E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Sayap Bidadari Bagian 8 [ Sayap Bidadari ]

DELAPAN
Sayap Bidadari


Trinting! Trinting! Trinting! Suara genta nada yang dipasang di ambang jendela terdengar merdu. Saat itu di sebuah meja belajar yang sudah tampak kusam, Angel terlihat sedang melanjutkan kisah nyatanya. Saat itu pena hitam miliknya tampak lincah—menari-nari di atas lembaran buku catatannya. Rupanya gadis itu sedang menceritakan prilaku Raka yang kini sudah jauh berbeda. 


Kini dia tampak begitu dingin dan kaku, bahkan tanpa tawa dan canda. Jika kubertemu, dia membisu. Sepatah kata tak terucap, hanya tatap dan senyum menggoda. Mencuri pandang dan melamun saja.


Tulis Angel mengakhiri Bab Tujuh kisah nyatanya. Kini gadis itu tampak merenggangkan persendian sambil memperhatikan jam tua di dinding kamarnya. "Hmm... Sudah jam empat sore rupanya," gumam gadis itu seraya melangkah menuju ke balkon rumahnya. Balkon itu terbuat dari papan dan tampak sudah lapuk termakan usia. Di atas balkon reot itulah gadis itu berdiri dengan anggun sambil memandang ke arah sungai yang tak begitu jauh. Air di sungai itu tampak keruh, di sepanjang tepiannya tampak ditumbuhi oleh semak belukar, rumpun bambu yang lebat, dan beberapa pohon kerai yang sebagian daunnya tampak menyentuh permukaan air. Walaupun air sungai itu tampak keruh, namun karena banyak pepohonan lebat membuat pemandangan di sekitar sungai itu menjadi tampak indah.
Lama juga Angel memperhatikan pemandangan indah itu sambil terus merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat rambut dan gaun coklat berenda yang dikenakannya tampak berkibar-kibar. "Kak Bobby...” ucap Angel tiba-tiba seraya menyingkap helaian rambut yang sempat menutupi pandangannya. Saat itulah dari kedua matanya tampak mengalir air mata kesedihan. “Kak… Terus terang, aku betul-betul tidak mengerti akan sikapmu. Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau memilih dia? Itukah yang kau katakan cinta, dan itukah yang kau katakan sayang? Sungguh aku tidak menyangka, ternyata begitu mudah dan cepatnya kau berpaling dari orang yang kau cintai dan kau sayangi. Aku sendiri saja butuh waktu setahun untuk bisa berpaling dari Raka dan akhirnya mencintaimu, bahkan kini aku sulit untuk bisa melupakanmu."
Angel terus larut dalam kesedihan, hingga akhirnya lembayung senja yang indah pun perlahan mulai hilang dari pandangan. Saat itulah Angel memutuskan untuk masuk ke kamar, berjalan di atas papan balkon yang senantiasa berderit-derit saat dilewati.  


Malam harinya, cuaca tampak cerah. Di sebuah teras rumah yang di sekitarnya banyak ditumbuhi tanaman hias, sepasang muda-mudi tampak sedang berbincang-bincang mengenai masa depan mereka.
"O, jadi... Itu rencanamu setelah menikah?" tanya Bobby perihal niat Wanda yang tidak konsisten dengan perkataannya tempo hari, yaitu dia tetap ingin menjadi wanita karir.
"Betul, Kak. Ketahuilah, aku ingin membalas jasa kedua orang tuaku. Bukankah dengan menjadi wanita karir itu artinya aku bisa menjamin masa depan mereka. Ketahuilah, Kak... mereka itu kan sudah semakin tua, dan aku ingin mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh kebahagiaan dan tanpa perlu bekerja keras lagi."
"Ya, tujuanmu itu sangat mulia sekali, Sayang... Tapi, apakah harus dengan jalan menjadi wanita karir? Ketahuilah! Kelak orang tuamu adalah orang tuaku juga, dan aku pun merasa berkewajiban untuk bisa membahagiakan mereka. Oleh karena itu, biarkan aku saja yang bekerja keras untuk bisa mewujudkannya. Kau tahu kan kalau sekarang aku sedang merintis sebuah usaha, dan jika kelak usahaku itu sudah maju tentu cita-cita mulia itu bisa kuwujudkan dengan mudah."
"Tapi, Kak... Sebetulnya bukan itu saja tujuanku menjadi wanita karir, melainkan aku juga ingin mengembangkan potensi diriku. Jika tidak demikian, apa gunanya aku sekolah tinggi-tinggi jika pada akhirnya sekedar menjadi ibu rumah tangga,"
"Sudahlah…! Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Kini terserah padamu saja. Jika kau memang ingin menjadi wanita karir, aku sudah tidak akan menghalangi," potong Bobby dengan nada kecewa.
"Kakak marah ya?"
"Tidak... Untuk apa aku marah."
"Tapi, nada bicaramu itu..."
"Sudahlah, Sayang...! Aku tidak mau memperpanjang masalah ini. Jika kau masih juga mau membicarakannya, jelas aku bisa marah betulan," ancam Bobby tidak main-main.
Mendengar itu, Wanda pun tidak berkata-kata lagi. Kini gadis itu hanya bisa terdiam dengan wajah tertunduk kecewa. Mengetahui itu, Bobby pun lekas berkata. "Maafkan kata-kataku barusan, Sayang...! Bukan maksudku untuk menyakiti perasaanmu, namun aku hanya belum siap untuk menjawab semua itu."
Kini Wanda tampak menegakkan kepalanya dan segera memandang Bobby dengan pandangan penuh arti. "Kak, ketahuilah! Sebetulnya aku ini belum siap menikah. Sebab aku sadar kalau wanita yang sudah menikah pasti tidak akan bisa sebebas mereka yang masih sendiri. Ketahuilah, sebetulnya aku menerima perjodohan ini lantaran terpaksa, yaitu aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku. Kalau aku boleh memilih, aku lebih suka memilih karir ketimbang harus menikah denganmu."
"Benarkah begitu?"
Wanda mengangguk.
Mengetahui itu, Bobby langsung membatin. "Sungguh aku tidak menyangka, ternyata Wanda masih juga belum bisa memahami arti kehidupan, yaitu kenapa Tuhan menciptakannya. Jika saja dia tahu aku yakin dia justru ingin segera menikah, sebab jika seorang wanita yang sadar kalau umurnya di tangan Tuhan, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yaitu bisa segera menikah. Sebab dengan begitu, seorang wanita bisa mudah masuk surga karena ketaatannya kepada suami, bahkan seorang wanita mendambakan bisa mati syahid disaat melahirkan. Seperti halnya para pria yang sangat mendambakan mati syahid dalam perang fisik berjihad karena Allah, sebab hanya dengan cara itulah orang bisa masuk surga dengan mudah. Orang-orang beriman adalah orang yang lebih mencintai kehidupan abadi di akhirat ketimbang mencintai dunia yang fana ini. Hmm… Sepertinya untuk saat ini aku memang tidak mungkin menjadikan Wanda menjadi seperti keinginanku yang semata-mata karena Allah. Hanya taufik dan hidayah Allah saja yang bisa menyadarkannya dari pola pikirnya yang keliru," ungkap Bobby dalam hati.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bobby mengutarakan isi hatinya kepada Wanda. "Sayang... Ketahuilah! Kalau boleh aku memilih, sebetulnya aku juga tidak menghendaki perjodohan ini. Semua ini juga kulakukan demi baktiku kepada orang tuaku yang begitu mengkhawatirkanku. Karenanyalah, kini aku sudah memutuskan untuk tidak mau ambil pusing, dan aku akan berusaha menerimamu apa adanya. Pokoknya apa pun yang akan terjadi nanti, aku akan berusaha untuk menyikapinya dengan penuh keikhlasan. Aku sadar, kalau aku memang harus mengalah. Sebab untuk saat ini kau itu memang masih sulit menjadi wanita seperti yang kuinginkan. Namun begitu aku tidak fesimis, sebab aku percaya suatu hari kelak kau tentu bisa memahami kalau segala keinginanku itulah karena aku mencintaimu."
"Benarkah kata-katamu itu? Sungguh aku tidak menyangka, kalau Kakak ternyata bisa juga menjadi orang yang tidak keras kepala. Ketahuilah, Kak. Aku sangat mendambakan pria yang demikian, yaitu pria yang mau mengerti aku dan mau menerimaku apa adanya."
Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang hingga akhirnya Bobby memutuskan untuk pamit pulang. Setibanya dirumah, pemuda itu langsung menuangkan isi hatinya ke dalam buku harian.


Sungguh… Kehidupan ini terkadang memang membuatku stress. Namun begitu, aku tidak mudah untuk menjadi putus asa, sebab aku masih mempunyai yang namanya Tuhan. Dialah yang selalu membimbingku untuk selalu tabah menjalani hidup ini. Aku menyadari kalau hidup bukanlah untuk disesali, tapi untuk dijalani. Menjalaninya pun tidak perlu repot-repot, tinggal menuruti saja apa yang sudah diajarkan Rasullullah. Maka dengan demikian, aku tidak lagi merasakan yang namanya susah, gundah, dan resah gelisah. Persoalan harta dan tahta bisa mudah kulewati... Namun, kalau sudah memikirkan yang namanya wanita bisa jadi lain ceritanya. Sungguh hingga kini hal itu memang sulit untuk bisa dipecahkan. Sebab, hal itu merupakan fitrah yang memang sudah digariskan, kebutuhan yang memang ditujukan untuk regenerasi umat manusia. Dicari dengan cara haram pastilah tidak akan membawa kebahagiaan, namun bila dicari dengan cara halal ternyata tidak mudah juga. Kenapa bisa demikian, jawabnya adalah karena semakin bertambah banyaknya wanita yang tak memahami akan arti kehidupan. Bahkan di era globalisasi ini banyak sekali wanita yang memilih berkarir ketimbang menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan hal itulah yang menyebabkan rusaknya sendi-sendi peradaban manusia. Dimana regenerasi sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan di negara-negara yang katanya maju, wanita tidak lagi membutuhkan yang namanya suami. Maklumlah, semua itu karena mereka merasa bisa mempunyai keturunan dengan tanpa perlu menikah, sebab mereka memang bisa memanfaatkan jasa bank sperma untuk mendapatkan seorang anak. Dan semua itu bisa terjadi karena adanya laki-laki yang mau saja menjual spermanya untuk urusan tersebut. Sungguh semua itu tanda-tanda kiamat sudah dekat. Hari ini pun aku terpaksa mengalah pada kekasihku demi untuk bisa menikahinya. Sebab jika aku memaksakan sesuatu yang belum mampu ditangkap akalnya adalah perbuatan yang sia-sia. Biarlah untuk sementara kuikuti kemauannya hingga suatu saat nanti—di saat pola pikirnya sudah semakin berkembang dan sudah bisa lebih bijaksana, tentu dia akan lebih mudah untuk bisa memahami segala apa yang kusampaikan.


Usai menulis semua itu, Bobby lantas berkemas untuk tidur. Kini pemuda itu sudah terlentang di atas tempat tidurnya sambil memikirkan berbagai hal tentang arti kehidupan. "Hmm... untuk mendapatkan cinta sejati memang tidak mudah. Salah satunya adalah aku memang harus mengalah, sebab mengalah itu bukan berarti kalah. Aku ini adalah seorang pemimpin, dan pemimpin sejati adalah orang yang bisa membaca keadaan dan tidak memaksakan kehendaknya kepada orang yang dipimpinnya. Bahkan dengan rasa cintaku, aku diharapkan untuk senantisa bersabar hingga saat untuk membalik keadaan itu tiba, yaitu disaat keadaan itu memang sudah memungkinkan atau memang sudah tak bisa dikendalikan lagi. Oh, Wanda... Kini aku sudah begitu mencintaimu, dan dengan rasa cintaku ini semoga Allah memberiku kekuatan untuk bisa menjadikanmu sebagai istri yang shalihah, istri yang senantiasa bertakwa kepada Tuhan dan mau berbakti kepada suaminya. Amin..."
 Setelah berdoa demikian, lantas pemuda itu segera berbaring di atas lambung kanannya seraya berdoa dengan wajah yang menghadap kiblat. Malam itu pemuda itu bermimpi lain dari biasanya, yaitu dia bermimpi sedang berada di daerah Mekah yang saat itu sedang dikunjungi oleh Nabi Muhammad Rasullullah. Namun sayangnya dia tak berhasil melihat wajah Rasulullah karena pada saat itu beliau sedang dikerumuni oleh orang banyak. 
 

Esok paginya, Bobby tampak sedang duduk termenung memikirkan perihal mimpinya semalam. Saat itu dia betul-betul merasa cemas dan gelisah. "Duhai Allah... Apa maksud dari mimpiku itu. Apakah itu artinya kelak aku tidak akan bertemu dengan beliau, dan apakah itu juga pertanda kalau kelak aku akan masuk Neraka? Ya Allah Tuhanku, ampunkanlah segala dosa-dosaku, janganlah apa yang kutakutkan itu kelak akan menjadi kenyataan."
Sebetulnya saat itu Bobby ingin sekali menanyakan perihal mimpinya, namun karena ia merasa khawatir kalau hal itu justru bisa menyesatkannya maka ia pun mengurungkan niatnya. "Mmm... Bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika aku sudah berusaha untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya apakah aku tetap akan dimasukkan-Nya ke dalam Neraka? Tidak... Itu tidak benar. Tuhanku adalah Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana yang tidak akan menzolimi seorang hamba yang senantiasa berusaha bertakwa kepada-Nya. Kalau begitu, mulai hari ini aku harus lebih bersungguh-sungguh dalam usahaku untuk meningkatkan kualitas beribadahku. Bahkan aku harus mau untuk belajar agama lebih banyak lagi sehingga aku pun bisa lebih mudah untuk bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Ya Allah tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Tunjukkanlah segala kekeliruanku yang tak kusadari karena kurangnya ilmu. Berilah aku taufik dan hidayah-Mu agar aku tidak tersesat di dalam mencari kebenaran yang hakiki, jauhkanlah aku dari segala bisikan syetan yang senantiasa memperdayaku dengan berbagai hal yang kuanggap baik. Kuatkanlah imanku agar senantiasa bisa menggunakan akalku berdasarkan kitab suci yang sudah Engkau  turunkan dan bukan atas dasar nafsu keinginan pribadiku."
Setelah berdoa demikian, akhirnya Bobby sudah tidak merasa cemas dan gelisah lagi karena mimpinya semalam. Kini pemuda itu tampak sudah berkemas untuk mandi, dan setelah beberapa menit kemudian dia sudah selesai dan langsung berpakaian rapi. Rupanya pemuda itu berniat menemui Angel yang ternyata betul-betul menghilang dari kehidupannya. Sungguh pemuda itu merasa khawatir kalau gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu menjadi putus asa lantaran cinta butanya. Sementara itu di tempat berbeda, Angel tampak berbaring di tempat tidurnya sambil melamunkan Bobby. Lama sekali gadis itu melamun hingga akhirnya Bobby tiba di rumahnya.
"Maaf, Bu! Apa Angel ada?" tanya Bobby kepada ibunya Angel. 
"Ada tuh, lagi tiduran di kamar. Ayo silakan masuk, Nak!" tawar sang Ibu mempersilakan Bobby untuk menunggu di ruang tamu. Setelah itu sang Ibu langsung naik ke lantas atas hendak memberitahu Angel.
Tak lama kemudian, Angel sudah menuruni tangga dan langsung menemui orang yang dikira teman mainnya. Namun ketika dia sudah bertatap muka, "Ka-Kak Bobby...!" Seru Angel terkejut lantaran orang yang hendak menemuinya adalah Bobby. "Aduuuh...! Kenapa Kakak datang kemari sih?" tanya Angel yang saat itu tampak blingsatan seperti belatung nangka.
"Sini, An. Duduk dekatku!" pinta Bobby kepada gadis itu.
"Tidak mau...! Kenapa sih Kakak datang kemari? Kan aku sudah bilang akan menghilang dari kehidupan Kakak."
"Aku mengkhawatirkanmu, An. Sini dong, aku mau bicara padamu!" pinta Bobby lagi kepada gadis itu.
"Pokoknya aku tidak mau...!" tolak Angel yang saat itu masih saja tampak blingsatan seperti belatung nangka. "Huh, biarin deh aku seperti anak kecil. Pokoknya, biarin... biarin...!" kata Angel lagi yang menyadari sikapnya memang seperti anak kecil.
Melihat itu, Bobby hanya tertawa dalam hati. Sungguh dia tidak menduga kalau kedatangannya kali ini akan membuat sikap Angel menjadi demikian.
"Aduuuh... Kakak ini tidak pengertian sekali sih. Ayo dong, Kak! Lebih baik Kakak pulang saja! Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku, sebab aku akan berusaha untuk selalu dalam keadaan baik-baik saja. Justru jika ada Kakak di sini, aku malah jadi pusiiing nih," kata angel lagi dengan nada manjanya.
"An... Aku ini baru saja sampai, aku ini masih lelah. Belum juga dikasih minum, masa disuruh pulang."
"Iya, aku ini memang jahat, dan aku ini gadis yang tidak bisa menghargai tamu. Tolonglah, Kak! Terus terang saja aku stress. Ayo dong, Kaaak! Cepat Kakak pulaaang! Kalau tidak, aku teriak nih," ancam Angel tidak main-main.
Karena Bobby tidak mau pulang juga. Angel pun akhirnya teriak dengan sekeras-kerasnya, "AAAAAA....! AKUUU... STRESSS!"
"Angel...!!!" seru sang Ibu tiba-tiba. "Kau itu perempuan atau bukan sih? Masa teriak begitu kerasnya," kata sang ibu yang memarahinya dari kamar sebelah.
"Tuh, kan. Aku deh yang jadi dimarahi. Kakak sih tidak mau pulang."
Saat itu Bobby benar-benar tidak menyangka kalau Angel akan berteriak sekeras itu, bahkan dia jadi tidak enak dengan orang tua Angel lantaran ulahnya. "Hmm... Baiklah, aku akan pulang. Ketahuilah! Sebetulnya selain mengkhawatirkanmu, aku juga mau membicarakan perihal Raka."
"Ra-Raka...? Memangnya kenapa dengan dia, Kak?"
"Dia itu sedang sakit, An. Ketahuilah! Semula aku ingin mengajak dia agar bisa bersama-sama main ke mari. Namun ketika aku mampir ke rumahnya, ternyata dia itu sedang sakit."
"Ra-Raka sakit…? Sakit apa, Kak?"
"Entahlah... Sepertinya cukup parah. Cepatlah kau tengok dia, barangkali saja dengan kehadiranmu bisa membuatnya lebih baik. Aku yakin, dia sakit lantaran terlalu memikirkanmu, yang mungkin saja telah diketahui telah mencintaiku karena cinta buta."
"Be-benarkah yang kakak katakan itu? A-aku mencintaimu karena cinta buta, dan… Raka sakit karena hal itu?"
"Entahlah... Itu kan baru dugaanku. Tapi, apa pun penyebabnya, sebagai orang yang pernah dekat di hatinya seharusnya kau itu mau lebih prihatin. Sebab, biar bagaimanapun juga, kalian kan pernah sama-sama saling mencintai. O ya, sebetulnya aku datang juga mau memberitahumu kalau tidak lama lagi orang tuaku akan segera melamar Wanda untukku. Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi, yaitu satu atau dua bulan ke depan. Dan itu artinya, kami akan segera menikah.
"Be-benarkah yang Kakak katakan itu?" tanya Angel terkejut.
"Benar adikku sayang. Karenanyalah aku sengaja datang untuk memberi tahumu, kalau Raka itulah cinta sejatimu. Cintamu kepadaku hanyalah cinta buta, dan kau tidak layak untuk mempertahankannya," kata Bobby seraya mengutarakan isi hatinya sama persis seperti yang pernah dipikirkannya malam itu.
"Be-benarkah…? Eng… Jika itu memang benar, berarti Wanda itu memang cinta sejati Kakak. Dan itu artinya, Kakak sungguh beruntung, ternyata Kakak bisa bersatu dengan gadis yang Kakak cintai, cinta sejati Kakak yang hakiki. Tidak seperti aku, yang kini masih harus terus menunggu Raka. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa mengakhiri waktu menungguku itu, yaitu dia menikah dengan gadis lain, atau jika orang tuanya mau merestui hubungan kami," ungkap Angel seraya meneteskan air matanya.
Sebetulnya saat itu Angel menangis bukan karena ia harus menunggu cinta sejatinya, melainkan karena dia mengetahui kalau Bobby yang kini sudah semakin lekat di hatinya ternyata betul-betul akan menjadi milik Wanda. Seketika gadis itu pun langsung membatin, "Kak... Sesungguhnya saat ini aku sudah sangat mencintaimu. Sungguh aku tidak menduga kalau tak lama lagi kau akan menjadi suami Wanda. Dan itu artinya, aku tak mungkin bisa memilikimu. "
Angel terus menangis dengan derai air mata yang semakin bertambah deras. Melihat itu, Bobby langsung prihatin. Bahkan dia kembali teringat dengan mimpinya waktu itu, yaitu ketika dia membuat gadis yang sempat mampir di hatinya itu menangis. "Bersabarlah duhai adikku tercinta, bidadariku tersayang. Terbanglah yang tinggi dengan sayap bidadarimu untuk meraih cinta sejatimu yang hakiki. Jangan pernah berhenti untuk mengepakkan sayap bidadarimu yang kokoh dan penuh kelembutan itu, sayap bidadari yang senantiasa akan membawamu menuju kebahagiaan, yaitu keyakinan akan cinta sejatimu yang hakiki—cinta yang tumbuh atas dasar cintamu kepada Tuhan, dan bukan karena cinta butamu semata. Jika kau sampai menyerah kalah, maka kau akan jatuh ke dalam jurang penderitaan yang begitu menyakitkan," saran Bobby kepada Angel yang dikira sedang sedih lantaran sulit bersatu dengan Raka. Saat itu, Bobby pun segera mendoakannya agar dia mendapatkan kebahagiaan seperti yang dicita-citakannya. Begitulah cinta, yang dengan kekuatannya mampu membuat pemuda itu begitu peduli terhadap orang yang pernah singgah di hatinya.