E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Sayap Bidadari Bagian 5 [ Penantian Yang Menjemukan ]

LIMA
Penantian Yang Menjemukan


Brum! Brum! Bruuummm! Bobby tampak melaju dengan sepeda motornya menuju ke rumah Raka. Kini dia sudah kembali melakukan aktifitasnya sebagai manusia yang mempunyai kesibukan, bahkan kini dia sudah tidak terlalu memikirkan Angel dan Wanda. Maklum, belakangan ini kehidupannya jadi terbengkalai cuma gara-gara memikirkan soal jodoh. 
"Ka, kau sudah bertemu dengan Aldo?" tanya Bobby.
"Belum, memangnya kenapa?" Raka balik bertanya.
"Tidak... Aku cuma tahu saja mengenai naskah terakhirnya. Soalnya belum lama ini dia datang ke rumahku dan memperlihatkan sebuah kerangka cerita anak-anak. Jika kulihat dari kerangkanya sepertinya seru juga, yaitu mengenai petualangan lima orang anak yang kesemuanya berbeda agama. Aku jadi penasaran, seperti apa ya jadinya? Sekarang kita ke rumahnya yuk!"
"Wah, Sorry nih. Satu jam lagi aku harus sudah berada di warnet. Biasa… Ada masalah dengan jaringan," tolak Raka.
"Ya sudah kalau begitu. Eng… Bagaimana jika setelah membetulkan jaringan saja kita ke sana?"
"Eng, kalau kau memang mau menunggu sih tidak apa-apa. Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!"
Lantas ke dua pemuda itu pun berangkat menuju warnet. Setibanya di tempat tujuan, Raka langsung melakukan tugasnya membetulkan beberapa komputer yang jaringannya sedang bermasalah. Pada saat yang sama, Bobby tampak asyik berbincang-bincang dengan seorang penulis senior yang memang sering berkunjung ke warnet itu. Maklumlah, penulis senior itu sengaja datang ke warnet lantaran dia gaptek alias gagap teknologi. Seperti waktu itu misalnya, ketika dia hendak memindahkan data dari PDA terbarunya ke komputer, saat itu dia betul-betul bingung dengan berbagai fitur yang ada. Namun karena di tempat itu ada operator warnet yang sudah mengusai, maka dia pun menjadi terbantu.
"Lagi upload naskah baru, Pak?" tanya Bobby.
"Iya, nih. Soal kerusakan situs bersejarah karena gempa tempo hari. O ya, sekarang lagi menulis apa?"
"Biasa, Pak. Masih cerita fiksi."
"Good! Teruskan saja! O ya, yang lalu sudah terbit belum?"
"Belum, Pak. Masih proses. Tapi sepertinya sih bakal ditolak lagi."
"Huss! Jangan fesimis begitu. Itu artinya kau tidak yakin kalau karyamu itu bagus. Padahal kesuksesan seorang penulis itu dikarenakan dia meyakini betul kalau karyanya itu memang bagus. Kau kan tahu kalau penerbit bukan cuma satu, tapi ada banyak. Jika kau sudah tidak yakin dengan karyamu sendiri, bagaimana mungkin kau percaya diri untuk mengajukannya ke penerbit yang lain. Iya kan?"
"Bapak betul. Enam karyaku yang dulu ditolak kini cuma jadi konsumsi teman-teman dekatku, dan itu lantaran aku sudah memfonis kalau karyaku itu memang tidak pantas terbit. Maklumlah, sebab pihak penerbit mengatakan kalau karyaku itu belum memenuhi standard. Dan karenanyalah, aku jadi tidak yakin kalau karyaku akan diterima oleh penerbit lain. Terus terang saja, saat ini aku memang masih belum mengerti tentang standard yang harus dipenuhi pada setiap penerbitan. Andai saja pihak penerbit mau mengemukakan alasannya dengan lebih jelas, mungkin akan lebih membantu."
"Anak muda... Ketahuilah! Standard setiap penerbit itu berbeda-beda, dan itu tergantung dari visi dan misi mereka dalam menerbitkan sebuah buku. Jika karyamu ditolak karena tidak sesuai dengan standard mereka, itu artinya karyamu tidak sejalan dengan visi dan misi mereka. Karenanyalah... Kau harus mencari penerbit lain yang mempunyai visi dan misi sama sepertimu. Jika tidak... Itu artinya kau cuma membuang-buang waktu."
"O, jadi begitu... Berarti, penerbit yang selama ini kupercaya, ternyata tidak mempunyai visi dan misi yang sama denganku. Dan itu artinya, mereka tidak sejalan dengan perjuanganku dalam upaya menegakkan kebenaran."
"Tepat, begitulah kira-kira... Maklumlah, bukankah setiap manusia itu mempunyai ideologi yang berbeda-beda, dan karena itu pulalah yang menyebabkan karyamu dinilai tidak pantas karena mungkin saja bertolak belakang dengan ideologi mereka."
"Wah, itu artinya aku harus berjuang keras untuk menemukan penerbit yang mempunyai ideologi sama denganku."
"Tepat, begitulah kira-kira... Sebab, ideologi yang dianut itu bisa mempengaruhi mereka dalam menentukan penerbitan sebuah buku. Maklumlah, terkadang ada saja penerbit yang takut untuk menerbitkan sebuah buku lantaran takut akan dampaknya, yaitu karena bisa menjadi kontroversi dikalangan masyarakat. Beruntung jika mayoritas masyarakat mendukung, namun jika tidak, tentu buku itu akan ditarik dari peredaran. Dan itu artinya, mereka harus menanggung kerugian. Jika penerbit yang orientasinya mencari keuntungan tentu hal itu sangat menakutkan. Lain halnya dengan penerbit yang memang betul-betul mau memperjuangkan ideologinya, mereka akan berani menanggung apapun risikonya. Karenanyalah, kau memang harus mencari penerbit yang mempunyai ideologi sama sepertimu, sehingga mereka bersedia menerbitkan karya-karyamu demi sebuah perjuangan."
"Wah, repot juga kalau begitu. Ideologi dalam satu agama saja bisa sangat beragam, apalagi di negeri ini, yang mempunyai beragam agama, tentu ideologi yang ada akan semakin banyak saja. Dan itu artinya, peluang untuk menemukan penerbit yang cocok sangatlah kecil."
"Ya... Sepertinya memang begitu. Sebab, biarpun kau itu orang Islam, belum tentu penerbit yang mengaku islami mau menerbitkan karyamu. Maklumlah, jika idologimu tidak sejalan dengan mereka, atau karena alasan lain, tentu mereka enggan untuk menerbitkannya. Dan itu artinya, kau harus mencari penerbit professional yang juga mempunyai visi dan misi dalam upaya memperbaiki ahklak bangsa. Penerbit yang seperti itu tidak terlalu dipusingkan oleh masalah ideologi, pokoknya apapun ideologi seorang penulis, selama penulis itu membuat karya sastra yang baik dan bertujuan untuk mengajak orang agar berbuat baik, tentu mereka akan memberi kesempatan untuk menerbitkannya."
"Ya... Sepertinya aku harus mencari penerbit yang seperti itu. Sebab, aku juga seorang penulis yang tidak terlalu memusingkan masalah ideologi orang lain. Pokoknya apa pun agama, suku, dan bangsa orang itu, selama dia baik dan mau memperjuangkan ajaran Tuhan, aku pasti akan bersedia bekerja sama. Sebab aku percaya, orang seperti mereka adalah mitra yang baik dalam memperjuangkan kebenaran. Begitu pun sebaliknya, jika orang itu mau merusak akhlak bangsa ini, maka dia adalah musuh yang nyata bagiku. Dan aku berkewajiban untuk memeranginya, sekalipun orang itu mengaku satu keyakinan denganku. Sebab aku ini bukanlah orang yang melihat sesuatu dari status belaka, melainkan dari apa yang diperbuatnya. Aku ini seorang muslim, dan aku lebih menghormati seorang non muslim yang memberi minum seekor anjing daripada seorang yang mengaku muslim tapi justru menyiksanya."
"Wah, wah...! Good good... Memang begitulah seharusnya sifat manusia sejati. Dia tidak melihat kepada status belaka, tapi melihat kepada apa yang diperbuatnya. Pokoknya selama yang diperbuatnya itu tidak bertentangan dengan nurani kemanusiaannya, maka dia akan membelanya. Namun jika bertentangan, maka dia akan melawannya. Good... good... teruskan saja apa yang sudah menjadi keyakinanmu itu!"
Kedua orang itu terus berbincang-bincang hingga akhirnya Bobby kehabisan kata-kata. Begitupun dengan penulis senior itu, yang kini lebih banyak terdiam karena tak tahu harus berbicara apa. Pada saat itulah Bobby mulai merasa kesal lantaran Raka belum juga selesai dengan tugasnya. "Aduuuh... Kenapa Raka lama sekali sih? Sungguh aku merasa jenuh berada di tempat ini," keluh Bobby dalam hati.
Tapi untunglah, sebelum kekesalannya itu memuncak, Raka sudah datang menghampiri. "Yuk, Bob! Kita berangkat sekarang!" ajaknya kepada Bobby.
Mengetahui itu, Bobby pun lantas mohon diri kepada penulis yang sangat dihormatinya. "Pak Ari, aku permisi dulu ya!" pamitnya kepada penulis itu.
"O, silakan.. Silakan...! Jangan lupa untuk membaca naskah yang baru ku-upload di blog-ku ini ya!"
"Insya Allah, Pak!" ucap Bobby, "Yuk, Ka!" ajaknya kepada Raka.
Tak lama kemudian, Bobby dan Raka tampak sudah melaju menuju ke rumah Aldo. Dalam perjalanan, kedua pemuda itu tampak asyik berbincang-bincang.
"O ya, ngomong-ngomong kenapa tadi lama sekali?" tanya Bobby dengan nada kesal.
"Maaf, Bob. Selain menangani masalah jaringan, tadi aku juga sempat mengurusi virus Tobatyuk yang membuatku benar-benar pusing tujuh keliling. Maklumlah, varian barunya itu memang bandel sekali. Sungguh aku kagum dengan pembuat virus lokal yang suka membawa pesan moral itu."
"Hehehe... Ternyata pembuat virus itu masih kuat untuk memperjuangkan cita-citanya? Padahal selama ini virusnya itu sudah sering diserang oleh berbagai anti virus yang sudah mengetahui kelemahannya. Aku yakin, selama pembuat virus itu masih merasa tertantang maka dia akan terus membuat varian barunya. Hanya ada beberapa hal yang bisa membuatnya menghentikan pembuatan virus itu. Pertama, cita-citanya itu memang sudah terwujud. Kedua, dia sudah lelah dan menyadari kalau caranya itu memang sia-sia belaka. Ketiga, dia sudah kehabisan akal untuk bisa mengakali celah-celah sistem operasional yang selama ini menjadi andalan dalam menyebarkan dan mengaktifkan virusnya."
"Wah, jika ketiga hal itu tak terjadi, bisa-bisa pekerjaanku akan semakin bertambah berat saja dibuatnya. Bayangkan saja, selama ini pelanggan di warnet milik temanku itu seringkali mengeluh lantaran kegiatan mereka jadi terganggu, dan ujung-ujungnya aku juga yang repot karena harus bisa menangani virus itu."
"Hehehe...! Sebetulnya itu karena salahmu juga. Coba kalau kau mau menuruti apa yang diinginkan oleh virus itu, yaitu membuat komputer di warnet itu bersih dari hal-hal yang negatif dan tidak menggunakan software-software yang menjadi musuhnya tentu virus itu tidak akan terlalu mengganggu. Ketahuilah, selama dirinya merasa terancam maka virus itu akan berusaha untuk membela diri, salah satunya adalah dengan cara merestart komputer. Atau jika virus itu mengetahui user menjalankan software atau web site yang tak dihendakinya maka ia pun akan merestart komputer. Tujuannya adalah melindungi user dari hal-hal yang bisa membahanyakan dirinya. Misalkan ada user di bawah umur yang mau membuka web site porno, maka si virus akan buru-buru merestart komputer. Nah... bukankah itu melindungi namanya."
"Memang sih. Tapi kan, repot juga jika harus mengikuti apa yang dinginkan oleh virus itu. Itu kan komputer warnet, Bob. Bukannya komputer pribadiku. Bagaimana mungkin aku bisa membatasi gerak para pelanggan yang mau menggunakan komputer di situ. Hmm... Sepertinya aku ini memang harus mau dibuat repot oleh virus yang menjengkelkan itu."
"Itu sih terserah kepada keputusanmu. Sebab aku menyadari, kalau setiap perjuangan memang perlu ada yang dikorbankan. Jika kau mau berjuang untuk memberikan kebebasan kepada pelanggan di warnet temanmu itu, maka kau harus rela menjadi repot lantaran ulah virus itu. Begitupun dengan pembuat virus, dia harus mengorbankan perasaannya yang mungkin saja merasa sangat berdosa karena sudah menyusahkan orang-orang sepertimu. Ya... Begitulah hidup, penuh dengan pengorbanan. Bukankah prototype site blocker buatanku yang kini terpasang di warnet temanmu itu juga terpaksa harus mengorbankan user wanita karena kata kunci yang kugunakan adalah kata-kata yang berhubungan dengan bagian tubuh wanita. Bukankah selama ini ada saja wanita yang mengeluh lantaran web site yang mau mereka dibuka jadi ikut-ikutan diblokir, padahal web site yang mereka mau buka itu bukan web site porno melainkan web site tentang kesehatan. Namun karena alamat web site itu mengandung kata kunci terpaksa jadi ikut-ikutan diblokir."
"Kau betul, Bob.  Habis mau bagaimana lagi, tujuan kita memasang site blocker itu kan untuk melindungi pelanggan warnet yang masih di bawah umur. Maklumlah, di warnet temanku itu terkadang memang suka ada Adware nakal yang memunculkan web site porno. Dan kalau hal itu tidak dicegah, kasihan pelanggan yang masih dibawah umur itu kan."
"Yang kau katakan itu memang betul itu, Ka. Walaupun pemerintah sudah berusaha untuk memberikan perlindungan dengan memblokirnya pada tingkat provider tapi masih saja ada orang yang bisa mengakalinya.”
"Sungguh membingungkan hidup di era teknologi yang canggih ini ya, di satu sisi teknologi jelas bisa sangat bermanfaat, namun di lain sisi juga bisa sangat merusak?"
"Ya begitulah..."
Kedua pemuda itu terus melangkah, hingga akhirnya mereka tiba di rumah kediaman Aldo. Kini mereka sudah saling bertatap muka dan sedang bercakap-cakap dengan si penulis kocak yang sering membuat Bobby terpingkal-pingkal.
"Hahaha! Kau itu memang suka asal, Do," komentar Bobby menanggapi anekdot Aldo yang berhasil membuatnya terpingkal-pingkal.
"Satu lagi nih, Bob. Di sebuah kerajaan entah berantah..."
KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! tiba-tiba saja telepon berdering.
"Tunggu sebentar ya! Aku harus menerima telepon dulu," pamit Aldo seraya melangkah masuk.
Pada saat yang sama Bobby kembali teringat dengan Angel yang hingga kini belum ada kabarnya. "Ka, ngomong-ngomong... Kenapa Angel belum juga memberi kabar ya?"
"Itu biasa, Bob. Dia itu memang suka begitu. Selama ini saja aku sudah dicuekin hampir selama setahun. Dan belakangan ini dia baru datang karena katanya mau belajar komputer, tapi anehnya bukannya serius belajar komputer, eh malah membahas kisah nyatanya. Semula aku sempat ragu kalau dia memang serius mau menjadi seorang penulis, sebab dia itu memang suka semangat pada awalnya saja. Namun setelah aku mengenalkan dia padamu, aku semakin bertambah yakin kalau sebenarnya dia memang serius untuk menjadi seorang penulis. Bahkan tujuannya belajar komputer itu pun jelas sekali ada hubungannya dengan kegiatan menulisnya, yaitu bisa menulis dengan menggunakan komputer.
Hmm… Mungkin saja saat ini dia sedang sibuk menulis atau juga sedang resah menunggu hasil ujian nasional yang menentukan lulus tidaknya dia dari SMA. Dan karena itulah dia menjadi lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Begitulah dia, terkadang memang suka tidak peduli dengan orang-orang yang merasa khawatir dengan keadaannya. Karenanyalah, kau harus bisa bersabar menghadapi orang seperti dia."
"A-apa! Ja-jadi... Angel itu baru mau lulus SMA. Sungguh tidak kusangka, semula aku pikir dia itu sudah kuliah, sebab dari penampilannya sama sekali tidak menunjukkan kalau itu baru mau lulus SMA."
"Dia itu memang pernah tidak naik setahun, Bob. Selain itu, dia itu juga seorang gadis yang bongsor. Bayangkan saja, selama ini dia justru akrab dengan teman-teman kakaknya daripada temannya sendiri yang sebaya. Karena itulah terkadang dia agak sok tua dan tidak canggung untuk ngobrol dengan pria seusia kita."
"O, pantas saja kalau begitu," kata Bobby seraya senyam-senyum sendiri.
"Kenapa, Bob?" tanya Raka heran melihat Bobby senyam-senyum seperti itu, padahal yang barusan dikatakannya itu tidaklah lucu.
"Tidak... Aku cuma ingat kata-kata Angel waktu itu, yaitu ketika aku memberi tahu kalau aku kesulitan menggarap cerita tentang kehidupan berumah tangga. Katanya, wajar saja kalau orang seusia kita kesulitan, sebab kita kan belum pernah berumah tangga. Hehehe....! ‘orang seusia kita’ Sepertinya dia itu menganggap aku ini masih seusia dengannya. Padahal kan usiaku jauh lebih tua darinya."
"Wah, lagi ngobrolin apa nih? tampaknya seru sekali," tanya Aldo yang kini sudah kembali bergabung bersama mereka.
"Biasa… Soal wanita," jawab Raka terus terang.
"Asyik tuh. Aku boleh ikutan tidak?"
"Tidak boleh, kau itu masih bau kencur tahu," jawab Bobby mencandai Aldo yang usianya memang lebih muda lima tahun darinya.
"Betul kata Bobby, Do. Sebaiknya kau jangan memikirkan soal wanita lagi deh, sebab kau itu belum siap mental. Buktinya, waktu itu kau sempat menangis tersedu-sedu dan mau gantung diri lantaran patah hati. Iya kan?"
"Itu kan dulu, Ka. Sekarang kan aku sudah lebih dewasa dan lebih matang."
"Benarkah begitu, lalu kenapa pada cerpen yang berjudul Kristal Air Mata, tokoh Boy lagi-lagi menangis dan mau gantung diri?" tanya Raka perihal cerpen 8 halaman yang belum lama dibacanya.
"Aduh, aduh...! Boy itu bukan aku, tahu. Cerita itu murni hasil karanganku dan bukan pengalaman pribadiku."
"Ah, aku tidak percaya. Bukankah dulu kau pernah menulis kisah nyatamu dengan menggunakan nama yang sama," kata Raka memojokkan.
"Terserah kau deh. Sebab aku memang sulit untuk membuktikannya."
"Sudahlah, Ka. Jangan mentang-mentang Aldo pernah menulis kisah nyatanya, lantas kau bisa menilai kalau karyanya itu adalah kisah nyata. Ketahuilah! Terkadang penulis memang suka menuliskan kisah nyatanya, namun terkadang pula yang ditulisnya itu memang murni hasil fantasinya. Tapi kebanyakan penulis lebih suka mencampur pengalaman pribadinya dengan kisah fiktif yang membuat membaca terkadang bingung untuk bisa membedakan. Maklumlah, terkadang memang ada saja pembaca yang suka menilai kalau tokoh utamanya adalah penulisnya sendiri. Seperti yang kau lakukan barusan ketika menilai kalau tokoh utama pada kisah Kristal Air Mata adalah si Aldo. Sebab yang bisa mengetahui itu kisah nyata atau bukan, hanyalah Aldo sendiri atau tokoh-tokoh lain yang juga terlibat di dalamnya. Memangnya pada cerita itu ada tokoh yang mirip denganmu?"
"Tidak sih. Tapi biarpun begitu, aku tetap yakin kalau itu adalah kisah nyata. Sebab karakter Boy dalam cerita itu memang persis sekali dengan Aldo."
"Hehehe...! Kalau memang begitu, berarti itu memang kisah nyata. Maaf ya, Do. Bukannya aku mendukung pendapat Raka. Namun karena Raka memang sudah mengenal karaktermu, dia memang tidak mudah untuk bisa dibohongi."
"Baiklah... Aku mau mengaku. Itu memang kisah nyataku. Belum lama aku memang sempat putus dengan pacarku, namun sekarang kami sudah baikan dan sudah menyambung kembali jalinan cinta kami yang sempat terputus itu."
"Kau beruntung, Do. Seandainya dia tidak mau kembali padamu, mungkin saat ini kau sudah tinggal nama karena nekat gantung diri. Iya kan?" tanya Raka asal.
Aldo tidak menjawab, sepertinya saat itu dia kesal sekali dengan perkataan Raka yang memang suka sekali memojokkannya.
"O ya, Do. Sebetulnya kedatanganku kemari mau mengetahui perihal perkembangan naskah cerita anak-anak yang sedang kau tulis itu. Kalau boleh kutahu, cerita itu sudah selesai berapa persen?" tanya Bobby perihal tujuan utamanya datang ke tempat itu.
"Wah, baru 65%, Bob. Maklumlah, pengetahuanku soal agama lain kan memang sangat terbatas. Jadi terkadang aku masih sulit untuk bisa membuat kelima anak-anak yang berbeda agama itu tetap rukun dan kompak. Maklumlah, terkadang ada saja budaya dan kebiasaan mereka yang saling berbenturan. Dan sebagai penulis, aku pun harus pandai-pandai menengahi masalah itu sehingga kelima anak itu bisa tetap kompak. Misalnya ketika mereka sedang berpetualang ke Pulau Dewata, saat itu mereka yang sudah sangat kelaparan akhirnya mendapat bantuan dari seorang wanita yang baik hati. Sayangnya saat itu, Rangga yang seorang muslim tidak mungkin bisa memakan makanan itu lantaran mengandung Babi. Haruskah keempat anak lainnya membiarkan Rangga kelaparan seorang diri. Tentu saja tidak, keempat anak lainnya harus bisa menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi itu. Begitu pun ketika Gusti merasa tidak nyaman lantaran keempat anak lainnya sedang memakan daging sapi. Dan setelah mengetahui itu, lantas keempat anak lainnya yang sedang memakan daging sapi itu pun terpaksa buru-buru menghentikannya dan menyingkirkan daging sapi itu jauh-jauh dari Gusti. Hingga akhirnya, keempat anak itu harus rela makan dengan seadanya, padahal daging sapi yang semula mereka makan itu sangatlah lezat. Begitulah Bob, salah satu kendala yang sedang kuhadapi untuk bisa menyelesaikan cerita itu."
"Hehehe...! Menyatukan dua karakter yang berbeda agama saja sudah cukup repot lantaran adanya perbedaan budaya dan kebiasaan. Apalagi cerita yang kau tulis itu, sampai lima agama sekaligus. Ditambah lagi anak-anak itu merupakan anak-anak yang cerdas dan taat pada agama masing-masing. Sungguh bukan perkara yang mudah, sebab jika kau sampai salah karena kurangnya ilmu pengetahuanmu soal agama lain bisa-bisa kau diprotes banyak orang." 
"Bob, ada SMS dari Angel," kata Raka tiba-tiba.
"Apa katanya?" tanya Bobby penasaran.
"Katanya, kini dia sudah lulus SMA."
"Benarkah? Syukurlah kalau memang begitu. O ya, apa dia bicara mengenai naskahku?"
"Tidak, Bob. Dia hanya memberi tahu soal kelulusannya. Sabar saja, Bob! Kalau dia sudah selesai membaca naskahmu dia pasti akan mengabari."
"Angel...?" kata Aldo tiba-tiba. "Hmm… Sepertinya aku mengenal gadis itu," sambungnya kemudian.
"Ka-kau kenal dengan dia, Do?" tanya Bobby penasaran.
"Tentu saja, kalau tidak salah dia itu..."
Belum sempat Aldo melanjutkan, tiba-tiba Raka sudah memberi kode agar Aldo diam.
"Kenapa tidak kau lanjutkan, Do?" tanya Bobby yang tidak mengetahui Raka sudah memberi kode. "Ayo dong, Do. Cepat katakan! Dia itu... Dia itu apa?" tanya Bobby semakin tambah penasaran.
"Eng... Dia itu kan perempuan, Bob. Hehehe.... Iya kan?" jawab Aldo asal.
"Brengsek kau, Do. Aku kira kau betul-betul mengenalnya," ungkap Bobby dengan nada kecewa.
Kini ketiga pemuda itu sudah tidak lagi membicarakan soal itu, melainkan membicarakan perihal Pacar Aldo yang katanya sudah mendesaknya untuk minta segera dilamar. Padahal saat ini Aldo belum siap lantaran dia merasa belum mapan. Memang ada-ada saja kendala yang dihadapi oleh ketiga pemuda itu, yang satu ingin buru-buru menikah sedang yang satunya lagi malah takut untuk menikah. Sedangkan Raka sama sekali tidak mau dipusingkan oleh kedua perkara itu lantaran suatu sebab yang enggan ia ceritakan.
 

Esok sorenya, Bobby terlihat sangat rapi. Dia mengenakan kemeja biru tua kotak-kotak yang berpadu dengan jeans biru muda yang terlihat sangat matching. "Mmm... Senang rasanya ketika mengetahui Angle telah lulus dari SMA. Sungguh tidak sia-sia usaha dan kerja kerasnya selama ini, yang telah berusaha menuntut ilmu demi masa depannya yang gemilang," ungkap Bobby dalam hati.
Sungguh Bobby merasa bangga dengan Angel yang bisa lulus walaupun dengan peringkat yang tidak memuaskan. Maklumlah, nilai ujian nasional yang harus dicapainya memang terlalu tinggi, apalagi Angel itu seorang yang mudah pusing dan sedikit error. Karenanyalah, biarbagaimanapun juga, Bobby merasa kalau semua itu merupakan berkah yang memang patut disyukuri. Sebab, gadis yang diketahuinya mudah pusing dan sedikit error itu ternyata bisa lulus juga. Bahkan untuk mengungkapkan rasa gembiranya, ingin rasanya pemuda itu segera bertemu dan mengucapkan selamat padanya, sekalian melepaskan rasa rindunya yang sudah tak tertahankan.
Lantas dengan segera Bobby berkemas dan berangkat ke tempat kursus Angel, bahkan sampai-sampai dia lupa mematikan komputer yang sempat dinyalakan. Maklumlah, semula dia begitu asyik mendengarkan tembang manis yang berjudul SMS—tembang yang selalu membuatnya berhayal tentang Angel—yang dengan suara manjanya menanyakan perihal SMS yang membuat dirinya cemburu. Di dalam angannya, Bobby tampak berusaha menjelaskan kalau itu adalah memang SMS dari seorang temannya yang iseng, dan Bobby tampak begitu senang jika Angel masih juga tidak percaya. Terbayang sudah raut cemburunya yang membuat Bobby begitu ingin membelainya dengan penuh kasih sayang—memberinya pengertian kalau dia memang tidak sedang berdusta. Sungguh Bobby sudah terlena dengan tembang yang satu itu, yang selama ini sering memancingnya untuk semakin jauh berhayal dan berhayal. Sungguh lagu itu memang sudah berhasil meracuninya, bayangkan… saking populernya, lagu itu tidak hanya terdengar di TV atau radio, tapi juga di diputar di berbagai area pertokoan, di acara hajatan, bahkan juga terdegar di jalan-jalan. Secara otomatis lagu itu pun terekam di memorinya, bersamaan dengan segala peristiwa indah yang dialaminya.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 akhirnya Bobby tiba juga di depan Departement store, tak jauh dari tempat Angel kursus. Kini Bobby sedang berdiri di antara para penjual yang berjajar di sepanjang bahu jalan. Kedua matanya tak bergeming memandang ke arah bangunan tempat Angel kursus, menanti sang belahan jiwa. Lelah sudah matanya karena terus memandang ke tempat kursus yang membosankan itu, yang dia lihat hanyalah spanduk warna kuning yang tulisannya sudah berulang kali dia baca. Kini Bobby memperhatikan sebuah metro mini yang biasa ditumpangi Angel. Saat penumpangnya turun, segera diperhatikannya satu per satu—berharap salah satu dari mereka adalah Angel.
Bobby memang agak nekad, sebab dia tidak tahu dengan pasti kapan Angel datang maupun pulang dari tempat kursusnya. Saat itu dia hanya bisa berharap kalau dugaannya mengenai Angel yang akan pulang pukul 17.00 adalah benar. Namun setelah pukul 17.00 lewat, ternyata Angel belum juga kelihatan batang hidungnya. Lantas Bobby pun menduga kalau Angel pasti pulang pukul 17.30 atau 18.00. Lalu dengan kaki yang semakin pegal, Bobby terus menunggu dan berharap waktu cepat berlalu. Hingga akhirnya, sudah cukup banyak juga bis metro mini yang penumpangnya selalu diperhatikannya satu per satu.
Kini Bobby tampak memperhatikan tubuh seksi yang mirip dengan Angel, sejenak hatinya gembira karena mengira dia adalah Angel. Namun setelah dia amati dengan seksama ternyata gadis itu bukanlah Angel, apalagi setelah dia melihat gadis itu membawa tas yang berwarna kuning cerah. Maklumlah, hingga kini Bobby masih ingat betul tas milik Angel, dari bentuk hingga warnanya. Bukan hanya tas, wajah Angel pun masih diingatnya dengan jelas, wajahnya itu tampak begitu manis dan tak pernah membuatnya jemu. Ya, pokoknya hanya manis dan manis saja yang diingatnya. Sungguh saat itu dia begitu merindukannya. Merindukan wajah manis dan telah membuatnya ingin sekali menciumnya.
Ketika waktu kira-kira sudah menunjukkan pukul 17.30, lalu lintas yang agak macet mulai menghalangi pandangan Bobby. Karena khawatir Angel keluar tak terlihat olehnya, Bobby pun pindah posisi di tempat metro mini biasa ngetem menunggu penumpang, yaitu pada jalur yang berlawanan. Dia menduga, jika Angel pulang nanti dia pasti akan naik metro mini di tempat itu. Kini Bobby sudah kembali menunggu, satu per satu gadis seksi yang melangkah menuju metro mini diamatinya dengan penuh seksama. Berbagai paras manis, cantik, dan juga kurang cantik, tak luput dari amatannya. Namun sayangnya, wajah-wajah itu tidak ada yang serupa dengan wajah manis yang ada di dalam ingatannya. Sungguh kini Bobby sudah lelah menunggu, bahkan kedua kakinya sudah semakin sangat pegal saja dibuatnya. Ingin rasanya dia duduk sejenak di halte yang ada di depan Departement Store, namun saat itu dia takut Angel menjadi luput dari pandangannya. Sebab dari tempat itu pandangannya memang tidak begitu jelas karena terhalang lalu lintas yang padat.
Bobby masih terus menunggu dan menunggu, hingga akhirnya di kejauhan terdengar azan magrib yang berkumandang. Saat itulah Bobby langsung menyerah kalah, sungguh dia merasa kalau apa yang dilakukannya hanyalah sebuah penantian yang menjemukan. Lagi pula, memang tidak mungkin rasanya kalau Angel belum pulang, sebab saat itu hari tampak sudah semakin gelap. Bobby menduga, saat itu bisa saja Angel sudah pulang dan luput dari pengamatannya, apalagi setelah Bobby ingat kalau waktu itu, ketika Angel main ke tempat Raka waktu memang sudah magrib. Ya, rasanya memang tidak mungkin jika saat itu Angel belum juga pulang. Karena itulah, akhirnya Bobby memutuskan untuk segera pulang. Sambil menunggu angkot yang akan ditumpanginya, Bobby masih saja memikirkan Angel. “Hmm… Apa mungkin Angel tidak pergi kursus lantaran sakit? Duhai Allah... Jika dia memang sedang sakit, aku mohon sembuhkanlah!" ucap Bobby yang tiba-tiba saja mengkhawatirkannya.  Hari itu Bobby betul-betul sangat kecewa lantaran gagal menjumpai Angel, gadis yang begitu dicintai. Dalam hati dia sempat berharap, Jumat depan kiranya Tuhan bisa mempertemukannya dengan Angel. "Duhai Allah... Aku sudah begitu merindukannya... pertemukanlah kami... ikatlah kami dalam sebuah ikatan cinta yang suci—ikatan cinta yang Engkau ridhai... yang akan membawa kami kepada kebahagiaan yang Engkau ridhai pula. Amin..." ucap Bobby seraya menaiki sebuah angkot.