E-Book dan Game Gratis

E-book                      Game & Software
Bagi anda yang ingin membaca secara offline, silakan download format e-book-nya di sini!

Sayap Bidadari Bagian 2 [ Cinta Buta Dan Cinta Sejati ]

DUA
Cinta Buta Dan Cinta Sejati

 

Tut!  Nat! Net! Not! Nat! Net! Not! Di hari minggu yang cerah, di sebuah telepon umum, seorang gadis tampak asyik berbincang-bincang. Rupanya Angel sedang menelepon Raka guna mengabarkan perihal naskah yang sudah dibacanya. Tak lama kemudian, “Nah, begitulah Kak. Tanpa terasa, akhirnya cerita itu selesai juga kubaca ," kata Angel mengabarkan.
      "Gila... Cepat juga kau membacanya," komentar Raka kagum.
"Iya dong. Memangnya Kakak, biarpun sudah bulukan dan dimakan rayap tak akan pernah membacanya."
"Eit, jangan salah! Itu hanya berlaku untuk karangan penulis lain, tapi kalau untuk karangan Bobby tentu ada pengecualian. Dia itu kan sahabat baikku, dan aku merasa berkewajiban untuk bisa menyelesaikannya walaupun dengan waktu yang agak lama."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Ketahuilah! Selama ini Bobby sudah begitu sering membantuku, bahkan dia rela untuk mengalahkan kepentingannya sendiri. Sungguh dia itu sahabat yang baik, dan tidak sepantasnya aku membalasnya dengan menyakiti perasaannya. Karenanyalah, biarpun aku tidak hobi membaca, tapi aku tetap berusaha untuk  menyelesaikannya. Ya, seperti yang aku bilang tadi, walaupun dengan waktu yang agak lama. Tapi untunglah, Bobby bisa memahamiku sehingga dia pun tidak merasa kecewa karenanya." 
"O ya, Kak. Ngomong-ngomong, aku baca lanjutannya dong! Sebab, kata Kak Bobby ada lanjutannya."
"Lanjutan apa?"
"Lanjutan dari cerita yang kubaca ini. Kalau tidak salah, judulnya Demi Buah Hatiku"
"Lha... Naskah itu sih tidak ada padaku."
"Lantas, naskah yang ada pada Kakak itu apa?"
"Yang ada padaku itu, Menuai Masa Lalu."
"Ya... Bagaimana dong?"
"Telepon dia saja!"
"Aduh, Kak. Aku kan baru kenal. Masa sih langsung menelepon dia."
"Mmm... Bagaimana ya?" Raka tampak berpikir keras. "Aduh, telmi amat sih nih kepala. Masa masalah begitu saja tidak bisa mikir," kata Raka seraya melangkah berputar-putar sambil terus menggenggam telepon selularnya. "Eng… Nanti saja deh, An. Biar aku pikirkan dulu," kata Raka menyerah.
"Iya, deh. Nanti kalau sudah kabari aku ya!"
Setelah berkata begitu, Angel pun langsung memutus sambungan dan melangkah pergi—meninggalkan telepon umum yang hanya berjarak lima meter dari rumahnya. Kini gadis itu sudah merebahkan diri di tempat tidur. Kali kini dia tidak memikirkan soal perasaannya kepada Bobby, melainkan lebih kepada lanjutan cerita dari naskah yang sudah dibacanya. "Hmm... Lanjutannya seperti apa ya? Kata Kak Bobby waktu itu sih soal anak-anak dari tokoh utama yang sudah remaja dan menginjak dewasa. Pasti ceritanya akan lebih seru dari cerita yang baru kubaca itu, dan isinya pun tentu mengenai cinta anak remaja yang masih seumuran denganku."
Angel terus memikirkan itu, hingga akhirnya dia pun kebelet pipis. Sementara itu di tempat berbeda, Bobby tampak sedang memikirkan gadis yang mau dijodohkan dengannya. Siapa lagi kalau bukan Wanda. "Hmm... Kata ibuku, dia itu gadis yang patuh kepada orang tua. Dan katanya lagi, dia itu tidak mungkin menolak jika orang tuanya memang setuju. Aku heran, pada zaman modern ini masih ada saja gadis yang seperti itu. Dan aku sendiri, mau saja dijodoh-jodohkan. Hmm... Apakah itu karena aku sudah putus harapan karena tak mampu mencari sendiri? Dan itu karena aku yang senantiasa berkata jujur, bahwa aku akan langsung menikahi gadis yang kucintai. Dan akibatnya, kebanyakan wanita justru merasa takut karena belum siap, atau merasa takut kalau segala yang kukatakan adalah sebuah kebohongan. Apalagi jika mereka tahu kalau aku adalah salah seorang yang mengerti dan setuju dengan poligami, maka akan semakin menjauh saja mereka. Padahal mengerti dan setuju itu kan belum tentu akan menjadi pelakunya. Justru karena kemengertianku soal poligamilah yang membuatku justru merasa takut untuk berpoligami. Sebab, bagi orang yang mengerti kalau berpoligami itu tidak mudah, tentu dia akan lebih mencari selamat, yaitu dengan hanya beristri satu.
Hmm... Bagaimana dengan Angel? Apakah dia juga akan seperti itu? Ya... Aku rasa dia pun seperti itu. Kalau begitu, memang tidak ada salahnya jika aku dijodohkan oleh orang tuaku. Aku sadar, kini aku sudah semakin bertambah usia, dan orang tuaku tentu sangat mengkhawatirkan aku yang hingga kini belum juga menikah. Padahal, hampir semua teman sebayaku sudah membina mahligai rumah tangga, malah dari mereka ada yang sudah dikarunia tiga orang anak. Mungkin juga orang tuaku sudah tidak sabar ingin menggendong cucu—anak dari buah hatinya tercinta. Tapi... Bisakah aku bahagia bersama gadis pilihan orang tuaku itu tanpa dasar cinta sama sekali. Terus terang, aku takut membina hubungan tanpa didasari cinta. Beruntung jika kelak aku mencintainya, kalau tidak... Bukankah itu akan menimbulkan masalah."
Bobby terus memikirkan perihal perjodohan itu, hingga akhirnya dia merasa pusing sendiri. Begitulah Bobby yang senang sekali mendramatisasi keadaan sehingga membuat kepalanya semakin mau pecah. Maklumlah, dia itu kan seorang penulis yang biasa mendramatisir peristiwa yang biasa saja menjadi peristiwa yang luar biasa. Dan memang hal seperti itulah yang dituntut bagi seorang penulis agar bisa menghasilkan karya sastra yang bagus dan bisa dinikmati oleh pembacanya.
   

Dua hari kemudian, Bobby menelepon Raka lantaran dia sudah sangat merindukan sang Pujaan Hati. Maklumlah, selama dua hari ini dia selalu memimpikan Angel dan membuatnya merasa perlu untuk terus mencintainya.
"Eh, nanti malam dia mau main ke rumahku,” jelas Raka mengabari. “Eng… Katanya, dia juga mau ke rumahmu untuk mengembalikan naskah kemarin dan mau membaca cerita lanjutannya.”
"Benarkah?” tanya Bobby hampir tak mempercayainya.
“Benar, Bob. Tapi sayangnya, saat ini motorku lagi ada masalah, dan karenanyalah aku tidak mungkin mengantarnya sampai ke rumahmu."
Mengetahui itu, Bobby pun segera merespon, “Eng... Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana.”
“Baiklah, Bob. Kalau begitu, kami akan menunggumu di warung tempat biasa. ”
“Iya, Ka. Sampai nanti malam ya. Bye..." pamit Bobby dengan perasaan senang bukan kepalang. Maklumlah, nanti malam rindunya tentu akan segera terobati.
Kini pemuda itu tampak duduk di ruang tamu sambil memikirkan perihal pertemuannya malam nanti. Ketika sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba ibunya datang menemui. "Bob, Ibu mau bicara," kata sang Ibu seraya duduk di sebelahnya.
"Soal apa, Bu?" tanya Bobby seraya berusaha menerka dalam hati.
"Begini, Bob. Tadi, ibu baru pulang dari rumah Wanda, dan Ibu kembali berbincang-bincang perihal niat lamaran itu. Sungguh ibu tidak menduga, kalau kedatangan ibu telah disambut dengan begitu berlebihan. Sampai-sampai mereka membuat kue spesial segala hanya demi menyambut kedatangan ibu. Sungguh saat itu Ibu merasa tidak enak, belum apa-apa mereka sudah menyambut seperti itu. Bagaimana jika nanti ibu datang melamar, pasti mereka akan menyambutnya dengan begitu meriah. O ya, Bob. Kata ibunya Wanda, sebelum Ayah dan Ibu datang melamar sebaiknya kau dan Wanda dipertemukan dulu. Sebab katanya, pernikahan itu bukanlah perkara main-main. Setelah menikah, kalian tentu akan hidup bersama untuk selamanya—saling setia dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga ajal memisahkan. Karenanyalah, agar tidak menyesal nantinya, kalian harus saling mengenal lebih dulu. Karena itulah, mereka sangat mengharapkan kedatanganmu. Ketahuilah, Bob! Malam Kamis besok mereka mengundangmu untuk datang menemui Wanda," jelas sang Ibu panjang lebar.
"Tapi, Bu..."
"Sudahlah… Tidak ada tapi-tapian! Soalnya tadi Ibu sudah berjanji, kalau kau akan datang Malam Kamis besok. Malah Ibu sudah memberitahu, kalau kau itu anak yang berbakti pada orang tua dan tidak mungkin mau menolak keinginan kami yang menghendaki Wanda menjadi istrimu," potong sang Ibu tak mau mendengar alasan Bobby.
"Jadi, itu artinya Bobby memang harus menemuinya?"
"Tentu saja, memangnya kini kau sudah tidak mau berbakti kepada orang tuamu lagi. Lagi pula, apa lagi yang masih kau pikirkan, Bob? Wanda itu jelas gadis yang manis, baik, dan juga patuh kepada orang tua."
"Bu... Se-sebenarnya. Bo-Bobby..." pemuda itu tampak menggantung kalimatnya, "Eng... Bobby malu datang ke sana, Bu," lanjut pemuda itu tak mau mengungkap hal yang sebenarnya, kalau dia itu sudah mempunyai gadis pilihannya sendiri, dialah Angel—gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
"Kau tidak perlu malu, Bob! Atau... Kalau perlu Ibu akan menyuruh Randy untuk menemanimu."
Saat itu Bobby tak mempunyai pilihan lain yang terbaik, tampaknya dia memang harus datang ke rumah Wanda demi baktinya kepada orang tua. "Duhai Allah... Kenapa harus seperti ini?  Padahal kini aku sudah begitu mencintai Angel, seorang gadis yang menurutku baik dan bisa mengerti aku. Entahlah... Ini cinta buta atau bukan, yang jelas aku sudah mempertimbangkannya dengan matang dan sudah menerima apa pun kekurangannya. Jika demikian adanya, benarkah itu cinta buta, bukannya cinta sejati yang tumbuh karena bertemu sang Belahan Jiwa?" ratap pemuda itu membatin.
Sungguh pemuda itu sedang dilanda kebingungan, apakah ia benar-benar telah terjerat oleh cinta yang membutakan sehingga ia pun menjadi begitu gegabah dalam memberikan penilaian. Padahal, dia sendiri belum mengenal Angel dengan baik. Sungguh mengherankan, kenapa dia bisa sampai seperti itu? Bukankah banyak orang yang selalu menolak cinta lantaran belum saling mengenal, tapi dia justru malah sebaliknya—mengobral cintanya kepada orang yang baru dikenal. Benarkah itu cinta buta? Namun, bagaimana jika itu memang cinta sejati?
Malam harinya, Bobby segera memenuhi janji untuk mengantarkan naskah yang akan dibaca Angel. Setibanya di warung tempat Raka biasa nongkrong, dilihatnya Angel tampak duduk menunggu. Saat itu Bobby langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Hi, An. Apa Kabar?” sapa Bobby.
“Baik, Kak,” jawab Angel.
“O ya, An. Ngomong-ngomong, Raka ke mana?" tanya Bobby yang tidak melihat kehadiran sahabatnya.
"Dia lagi mengikuti pengajian rutin, Kak. Mungkin jam sepuluh nanti dia baru kembali.
"O, begitu ya,” ucap Bobby seraya sekilas memperhatikan wajah Angel yang manis. ”Aneh... Kenapa aku tidak merasakan perasaan seperti malam itu? Kenapa kini aku jadi biasa saja, tidak merasakan getaran cinta sama sekali?" tanya Bobby dalam hati merasa heran. Wajar saja saat itu Bobby merasa heran, sebab saat itu dia tidak tahu kalau Angel tak melepaskan sinyal kimia lantaran dia lebih mencintai cinta sejatinya, dan dia sudah mengganggap Bobby hanyalah sebagai teman biasa. Begitu pun dengan Bobby yang kini sedang bingung mengenai perasaannya pada Angel, apakah yang dirasakannya itu cinta buta atau bukan. Karena itulah, saat itu keduanya tidak bisa merasakan getaran emosional yang biasa dirasakan jika mereka saling melepaskan zat kimia. Karena saat itu mereka tidak sedang dipengaruhi oleh perasaan emosional, maka mereka pun bisa berbincang-bincang dengan tanpa kendala.
Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang mengenai topik yang mereka minati, yaitu perihal tulis-menulis yang kini sudah semakin jauh berkembang. Disaat kebersamaan itu, hanya sesekali mereka sempat merasakan getaran cinta, yaitu ketika mata mereka saling beradu pandang. Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebab keduanya selalu berusaha berpaling dan membuat getaran cinta itu kembali padam. Kedua muda-mudi itu terus ngobrol hingga akhirnya malam pun semakin larut. Namun ketika Raka sudah pulang mengaji, saat itulah Angel minta diantar pulang. Karena saat itu Raka tidak mungkin mengantarnya pulang, maka Bobby pun langsung menawarkan diri.
Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi itu tampak sudah melaju menyusuri jalan yang mulai sepi. Di dalam perjalanan, Bobby kembali merasakan getaran cinta sama seperti yang dirasakannya malam itu. Begitu pun dengan Angel, saat itu dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri yang memang mencintai Bobby. Kini kedua anak manusia itu sudah kembali saling mencintai, bahkan mereka sudah kembali bisa berkomunikasi dengan cara menebarkan zat kimia yang ditangkap oleh sensor khusus sehingga membuat mereka merasa betul-betul syahdu. Selama dalam perjalanan, tak ada yang dipikirkan oleh keduanya selain cinta dan cinta, dan tak ada perasaan lain yang dirasakan selain bahagia dan bahagia. Dan akibatnya, tidak sedikit para pengguna jalan yang menjadi kesal lantaran ulah Bobby yang tampak mengusai jalan. Saat itu, sepertinya motor yang dikendarai Bobby berjalan dengan sendirinya, mirip sekali dengan si mobil pintar yang bernama Kit dalam film Knight Rider, yang memang bisa berjalan sendiri karena telah dilengkapi dengan program pemandu otomatis. Tampaknya saat itu Bobby pun sedang menggunakan pemandu otomatis yang berasal dari alam bawah sadarnya, bahkan perjalanan yang lumayan jauh itu seperti sekejap saja dilewati, tahu-tahu kini mereka sudah berada di ujung sebuah gang. Saat itulah, tiba-tiba Angel tersadar dan memintanya berhenti. "Stop, Kak! Stop...! Sudah, Kak. Sampai di sini saja!" pintanya kepada Bobby.
Seketika Bobby tersadar dan segera menghentikan laju sepeda motornya. "A-apa? Sampai sini saja?" tanya Bobby seraya memperhatikan ke sekelilingnya. "Eng... Kau yakin aku tidak perlu mengantarmu sampai ke rumah?" tanyanya kemudian.
"Iya, Kak. Aku tidak mau merepotkanmu. Raka pun biasa mengantarku hanya sampai di sini. Sebab, rumahku kan masih cukup jauh, biarlah aku naik angkutan umum saja. Lagi pula, helm Kakak kan cuma satu, nanti jika ada razia, Kakak pasti akan kena tilang."
"Hmm... Kalau begitu baiklah. O ya, An. Kalau sudah selesai membaca naskahku, jangan lupa telepon aku ya!" pinta Bobby kepada gadis itu.
"Iya, Kak. Kalau sudah aku pasti akan meneleponmu," janji Angel seraya turun dari motor dan menatap pemuda itu. "Terima kasih ya, Kak! Kau sudah mau mengantarku," ucapnya kemudian.
"Sama-sama, An," balas Bobby seraya tersenyum.
"Sudah ya, Kak! Aku pulang," pamit Angel.
"Hati-hati ya, An!" pesan Bobby seraya memperhatikan kepergiannya.
Tak lama kemudian, pemuda itu sudah kembali melaju dengan sepeda motornya. Saat itu Bobby begitu senang lantaran sudah bertemu dengan sang Pujaan Hati. Dalam perjalanan, dia tak henti-hentinya membayangkan wajah Angel yang begitu manis. Sungguh terasa menyejukkan jiwa, dan juga membuat hatinya begitu berbunga-bunga. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa perasaan itu bisa hadir kembali—perasaan yang sama seperti malam itu, yang mana terasa begitu syahdu karena telah berkali-kali diterpa oleh dasyatnya sinyal kimia yang ditebarkan Angel.
Setibanya di rumah, Bobby langsung merebahkan diri di tempat tidur. Saat itu,  ingatannya langsung menerawang ke berbagai peristiwa yang baru dialaminya. Sungguh semuanya itu adalah kenangan terindah yang membuatnya betul-betul bahagia. "Hmm... Angel memang betul-betul gadis yang manis. Candanya... Tawanya... Tatapannya... dan juga keluguannya... Sungguh betul-betul membahagiakan. Oh, Angel… Aku sangat mencintaimu. Andai saja kau punya telepon atau HP, tentu aku akan langsung menghubungimu sekarang. Terus terang, baru juga kita berpisah, namun entah kenapa aku sudah begitu merindukanmu?"
Bobby terus melamunkan Angel, hingga akhirnya, "Hmm... Dua hari lagi dia pasti sudah menghubungiku. Sebab, aku yakin sekali kalau dia akan menyelesaikannya dalam waktu dua hari," duga Bobby seraya memejamkan kedua matanya karena sudah sangat mengantuk, hingga akhirnya pemuda itu betul-betul terlelap bersama mimpi indahnya. Sungguh sebuah mimpi yang begitu membahagiakan dan membuatnya betul-betul yakin kalau Angel-lah cinta sejatinya.


 Esok paginya Bobby sudah terbangun, dia duduk di tepian tempat tidur sambil terus mengingat mimpi indahnya semalam. Di dalam mimpinya, Bobby dan Angel sudah menjadi sepasang kekasih dan tengah berlibur dengan sebuah kapal pesiar. Lalu tanpa diduga-duga, kapal yang mereka tumpangi dihantam badai yang begitu dasyat, hingga akhirnya mereka pun bisa menyelamatkan diri dengan sebuah sekoci penyelamat yang terus terapung-apung dan akhirnya mendekati sebuah pulau perawan. Sungguh indah nian pulau yang terpampang di hadapan mereka. Nyiur berjajar di sepanjang pantai, dan di belakangnya tampak bukit kecil yang menjulang—indah menghijau. Tak lama kemudian, sekoci yang mereka tumpangi tampak merapat di tepian pantai berpasir putih, yang saat itu terlihat laksana karpet yang membentang bersih. Lantas, keduanya pun melompat di atasnya, dan dengan kedua kaki yang sedikit terbenam—mereka tampak menyeka peluh di kening masing-masing. Maklumlah, cuaca saat itu memang sedang cerah-cerahnya, dan itu semua lantaran sang Mentari yang sedang bergembira ria, membiaskan cahayanya dengan tanpa aling-aling. Sebagai ganti rasa panas yang menyengat itu, langit pun memberikan keindahan yang membahagiakan. Di atas kepala mereka, terlihat warna biru yang indah dengan hiasan awan putih yang berarak. Bersamaan dengan itu, beberapa burung camar tampak lincah menunggangi udara, bernyanyi riang dengan diiringi debur ombak yang menerpa pantai.
Kini kedua muda-mudi itu tampak melangkahkan kaki menuju teduhnya nyiur yang melambai. Saat itu, Bobby sempat mendongak melihat teriknya sinar mentari yang dengan sangat perlahan terus menurun menuju horizon di ufuk barat. Setelah menikmati air kelapa yang dipetik Bobby, keduanya tampak duduk berdampingan sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang terus bertiup. Sungguh terasa begitu sejuk, sesejuk air kelapa yang baru saja menyegarkan kerongkongan mereka. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, saat itu senja sudah tiba dengan menyuguhkan panorama yang begitu menakjubkan. Betapa indahnya sang Mentari yang tengah kembali keperaduan, sinarnya yang keemasan tampak semakin mempesona oleh hiasan lembayung merah jingga, sungguh suasana saat itu terasa benar-benar begitu romantis. Saat itulah Bobby dan Angel saling berciuman, dan ketika Angel hendak membuka kancing baju Bobby, seketika itu pula Bobby langsung menahannya dan mengatakan kalau perbuatan yang akan mereka lakukan itu adalah dosa.
"Heran...? Kenapa dalam mimpi aku masih takut melakukan itu? Padahal itu kan cuma dalam mimpi, tentu tidak berdosa jika aku sampai melakukannya," kata Bobby menyesali dirinya yang sudah bertindak bodoh di dalam mimpinya. "Hmm… Lain kali, jika aku bermimpi seperti itu, aku akan berusaha untuk tidak akan takut lagi. Sebab, hanya itulah kesempatanku untuk bisa menikmati perbuatan dosa dengan tanpa berdosa," gumam Bobby asal seraya berkemas untuk mandi.
Beberapa menit kemudian, Bobby sudah duduk di depan komputer dan menulis apa yang dialami di dalam mimpinya. Dia sengaja menulis pengalaman di dalam mimpinya sebagai bahan cerita yang kelak akan digarapnya. Apalagi kejadian seperti itu memang sangat jarang dialami, kebanyakan yang sering dialaminya adalah pertarungan melawan pocong, kuntilanak, ular, atau penjahat yang ingin membunuhnya. Dalam pertarungan itu, terkadang ia menang dan terkadang ia juga kalah dan mati terbunuh. Atau juga mimpi yang sangat mengerikan, seperti mimpi hujan meteor yang membuatnya betul-betul bisa merasakan kepanikan seperti yang pernah disaksikannya pada film Armagedon. Atau juga perihal kehidupan setelah terjadinya perang nuklir, saat itu dia mati dan dibangkitkan di padang masyar, di mana banyak orang yang mengantri menunggu giliran. Atau juga mimpi aneh yang membingungkan, seperti saat dia mati dan akhirnya menjadi cahaya yang terbang menembus jagad raya. Dan mimpi yang belum lama dialaminya adalah ketika dia menjadi salah satu korban bom "teroris". Anehnya saat itu dia justru merasa senang, bahkan disaat kematiannya dia sempat tersenyum seraya mengucap dua kalimat syahadat, dan bersamaan dengan itu rohnya pun keluar perlahan dari jasadnya. Saat itulah dia menyadari kalau dirinya sudah mati. Dan bukan itu saja, bahkan dia sempat menyaksikan teman dan kerabatnya tampak berduka di saat pemakamannya. Bobby pun sangat senang dengan kematiannya itu. Sebab, dia bisa mengetahui kalau apa yang dilakukannya semasa hidup adalah benar. Buktinya saat itu dia bisa bertemu dengan orang-orang yang semasa hidup telah berjuang menegakkan kebenaran, dan dia pun telah dinyatakan mati syahid walaupun saat itu kematiannya karena disebabkan oleh bom "teroris". Intinya adalah, siapapun dia, dan bagaimana pun cara kematiannya, jika selama hidupnya ditujukan untuk berjuang di jalan Allah, maka matinya adalah syahid fisabillillah, dan hal itulah yang sebenarnya membuat dia begitu senang dengan kematiannya.
Sungguh semua mimpi Bobby itu terjadi karena dia mempunyai hobi nonton berbagai jenis film dan membaca beragam jenis bacaan. Akibat dari semua yang telah disaksikan, didengar, dan dibacanya itu tentu akan terekam di memorinya, dan semua itu sewaktu-waktu bisa keluar dalam bentuk mimpi, walaupun dia tahu kalau mimpi tak sekedar bunga tidur namun ada juga yang merupakan pesan dari Tuhan dan godaan setan. Karena semua itu keluar dalam bentuk mimpi, maka Bobby pun bisa lebih menjiwai karena saat itu dia memang betul-betul mengalaminya, yaitu di dalam mimpinya. Bobby pun seringkali memanfaatkan mimpinya itu sebagai bagian dari proses kreatifnya dalam menulis cerita fiksi.
"Nah selesai sudah... Judul cerpennya Terdampar di Teluk Biru. Cerita ini tentu akan menjadi menarik jika ternyata di pulau yang mempunyai teluk biru itu dihuni oleh monster buas yang penuh misteri. Kalau begitu aku akan mencoba untuk menulisnya," kata Bobby seraya mulai menulis buah pikiran yang baru tercipta di kepalanya, yaitu guna mengembangkan cerpennya yang terinspirasi dari alam mimpi.


Mendadak aku dikejutkan oleh suara yang begitu menyeramkan, sebuah raungan panjang yang terdengar begitu memilukan. “Hmm… Suara hewan apakah itu?” tanyaku dalam hati. Tiba-tiba suara hewan itu kembali terdengar, lantas aku pun mencoba untuk mendengarkannya dengan penuh seksama. Sungguh terdengar begitu menyeramkan, suaranya itu kadang seperti lolongan memilukan dan terkadang seperti raungan amarah yang meluap-luap. Kini aku berdiri dari dudukku, lantas kupadangi bukit yang dipenuhi kabut. Lagi-lagi suara itu kembali terdengar. Saat itu keadaan memang sudah semakin gelap, namun begitu, sekilas aku sempat melihat sekelebat sinar merah yang menembus di kegelapan malam. Deg…kuterkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja sinar itu sudah mengarah kepadaku, bentuknya pun tampak sudah semakin jelas, yaitu menyerupai mata yang tampak begitu buas memandangku. Seketika aku bergidik dan segera merapatkan tubuhku di sebatang pohon nyiur, tak jauh dari kekasihku yang kini sedang terlelap. Sejenak kuperhatikan kekasihku yang mungkin saja sedang bermimpi indah, dan ketika aku kembali memandang ke arah sepasang mata itu berada, ternyata sepasang mata itu telah menghilang. Saat itu aku berniat untuk membangunkan kekasihku, namun...


"Hmm... apa lagi ya?" tanya Bobby berusaha memikikan kejadian selanjutnya.
Pemuda itu terus asyik dengan fantasinya, apalagi saat itu dia sedang berfantasi terdampar bersama gadis yang dicintainya. Sementara itu di tempat berbeda, Angel tampak sedang duduk termenung. Rupanya gadis itu sedang memikirkan Bobby, seorang pemuda tampan yang akan menjadi salah satu tokoh dalam novel kisah nyatanya. Tak lama kemudian, gadis itu sudah mengambil pena dan segera menuliskan kisah yang dialaminya, yaitu dari awal pertemuannya dengan Bobby hingga akhirnya dia jatuh cinta. Gadis itu terus menulis dan menulis, bahkan setiap kali dia mengingat semua itu, setiap kali itu pula rasa cintanya kian tumbuh bersemi. Maklumlah, apa yang dialaminya bersama Bobby memang hal-hal yang menyenangkan hatinya. Entah suatu hari nanti, mungkin dia akan menangis setiap kali akan menggoreskan pena hitam miliknya.