E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Cahaya Bintang - Bagian 8

Delapan



Di siang yang cerah, ketika Bobby hendak pergi ke telaga untuk menjumpai Bintang. Tiba-tiba pemuda itu dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis yang selama ini dicarinya. “Win! Winda!” teriak pemuda itu seraya berlari menghampiri. “Win. Tunggu, Win!” tahan pemuda itu ketika mengetahui gadis itu akan menaiki sebuah angkot.
Mendengar namanya dipanggil, Winda pun segera menoleh. “Ka-Kak Bobby…,” ucap gadis itu terkejut seraya memperhatikan Bobby yang kini sudah berdiri dihadapannya.
“Win… ke mana saja kau selama ini? Ketahuilah, kalau selama ini aku sudah mencarimu ke mana-mana. Win, terus terang aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin menikah denganmu.”
“Kak...” kata gadis itu menggantung kalimatnya, saat itu dia tampak begitu berat untuk mengatakan hal sebenarnya. “I-itu tidak mungkin, Kak. Se-sebab…”
“Sebab apa, Win. Katakanlah!”
“Sebab… kini aku sudah menikah.”
“A-apa??? Ka-kau sudah menikah?” tanya Bobby hampir tak mempercayainya.
“Betul, Kak. Bukankah saat itu aku pernah mengatakan padamu, kalau aku terpaksa menolak cintamu dan meninggalkanmu karena sebab aku sudah mempunyai kekasih. Dan kekasihku itulah yang kini menjadi suamiku.”
Mendapat jawaban itu, hati Bobby pun langsung hancur berkeping-keping. Sungguh kini dia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk bisa bersanding dengan gadis yang begitu dicintainya.
“Maaf kan aku, Kak! Andai saat itu kau tidak memberi kesempatan padaku untuk mencintainya, tentu tidak demikian jadinya.”
“Iya aku tahu. Itu memang salahku. Saat itu aku memang lebih menuruti ego ketimbang hati nuraniku sendiri. Bahkan setelah kau memberitahukan perihal kekasihmu itu, aku pun hanya diam saja. Saat itu aku memang betul-betul bodoh. Andai saat itu aku sudah tahu ilmunya, tentu aku akan segera melamarmu. Bukankah saat itu pemuda itu belum menikahimu, jadi aku tentu masih mempunyai kesempatan.”
“Itu juga tidak mungkin, Kak.”
“Ke-kenapa tidak mungkin?”
“Se-sebab, yang menjadi pacarku adalah sahabatmu sendiri, Randy. Malah saat itu kami sudah bertunangan. Sebetulnya saat itu Randy ingin segera menikahiku, namun karena dia tahu ternyata kau sangat mencintaiku, akhirnya dia menundanya hingga kau menikah lebih dulu.”
“Ra-Randy???” ucap pemuda itu terkejut bukan kepalang. “Pantas selama ini dia tidak pernah cerita tentang pacarnya, dan dia malah berupaya menjodohkanku dengan Nuraini agar bisa melupakanmu,” kata pemuda itu melanjutkan.
Saat itu Bobby merasa iri dan begitu cemburu terhadap sahabatnya, namun di sisi lain dia bahagia karena ternyata gadis yang dicintainya itu mendapatkan seorang suami yang tampan dan baik hati, dialah Randy, sahabatnya sendiri, yang mana selama ini diduga telah mengkhianatinya. Kini pupus sudah harapannya, dan dia gagal mendapatkan gadis sebaik Winda, Gadis dengan inner beauty yang telah membuatnya jatuh cinta.
“Hmm... kini aku mengerti kenapa setelah peristiwa sandiwara lamaran itu Randy menghilang bak ditelan bumi, mungkin dia sudah buntu untuk mengalihkan pikiranku dari gadis yang ternyata telah menjadi belahan jiwanya. Jadi, selama ini aku sudah terlalu berharap untuk mendapatkan gadis yang begitu dicintai oleh sahabatku sendiri. Ah, sudahlah… semuanya sudah terjadi dan tak mungkin bisa terulang lagi,” kata Bobby dalam hati mencoba untuk mengikhlaskannya.
Tak lama kemudian, pemuda itu pun kembali berbicara dengan Winda, “Win… aku senang kalau ternyata kau sudah menikah dengan sahabatku. Dan aku doakan semoga kalian bisa terus berbahagia, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Eng… sudah saatnya kini aku mohon diri. Sebab, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” pamitnya kepada Winda. Namun, ketika Bobby baru melangkah beberapa meter, tiba-tiba.
“Kak, tunggu!” tahan Winda seraya menghampiri pemuda itu.
Seketika Bobby menghentikan langkahnya, kemudian berpaling memandang gadis yang kini sudah berdiri dihadapannya. “Ada apa, Win?” tanya pemuda itu heran.
“Kak, apakah kau mau kukenalkan dengan seorang gadis yang menurutku begitu baik? Saat ini, dia pun sedang mencari seorang suami. Kebetulan hari ini dia mau main ke rumahku, dan kau bisa segera berkenalan dengannya.”
“Eng, ti-tidak Win... Terima kasih,” tolak Bobby tidak mempercayai kalau ada gadis yang lebih baik dari gadis pujaannya itu.
“Ayolah, Kak! Aku mohon! Kau pasti tidak akan menyesal, dia itu cantik dan juga seorang gadis yang taat beribadah.”
“Kenapa kau begitu yakin kalau aku tidak akan menyesal. Lagi pula, belum tentu dia mau padaku.”
“Dia pasti mau. Sebab, aku sudah begitu mengenalnya. Andai pun kau tidak suka, kau boleh menjadikannya hanya sebagai teman”
“Hmm... baiklah. Aku rasa jika hanya berkenalan tentu tidak apa-apa.”
Lantas mereka pun segera menuju ke rumah Winda. Setibanya di sana, Bobby tampak terkejut karena di muka rumah tampak seorang gadis bercadar yang sedang duduk menunggu. Penampilannya sama persis dengan gadis yang sudah dikenalnya. “Bi-Bintang, benarkah kau itu Bintang?” tanya Bobby seakan tidak mempercayainya.
Kini Bobby, Winda, dan gadis bercadar itu sudah saling berhadapan. Saat itu Winda langsung memeluk dan mencium kedua pipinya. “Duhai sahabatku! Maafkan aku karena sudah membuatmu lama menunggu,” ucap Winda kepada gadis bercadar itu.
“Tidak apa-apa, duhai sahabatku? Aku juga baru tiba kok.”
“O ya, kenalkan ini temanku.”
“Hai, Kak Bobby!” sapa Gadis bercadar itu tiba-tiba.
Mendengar itu Bobby langsung yakin kalau dia adalah Bintang. “Bi-bintang… Ternyata kau memang Bintang. Aku betul-betul tidak menyangka kalau kau adalah sahabat Winda…?”
“Betul, Kak. Aku dan Winda sudah bersahabat lama.”
“Wah, ternyata kalian sudah saling mengenal rupanya,” komentar Winda tiba-tiba.
“Betul, Win. Aku bertemu dengannya di tepi telaga ketika aku sedang merenung.”
“Kalau begitu, berbincang-bincanglah kalian! Aku mau membuat minum dulu.”
Sepeninggal Winda, kedua muda-mudi itu tampak berbincang-bincang dengan akrabnya. Tak lama kemudian, Winda sudah kembali dengan membawa makanan dan minuman. “Ini silakan dinikmati makanan dan minuman ala kadarnya!” tawar Winda kepada kedua tamunya.
“O ya, Win. Ngomong-ngomong, Randy ke mana?” tanya Bobby kangen.
“Dia sedang keluar kota. Katanya sih, lusa akan kembali.”
“O ya, Win. Bisakah kau merahasiakan pertemuan kita ini, jangan sampai Randy mengetahuinya.”
“Untuk apa, Kak?” tanya Winda heran.
“Jika aku bertemu dengannya, aku mau bersandiwara bahwa aku masih mencintaimu. Terus terang, aku ingin memberi pelajaran padanya, yaitu dengan  membalas semua sandiwaranya yang telah memainkan perasan orang itu.”
“Tapi, Kak…”
“Please, Win…! Hanya itu permintaanku padamu.”
“Hmm… baiklah. Tapi ingat, jangan kau terlalu lama memainkan perasaannya.”
“Tidak akan. Percayalah padaku!”
Bintang yang sejak tadi terdiam, kini mulai ikut bicara. “O ya, Kak. Ngomong-ngomong apa kau sudah melamar kerja kembali?”
“Belum, Bintang. Hingga saat masih belum sempat memikirkannya.”
“Emm… memangnya apa yang masih kau pikirkan?”
“Banyak… banyak sekali. Sebelum bertemu denganmu aku hanya memikirkan soal pendamping. Namun sekarang, setelah perbincangan kita tempo hari di tepian telaga. Entah kenapa pikiranku jadi semakin bertambah kusut.”
“Lho… kenapa bisa begitu?”
“Ya, soalnya banyak sekali yang ingin aku lakukan. Namun, aku tidak tahu harus memulainya dari mana.”
“Kak, sebaiknya kau cari kerja dulu. Setelah itu baru kau melakukan segala keinginanmu yang lain, dan keinginan itu haruslah yang sesuai dengan kapasitasmu.”
“Bintang benar, Kak. Jika kau belum bekerja bagaimana kau bisa mewujudkan segala keinginanmu itu,” timpal Winda.
“Kalian benar. Sebab tidak mungkin aku mewujudkan semua itu hanya dengan mengandalkan uang pinjaman dari teman-temanku. Kalau begitu, besok aku akan mencoba melamar kembali di kantorku yang dulu, dan mudah-mudahan saja mantan bosku mau menerimaku kembali.”
“Baguslah kalau begitu, aku doakan semoga kau kembali diterima,” kata Bintang senang.
“Aku juga akan mendoakanmu, Kak,” timpal Winda juga ikut merasa senang.
“Terima kasih, Bintang, Winda. Kalian memang wanita yang baik.”
Ketiga anak manusia itu terus berbincang-bincang, hingga akhirnya Bobby dan Bintang pamit mohon diri. Saat itu, Bobby yang ingin sekali mengantar Bintang sampai ke rumah, namun dia langsung ditolak mentah-mentah. Sebab, Bintang khawatir tetangganya akan berpikiran macam-macam jika sampai melihatnya berjalan berdua dengan Bobby yang bukan muhrimnya. Karena alasan itulah, akhirnya Bobby mau mengerti.



Esok harinya, sepulang dari melamar pekerjaan, Bobby langsung menuju ke telaga. Saat itu dia sangat berharap bisa bertemu dengan Bintang dan dapat segera mencurahkan isi hatinya.  Namun sungguh disayangkan, ketika Bobby berada di tempat itu dia tak menjumpai Bintang. Lantas dengan kecewa pemuda itu duduk di bawah sebuah pohon yang rindang, memperhatikan seorang pemuda tua yang sedang mengendarai rakit bambu. Saat itu Bobby sempat membayangkan dia dan Bintang sedang berada di atas rakit itu, mengarungi indahnya telaga bersama-sama sambil memikirkan berbagai ciptaan Tuhan yang ada sekitar mereka.
“Kak Bobby!” seru seorang gadis tiba-tiba.
“Bi-bintang!” seru Bobby senang bukan kepalang ketika mengetahui gadis yang memanggilnya adalah Bintang. Lantas dengan segera pemuda itu berdiri menghampirinya.
“Apa kabar, Kak?” sapa gadis itu.
“Baik,” jawab Bobby singkat. “O ya, ini…” kata  Bobby seraya menyerahkan seikat bunga kepada gadis itu.
Bintang pun segera menanggapi bunga putih tanda persahabatan itu seraya menciumnya dalam-dalam. “Terima kasih, Kak. Kau baik sekali,” ucapnya kemudian.
“O ya, bunga itu juga sebagai ucapan terima kasihku atas doamu. Kini aku sudah diterima kembali di kantorku yang dulu. Malah bosku sangat senang aku mau kembali.”
“Benarkah yang kau katakan itu, Kak? Kalau begitu, aku ucapkan selamat,” ucap Bintang gembira.
“Terima kasih, Bintang. O ya, tunggu sebentar ya!” pinta Bobby seraya menghampiri pengendara rakit yang kini dilihatnya sedang menepi. Dan tak lama kemudian pemuda itu sudah kembali. “Bintang, maukah ikut denganku mengarungi telaga ini dengan rakit itu!” pinta Bobby kemudian.
“Aku takut, Kak!” kata Bintang sungguh-sungguh.
“Kau tidak perlu takut, Bintang. Rakit itu aman kok, percayalah!”
“Tapi, Kak.”
“Ayolah, Bintang. Sekali ini saja.”
“Eng, baiklah. Tapi hati-hati ya.”
“Beres…”
Lantas kedua muda-mudi itu segera menaiki rakit dan melaju mengarungi air telaga yang tenang. Kini mereka sudah berada di tengah telaga sambil menikmati pemandangan yang kali ini tampak berbeda dari yang mereka lihat sebelumnya. 
“Kak… pasti asyik ya jika memancing di tengah telaga seperti ini.”
“Memancing? Ka-kau suka memancing?” tanya Bobby hampir tak mempercayainya.
“Eng, ma-maksudku bukan aku, ta-tapi kaulah yang memancing. Sebab, aku senang melihat orang memancing.”
“O, aku kira kau yang suka memancing.”
“Kak… memangnya ada gadis yang suka memancing?”
“Ada. Salah satunya adalah gadis yang sudah mengecewakan aku, dia itu gadis tak bermoral yang begitu kubenci.”
“Hmm… memangnya apa yang sudah dilakukannya sehingga kau sampai begitu membencinya?”
“Ceritanya begini. Waktu itu…” tiba-tiba Bobby menghentikan kata-katanya.
“Wa-waktu itu kenapa, Kak?” tanya Bintang penasaran.
“Maaf, Bintang! Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Ingatlah, bukankah menceritakan aib orang itu tidak baik.”
“Kau betul, Kak. Menceritakan aib orang itu sama juga dengan membuka aib kita sendiri. Maafkan aku yang hampir saja membuatmu berbuat demikian!”
 “Tidak apa-apa, Bintang. Aku maklum, kita sebagai manusia terkadang memang suka lupa. Karena itulah, kenapa aku suka berteman denganmu. Sebab, kau gadis yang bijaksana. Selain kau suka mengingatkan aku, kau juga mau menerima apa yang aku ingatkan kepadamu.”
 “Itu karena aku menyadari kalau sesama saudara seiman memanglah harus saling mengingatkan.”
 “Bintang… coba kau lihat itu!”
Pandangan Bintang pun segera tertuju kepada sesuatu yang diberitahukan Bobby. “Hmm… Elang. Itu burung elang, Kak. Wah, aku betul-betul heran, kenapa burung itu bisa ada di wilayah ini ya?”
“Iya, itu memang burung elang. Namun yang menarik perhatianku bukanlah keberadaannya di tempat ini, sebab burung elang itu adalah burung peliharaan yang tadi kulihat dilepaskan oleh pemiliknya dari tepian telaga, tapi yang menarik perhatianku adalah untuk apa dia berputar-putar di atas telaga seperti itu?”
“Paling dia sedang mencari makan, Kak.” Jelas Bintang.
“Mencari makan kok hanya berputar-putar di udara seperti?”
“Dia itu sedang mencari target, Kak.”
“Target?”
“Ya, targetnya adalah ikan di telaga ini. Kalau kau mau tahu, sebenarnya penglihatan elang itu sangat tajam. Dia bisa melihat mangsanya dari tempat setinggi itu, dan kecepatan menukiknya pun sangat tinggi. Kecepatan seekor elang emas menukik hampir sama dengan kecepatan pesawat jet tempur ketika mendarat yaitu 240-320 km/jam.”
“Hebat, bagaimana mungkin dia bisa mempertahankan posisinya dalam kecepatan seperti itu?”
“Kak, burung itu bukan hanya bisa menjaga posisinya, namun juga bisa menangkap mangsanya dengan akurat dan tepat waktu. Lihatlah dia mulai menukik!”
Kedua muda-mudi itu tampak terpana dengan apa yang dilakukan oleh burung elang itu. Burung elang itu menukik dengan cepat, dan dengan cakarnya yang tajam dia berhasil mencengkram seekor ikan yang cukup besar.
Bobby tampak geleng-geleng kepala, “Sungguh luar biasa, pengaturan waktu, jarak, dan juga kecepatan yang sangat mengagumkan. Aku saja ketika memainkan simulator pesawat tempur sangat kesulitan ketika harus mendaratkan pesawat di atas landasan kapal induk yang terus bergerak. Padahal, saat itu aku sudah dibantu dengan berbagai peralatan navigasi. Coba kau pikirkan, seekor ikan yang mau mengambil udara kan cepat sekali. Bagaimana dia bisa begitu akurat mengukur jarak dirinya dengan jarak ikan itu tanpa bantuan alat apa pun, apalagi dia begitu mudahnya mengontrol kecepatannya yang begitu tinggi.”
“Itulah kuasa Tuhan, Bob. Yang mana telah menciptakannya sedemikian rupa. Sebenarnya burung itu sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan super canggih ciptaan Tuhan,” jelas Bintang yang begitu mengagumi Sang Pencipta.
Begitulah yang selama ini dilakukan oleh muda-mudi itu jika mereka bertemu, keduanya selalu memperbincangkan ciptaan Tuhan  yang tampak luar biasa. Terkadang, Bobby pun suka heran dengan sikap Bintang yang selalu mau menemaninya. Padahal dia sudah tahu, kalau tidak sepantasnya pemuda dan gadis yang bukan muhrimnya untuk berduaan seperti yang mereka lakukan sekarang. Apalagi Bintang itu gadis yang taat agama, yang tentunya juga memahami hal itu. Bukankah waktu itu, ketika dia mau mengantarnya pulang sampai ke rumah, Bintang menolaknya mentah-mentah lantaran takut ada orang yang akan berpikiran macam-macam. Tapi entah kenapa, justru di tempat sepi seperti ini dia tak mempedulikan semua itu. Betul-betul sungguh mengherankan. Apakah dia melakukan itu karena menganggap Bobby hanyalah sebagai seorang sahabat, yang tak akan berani berbuat kurang ajar kepadanya, yaitu dengan meminta yang tidak-tidak, seperti yang biasanya dilakukan seorang pemuda kepada pacarnya karena merasa sudah memiliki. Padahal sesungguhnya, bisa saja hal itu menimbulkan fitnah yang akan mencelakakan keduanya karena tergoda oleh bisikan setan yang menyesatkan.
Semula, Bobby pun sempat ragu mengenai prilaku Bintang yang demikian, apa betul Bintang itu memang seorang gadis yang taat agama. Jangan-jangan dia itu seperti Nuraini, gadis yang menurut Bobby begitu munafik dan sangat lihai bersembunyi di balik topengnya yang sempurna. Namun akhirnya pemuda itu bisa memaklumi, bahwa semua itu bisa terjadi karena sebab di negeri ini seorang gadis memang boleh bebas berkeliaran ke mana saja tanpa perlu didampingi oleh muhrimnya. Dan karena sebab itulah, Bobby tidak mau ambil pusing memikirkannya. Walaupun pada hati kecilnya dia merasa risih juga karena apa yang dilakukannya bersama Bintang itu bisa membuat citra berbusana yang dikenakan Bintang menjadi ternoda. Seperti ketika dirinya menilai kalau Bintang mungkin saja seorang gadis yang munafik yang bersembunyi di balik topengnya yang sempurna. Sungguh dilema, akibat tidak adanya peraturan yang melindungi citra berbusana seperti itu, dan juga peraturan yang melindungi gadis dari fitnah dunia, maka orang pun bisa berpikiran macam-macam. Padahal apa yang tampak di mata, belum tentu sama dengan yang tergambar di dalam hati.