang masih sulit untuk terbuka dikarenakan dia masih menganggap Randy itu bukan siapa-siapa. Namun sekarang, Randy itu sudah menjadi pacarnya. Dan jika dia mau lebih terbuka, tentu Randy akan mau mengerti dan menjadi pemuda yang sesuai dengan harapannya. Ketika Lara akan bicara lagi, tiba-tiba dia melihat sebuah taksi yang berhenti di depan gerbang. Tak lama kemudian, seorang pemuda tampak keluar dan bergegas menghampiri mereka. “Ini Bob,” kata pemuda itu seraya memberikan tiket pesawat yang baru dibelinya.
“Terima kasih, Ran! Kalau begitu, sebaiknya aku berangkat sekarang,” pamitnya seraya memeluk sahabatnya itu erat-erat.
“Hati-hati ya, Bob. Semoga kau mendapat apa yang kau cari!” ucap Randy seraya melepaskan pelukannya. Kemudian dia mencoba tersenyum dan menjabat tangan sahabatnya dengan erat. “Semoga sukses! ” katanya  seraya kembali tersenyum.
Kini Bobby melangkah mendekati Lara. “Ra, aku berangkat sekarang,” pamitnya kepada gadis yang sebenarnya sangat dia cintai.
Saat itu juga Lara segera memeluknya erat, “Selamat jalan, Kak...!” ucapnya lirih dengan kedua mata yang berkaca-kaca. 
“Baik-baiklah kalian!” pesan Bobby seraya melepaskan pelukannya dan menghapus derai air mata Lara yang baru saja menetes.
Lara mengangguk dan mencoba tersenyum, kemudian tanpa ragu dia merapikan kerah baju Bobby yang dilihatnya agak miring. Bobby pun tampak tersenyum sebagai ungkapan terima kasihnya, dan tak lama kemudian dia sudah bergerak menuju taksi yang sejak tadi sudah menunggunya. Pada saat itu pandangan Lara tampak tak bergemingterus memperhatikan Bobby yang kini dilihatnya sudah do dalam taksi. Tak lama kemudian, dia melihat pemuda itu tampak melambaikan tangan kepadanya dan  juga kepada Randy. Hingga akhirnya, taksi yang ditumpangi Bobby berangkat dan menghilang di kegelapan malam.
“Duhai Laraku sayang... berbahagialah bersama sahabatku. Hari ini aku akan pergi jauh bersama cita-citaku untuk bisa melupakanmu. Dan aku tidak tahu, apakah aku bisa melupakanmu yang sudah begitu lekat di hatiku. Biarlah semua itu kuserahkan kepada waktu yang akan menjawabnya.”
Kini Bobby memandang ke luar jendela, memperhatikan lampu reklame yang berkelap-kelip ceria. Sungguh bertolak jauh dengan nuansa hatinya yang begitu sedih, karena terpaksa harus berpisah dengan sang pujaan hati.