E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Duka Lara - Bagian 10

Sepuluh



Langit menghitam seiring dengan angin yang terus berhembus. Pada saat itu di bawah pohon nan rindang, seorang gadis tampak duduk termenung. Pikirannya begitu kalut, terbayang akan masa depan yang begitu gelap, seperti gelapnya awan yang ada di atas kepalanya. Kini gadis itu menatap goresan-goresan yang melekat erat pada batang pohon di dekatnya, goresan-goresan itu membentuk dua baris nama yang di antaranya terdapat gambar hati. Bobby love Lara begitulah bunyi goresan-goresan itu.
Tiba-tiba saja, gadis yang bernama Lara itu beranjak bangun, kemudian melangkah ke tepian sungai yang tak begitu jauh. Dia duduk di sebuah batu sambil memeluk kedua kakinya yang menyiku, sedangkan kepalanya tampak tertundukbersandar pada kedua lututnya. Pada saat itu, sayup-sayup terdengar isak tangis yang cukup memilukan. Gadis itu menangis, kedua matanya basah oleh air mata yang seakan tak mau berhenti.
Lara terus menangis. Sementara itu di langit, awan sudah semakin gelap, dan sebentar lagi hujan lebat pasti akan turun menyiram bumi. Benar saja, dalam waktu singkat hujan sudah turun dengan lebatnya. Angin yang mengiringinya berhembus kencang, membuat butiran-butiran hujan terasa agak sakit. Saat itu Lara masih belum beranjak dari duduknya, dia terus menangis di bawah siraman hujan yang semakin lebat saja.
Tiba-tiba halilintar menjilat sebuah pohon yang tak begitu jauh, suara ledakannya begitu dasyatmembaur dengan derasnya hujan dan deru angin yang semakin menjadi-jadi. Mendengar itu, Lara tersentak kaget, kemudian dengan serta-merta gadis itu beranjak bangun dan berlari menuju ke sebuah saung yang tak begitu jauh.
Di saung itulah Lara duduk bersendekap, saat itu tubuhnya tampak menggigil kedinginan, sedang bibirnya yang pucat tampak bergetar bersamaan dengan gemeretak giginya. Di dalam kedinginan yang menusuk itu, gadis itu masih saja menangis memikirkan suaminya yang dituduh sebagai ‘teroris’ telah diberitakan tewas oleh media-media yang ada di Indonesia. Kini di benak gadis itu terbayang kembali peristiwa yang menyedihkan itu, dimana orang yang dicintainya itu terkapar dengan sebilah sangkur yang menancap di punggungnya. Dan kejadian itu terjadi persis di depan matanya, seusai dia menyampaikan kebenaran yang ternyata memang sangat pahit akibatnya, dan dia menduga karena kebenaran yang disampaikan itulah suaminya jadi terbunuh. Andai waktu itu dia membiarkan Bobby membunuh penjahat itu tentu tidak seperti itu jadinya. Sungguh duka Lara yang mendalam itu sudah membuat budinya menurun, bahkan akal sehatnya pun seperti sudah tak bisa digunakan lagi. Di dalam benaknya hanya ada dukalara yang sulit dihilangkan, terasa pilu dan membuatnya semakin tidak mempercayai akan makna kebenaran. Di saat itulah, akhirnya setan membisikkan sesuatu yang menyesatkan sehingga Lara berniat melepas segala dukalaranya dengan menyusul sang Suami yang diduganya sedang menunggu di alam baka.
Usai hujan, Lara kembali keluar, kemudian dipandangnya pepohonan dan rerumputan yang tampak basah, tanah yang digenangi air, serta beberapa hewan kecil yang merayap. “Huff...!” gadis itu menarik nafas panjang, dan tak lama kemudian dia mulai melangkahperlahan namun pasti, menuju ke bibir jurang yang jika memandang pada kejauhan akan terlihat pemandangan yang begitu indah. Tak lama kemudian, gadis itu pun tiba di tempat itu. Sejenak kedua matanya memandang indahnya lembah yang sedikit tertutup kabut.
Kini gadis itu tampak terpejam, wajahnya yang manis tampak pucattak ada gairah kehidupan. “Oh Tuhan... apa yang mesti aku lakukan?”
Suasana hati semakin terasa kelam, dan kesedihan semakin mendalam. Saat itu sepertinya tak ada seorang pun yang mampu mengobati dukalaranya, dan tak seorang pun yang bisa menghentikan niat sesatnya. Hanya pertemuan kepada suami tercintalah yang diharapkan bisa meredam segala dukalaranya. Kini gadis itu tampak memandang curamnya jurang yang menganga bersamaan dengan air matanya yang kembali berderai.
“Selamat tinggal orang-orang yang kucintai, selamat tinggal dunia yang fana, dan selamat tinggal penderitaan. Duhai suamiku tercintakekasih belahan jiwa, sambutlah kedatangaku ini!”
Begitu gadis itu hendak melompat, tiba-tiba… “Apa yang hendak kau perbuat sayang....? Kenapa kau mau meninggalkan aku?” tanya seorang pria yang pada saat itu menggenggam tangannya erat, sebuah genggaman tangan yang kekar.
Seketika Lara menoleh, dan saat itu dia tak mampu berkata. Hanya air matanya yang bicara, seperti kebahagiaan yang tiada terkira. Rupanya kini dihadapannya telah berdiri seorang pria tampan yang selama ini disangkanya sudah tiada.
“Kenapa sayang...? kenapa kau memandangku seperti itu? Apakah kau tak merindukanku?” tanya Bobby seraya tersenyum.
“Ka-Kakak...! Ka-kau ma-masih hidup?”
“Emm... apakah saat ini aku terlihat seperti hantu?”
“La-lalu yang diberitakan itu?“
“Begitulah pers. Begitu mendengar kabar tentang kematianku, mereka pun langsung menyebarluaskannya.  Padahal pada saat itu aku cuma mati suri.”
“Benarkah?” Lara hampir tak mempercayainya. “Hmm… Andai saja waktu itu polisi mengijinkanku melihatmu di rumah sakit, tentu aku tidak akan berbuat seperti ini.”
“Ya, mereka melakukan itu demi mengamankan aku,” kata Bobby seraya menceritakan perihal kejadian yang membuatnya bisa selamat. Ternyata sangkur yang menancap di punggungnya hanya menggangu syaraf motorik dan menyebabkannya mengalami kelumpuhan sementara dan kemudian berkembang menjadi mati suri.
“Begitulah ceritanya, Sayang... Hingga akhirnya aku pun sembuh dan diizinkan pulang.”
“Oh, Kak. Aku benar-benar bahagia mengetahui kenyataan ini.”
“Aku juga, Sayang…dan itu semua karena berkat pertolongan Tuhan. O ya, ngomong-ngomong aku dengar para penjahat itu sudah mati.”
“Ya, itu semua karena rasa cinta Rahman yang besar kepadaku. Dan karena rasa cintanya itulah, dia rela berkorban untuk menyelamatkan aku. Kasihan Rahman, kini dia harus mendekam dipenjara karena dituduh main hakim sendiri.”
“Ya, kasihan sekali dia. Semoga dia lekas dibebaskan dan kembali menjalani hari-harinya dengan penuh suka cita.”
“O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kenapa setelah sembuh polisi tidak menahanmu?”
“Siapa bilang aku tidak ditahan. Setelah sembuh aku langsung ditahan aparat selama seminggu. Namun akhirnya aku dibebaskan karena terbukti memang tidak bersalah. Semua itu karena Rizky temanku yang ‘teroris’ itu, ternyata dia pun selamat dari ledakan itu. Dan dialah yang telah menjelaskan perihal siapa aku sebenarnya, selain itu dia pun menyerahkan beberapa dokumen yang semakin menguatkan pernyataannya itu. Hingga akhirnya polisi betul-betul yakin kalau aku ini memang tidak terlibat.”
“Kasihan sekali temanmu itu. O ya, ngomong-ngomong apakah kau tahu kenapa dia bisa terlibat dengan jaringan ‘teroris’ itu?”
“Tentu saja, soalnya Rizky sempat menceritakan semua itu ketika kami sama-sama diintrogasi.” Bobby pun segera menceritakan mengenai keterlibatan Rizky.
Dulu, ketika pemuda itu masih di dalam tahanan karena bisnis illegal. Dia bertobat dan bertekad untuk memperbaiki kehidupannya dengan mencari jalan kebenaran. Hingga akhirnya dia bertemu dengan teman lamanya dan diajak bergabung ke dalam sebuah pengajian yang saat itu menurutnya bagus sekali karena mengajarkan konsep ajaran agama yang sangat sesuai dengan hati nuraninya. Iming-iming untuk mencari jalan kebenaran itulah yang membuatnya bertekad untuk terus mengikuti pengajian itu, hingga akhirnya dia direkrut sebagai seorang ‘teroris’. Motivasinya saat itu adalah keyakinannya yang kuat sebagai bentuk penghambaannya kepada Tuhan untuk memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Karenanyalah dia pun berniat untuk mengajakku bergabung karena dia mengetahui kondisi kejiwaanku yang saat itu sedang labil dan sangat membutuhkan pegangan untuk memaknai kehidupan ini dengan sebenar-benarnya.“
“Kak, andai saat itu polisi tidak menggerebek rumah itu, apa sekarang kau juga sudah menjadi ‘teroris’.”
“Tidak semudah itu, Sayang... Konsep jihad yang diajarkan itu sama sekali tidak sejalan dengan hati nuraniku. Bagaimana mungkin aku tega menghilangkan nyawa manusia yang tak tahu-menahu demi untuk tujuan yang mulia. Aku masih meyakini pemahaman yang dulu diajarkan oleh guruku, yaitu selama air masih bisa untuk memadamkan api sebaiknya jangan menggunakan api untuk memadamkan api. Kecuali jika air memang sudah tidak mampu memadamkan api, barulah api yang terkendali boleh digunakan untuk memadamkan api. Apalagi dengan konsep bom jihad, aku sama sekali tidak sependapat. Terus terang, hati nuraniku belum bisa menerima konsep itu sebagai bentuk jihad. Karena konsep itu masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama, yaitu antara bunuh diri dan kondisi perang fisik, keduanya mempunyai dasar yang sama-sama kuat. Kata guruku, sebaik-baiknya mengambil sikap adalah meninggalkan segala bentuk yang masih menjadi keraguan. Contohnya seperti bunga bank, orang yang percaya bunga bank itu halal maka ia tidak akan merasa berdosa karenanya. Begitu pun sebaliknya, orang yang meyakini kalau bunga bank itu adalah riba dan haram hukumnya, maka ia akan meninggalkannya. Dan langkah yang paling aman adalah meninggalkannya, sebab andai bunga bank itu memang halal maka ia tidak berdosa, dan jika ternyata bunga bank itu memang haram jelas ia pun tidak akan berdosa. Karenanyalah sebagai manusia yang berakal, manusia wajib mencari alternatif yang dapat menjembatani kedua keyakinan itu. Dalam hal bunga bank ini, dibuatlah konsep Bank Syariah yang diklaim sudah tidak ada lagi keraguan di dalamnya (walau masih jauh dari sempurna). Sebab kalau tidak, orang-orang yang ragu dan meninggalkan bunga bank tentu akan menjadi bingung dan tidak tahu ke mana ia harus menyimpan uangnya. Inilah yang dinamakan win win solution. Orang yang meyakini bunga bank halal maupun yang meyakininya haram akhirnya bisa bersama-sama menabung di Bank Syariah.
Andai dalam masalah ‘teroris’ ini juga dijembatani dengan cara win win solution mungkin tidak ada lagi orang yang berkeinginan untuk menjadi ‘teroris’. Sebab, para pejuang keadilan ‘teroris’ adalah orang yang peduli terhadap orang lain, dan mereka sama persis dengan orang yang percaya kalau bunga bank itu halal. Sedangkan para pejuang keadilan ‘muslim sejati’ adalah orang yang juga peduli terhadap orang lain, dan mereka sama persis dengan orang yang percaya bunga bank itu haram. Mereka ‘muslim sejati’ betul-betul bingung dan tidak tahu bagaimana caranya memperjuangkan rasa kepeduliannya itu. Jika mereka tak segera dicarikan solusi maka akan ada dua kemungkinan, menjadi ‘teroris’ (terpaksa menabung walaupun ia tahu bunga bank itu haram) atau membuang rasa kepedulian terhadap sesama alias masa bodo (tidak menabung).”
“Eng… lalu jika tidak ada solusinya, maka dari kedua kemungkinan itu manakah yang Kakak pilih?”
“Tidak kedua-duanya. Aku adalah ‘muslim sejati’, dan aku akan terus memperjuangkannya melalui perang pemikiran yang islami dan juga lewat perang kebudayaan yang islami sambil terus menunggu kemunculan Imam Mahdi. (menabung di rumah sambil terus menunggu adanya konsep Bank Syariah).”
“Syukurlah kalau Kakak berpandangan demikian. Sebab, semula aku sempat khawatir kalau kakak akan menjadi ‘teroris’.”
“Kini kau tidak perlu khawatir lagi, Sayang... Aku berkeyakinan biarlah mereka memperjuangkan kebenaran dengan cara mereka, dan aku dengan caraku. Pokoknya selama aku masih bisa memperjuangkannya dengan cara yang lembut, maka aku pun merasa berkewajiban untuk menggunakan cara yang lembut itu.”
“Janji ya, Kak! Kalau kakak akan memperjuangkannya dengan cara yang lembut itu.”
“Insya Allah Sayang... Doakanlah aku agar senantiasa bisa konsisten. Pokoknya  selama aku masih bisa menabung di rumah karena masih aman dan tidak menyulitkan, dan juga selama masih ada air yang bisa memadamkan api tentu aku akan terus berjuang dengan cara demikian. O ya, ngomong-ngomong siapa sebenarnya otak dari pembunuhan Randy? ”
“Mmm... Dia itu Pak Sasongko, Kakorang yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi penari professional. Namun ternyata itu cuma alasan saja, karena niat yang sesungguhnya dia itu menginginkan aku.”
Lara pun menceritakan kejadian itu. Waktu itu sekitar pukul 10 malam, ketika Lara baru selesai menari di sebuah gedung kesenian. Sasongko menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Namun sungguh tidak disangka-sangka, ternyata pemuda itu bukan saja mau mengeksploitasi bakatnya tapi justru lebih dari itukeindahan tubuh Lara yang setiap kali dilihatnya saat menari telah membuatnya betul-betul ingin menikmatinya lebih dari sekedar gerakan tari.
Ketika di tengah perjalanan, Lara sempat menyadari kalau mobil yang ditumpanginya tidak menuju ke arah rumahnya.  “Pak, kita mau ke mana?” tanya Lara heran.
“Kita mampir dulu sejenak ke rumahku, kebetulan di rumahku ada sampanye untuk merayakan kesuksesan pertunjukan tadi.”
“Tapi, Pak. Aku tidak suka minum, lagi pula ini kan sudah terlalu malam.”
“Kau jangan khawatir, Dik. Kau tidak perlu minum, kita hanya bersulang saja. Dan aku janji akan mengantarmu pulang sebelum jam dua belas.”
“Betul ya, Pak. Soalnya besok pagi aku harus ke Jakarta. Terus terang aku tidak mau sampai terlambat karena aku sudah mengabarkan untuk menjemputku tepat waktu.”
Pak Sasongko mengangguk. Lalu tanpa curiga, Lara pun akhirnya mau diajak mampir. Hingga akhirnya pemuda yang sudah sangat bernafsu itu segera memaksa Lara untuk mau tidur bersamanya. Kontan saat itu Lara menolak dan akhirnya berhasil melarikan diri. Dan setelah kejadian itu, Lara memutuskan untuk keluar dari sanggar tari yang belakangan diketahui hanya sebagai kedok demi untuk menikmati gadis-gadis molek yang ingin menjadi penari terkenal. 
“Begitulah ceritanya, Kak. Hingga akhirnya Randy tewas di tangan anak buah Sasongko. Dan setelah kejadian itu, aku pun memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan mencarimu ke Bandungtempat di mana orang tuaku bilang kalau kau tinggal di sana. Dan akhirnya, kita bertemu di stasiun ketika aku kembali dari kota itu.”
Kini suami-istri itu tampak berpelukan. Saat itu mereka betul-betul bahagia karena sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan semua hal yang masih membingungkan kini terungkap sudah.
"O ya, Kak. Ngomong-ngomong dari mana kau tahu aku berada di sini?”
“Aku tahu dari orang tuamu, juga dari paman dan bibimu.”
Bobby pun segera menceritakan peristiwa yang dialaminya, yaitu pada saat dia ingin sekali bertemu dengan istrinya itu, hingga akhirnya dia berhasil tiba di tempat itu pada saat yang tepat. Beberapa jam yang lalu, ketika tahu Lara pergi ke tempat yang paling berkesan untuknya, Bobby segera mengendarai sebuah jeep yang dipinjamnya dari sang Paman dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jeep itu terus melaju menyusuri jalan tanah yang berdebu. Pada saat itu cuaca tampak kian memburuk. Awan hitam tampak berarak menyelimuti angkasa, sedangkan angin kencang terus berhembus hingga membuat beberapa pohon tumbang dan hampir saja menimpa mobil yang dikendarainya.
”Apapun yang terjadi aku harus segera menemuinya. Oh Lara, aku datang untuk menghilangkan semua dukamu...”
Jeep terus melaju, sementara itu hujan lebat sudah mulai turun. Jalan yang semula berdebu dengan cepat berubah menjadi jalan yang sangat licin. Beberapa kali jeep yang dikendarai Bobby sempat tergelincir dan terjebak di kubangan, dan karena usaha yang gigih akhirnya dia berhasil melewatinya. Ketika melewati sebuah tikungan tiba-tiba dilihatnya sebuah sungai dengan jembatan yang sudah ambruk tampak terbentang di depan mata. Tak ayal, Bobby pun terkejut seraya berusaha menghindar dengan menginjak pedal rem dalam-dalam. CIEEET... Jeep yang dikendarainya mendadak kehilangan kendali, jeep itu tampak berputar di jalan yang licin dan berlumpur sampai beberapa kali. Hingga akhirnya jeep itu berhenti persis di tepian sungai. ”Oh Tuhan. Terima kasih... kau telah menyelamatkan aku,” ucapnya.
Kini pemuda itu mulai menyeberangi sungai dengan hati-hati. Kabel baja yang ada di mobil jeep-nya dimanfaatkan untuk membantunya menyeberangi sungai. Ketika pemuda itu sedang berada di tengah-tengah sungai, tiba-tiba alirannya yang sangat deras itu sempat membuat tubuhnya terseret sampai beberapa meter. Namun pemuda muda itu tidak mau menyerah, dia terus berusaha dan berusaha. Hingga akhirnya dia bisa tiba di seberang dengan selamat.
Tak lama kemudian pemuda itu sudah melangkah menyusuri jalan yang licin dan becek. Pemuda itu terus melangkah dan melangkah di bawah guyuran hujan yang begitu lebat, hingga akhirnya hujan itu pun berhenti disaat pemuda itu sudah tidak begitu jauh lagi ke tempat tujuan. Setibanya di tempat tujuan, dia melihat Lara yang sedang berdiri di bibir jurang. Saat itulah Bobby buru-buru menghampiri istrinya dan langsung menahan tindakannya yang tidak semestinya itu.
Setelah mendengar cerita itu, Lara sangat terkesan dengan perjuangan suaminya yang gigih ingin menemuinya. Andai saat itu suaminya tidak segera menemuinya mungkin ia sudah berada di alam kubur sendirian dan tidak akan bertemu untuk selamanya.




Esok malamnya setibanya di Jakarta, Bobby dan Lara tampak sedang menonton televisi. Kali ini berita yang mereka tonton adalah pelurusan mengenai berita miring tentang dirinya, yang selama ini di tuduh sebagai ‘teroris’. Begitulah pers yang baik dan betul-betul professional, sangat berimbang dan tidak berpihak kepada pihak mana pun. Juga selalu konsisten untuk tidak mau diperalat sebagai alat propaganda.
Kini Bobby sudah bisa hidup tenang di masyarakat, dan dia pun sudah tidak khawatir lagi akan dibenci oleh orang-orang yang dikenalnya. Itu semua berkat namanya yang sudah dibersihkan oleh pers yang mana sebelumnya sudah begitu memojokkannya. Dia sangat bersyukur karena masih ada keadilan di negeri ini, sebab kalau tidak mungkin dia pun akan menjadi seorang ‘teroris’.
"O ya, Kak. Ngomong-ngomong, saat ini aku ingin sekali makan tongseng. Tolong belikan aku ya, Kak!”
“Untukmu, aku akan membelikannya dengan senang hati, Sayang...”
Tak lama kemudian, Bobby sudah mengendarai sepeda motornya menuju ke penjual tongseng yang menjadi langganannya. Setibanya di sana, pemuda itu segera memesan dua porsi dan langsung duduk menunggu. Saat itu, dia mendengar dua orang pengunjung yang dulu pernah membicarakannya kini kembali membicarakan perihal dirinya.
“Aku betul-betul tidak menyangka, ternyata dia memang tidak terlibat.”
“Ya itu semua karena dia mempunyai teman yang seorang ‘teroris’.”
“Untung saja waktu itu aku tidak langsung menghakiminya. Sebab kalau tidak, aku pasti berdosa karena telah berprasangka buruk padanya.”
“Kau betul. Sebagai orang awam kita wajib menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Karenanyalah mengenai perkara benar atau salah, biarlah hukum yang menentukan. ”
“Ya aku setuju. Sebab jika ternyata tersangka itu memang bersalah kita tidak menjadi berdosa karenanya, dan jika dia memang tidak bersalah kita pun tidak menjadi berdosa karenanya.”
Kedua orang itu terus membicarakan perihal Bobby, hingga akhirnya tongseng yang dipesan Bobby selesai dibuat. Tak lama kemudian, Bobby pun segera meninggalkan tempat itu. Hingga akhirnya pemuda itu tiba di rumah dan langsung menikmatinya bersama sang Istri.
“Kak, sekarang aku semakin bertambah gemuk ya?” tanya Lara seraya memasukkan tongseng ke dalam mulutnya..
“Wajarlah, kau ini kan sedang hamil. Kalau kau tidak banyak makan, kasihan anak kita yang masih dalam kandungan itu. Dia itu kan juga membutuhkan suplai makanan untuk pertumbuhannya.”
“Kau betul, Kak. O ya, ngomong-ngomong kenapa tongsengmu tidak kau habiskan?” tanya Lara.
“Aku sudah cukup kenyang, Sayang....”
“Kalau begitu, biar aku yang habiskan ya?”
Bobby mengangguk, sedang di bibirnya tampak tersungging sebuah senyuman. Pria itu terus memperhatikan calon ibu dari anaknya itu, yang kini tampak bersemangatmenghabiskan sisa tongseng miliknya.
“Habis sudah! Hmm... tongseng ini memang benar-benar enak. Emm... kenapa kau senyam-senyum sendirian, Kak?” tanya Lara heran.
"Tidak kenapa-napa, Sayang.... Aku cuma lagi bahagia, kelak jika anakku lahir dia mungkin akan jadi gemuk dan sehat.”
“Kenapa kau bisa menebak demikian, Kak.”
“Tentu saja, ibunya kan makannya banyak tentu suplai makanan untuk bayi kita pun banyak.”
“Kau ini ada-ada saja, Kak. Memangnya ada hubungannya ibu yang makan banyak dengan anak yang dikandungnya.”
“Tentu saja, apa lagi jika kau cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung DHA, kolin, dan asam folat, tentu bayi kita kelak tidak hanya gemuk dan sehat, namun dia juga akan menjadi anak yang cerdas.”
"O ya, Kak. Ngomong-ngomong, kau ingin anak kita laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja, yang terpenting dia mau berbakti kepada kedua orang tuanya dan berguna untuk agama, nusa dan bangsa.”
“Kalau aku sih kepingin anak laki-laki, sebab jika sudah dewasa dia tentu akan menjadi pemuda yang tampan sepertimu dan senantiasa akan melindungi kita di saat masa tua nanti.”
”Kenapa tidak anak perempuan saja? Sebab jika sudah dewasa dia tentu akan menjadi anak yang cantik sepertimu dan dengan perasaannya yang lembut tentu dia akan senantiasa memperhatikan dan menyayangi kedua orang tuanya.”
“Tidak, Kak. Aku tetap mau anak laki-laki, karena anak laki-laki lebih banyak kelebihannya ketimbang anak perempuan. Lagi pula, jika mempunyai anak perempuan aku merasa khawatir. Sebab, jika kelak ia dewasa mungkin akan dicelakakan orang. Soalnya sistem di negeri ini masih belum mampu melindungi kaum petempuan yang lemah. Terus terang, aku bisa menilai demikian karena aku mengalaminya sendiri, sungguh sesuatu yang semula kuanggap baik tapi ternyata justru hampir membuatku celaka. Dulu aku memang sudah begitu dibutakan oleh berbagai informasi yang kupikir baik tapi ternyata justru sebaliknya. Kini aku menyadari, kalau sebaik-baiknya informasi adalah yang bersumber dari-Nya.”
“Sudahlah istriku tercinta...! Sebaiknya kita tidak perlu berpolemik! Langkah terbaik yang harus kita tempuh sekarang adalah aksi yang nyata. Pokoknya apapun jenis kelamin anak kita nanti, kita wajib memberikan kasih sayang dan pendidikan yang baik kepadanya. Soal menjadi apa dia kelak, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Yang terpenting, selama proses itu kita harus terus berusaha dan berusaha agar dia menjadi anak yang berbakti dan bisa memaknai perannya di dunia ini. Namun, kita pun wajib memperjuangkan apa yang menjadi haknya dengan cara yang santun.“
“Kak, ngomong-ngomong... sampai kapan kita akan menggunakan cara seperti itu? Sedangkan di luar sana, korban terus saja berjatuhan seiring dengan waktu yang terus berjalan.”
“Bersabarlah, Sayang... biarlah waktu yang akan menjawabnya.”
Akhirnya sepasang suami istri itu sepakat untuk terus berusaha agar senantiasa berani dan tegar dalam menjalani kehidupan ini. Mereka pun tidak akan berhenti untuk berjuang dengan cara yang santun demi masa depan orang-orang yang mereka cintai. Di dalam lubuk hati mereka yang terdalam, keduanya terus memohon kepada Tuhan agar senantiasa para pemimpin di berikan jalan keluar yang terbaik, sehingga bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang dirahmati Tuhan, penuh dengan keberkahan dan seluruh rakyatnya makmur sentosa.





Assalam….

Mohon maaf jika pada tulisan ini terdapat kesalahan di sana-sini, sebab saya hanyalah manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Saya menyadari kalau segala kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, dan segala kesalahan tentulah berasal dari saya. Karenanyalah, jika saya telah melakukan kekhilafan karena kurangnya ilmu, mohon kiranya teman-teman mau memberikan nasihat dan meluruskannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak.
Akhir kata, semoga cerita ini bisa bermanfaat buat saya sendiri dan juga buat para pembaca. Amin… Kritik dan saran bisa anda sampaikan melalui e-mail bangbois@yahoo.com

Wassalam…


[ Cerita ini ditulis tahun 2006 ]